Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Wanda
"Kenapa bukan hukuman yang lain aja, sih?" omel Gio tiada henti saat sudah berada di dalam mobil. Mereka berada di tiga mobil yang berbeda.
"Aku masih ngga ngerti kenapa Aditama mau aja dihukum membersihkan kamar mandi. Kenapa dia ngga menego." Zio juga ikut mengomel.
"Aku yakin dia akan menyuruh orang lain yang melakukannya," tukas Naresh geram.
'Pastilah. Di kepalanya isinya hanya suka memerintah teman temannya saja," dengus Denish kesal.
"Begitulah dia. Apa lagi yang bisa dilakukan pecundang itu," kekeh Gio mengejek.
Tawa mereka pun terdengar. Tapi sama sekali tidak bahagia.
"Kian hanya niat menolong Wanda atau beneran suka dengannya, ya?" gumam Gio yang masih bisa di dengar ketiganya.
"Kadang ada juga perasaan suka yang berawal dari rasa kasian," analisa Naresh.
"Berarti dia berhutang banyak pada kita kalo nanti jadian dengan Wanda," kekeh Denish.
"Sangat banyak," sambung Ziom dengan seringai penuh arti.
"Yaah, siap siap saja kita akan jadi tumbal hubungan mereka," canda Gio.
Tawa mereka meledak lagi, kali ini lebih lepas dan bermakna.
*
*
*
Di mobil yang lainnya.
"Dylan, lebih baik kita bantu Om Ezra biar jadian dengan Bu Elia," usul Alen.
"Yakin Bu Elia mau dengan Om Ezra?" Dylan menyahut pesimis.
"Aku heran dengan Om Ezra. Dia ganteng, kaya raya, tapi sulit dapat perempuan yang benar, buat dia nikahi." Emil ikut memberikan pendapatnya dengan menistakan Ezra.
"Kutukannya mungkin karena selalu php-in perempuan." Reyhan mengutarakan kecurigaannya.
"Mungkin juga." Azka menganggukkan kepalanya setuju.
"Kalo Bu Elia jadi pacarnya Om Ezra, kita akan punya banyak keuntungan. Misalnya saja bisa terhindar dari hukuman," tukas Alen sangat bersemangat.
"Masalahnya aku ngga yakin Bu Elia mau," sahut Dylan masih pesimis.
"Karena itu kita yang harus berusaha yakinkan bu Elia." Alen tetap yakin dengan rencananya.
"Kalo Om Ezra sudah pasti mau?" Emil menatap Alen yang menurutnya terlalu bersemangat untuk hal yang belum pasti.
"Dia sudah ngga bisa milih milih lagi. Usianya sudah tua. Siapa aja yang mau dengannya dan siap dinikahi, paati akan dia terima," cibir Alen membuat tawa Dilan tersembur.
Nasibmu, om.
"Kian, gimana pendapat lo. Dari tadi diam aja," colek Reyhan membuat Kian yang sedari tadi memikirkan hal lain, tersenyum.
"Otaknya sudah penuh dengan Wanda." Azka menyindir kembarannya dengam suara tenang.
"Kamu suka Kian?" todong Alen dengan tatapan mengarah tajam pada Kian.
Kian mengedikkan bahu.
"Aku ngga tega aja melihatnya. Maaf, ya, sudah bikin kalian kena hukuman juga."
"Santai aja. Kita sudah biasa konfrontasi dengan Aditama. Sekarang apes aja." Dylan yang menyahut.
"Tapi Wanda cantik juga," cetus Emil.
"Jangan bilang kamu suka juga, Mil?" kekeh Alen mencoba membakar hati Kian.
Anehnya Kian sedikit merasa terusik dengan tuduhan Alen.
"Enggak. Ya, mungkin perasaanku sama kayak Kian. Kasian lihat perenpuan dikasarin begitu," jelas Emil dengan sekelumit senyumnya.
Kian sama sekali ngga merasa lega mendengarnya.
"Aku sudah menyelidikinya. Mendiang mamanya Wanda pernah jadi asisten papanya Aditama," tukas Azka.
"Meninggal tiga tahun yang lalu ," sambung Kian.
"Kalian berdua kompak sekali," ejek Alen.
"Namanya juga kembar," kekeh Reyhan.
"Kian penasaran, karena Wanda nurut aja disuruh suruh Aditama." jelas Azka sambil melirik Kian.
Kian memandang keluar jendela mobil.
"Jadi aku membantu Kian mencari tau tentang Wanda," sambung Azka.
"Papanya kerja di Hasta grup?" Emil kepo juga.
Azka menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak menemukan siapa papanya dan ada dimana. Mamanya Wanda sudah lama keluar dari Hasta grup." Azka menjawab lagi.
"Papanya Wanda bukan papanya Aditama?" ceplos Alen ngawur.
