NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Planet yang Hancur

Panas api membakar bulu-bulu di ujung sayap Alan, tetapi bocah berusia tujuh tahun itu terlalu takut untuk menangis. Bau hangus dari daging yang terbakar dan belerang menyengat hidungnya yang mungil, memicu rasa mual yang hebat.

Di atas langit Planet Diamond yang dulunya sewarna permata berkilauan, sesosok bayangan raksasa bertubuh ular raksasa dengan belasan kepala meliuk-liuk di antara kepulan asap hitam.

Typhon. Monster legendaris yang dalam buku sejarah klan mereka digambarkan sebagai pembawa kiamat, kini nyata berada di depan matanya.

Monster itu sedang berpesta, memuntahkan lautan api dari moncong-moncongnya yang mengerikan, melelehkan arsitektur megah dari kristal padat dan menara-menara putih peradaban Pegasus hingga menjadi puing-puing tak berbentuk.

Setiap beberapa detik, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Ledakan demi ledakan menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Langit timur yang biasanya menampakkan aurora ungu yang indah, kini sepenuhnya tertutup jelaga merah darah.

"Cepat, Alan! Jangan menoleh ke belakang! Kepakkan sayapmu!"

Tangan kekar Edmond, sahabat karib ayahnya, menyentak lengan Alan dengan kasar. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat Alan nyaris terjungkal, memaksanya terus berlari menembus sisa-sisa Hutan Suci yang meranggas.

Pohon-pohon purba yang biasanya memancarkan cahaya keemasan kini meranggas, terbakar dari dalam karena hawa panas yang dibawa oleh Typhon.

Di belakang mereka, di batas luar hutan, sang ayah—Leonard, pemimpin klan mereka—berdiri tegak. Sepasang sayap seputih salju milik ayahnya terkepak lebar, menciptakan gelombang angin untuk menghalau badai api. Mata ungu sang ayah, ciri khas murni bangsa Pegasus, memancarkan kepasrahan yang mengerikan.

"Ayah! Aku tidak mau meninggalkan Ayah!" teriak Alan. Suaranya parau, langsung tertelan oleh gemuruh ledakan di langit. Air mata akhirnya luruh, membasahi pipinya yang coreng-moreng oleh abu.

"Dengarkan Ayah, Nak," Leonard berlutut sejenak di atas tanah yang retak, mencengkeram kedua pundak Alan dengan erat. Begitu erat hingga Alan bisa merasakan gemetar di tangan ayahnya.

Manik mata ungu mereka beradu dalam keheningan yang singkat di tengah kekacauan.

"Kau adalah masa depan bangsa kita. Hanya kau yang tersisa. Patuhi Paman Edmond. Ayah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu."

"Tapi Ayah berjanji akan selalu bersamaku!" isak Alan, jemari kecilnya mencengkeram zirah perang ayahnya yang sudah retak-retak.

"Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah akan selalu ada di sini," Leonard menyentuh dada kiri Alan, tepat di mana jantung dan kristal magisnya berada. "Sekarang, pergi!"

Sebelum Alan sempat meraih ujung jubah ayahnya, Leonard sudah melesat ke angkasa. Kecepatan terbangnya menciptakan dentuman udara.

Dengan pedang elemen yang menyala, sang pemimpin klan menantang maut yang meraung di atas sana, menabrakkan diri ke arah salah satu kepala Typhon demi mengulihkan waktu bagi mereka.

"Ayah...!" lolongan Alan diputus paksa oleh Edmond yang kembali menariknya.

Namun, pelarian mereka tidak berjalan mulus. Baru beberapa ratus meter memasuki kegelapan hutan, sebuah erangan kesakitan yang menyayat hati membuat langkah mereka terhenti.

"Edmond... perlambat... perutku... sakit sekali..."

Lucia, istri Edmond, ambruk di atas tanah berlumut yang kering. Wajah wanita itu sepucat salju, tangannya mencengkeram perutnya yang membuncit besar.

Keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Sisa-sisa zirah ringannya tampak rusak, membuktikan bahwa dia juga telah bertarung habis-habisan sebelum ini.

Kepanikan total melanda wajah Edmond. Pria bertubuh tegap itu langsung berlutut, menyangga kepala istrinya. "Bertahanlah, Lucia! Kita belum sampai di jantung hutan. Barier pelindung belum diaktifkan!"

"Aku... aku tidak bisa menahannya lagi, Edmond. Bayinya... bayinya memaksa keluar sekarang..."

Lucia merintih, tubuhnya mengejang hebat saat gelombang rasa sakit kembali menyerang.

Edmond menatap langit dengan frustrasi. Raungan Typhon terdengar semakin dekat, menandakan pertahanan Leonard mulai melemah. Tanpa berpikir panjang, Edmond segera menggendong tubuh istrinya dengan sigap, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti otot-ototnya.

