NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 - Uji Kelayakan Aset

Nami menahan napas selama beberapa detik, membiarkan keheningan ruang makan mewah itu merayap di kulitnya.

Di bawah meja marmer berlapis emas, jari-jarinya meremas kuat kain gaun putih tulang yang baru beberapa jam lalu melekat di tubuhnya.

Ia mengangkat wajah, memaksakan sebuah senyuman profesional yang biasa ia berikan pada pasien VIP di rumah sakit, namun kali ini terasa jauh lebih berat.

"Iya, Bu. Nami setuju."

Seketika, ketegangan di wajah wanita paruh baya di hadapannya mencair, digantikan oleh binar antusias yang begitu kentara.

Sofia mencondongkan tubuhnya, menyentuh punggung tangan Nami dengan hangat.

"Ah, syukurlah! Aku sudah menduganya. Kalian berdua ini memang serasi," ujarnya dengan nada suara yang bersemangat.

"Kalau begitu, tidak perlu menunda terlalu lama. Max, Ibu tidak mau pernikahan yang terlalu megah dan merepotkan. Intimate wedding saja. Hanya keluarga inti dan kolega terdekat yang benar-benar penting. Tapi harus dilaksanakan secepatnya. Bulan depan bagaimana?"

Max yang sejak tadi menikmati makan malamnya dengan tenang, hanya meletakkan garpu dan pisau makannya tanpa menimbulkan denting sedikit pun. Ia mengangguk pelan.

"Semua terserah Ibu. Aku akan meminta asistenku mengurus semuanya."

Wajahnya tetap datar, seolah mereka sedang membahas jadwal rapat direksi bulanan, bukan tentang hari pernikahannya sendiri.

Namun, tepat saat ia kembali memperbaiki posisi duduknya, sepasang mata tajam Max melirik sekilas ke bawah meja, menatap tangan Nami yang masih meremas gaunnya hingga kain mewah itu tampak kusut.

Max tidak bersuara, tapi lirikan itu seperti sebuah peringatan tak kasat mata bahwa sandiwara mereka baru saja dimulai.

***

Suara deru mesin mobil mewah milik Max terdengar kontras saat perlahan memasuki gang sempit di kawasan Tebet.

Dunia di dalam mobil ini terasa begitu sunyi, kedap suara, dan beraroma parfum mahal. Sementara di luar sana, aroma gorengan dari warung pinggir jalan dan debu jalanan Jakarta menanti Nami.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang kosan Nami. Nami langsung melepaskan sabuk pengamannya, tidak tahan ingin segera keluar dari atmosfer yang mencekik ini.

"Terima kasih untuk malam ini, Tuan Max," ucap Nami sinis, tangannya sudah menyentuh tuas pintu.

"Kau berakting dengan baik di depan Ibuku," sahut Max datar, matanya masih menatap lurus ke depan kemudi.

Nami menoleh, menyunggingkan senyum kecut. "Tentu saja. Uang satu miliar darimu memang menuntut profesionalitas yang tinggi, bukan?"

Max memutar tubuhnya sedikit, menatap Nami dengan ketenangan yang menjengkelkan. "Aku suka orang yang realistis seperti dirimu."

"Dan aku benci orang yang mengukur segala hal dengan uang," balas Nami cepat, menantang langsung sepasang mata sebeku es itu.

Max mendesah pelan, seperti menghadapi anak kecil yang keras kepala. "Tapi uang itu yang menyelamatkanmu, Dokter Namira."

Nami mendengus kesal. Ia menggigit bibir dalamnya. Kata-kata Max selalu tepat sasaran dan tidak menyisakan ruang untuk ia bantah.

Nami hendak menarik tuas pintu dan benar-benar turun, namun gerakan tangannya tertahan saat suara Max kembali terdengar—kali ini dengan nada perintah yang dibungkus kesopanan khasnya.

"Siapkan dirimu, besok aku jemput lagi. Ada urusan penting."

Nami mengernyitkan dahi, menatap pria itu dengan sisa rasa lelahnya. "Urusan apa lagi? Besok jadwalku padat di rumah sakit."

"Kau tidak perlu memikirkan jadwalmu. Cukup bersiap saat aku datang," ucap Max tanpa penjelasan lebih lanjut.

Nami mendengus kesal, lalu membuka pintu mobil dan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia berjalan cepat memasuki gang kosannya, meninggalkan kilau mobil mewah Max yang perlahan mundur menjauh dari dunianya yang kumuh.

***

Keesokan paginya, matahari Jakarta baru saja naik, memancarkan hawa gerah yang mulai terasa di kulit.

Nami melangkah keluar dari lobi kaca rumah sakit dengan tubuh yang luar biasa letih. Rambutnya diikat asal, dan jas putih dokternya tersampir lelah di lengan.

Namun, langkah kakinya langsung terhenti saat melihat sedan hitam yang sama seperti semalam sudah terparkir rapi di pelataran penjemputan. Pintu belakang terbuka, dan sosok Max tampak duduk tenang di sana sambil memandangi layar tabletnya.

Nami berjalan mendekat, tapi ia tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu mobil dengan kening berkerut.

"Aku masih ada jadwal visit pasien. Aku tidak bisa pergi sekarang," protes Nami dengan suara seraknya.

Max akhirnya mendongak, menatap Nami dari balik kacamata bacanya yang tipis. "Masuk, Namira."

"Aku bilang, aku ada jadwal..."

"Hari ini jadwal visitmu sudah digantikan oleh dokter residen lain," sela Max cepat, nadanya mutlak tanpa cela. "Kau sudah aku liburkan untuk hari ini."

Nami membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa? Bagaimana bisa? Kau tidak punya hak mengatur jadwal dinasku di rumah sakit ini."

"Aku punya," jawab Max pendek, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke layar tablet. "Dan jangan membuang waktuku di sini. Masuk."

Nami mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Penguasa sombong, umpatnya dalam hati.

Ia tahu Max bukan orang biasa, dan agensinya pasti punya pengaruh besar, tapi ia tidak menyangka pria ini bahkan bisa menyentuh birokrasi rumah sakit tempatnya bekerja dengan begitu mudah.

Dengan hentakan kaki kesal, Nami akhirnya masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya sedikit keras. Ia duduk di sudut kursi, menjauhkan diri dari Max sejauh mungkin.

"Sebenarnya kita mau ke mana lagi?" tanya Nami berang, menatap sisi wajah Max yang tampak sempurna dari samping.

"Butik lagi? Atau menemui Ibumu lagi?"

Max tetap tenang, seperti biasa. Jemarinya menggeser layar tablet dengan santai, mengabaikan total emosi Nami yang sudah berada di ubun-ubun. Tanpa menengok sedikit pun, bibirnya bergerak mengeluarkan jawaban dengan suara yang teramat datar.

"Kita akan melakukan uji kelayakan aset."

Nami seketika membeku. Otaknya yang sudah sangat lelah akibat kurang tidur mencoba berputar, meraba-raba, dan mencerna setiap suku kata dari frasa asing yang baru saja diucapkan oleh si CEO perfeksionis itu.

Uji kelayakan aset? Memangnya apa yang sedang mereka transaksikan sekarang?

"Apa itu?"

"Menguji kelayakan asetmu, agar aku tidak membeli sesuatu yang sia-sia."

Nami mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap Max dengan tatapan bingung yang dipenuhi rasa waswas.

Sementara mobil mewah itu mulai melaju membelah jalanan kota, membawanya menuju sebuah ketidakpastian yang sedikit menakutkan bagi Nami.

Sebenarnya, Max mau membawanya kemana?

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!