"Kayaknya bukan. Kalo papanya sama, Aditama ngga mungkin memperlakukannya dengan kasar, kan," tukas Dylan meminta pendapat mereka.
"Kenapa enggak? Bisa saja Aditama ngga terima papanya selingkuh," ngeyel Alen.
Hening. Kata kata Alen cukup mempengaruhi mereka juga.
"Tapi kalo anak selingkuhan papanya, pasti Aditama akan melakukan yang lebih dari ini," pungkas Reyhan.
Kian dan Azka.saling tatap. Juga Emil dan Reyhan. Mereka paham maksud ucapan Reyhan. Aditana sosok yang be-ngis dan ngga kenal kasihan terhadap orang yang dibencinya.
"Karena cuma dijadikan babu, pasti karena pecundang itu memang menganggapnya babu. Begitu, kan?" simpul Alen.
"Iya, sih. Neneknya Wanda sudah lama mengabdi jadi art di rumah Aditama. Mungkin karena itu Wanda di sekolah, kan, di simi bareng Aditama," jelas Kian. Tapi hatinya jadi tergelitik ingin tau siapa papanya Wanda.
Kalo memang Wanda anak selingkuhan papanya Aditama, kondisinya akan lebih menderita dari sekarang jika Aditama sudah tau. Mungkin sekarang Aditama belum tau.
Ah... Kian mencoba mengusir dugaan buruknya.
"Oooh.... Jadi karena neneknya udah jadi pembantu lama ditambah mamanya Wanda juga kerja sama bokapnya, jadi Aditama merasa Wanda pembantunya juga." Reyhan menghembuskan nafas panjang setelah mengatakannya. Dia mulai mengerti sekarang.
"Lo beneran ngga suka sana Wanda?" Alen mengganggu Kian lagi dengan pertanyaannya.
"Kadang kadang perasaan kasian lama lama bisa berubah jadi cinta," cuit Dylan. Senyumnya melebar.
Reyhan, Emil dan Azka tertawa pelan. Sedangkan Alen langsung ngakak.
Kian ngga menyahut. Ekspresinya datar.
"Kalo kalian sampai jadian, kita bisa minta apapun, kan. Soalnya kita yang babak belur," hasut Alen.
"Karena perjalanan cinta mereka masih panjang, siap siap aja kita makin babak belur." Azka menyahut kalem, tapi tawa Alen makin keras terdengar.
Kian hanya menyipitkan matanya melihat ejekan kerabatnya.
*
*
*
PLAK!
Tubuh Wanda agak terdorong begitu pipinya ditampar dengan sangat keras. Terasa sangat perih dan panas.
Aditama terdiam melihat raut murka mamanya. Tapi tidak ada keterkejutan di matanya, karena dia sudah pernah melihat Wanda ditampar oleh mamanya.
Hanya terselip perasaan bingung.di pikirannya, kenapa mamanya tidak mengusir Wanda saja kalo membencinya.
Tapi mamanya bersikap baik pada nenek Sumarni, juga pada pelayan lainnya. Hanya pada Wanda sikap mamanya berbeda.
"Kamu malah menyusahkan anakku. Dasar tidak tau diri!" maki Merelin-mamanya Aditama.
'Nyonya, maafkan cucu saya." Nenek Wanda, Sumarni, langsung bersujud tepat di ujung kaki Merelin-nyonya besarnya.
Merelin tidak menjawab, dia melihat gadis yang masih tetap berdiri dengan tangan yang memegang pipinya yang terdapat tanda merah jari jarinya .
"Wanda! Ayo, minta maaf!" perintah Nenek Sunami ketika menyadari tatapan nyonyanya pada Wanda-cucunya yang masih saja berdiri tegak.
Wanda tersentak mendengar bentakan neneknya. Dia masih terpaku akibat tamparan sang nyonya tadi.
Karena melihat cucunya masih belum menuruti kata katanya, Nenek Sunarmi menarik tangan cucunya hingga jatuh berlutut di hadapan Nyonya Merelin.
Wanda mengernyit menahan sakit di lututnya yang beradu keras dengan lantai. Dia menggigit kuat kuat bibirnya agar suara teriakannya tidak terdengar.
Satu tangan Nenek Sunarmi menekan kepala Wanda hingga keningnya menyentuh lantai. Bersujud sama seperti dirinya di hadapan majikan yang sudah lama diabdinya.
"Ada apa ini, ma. Bik Sunarmi, bangunlah." Terdengar suara Panji Hasta-papanya Aditama. Beliau baru saja tiba di rumah.
Istrinya mendengus kemudian pergi tanpa berkata apa apa.
Aditama melihat papanya menghela nafas panjang.
Seingatnya sudah tiga tahun hubungan mama dan papanya tidak seharmonis dulu.