NovelToon NovelToon
Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Matabatin / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.

Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.

Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.

Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.

Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—

mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4—Mencari Ikan

(Perhatian revisi nama karakter. Danu \= Bima

Joko : Rian. Revisi nama dikarenakan, novel saya satunya yang prototipe juga memiliki nama yang sama, jadi terhidr dari kebingungan)

BAB 4

Rasti tertidur manis sangat pulas. Ini pertama kali dia merasa sangat rileks setelah dua tahun menjanda. Di sana Bima yang tubuhnya membaik memutuskan untuk masak nasi goreng.

Rasti langsung bangun menuju ruang tamu. “Kamu masak apa, Bim?”

“Nasi goreng sederhana, Mbak. Kebetulan ada sisa nasi dingin semalam dan bumbu seadanya,” jawab Bima sembari menoleh, menyunggingkan senyuman hangat yang kini tampak berkali-kali lipat lebih menawan di mata Rasti.

Rasti tertegun di ambang pintu dapur yang reyot. Sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah dinding bambu gubuk mereka jatuh tepat di tubuh Bima. 

Kakak iparnya itu dibuat terpesona untuk kesekian kalinya. Punggung Bima yang tegap, bahunya yang melebar kokoh, serta otot-otot lengan yang tercetak samar saat mengaduk wajan benar-benar memancarkan aura maskulin yang sangat kuat.

Sisa-sisa kehangatan dan getaran magis dari pijatan semalam mendadak kembali terngiang di benak Rasti, membuat wajahnya seketika merona merah.

“Mbak... Mbak Rasti gak apa-apa? Kok malah melamun?” tegur Bima geli, menyadari perubahan ekspresi janda muda di depannya.

“E-eh? Gak apa-apa, Bim. Mbak cuma... masih agak heran saja melihatmu segergajahi ini,” kilah Rasti gugup, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak berpacu cepat. Dia berjalan mendekat, dan rasa takjub kembali melandanya. “Ajaib banget. Biasanya jangankan masak pagi-pagi begini, kena asap dapur sedikit saja kamu sudah batuk-batuk sampai dadamu sesak.”

Bima terkekeh rendah, suara bassnya terdengar begitu renyah dan menenangkan. “Kan sudah kubilang semalam, Mbak. Bima yang lemah dan penyakitan sudah hilang. Sekarang badan Bima sudah sembuh total.”

Sembari menyajikan dua piring nasi goreng mengepul di atas meja kayu tua, mata tembus pandang Bima kembali aktif secara tidak sengaja. Dia melirik ke arah punggung Rasti.

Benar saja. Kabut hitam pekat yang dia lihat semalam masih mendekam di sana, mengambang di antara jalur saraf tulang belakang Rasti. Titik hitam itu tampak seperti benalu yang perlahan tapi pasti mengisap energi kehidupan kakak iparnya.

‘Sial, kutukan atau guna-guna ini beneran nyata. Warnanya pekat sekali,’ batin Bima menahan geram. ‘Pantas saja dua tahun ini Mbak Rasti sering sakit-sakitan, badannya selalu dingin, dan wajahnya pucat. Seseorang sengaja ingin merusak hidup Mbak Rasti!’

Meskipun pijatan  semalam berhasil meredakan rasa sakit fisik dan memberikan kenyamanan instan bagi Rasti, Bima tahu itu belum cukup untuk menghancurkan inti dari energi hitam tersebut.

 Untuk mencabut kutukan itu sampai ke akarnya, dia membutuhkan metode pengobatan yang lebih mendalam—dan mungkin, jauh lebih intim dari sekadar pijat punggung biasa.

Namun, Bima memilih menahan diri. Dia tidak ingin membuat Rasti panik atau ketakutan. “Ayo dimakan, Mbak. Keburu dingin,” ajak Bima lembut.

Rasti mengangguk dan mulai menyuap nasi goreng buatan adik iparnya. Begitu kunyahan pertama, matanya langsung berbinar. “Enak banget, Bim! Kamu kok tiba-tiba pinter masak gini?”

“Hehe, resep rahasia, Mbak.” Bima tersenyum misterius. Padahal, dia hanya menyalurkan seulas tipis energi murni dari telapak tangannya saat memasak tadi, yang entah bagaimana membuat cita rasa makanan menjadi berkali-kali lipat lebih lezat dan segar.

Setelah sesi makan selesai Bima langsung pamit. Tapi hari ini dia gak bawa koran, melainkan sebuah alat pancing.

“Loh mau kemana Bim?”

Rasti kaget. Dia masih gak biasa sama Bima yang tubuhnya membaik.

“Aku mau berburu, ka. Cari ikan siapa tahu bisa buat makan sama dijual.”

Dengan kemampuan fisik dan mata terawang dia akan muda hidup serta dengan ini dia akan ubah hidup dari miskin jadi kaya!

Rasti menatap punggung Bima yang melangkah tegap keluar dari pintu gubuk dengan tatapan penuh campur aduk. Ada rasa takjub, lega, tapi juga desiran aneh yang masih tertinggal di dadanya sejak malam tadi.

"Berburu ikan?" gumam Rasti pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tampak manis di wajahnya yang mulai merona segar. "Hati-hati, Bim..."

Sementara itu, Bima berjalan menyusuri jalanan setapak Desa Sukamaju dengan langkah mantap. Udara pagi yang bersih dihirupnya dalam-dalam tanpa ada lagi rasa sesak yang biasanya langsung mencekik paru-parunya. 

Beberapa warga desa yang kebetulan lewat sempat meliriknya dengan dahi berkerut, heran melihat si "ampas desa" yang biasanya berjalan membungkuk dan pucat, kini mendadak tegak dengan aura yang sangat segar. Namun, Bima tidak memedulikan mereka. Fokus utamanya saat ini adalah mencoba dan mengasah kemampuan barunya.

