Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.
Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.
Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.
Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.
Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.
Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.
Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.
Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.
Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."
Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Jangan Sebut Nama Oma di Rumah Ini
Strategi pertamaku sudah bocor.
Keira menyembunyikan wajah di dada Sherly cukup lama, berharap tubuh kecilnya bisa menyelamatkan harga diri yang baru saja jatuh ke lantai. Sayangnya, Mami bukan orang yang mudah dikelabui.
Sherly mengangkat dagunya dengan dua jari.
"Kei," katanya pelan, mata menyipit. "Teman di TK yang mana?"
Keira berkedip.
Tidak ada.
Jelas tidak ada.
Ia bahkan belum pernah lewat depan TK, kecuali sekali ketika digendong Sherly ke pasar dan melihat anak-anak berseragam kecil makan kue basah di pagar. Otak dewasanya bisa menghitung margin nasi bungkus, tapi mulut bayi ini memilih alasan paling buruk di dunia.
"Teman..." Keira menggumam, lalu menepuk perut sendiri. "Teman... Kei."
Jiankok yang duduk di lantai langsung tertawa. "Maksudnya teman khayalan kali."
Sherly masih menatap Keira, tapi sudut bibirnya akhirnya melunak. "Anak sekecil ini sudah punya teman khayalan yang paham sambal?"
Keira memasang wajah polos.
Kalau Mami mau percaya, aku sangat berterima kasih.
Ternyata sambal memang menjadi jalan pertama mereka.
Keesokan paginya, Sherly menambah dua jenis sambal. Satu sambal rawit merah yang pedasnya langsung menampar lidah, satu lagi sambal terasi yang baunya kuat tapi membuat pekerja proyek menelan ludah bahkan sebelum membuka bungkus nasi. Ia juga menambah sedikit mie goreng supaya nasi terlihat lebih penuh.
Harga tetap sama.
Porsi sedikit lebih pintar.
Pak Rudi baru mencicipi satu suap, lalu mengacungkan jempol. "Bu Sherly, kalau begini, besok bawanya dua bakul. Anak-anak belakang tidak kebagian kemarin."
Sherly tersenyum, tapi tangannya tidak berhenti membungkus uang kembalian. "Kalau dua bakul habis, Pak Rudi dapat ekstra telur."
"Nah, itu baru cocok."
Jiankok berdiri di belakang sambil mengangkat bakul kosong. Beberapa pekerja memanggilnya `Bos nasi`, membuat telinganya merah. Pria yang dulu hanya bisa mengangkat semen itu kini belajar menerima uang, menghitung kembalian, dan tersenyum tanpa merasa bersalah.
Keira duduk di atas kardus bersih di dekat kaki Sherly. Tugas resminya adalah menjadi anak lucu yang menarik pembeli. Tugas tidak resminya adalah menunjuk bungkus mana yang hampir dingin agar Sherly menjualnya lebih dulu.
"Yang kecil itu pintar, Bu," kata seorang pekerja sambil tertawa. "Tadi saya mau ambil yang jauh, dia malah tunjuk yang dekat."
Sherly melirik Keira.
Keira langsung bertepuk tangan asal-asalan. "Makan! Makan!"
Semua orang tertawa.
Begitulah beberapa minggu berlalu.
Pagi mereka dimulai sebelum ayam berkokok. Sherly mencuci beras, Jiankok memotong tempe, Keira duduk di ranjang sambil memeluk gelas plastik kosong seperti rapat direksi. Siang hari mereka menjual nasi bungkus di proyek pertama. Menjelang sore, Sherly menggoreng mie untuk pekerja yang lembur. Kalau masih tersisa, Jiankok menggendong bakul ke proyek kedua di ujung jalan.
Uang kecil yang dulu terasa seperti napas terakhir mulai berubah menjadi tumpukan yang bisa dihitung dengan harapan.
Hari pertama dua puluh dua ribu.
Lalu tiga puluh lima.
Lalu lima puluh.
Pada akhir minggu ketiga, Sherly menghitung sambil menahan napas.
"Kalau stabil begini," katanya, "sebulan bisa enam ratus ribu lebih."
Jiankok hampir menjatuhkan gelas. "Sebanyak itu?"
"Kalau kamu tidak salah hitung kembalian."
"Aku sudah bisa."
"Kemarin kamu kasih kembalian lebih dua ribu."
Jiankok terbatuk.
Keira tertawa kecil. Papi belajar bisnis memang seperti bayi belajar jalan. Lambat, sering jatuh, tapi setidaknya mau maju.
