NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Di Ambang Kematian

Napas Rangga mulai memburu.

Setelah beberapa menit bertahan menghadapi kepungan tiga pria bertopeng, tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya perlahan terkuras. Keringat bercampur darah tipis menetes dari sudut bibirnya, membasahi dagu sebelum jatuh ke permukaan aspal yang dingin.

Namun, kedua kakinya masih menapak kokoh.

Ia belum berniat menyerah.

Pemimpin kelompok itu memperhatikan Rangga tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

"Cukup bermain."

Suaranya datar.

"Selesaikan sekarang."

Perintah singkat itu langsung disambut anggukan dua anak buahnya.

Mereka kembali bergerak.

Kali ini lebih cepat.

Lebih terukur.

Pria di sebelah kanan menjadi pembuka serangan.

Sebuah tendangan lurus mengarah ke perut Rangga.

Rangga memutar tubuh, membiarkan serangan itu meleset tipis. Ia segera membalas dengan pukulan pendek ke arah rahang lawannya.

Buk!

Kepala pria itu terpental ke samping.

Belum sempat Rangga menarik kembali tangannya, sebuah pukulan keras menghantam pelipis kirinya.

Dug!

Pandangan Rangga langsung bergoyang.

Suara di sekelilingnya mendadak terdengar berdengung.

Ia memaksakan diri mundur dua langkah.

Belum pulih sepenuhnya, sebuah lutut menghantam rusuk kanannya.

Rasa nyeri menusuk membuat napasnya tercekat.

Rangga menggertakkan gigi.

Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh lawan di depannya hingga tercipta sedikit ruang.

Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali memasang kuda-kuda.

Dadanya naik turun.

Setiap tarikan napas kini terasa seperti mengangkat beban berat.

"Keras kepala juga."

Salah satu pria bertopeng mendengus.

"Masih mau lanjut?"

Rangga mengusap darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.

Tatapannya tetap tajam.

"Aku belum selesai."

Jawaban singkat itu justru membuat pemimpin kelompok menghela napas pelan.

"Sayang."

"Kalau saja urusan ini bukan pekerjaan..."

"...aku mungkin akan menghormatimu."

Kalimat itu baru saja selesai ketika ketiganya bergerak hampir bersamaan.

Serangan datang dari tiga arah.

Rangga berhasil menghindari pukulan pertama.

Menangkis pukulan kedua.

Namun...

Ia terlambat menyadari tendangan rendah yang menyapu kaki kirinya.

Brak!

Keseimbangannya hilang.

Tubuhnya jatuh berlutut di atas aspal.

Belum sempat berdiri, sebuah tinju menghantam rahang kirinya dengan keras.

Bugh!

Dunia di sekeliling Rangga seakan berputar.

Kepalanya tersentak ke samping. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh keras menghantam permukaan aspal.

Helm yang sejak tadi hanya terpasang setengah rapat terlepas, berguling beberapa meter di atas jalan.

Darah tipis mengalir dari sudut pelipisnya.

Ia mencoba bangkit.

Kedua telapak tangannya bertumpu pada aspal.

Namun kedua lengannya mulai gemetar hebat.

Pemimpin kelompok melangkah mendekat.

Kini langkahnya terdengar pelan.

Tidak terburu-buru.

Seolah ia tahu pertarungan telah berakhir.

Rangga berusaha mengangkat tubuhnya sekali lagi.

Gagal.

Rasa nyeri menjalar hampir ke seluruh persendiannya.

Pandangannya mulai kabur.

Lampu jalan di atas kepalanya tampak berbayang.

Suara kendaraan di kejauhan perlahan menghilang dari pendengarannya.

Yang tersisa hanya langkah kaki tiga pria bertopeng yang semakin mendekat.

Pemimpin kelompok berhenti tepat di depan Rangga.

Ia menatap pemuda itu beberapa detik.

Lalu...

Perlahan ia merogoh pinggang belakangnya.

Kilatan baja memantulkan cahaya lampu jalan.

