NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Begitu Repan dan Arinda melangkah keluar dari gedung sekolah, suasana di sekitar gerbang mendadak terasa berbeda. Langit Bogor sore itu memang cerah, tapi atmosfer di area depan sekolah mendadak beruba drastis menjadi sangat tegang.

Kerumunan siswa mulai menyemut di balik pagar, memicu kasak-kusuk yang terdengar dari berbagai sudut.

"Nah, itu dia orangnya keluar..."

"Apes banget nasibnya, langsung dijadikan target operasi sama Drian."

"Eh, kamu nggak tahu ya? Dialah yang tadi sukses bikin Drian babak belur di depan anak-anak!"

"Gila, nyalinya boleh juga. Tapi kali ini dia pasti bakal habis dikeroyok anak-anak Geng GBA."

"Kasihan banget, sih. Jangankan dikeroyok dua puluh orang, lawan satu pentolannya saja sudah repot."

Rentetan bisikan itu terus mengiringi langkah santai Repan. Padahal, seisi sekolah menatapnya dengan pandangan ngeri, seolah-olah cowok itu sedang berjalan menuju gerbang kematiannya sendiri.

Tepat di luar area gerbang sekolah, dua puluh remaja dengan seragam dari berbagai sekolah berbeda sudah berbaris rapi. Tampang mereka sangar-sangar. Di posisi tengah, Drian berdiri tegak sambil memasang senyum miring yang penuh kepuasan, meskipun bekas bogem mentah di wajahnya masih terlihat bengkak kemerahan.

"Kak..." bisik Arinda lirih. Wajahnya mendadak pias, dan cengkeraman tangannya di lengan Repan mulai bergetar.

"Bagaimana kalau kita tunggu di dalam saja sampai mereka pergi? Jumlah mereka banyak banget..."

Repan menoleh, lalu menatap adiknya dengan sorot mata yang teramat tenang.

"Nggak ada gunanya bersembunyi, Rin. Mau kita tunggu sampai malam pun, mereka bakal tetap stand-by di sana."

"Tapi Kakak kan nggak bisa berantem! Mereka itu berandalan jalanan, Kak! Bahaya banget!"

Repan tersenyum tipis, berusaha menenangkan kepanikan adiknya.

"Tenang saja. Kakakmu ini bakal beresin mereka dalam sekejap."

"Tapi, Kak—" Belum sempat Arinda mendebat, Repan langsung memotong ucapannya dengan tegas.

"Kamu tunggu di balik gerbang ini. Biar Kakak yang maju."

Arinda sempat menahan jemari Repan erat-erat dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tahu kakaknya berubah drastis hari ini, tapi dia sama sekali belum tahu seberapa jauh level perubahan itu.

Melihat sorot mata Repan yang penuh keyakinan absolut, Arinda akhirnya melonggarkan genggamannya secara perlahan.

"Kakak harus hati-hati, ya," bisiknya pelan.

Repan mengangguk mantap, lalu melangkah keluar melewati batas gerbang sekolah tanpa beban.

Sorak-sorai penonton di balik pagar semakin riuh, mirip seperti penonton yang tidak sabar menyaksikan laga tarung bebas.

"Wah, gila! Dia beneran berani keluar!"

"Ayo maju! Ini baru seru!"

"Nggak sabar lihat anak sok jagoan itu digebukin ramai-ramai!"

Repan sama sekali tidak terpengaruh oleh kebisingan sekitar. Begitu kedua kakaknya menapak di aspal luar, ia langsung mengaktifkan panel sistem di dalam benaknya.

'Sistem, tambahkan 20 poin lagi ke dalam atribut kekuatan fisikku,' perintahnya dalam hati.

Ting!

[Parameter Kekuatan Fisik Anda Berhasil Ditingkatkan!]

Seketika itu juga, gelombang energi hangat langsung membanjiri seluruh pembuluh darah Repan. Otot-ototnya terasa berkali-kali lipat lebih padat, bobot tubuhnya menjadi seringan kapas, dan rasa percaya dirinya meroket tajam.

[Total Indeks Kekuatan Fisik Anda Saat Ini: 50]

[Skema Peningkatan Selanjutnya Membutuhkan Alokasi 5 Poin Atribut untuk Setiap 1 Poin Kekuatan]

Repan mendecak kecil dalam hati. 'Oh, sistemnya mulai inflasi ya... Berarti ke depannya aku harus lebih boros lagi belanja uang biar poinnya makin melimpah.'