"Alan, terbang di dekatku! Jangan menjauh sedikit pun!" perintah Edmond dengan nada yang tak membantah.

Alan mengangguk cepat sambil menghapus air matanya dengan kasar. Sayap kecil di punggungnya mengepak sekuat tenaga. Rasanya sangat perih karena udara di sekitar mereka dipenuhi abu vulkanik yang tajam, tetapi rasa takut akan tertinggal membuat Alan melupakan rasa sakit fisiknya.

Mereka terbang rendah di antara dahan-dahan pohon purba yang tumbang, membelah kegelapan Hutan Suci yang melegenda—tempat di mana konon para leluhur Pegasus pertama kali diciptakan dari elemen murni semesta.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, mereka mendarat di sebuah altar batu besar yang rata di jantung hutan. Tempat itu adalah satu-satunya area yang belum tersentuh api.

Edmond membaringkan Lucia dengan hati-hati di atas batu tersebut. Dengan sisa sihirnya, Edmond menghentakkan kakinya ke tanah, mengaktifkan barier pelindung kuno yang langsung membentuk kubah transparan tipis di atas mereka.

Kubah itu menyamarkan keberadaan mereka, tetapi Edmond tahu, barier ini tidak akan bertahan lama jika Typhon mengarahkan pandangannya langsung ke tempat ini.

"Sekarang, Lucia! Kerahkan seluruh sisa kekuatanmu!" seru Edmond, menggenggam erat tangan istrinya.

Lucia menjerit, suaranya membelah kesunyian hutan yang mencekam. Dia mulai mengerahkan seluruh sisa energi dari Kristal Merah yang bersemayam di dalam jantungnya.

Bagi bangsa Pegasus, Kristal Merah bukan sekadar sumber kekuatan, melainkan nyawa itu sendiri. Setiap bayi Pegasus yang lahir akan menggenggam kristal magis tersebut sejak dalam kandungan, lalu menelannya sesaat setelah lahir agar menyatu dengan organ vital mereka.

Dan kristal itulah yang membuat mereka menjadi buruan utama. Typhon dan pasukannya memburu bangsa Pegasus bukan untuk wilayah, melainkan untuk merobek dada mereka dan memangsa Kristal Merah tersebut demi mendapatkan keabadian.

"Aaaarrrghhh!"

Satu jeritan terakhir yang melengking tinggi mengguncang altar batu, disusul oleh suara tangisan bayi yang jernih dan nyaring.

Seorang bayi perempuan telah lahir ke dunia yang sedang hancur. Kulitnya seputih pualam, bersih tanpa noda, dan parasnya begitu cantik layaknya dewi kecil.

Edmond mengembuskan napas lega yang luar biasa, air mata haru menetes di pipinya. "Dia perempuan, Lucia. Anak kita perempuan..."

Namun, saat Edmond membungkus tubuh mungil itu dengan selembar kain sutra putih, jemarinya mendadak bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, menatap punggung sang bayi dengan tatapan tidak percaya.

Wajah Edmond mendadak pias, kehilangan seluruh rona darah seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

"Edmond? Ada apa? Berikan bayinya padaku," ucap Lucia dengan suara yang teramat lemah, memaksakan diri untuk duduk bersandar pada batu.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Edmond dengan suara tercekat di tenggorokan. Dengan tangan yang masih bergetar, dia menyerahkan bayi itu ke pelukan istrinya.

Lucia menunduk, dan seketika itu juga, napasnya tertahan. Di punggung bayi perempuan itu, tidak ada apa-apa. Kulitnya mulus. Tidak ada tanda-tanda sayap tersembunyi yang biasanya dimiliki oleh setiap bayi Pegasus sejak menit pertama mereka lahir. Bangsa mereka terlahir untuk mengangkasa, namun anak ini tidak memiliki sarana untuk itu.

"Di mana sayapnya, Edmond? Kenapa... kenapa dia tidak punya sayap?" Isak tangis Lucia pecah, bukan karena bahagia, melainkan karena ketakutan yang mendalam.

"Bukan hanya itu, Lucia," Edmond membuka perlahan telapak tangan kecil sang bayi yang masih mengepal. Di dalam kepalan mungil itu, terdapat sebongkah kristal berbentuk elips.

Namun, kristal itu tidak memancarkan cahaya merah membara seperti milik mereka. Kristal itu berwarna putih pekat, jernih, dan memancarkan hawa dingin yang asing.

"Mengapa warnanya putih? Apakah ini kutukan dari para leluhur karena kita gagal menjaga planet ini?"

Alan melangkah mendekat dengan dahi berkerut polos. Rasa takutnya sejenak terusir oleh rasa penasaran seorang anak kecil. "Paman, Bibi, kenapa kalian menangis? Bukankah adik bayi sangat lucu dan cantik? Kenapa suasananya jadi menyeramkan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!