Sebuah pisau komando keluar dari sarungnya.

Ujungnya berkilau dingin di tengah sunyinya malam.

Rangga menatap senjata itu dengan napas yang semakin berat.

Ia ingin bangkit.

Ingin melawan.

Tetapi tubuhnya tidak lagi mau diajak bekerja sama.

Pemimpin kelompok menggenggam pisaunya dengan mantap.

Tanpa sepatah kata pun...

Ia mengangkat lengan kanannya.

Lalu mengayunkannya lurus ke arah dada Rangga.

Pada saat yang sama...

Dari gang sempit yang gelap di sisi jalan...

Terdengar suara langkah kaki yang berlari sangat cepat.

Kilatan mata pisau itu meluncur cepat, membelah udara malam.

Rangga yang masih terduduk hanya mampu memejamkan mata sejenak. Naluri bertahan hidupnya masih berteriak untuk bergerak, tetapi tubuhnya sudah tidak lagi sanggup menuruti perintah.

Detik berikutnya...

Prak!

Suara benturan keras memecah kesunyian.

Namun rasa sakit yang Rangga bayangkan tak kunjung datang.

Ia membuka matanya perlahan.

Di hadapannya, tangan pria bertopeng yang menggenggam pisau terlempar ke samping akibat tendangan keras yang menghantam pergelangan tangannya.

Pisau komando itu terlepas, berputar beberapa kali di udara sebelum jatuh berdenting di atas aspal.

Ting!

Semua orang spontan menoleh ke arah datangnya serangan.

Dari mulut gang yang gelap, seorang pria berjaket kulit hitam berdiri tenang.

Wajahnya tertutup bayangan tudung jaket yang ia kenakan. Hanya sorot matanya yang terlihat tajam, mengawasi ketiga pria bertopeng tanpa sedikit pun rasa gentar.

Ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Langkahnya perlahan mendekati Rangga.

Kemudian berhenti tepat beberapa meter di depan pemuda itu.

Posisinya sederhana.

Satu kaki sedikit di depan.

Kedua tangan menggantung rileks di samping tubuh.

Namun entah mengapa, sikap santai itu justru memancarkan tekanan yang membuat suasana mendadak berubah.

Pemimpin kelompok mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri.

"Siapa kau?"

Tidak ada jawaban.

Pria berjaket kulit itu tetap diam.

Tatapannya tidak bergeser sedikit pun.

Salah seorang anak buah mulai kehilangan kesabaran.

"Bos, biar aku bereskan!"

Tanpa menunggu perintah, ia langsung berlari sambil melepaskan pukulan lurus.

Pria misterius itu tidak mundur.

Saat kepalan tangan lawannya tinggal sejengkal dari wajahnya, ia hanya memiringkan tubuh sedikit.

Pukulan itu meleset.

Dalam gerakan yang nyaris tanpa tenaga berlebih, ia menangkap pergelangan tangan lawannya, memutar tubuhnya, lalu memanfaatkan laju serangan tadi.

Brak!

Tubuh pria bertopeng itu terpelanting ke aspal dengan punggung lebih dahulu menghantam permukaan jalan.

Ia mengaduh keras.

Belum sempat bangkit, pria misterius itu sudah melepaskan pegangannya dan kembali berdiri tenang.

Seolah bantingan barusan hanyalah gerakan biasa.

Melihat rekannya tumbang begitu cepat, pria bertopeng yang lain langsung menyerang dari sisi kiri.

Ia melepaskan tendangan melingkar setinggi dada.

Pria misterius itu mengangkat lengan kirinya untuk menahan tendangan tersebut.

Benturan keras terdengar.

Namun tubuhnya nyaris tidak bergeser.

Begitu kaki lawannya turun kembali ke tanah, sebuah dorongan pendek dari telapak tangannya mengenai dada pria itu.

Tidak keras.

Tetapi cukup membuat keseimbangannya buyar.

Pria bertopeng itu mundur beberapa langkah sambil terengah-engah, berusaha mengembalikan napasnya.