Malam itu, setelah Keira dimandikan dan dibungkus kain tipis, Sherly duduk di ambang pintu kamar. Di luar, gang sempit masih ramai suara radio tetangga dan motor lewat. Hujan sudah tidak menetes dari plafon karena Jiankok menambalnya dengan seng bekas.
"Kalau tabungan cukup," kata Sherly tiba-tiba, "aku mau beli rumah di Jakarta."
Jiankok menoleh.
"Tidak perlu besar dulu," lanjut Sherly. "Yang penting punya sendiri. Tidak numpang, tidak takut diusir, tidak takut kalau ada orang datang minta uang."
Keira yang pura-pura mengantuk langsung membuka mata.
Nah, Mami. Itu arah yang benar.
Di kepalanya, peta masa depan kembali menyala. Daerah yang sekarang masih becek akan dilewati jalan besar. Ruko murah yang orang abaikan nanti berubah menjadi emas. Kalau mereka bergerak cepat, uang kecil hari ini bisa menjadi akar gedung masa depan.
Jiankok menatap tangan kasarnya sendiri. "Rumah di Jakarta mahal."
"Makanya kita kerja."
"Iya."
Hening sebentar.
Lalu Jiankok berkata pelan, "Oma mereka gimana ya..."
Udara di kamar langsung berubah.
Tangan Sherly yang sedang melipat popok berhenti. Wajahnya dingin.
Keira duduk tegak di ranjang.
Papi.
Kamu baru saja menginjak ranjau.
Jiankok sadar terlambat. "Bukan maksudku mau pulang. Aku cuma... takut mereka dengar kita jualan lalu datang bikin ribut."
"Jangan sebut nama beliau di rumah ini kalau kamu belum siap aku marah," kata Sherly.
"Sherly, aku hanya bilang..."
"Kamu selalu mulai dari `hanya bilang`. Dulu juga begitu. Hanya bilang kasihan Mama. Hanya bilang adikmu lagi susah. Hanya bilang aku harus sabar."
Jiankok menutup mulut.
Keira mengangkat kedua tangan, lalu dengan suara kecil tapi tegas berkata, "Nggak... pulang."
Sherly langsung menunjuk Jiankok. "Dengar? Anakmu saja tahu."
Malam itu Jiankok tidur di lantai.
Sebenarnya tidak benar-benar diusir jauh. Kamar mereka terlalu sempit untuk drama besar. Ia hanya membentangkan tikar dekat pintu, sementara Keira dipindahkan ke dadanya karena Sherly bilang, "Biar Papi ingat siapa yang harus dijaga."
Keira berbaring di atas dada Jiankok. Detak jantung Papi pelan, berat.
"Papa salah lagi ya?" bisik Jiankok.
Keira menepuk dagunya.
"Pa..."
"Hm?"
Ia mengumpulkan kata. Usianya hampir dua tahun, kalimat pendek masih masuk akal, asal patah-patah.
"Beli... rumah besar... sini."
Jiankok terdiam, lalu tertawa lirih. "Di sini? Di Jakarta?"
Keira mengangguk semampunya. "Kei... mau."
Jiankok memeluknya lebih hati-hati. "Iya. Papa janji. Kita beli rumah besar di sini. Buat Mami, buat Kei. Tidak ada yang bisa usir."
Keira menempelkan pipi ke bajunya.
Bagus, Papi.
Ulangi janji itu sampai masuk tulang.
Besok paginya, Jiankok bangun lebih awal dari Sherly. Ia memasak bubur seadanya, menggoreng telur tipis, lalu membuat kopi untuk istrinya. Rasanya mungkin biasa saja, tapi Sherly menatap meja kecil itu cukup lama.
"Aku tidak bilang mau pulang," kata Jiankok sebelum Sherly bicara. "Aku cuma takut mereka datang. Tapi kalau datang, aku tidak akan kasih uang. Aku tidak akan kasih mereka ambil dagangan kita."
Sherly memegang cangkir kopi. "Buktikan nanti."
"Aku buktikan."
Keira yang duduk di pangkuan Sherly mengunyah bubur lembek sambil menatap Papi.
Lebih baik begitu.
Karena Papi boleh bilang tidak mau pulang, boleh berjanji membeli rumah besar, boleh belajar memasak bubur untuk meminta maaf.
Tapi Oma Hoo tidak akan diam.
Berdasarkan ingatan kehidupan sebelumnya, kalau perempuan tua itu sudah kehilangan kendali atas uang anak sulungnya, ia akan melakukan apa pun untuk menariknya kembali.
Dan sepertinya...
Ia hampir tiba.
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor