NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - SERIGALA DI SARANG SINGAPURA

Hujan badai tropis menyapu landasan pacu Bandara Internasional Seletar, Singapura, saat sebuah jet pribadi mendarat menembus genangan air.

Pukul dua puluh dua lewat empat puluh menit.

Di dalam kabin privat lantai atas hotel Fullerton Bay yang menghadap langsung ke panorama Marina Bay Sands, pantulan cahaya neon keemasan terbiaskan oleh titik-titik air di dinding kaca raksasa. Hawa dingin dari sistem pendingin sentral terasa tipis, terdesak oleh aroma dupa gaharu tua dan tembakau cerutu Cohiba yang dibakar perlahan.

Aku berdiri di depan meja konsol kaca, mengenakan gaun malam sutra hitam backless yang jatuh memeluk pinggulku. Gaun tanpa lengan itu memperlihatkan punggungku yang mulus hingga ke batas pinggang, kontras dengan liontin giok hitam peninggalan Helena Arlena di atas belahan dadaku. Rambutku yang legam disanggul anggun dengan beberapa helai jatuh membingkai rahangku yang tegas.

Di cermin pantulan, sesosok pria melangkah mendekat tanpa suara.

Adrian Varell.

Kemeja hitam formalnya dibiarkan terbuka pada tiga kancing teratas, memperlihatkan dadanya yang tegap. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku saat ia meletakkan segelas wiski kristal di samping tanganku.

Aroma kulit, tembakau dingin, dan hawa hangat dari tubuhnya seketika memenuhi ruang udaraku.

Sebelum jemariku sempat meraih gelas itu, telapak tangan Adrian yang besar dan hangat mendarat di pinggang rampingku. Jari-jarinya menelusup ke kulit telanjang punggungku yang terbuka, merengkuh pinggulku dengan tekanan tegas. Tarikannya yang mantap membuat punggungku merapat ke dadanya yang padat tanpa menyisakan jarak udara sedikit pun.

Hawa hangat yang memancar dari tubuhnya mengirimkan getaran intens yang merayap di sepanjang tulang belakangku.

"Marcus Valois baru saja mendarat di Changi sepuluh menit yang lalu," bisik Adrian rendah tepat di lekuk leherku. Suara baritonnya yang serak bergetar di dekat daun telingaku, disusul sentuhan bibirnya yang basah menyusuri garis tengkukku yang sensitif. "Dia datang membawa sepuluh pengawal bersenjata dari firma tentara bayaran Corsica. Pria itu panik, Nadia. Ketika predator panik, langkah pertamanya adalah menyerang titik yang paling ia anggap lemah."

Aku memiringkan kepalaku sedikit ke samping, membiarkan sentuhan bibir Adrian menelusuri lekuk pundakku yang dingin, memberikan kecupan hangat yang menuntut respons hingga napasku sedikit memburu di kerongkongan.

Tanganku bergerak ke belakang, jemariku bertumpu pada paha tegap Adrian yang berbalut celana wol hitam, merasakan kekukuhan otot-otot di bawah kain mahal itu.

"Dia mengira saya adalah titik terlemah itu, Adrian," bisikku serak, menatap matanya melalui pantulan cermin kaca. "Dia mengira seorang anak perempuan yang dibesarkan di Jakarta akan gemetar begitu mendengar nama keluarga Valois disebut di lantai bursa Eropa."

Adrian terkekeh rendah—getaran di dadanya merambat langsung ke punggungku. Tangannya yang lain merayap naik ke depan, ibu jarinya menelusuri tulang selangkaku sebelum jemarinya menangkup sisi dadaku yang terbungkus kain sutra tipis, merasakan detak jantungku yang berpacu di bawah cengkeramannya.

"Tunjukkan pada serigala Prancis itu bagaimana seorang ratu samudra memperlakukan pengkhianat, Nadia," bisik Adrian parau, sebelum bibirnya menyambar bibirku dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan sarat akan dominasi yang mengikat kami berdua dalam satu pusaran ambisi yang tak terpisahkan.