Kini...

Untuk pertama kalinya sejak penyergapan dimulai...

Ketiga pria bertopeng itu saling berpandangan.

Mereka mulai menyadari satu kenyataan.

Orang yang baru datang ini...

Bukan lawan yang bisa dijatuhkan hanya dengan mengandalkan jumlah.

Jalanan kembali sunyi.

Hanya suara napas yang memburu memecah keheningan di bawah cahaya lampu jalan yang redup.

Pemimpin kelompok mengalihkan pandangannya kepada dua anak buah yang baru saja dipukul mundur. Wajah mereka memang masih tertutup masker, tetapi dari cara mereka berdiri, jelas terlihat kewaspadaan yang sebelumnya tidak pernah muncul.

"Kalian berdua... maju bersama."

Perintah itu diucapkan singkat.

Kedua pria bertopeng saling mengangguk sebelum bergerak memutari pria misterius dari dua arah berbeda.

Mereka tidak lagi gegabah.

Serangan kali ini jauh lebih hati-hati.

Pria pertama melesat lebih dulu, melancarkan kombinasi dua pukulan cepat yang langsung disusul tendangan rendah.

Hampir bersamaan, rekannya datang dari sisi berlawanan, mencoba memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Pria misterius itu bergeser satu langkah.

Tidak lebih.

Pukulan pertama melintas di depan wajahnya.

Pukulan kedua ia tepis dengan lengan bawah.

Ketika tendangan rendah menyapu kakinya, ia mengangkat tumit seperlunya hingga serangan itu hanya mengenai angin kosong.

Belum sempat kedua lawannya mengatur ulang posisi, pria misterius itu melangkah masuk ke dalam jarak serang.

Sebuah dorongan bahu menghantam dada pria pertama.

Tubuh lawannya terdorong mundur, tepat ke arah rekannya sendiri.

Keduanya hampir bertabrakan.

Momentum mereka seketika buyar.

Kesempatan itu tidak disia-siakan.

Pria misterius memutar tubuh.

Siku kanannya menghantam bahu salah satu penyerang.

Buk!

Disusul tendangan pendek ke arah paha lawan yang satunya.

Tidak ada gerakan yang berlebihan.

Tidak ada teriakan.

Semua berlangsung cepat, bersih, dan efisien.

Dua pria bertopeng itu mundur beberapa langkah sambil meringis menahan nyeri.

Untuk pertama kalinya sejak penyergapan dimulai, mereka benar-benar kehilangan keberanian untuk menyerang lebih dulu.

Pemimpin kelompok memperhatikan semua itu tanpa berkedip.

Tatapannya berubah tajam.

Orang di hadapannya bukan petarung jalanan biasa.

Cara bergeraknya menunjukkan latihan yang panjang.

Setiap serangan selalu tepat sasaran.

Setiap langkah seolah telah diperhitungkan sebelumnya.

Ia mengepalkan tangan perlahan.

"Siapa sebenarnya kau...?"

gumamnya lirih.

Pria misterius itu tetap tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di depan Rangga yang masih terduduk lemah di atas aspal, seakan memastikan tidak seorang pun dapat mendekat.

Rangga sendiri berusaha mengangkat kepalanya.

Pandangannya masih kabur akibat pukulan yang diterimanya.

Meski demikian, ia sempat melihat siluet pria berjaket kulit itu berdiri tegak di depannya.

Sosok asing.

Namun entah mengapa...

Kehadirannya justru menghadirkan rasa tenang di tengah situasi yang nyaris merenggut nyawanya.

Angin malam kembali berembus pelan.

Pemimpin kelompok mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar kedua anak buahnya tidak bergerak lebih dulu.

Tidak seorang pun berbicara.

Empat pasang mata saling bertemu di tengah jalan yang lengang.

Ketegangan terasa semakin pekat.

Tak ada yang tahu...

Bahwa beberapa detik lagi, sebuah kenyataan yang sama sekali tidak terduga akan mengubah arah peristiwa malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!