Tujuan Bima adalah Lubuk Hitam, sebuah bagian sungai yang terletak di dekat kaki gunung. Tempat itu terkenal memiliki arus bawah yang deras dan dikelilingi tebing batu rawan, sehingga jarang ada warga yang berani memancing di sana. Namun, bagi Bima, tempat berbahaya adalah gudang harta karun.

Begitu sampai di tepi lubuk, Bima meletakkan alat pancing bambu tuanya. Dia berdiri di atas batu besar, lalu memejamkan mata sejenak untuk memicu energi Mustika Hijau di dalam tubuhnya.

Sret!

Saat matanya kembali terbuka, pandangannya langsung berubah. Air sungai yang keruh dan dalam seketika menjadi transparan di matanya. Bima tersenyum lebar. Kemampuan terawangnya benar-benar luar biasa! Dia bisa melihat menembus riak air hingga ke dasar lubuk yang sedalam tiga meter.

Di sana, bersembunyi di balik celah-celah batu besar, beberapa ekor ikan monster—Ikan Kancra atau Dewa yang terkenal sangat langka dan berharga mahal—sedang berenang tenang. 

Selama ini, para pemancing kota rela membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah per kilo untuk ikan jenis ini, namun sangat sulit ditangkap karena sifatnya yang liar dan gesit.

‘Bingo! Dengan mata ini, memancing cuma jadi permainan anak kecil,’*

 batin Bima menyeringai.

Alih-alih menggunakan umpan cacing biasa, Bima memotong sedikit buah liar yang dia temukan di jalan, lalu menyalurkan seulas tipis hawa hangat dari tangannya ke buah tersebut sebelum memasangnya di mata kail. 

Reaksi ikan-ikan di dasar sungai sungguh gila. Begitu merasakan umpan bermuatan energi murni itu, tiga ekor Ikan Kancra berukuran raksasa langsung berebut liar, melesat naik seperti anak panah demi mencicipi umpan Bima.

Jleb! Cshhh!

Tali pancing Bima langsung tegang seketika. Jika itu adalah Bima yang dulu, jangankan menarik ikan besar, dia pasti sudah terseret masuk ke dalam sungai dan tenggelam. Namun sekarang, Bima hanya mendengus kecil. Dia menapakkan kakinya dengan kokoh di atas batu, lalu menyentak joran bambunya dengan satu tangan.

Kreeek... BYURRR!

Seekor ikan Kancra raksasa berukuran hampir sepanjang lengan orang dewasa melesat terbang keluar dari permukaan air dan mendarat dengan bunyi deburan keras di atas tanah kering di samping Bima. 

“WOW mantap jackpot ini!” Serunya.

Ikan itu menggelepar hebat, sisiknya yang keperakan berkilau memantulkan cahaya matahari pagi. ukurannya minimal mencapai empat kilogram! Ini bakal laku mahal dan lumayan bisa sampai ratusan bahkan jutaan untuk satu ekor.

"Satu ekor ini saja kalau dibawa ke restoran besar di kota kabupaten bisa laku lima ratus ribu rupiah," ucap Bima dengan mata berbinar puas.

1
Gege
klasik dan epic penjelasannya...
Gege
naaah..makin oyeeh nih..yuk bisa yuk banyakin hareem yang pijat plus plus ke MC... duit dapat..enaknya juga dapet..🤭🤣
.
kirain TAMAT Thor dah lama ga update
Manusia Biasa: Nunggu lulus kontrak dulu kemarin. kena masalah terus saking vulgarnya🤣
total 1 replies
septian arista
Nah itu dukun bodoh apa gimana Masa takut sama si Ujang yang nggak bisa apa-apa kenapa nggak disantet aja itu si Ujang🤔🤔🤔
septian arista
cerita cultivator versi dalam negeri🤭🤭🤭
Manusia Biasa: kultivasi lokal
total 1 replies
septian arista
ini ceritanya mirip sama para kultivator yang menemukan warisan tersembunyi
Hentri Gunawan
kpn di up LG Thor ..
Manusia Biasa: selasa mungkin kak, lagi sibuk ujian
total 1 replies
Leynn
Author, kok bisa update sampai 5+ chapter sehari? sanggup kah? atau emang udah punya draft yang banyak? sekali update berapa kata? (mohon jawab karena saya juga author pemula ingin tahu motivasi nya kenapa bisa banyak banget chapter dalam sehari)
Leynn: hell naw😹
total 9 replies
Domek Uuk
mantap
Domek Uuk
lanjut thor,,
Gege
dan othor di pun mencoba men skip adegan kitab kamasutra yang tabu untuk di detailkan dalam platform NT..🤣
Manusia Biasa: gak boleh sama pihak NT
total 1 replies
Kisin Gindam
mantap
Domek Uuk
ceritanya kurang menantang thor
Domek Uuk
lanjut thor
Domek Uuk
zip,lanjutkan thor
Domek Uuk
mantap bos,wiek wik mana?
Ajidewa nagaraja
ribet ya mau tiap lanjut episode
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Waduh mengerikan sekali..😨😰😱
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Menurutku lebih SAH kalau hubungan tersebut diresmikan melalui pernikahan.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊
Achnad Asbert: 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Gege
ditunggu plot ratu LC datang berobat mengalami masalah saluran kencingnya...pasti tangan bima mengobok oboknyaah...😄🤭🤣
Manusia Biasa: udah bos, cabulnya sampai sini dulu. kena pringatan dari PF ini, gagal kotnrak😂😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!