'Sistem, sekalian upgrade kompetensi Kick Boxing-ku ke Level 2.'

[Proses Upgrade Memerlukan Konsumsi 10 Poin. Apakah Anda Setuju?]

'Setuju.'

Ting!

[Kompetensi Kick Boxing Anda Telah Mencapai Lv.2!]

[Anda Kini Menguasai Seni Bela Diri Kick Boxing dengan Kapasitas Memori Otot Setara Latihan Intensif Selama 20 Tahun.]

Detik itu juga, Repan bisa merasakan tubuhnya secara otomatis mengenali skema taktik baru. Mulai dari manajemen kuda-kuda, pergerakan kaki yang dinamis, hingga perhitungan timing serangan semuanya terasa menyatu secara natural seolah ia sudah bertarung sepanjang hidupnya. Sebuah senyuman kepuasan terbit di wajahnya.

'Sekarang, mari kita mulai pestanya,' batin Repan riang.

Kini, Repan dan komplotan berandalan itu sudah berdiri saling berhadapan. Udara di sekitar jalanan itu mendadak terasa membeku. Nggak ada yang bersuara, tapi semua orang tahu kalau bentrokan fisik sudah nggak bisa dihindari lagi.

"Nah, dialah keparat yang sudah berani menyentuhku tadi!" teriak Drian lantang sambil menunjuk histeris ke arah Repan yang melangkah santai mendekati kerumunan.

Di seberang jalan, puluhan motor sport tampak terparkir rapi. Di atas jok-jok motor itu, duduk dua puluh pemuda dengan seragam sekolah yang acak-acakan. Mereka jelas bukan sekadar pelajar biasa sorot mata mereka penuh dengan kebuasan, ditambah tawa dingin yang merendahkan.

"Oh, jadi kamu anak SMA 09 Cimanggu?" ucap Roni, dedengkot Geng GBA wilayah Bogor Timur.

Postur tubuh Roni tampak tinggi besar dan kekar, ditambah sorot matanya yang tajam bak mata pisau.

"Kamu bercanda ya, Drian? Masa kamu bisa kalah sama... mesin ATM berjalan begini?" ejek salah satu anak buah Roni sambil tertawa terbahak-bahak, memicu gelak tawa dari anggota geng lainnya.

"Memalukan banget. Anak-anak SMA 09 itu kan isinya cuma sekumpulan pengecut kaya," timpal yang lain sambil menyalakan pemantik rokoknya.

"Mereka itu cuma mangsa empuk buat kita peras."

"Persetan! Makanya aku panggil kalian semua ke sini! Aku mau kalian patahkan kakinya sampai dia nggak bisa berdiri lagi!" teriak Drian dengan wajah merah padam akibat emosi yang meluap.

"Oke, oke," Roni bangkit perlahan dari boncengan motornya.

"Urusan sepele. Tapi ingat kesepakatan kita setelah ini selesai, ya. Transfer lima ratus ribu harus langsung masuk."

"Gampang! Yang penting dia babak belur!" sahut Drian, matanya menatap Repan penuh dengan kobaran dendam.

Sementara itu, Repan terus melangkah maju dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, kepalanya agak menunduk, tanpa ada guratan rasa takut sedikit pun di wajahnya. Malahan, seulas senyuman tipis tampak menghiasi bibirnya.

"Jadi, begini saja para pecundang," ucap Repan begitu jarak mereka sudah cukup dekat.

"Lebih baik kalian semua maju bersamaan saja sekarang. Saya agak malas kalau harus menghajar kalian satu per satu."

"Wah... songong juga ini anak," sahut Roni dengan vokal yang mendadak dingin.

"Jarang-jarang aku lihat anak sekolahan elite punya nyali bicara begini di depan mukaku."

Roni mengangkat satu tangannya, memberikan aba-aba. "Karena kami sudah dibayar, sekarang saatnya kamu mencicipi rasanya dihajar sampai sekarat."

'Sistem, deteksi parameter kekuatan mereka semua,' perintah Repan dalam hati.

[Roni - Kekuatan: 34]

[Anggota 1 - Kekuatan: 25]

[Anggota 19 - Kekuatan: 29]

'Rata-rata level kekuatan mereka cuma berada di angka 27. Dan yang paling tinggi cuma si Roni dengan skor 34. Masih jauh di bawah levelku yang sekarang,' batin Repan menganalisis.

Lima orang pertama langsung melompat maju menerjangnya. Langkah kaki mereka menghentak aspal dengan keras, melayangkan kepalan tinju yang mengincar langsung ke arah wajah Repan.

Wushhh!

Wushhh!

Wushhh!

Namun, gerakan Repan justru melesat laksana angin. Dengan refleks Kick Boxing level duanya, dia merunduk fleksibel, menggeser poros tubuh ke kanan, lalu melompat mundur dengan sangat lincah. Pemandangan itu sukses membuat mata para siswa yang menonton melotot tak percaya.

Buakkk!

Satu pukulan lurus yang presisi menghantam telak ulu hati lawan pertama. Pemuda itu langsung tertekuk seperti udang dan ambruk ke aspal sambil mengerang kesakitan.

Buaakkk!

Sebuah tendangan melingkar ke arah atas melesat cepat, menghantam rahang bawah penyerang kedua. Terdengar bunyi gemertak keras akibat benturan tulang yang solid. Pemuda itu terjungkal ke belakang, dengan beberapa gigi depannya yang tampak tanggal dan berserakan di tanah.

Buak! Buak! Buak!

Tiga kombinasi serangan kilat berikutnya langsung menyapu sisa penyerang yang ada. Satu hantaman bersarang di pelipis, satu di dagu, dan satu lagi bahkan sampai terangkat dari tanah akibat tendangan telak yang bersarang di dadanya.

Hanya dalam hitungan detik, kelima penyerang pertama langsung tumbang bak karung beras yang dijatuhkan dari atas truk.

"Sialan! Dasar anak buah nggak berguna!" umpat Roni geram.

"MAJU SEMUA! JANGAN KASIH AMPUN!"

Empat belas orang yang tersisa langsung merangsek maju secara serentak. Derap langkah kaki mereka yang kompak sampai membuat aspal jalanan terasa bergetar. Tapi Repan tetap bergeming di posisinya. Begitu jarak mereka sudah sangat dekat—

Buak! Brak! Duak! Dhuak!

Repan bergerak sangat taktis mirip seperti seorang petarung profesional MMA di dalam oktagon. Rentetan pukulan kombinasi dan tendangan bertubi-tubi mengalir deras dari tubuhnya yang kini dikendalikan penuh oleh insting Kick Boxing level 2. Setiap pergerakannya sangat presisi, dan setiap serangan mendarat dengan daya ledak maksimal.

"Brengsek kau! Aku bakal habisi—"

Buaakkk!

Satu jab kilat menghantam tepat di tulang hidung berandalan itu, disusul suara Krak! patahan tulang yang membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri. Pemuda itu terlempar ke belakang sejauh dua meter.

"Aaaarrrghhh!"

"Mukaku hancur!"

"Rahangku mau lepas!"

Jeritan histeris menahan sakit saling bersahut-sahutan dari berbagai arah.

Buk! Buk! Dhuk! Brak!

Satu per satu personel Geng GBA bertumbangan, merintih kesakitan di atas kerasnya aspal dengan tubuh yang dipenuhi memar dan aliran darah. Beberapa di antaranya sempat berusaha merangkak bangun, namun langsung ambruk kembali karena kehilangan tenaga.

Para siswa yang menonton jalannya pertarungan dari balik jeruji pagar sekolah hanya bisa melongo dalam diam. Mulut mereka menganga lebar karena syok.

Mereka baru saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri, satu orang pelajar sanggup menghadapi sembilan belas berandalan motor sekaligus dan menang telak tanpa perlawanan berarti.

Dan di tengah-tengah hamparan tubuh yang terkapar tak berdaya itu, Repan berdiri tegak dengan kokoh. Napasnya masih teratur tenang, sorot matanya tajam berwibawa, dan anehnya, tak ada satu pun bekas luka atau goresan yang mengotori tubuh maupun seragam sekolahnya.

Langit sore Kota Bogor mulai merambat memerah, tapi yang jauh lebih merah adalah wajah-wajah penuh luka dari para anggota Geng GBA yang kini tak lagi berkutik di atas tanah.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!