Ketika tautan bibir kami terlepas dengan desahan napas yang berat, Bastian mengetuk pintu ganda ruang privat dengan kode ketukan taktis: tiga ketukan pendek, satu jeda, dua ketukan tegas.

Adrian melepaskan pinggulku secara perlahan, tangannya mengusap garis punggungku untuk terakhir kali sebelum ia melangkah mundur satu tapak, mengembalikan raut dingin sang penguasa bursa dalam hitungan detik.

"Masuk," perintah Adrian dingin seraya meraih gelas wiskinya.

Pintu terbuka. Bastian melangkah masuk dengan tablet taktis terenkripsi di tangannya.

"Laporan dari pelabuhan Jurong, Tuan Besar, Nona Nadia," kata Bastian seraya menyodorkan layar tablet ke hadapan kami. "Marcus Valois tidak menuju ke hotel transit. Konvoinya langsung meluncur ke gedung kantor perwakilan Trans-Oceanic Logistics di kawasan Raffles Place. Tiga anggota dewan tetua Konsorsium Sembilan Teratai yang tersisa telah menunggu di lantai empat puluh."

Di layar tablet, sebuah peta satelit memperlihatkan iring-iringan empat sedan lapis baja hitam yang baru saja memasuki pelataran gedung pencakar langit di pusat finansial Singapura itu.

"Siapa saja tetua Sembilan Teratai yang hadir?" tanyaku datar, menyeka sudut bibirku seraya menatap layar.

"Hanya tiga orang, Nona," jawab Bastian. "Tuan Tua Chen Bo, penguasa perbankan gelap Hong Kong; Robert Tan, pialang pelabuhan Batam; dan Hakim Agung pensiunan Richard Song. Mereka adalah otak pendanaan yang dulu menyetujui anggaran pembersihan Helena Arlena di Jakarta."

Nama-nama itu bagai deretan nisan yang telah lama menanti giliran untuk dipahat.

"Mereka berkumpul untuk menandatangani surat kuasa darurat pengalihan hak kepemilikan armada tanker," sela Adrian seraya memutar cincin meterai peraknya di jari kelingking. "Marcus berencana menggunakan hak suara minoritas gabungan mereka untuk menggugat keabsahan dekrit pembekuan rekening kita di Pengadilan Tinggi Singapura malam ini juga. Jika hakim menerima permohonan provisi mereka, rekening penampung kita di bursa Asia bisa ditangguhkan selama enam puluh hari."

"Enam puluh hari sudah cukup bagi mereka untuk menjual seluruh muatan minyak mentah di pasar gelap dan melarikan diri ke Swiss," sahutku dingin.

Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman tipis yang tajam.

"Bastian, hubungi komandan Fregat V-01 Jeanne d'Arc di batas perairan internasional Selat Riau."

"Siap, Nona Besar. Frekuensi saluran terenkripsi telah terhubung." Bastian menyerahkan sebuah mikrofon komunikasi militer berbentuk pena ke tanganku.

Aku menekan tombol bicaranya. Suaraku mengalun tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun, namun setiap kata mengandung keputusan mutlak:

"Komandan Arnaud, ini Nadia Valois-Arlena. Aktifkan protokol pemblokiran navigasi kuadran selatan. Arahkan radar pemandu senjata ke kapal-kapal kargo milik konsorsium Chen Bo dan Robert Tan yang hendak keluar dari Selat Philip. Satu kapal bergerak tanpa izin saya... tembakkan rudal peringatan lima puluh meter di depan haluan mereka.

Dari seberang saluran radio militer, suara berat seorang perwira angkatan laut Prancis terdengar menggelegar tegas:

"Perintah dipahami dan dilaksanakan atas nama Pewaris Valois. Fregat Jeanne d'Arc dan Lafayette mengunci koordinat target sekarang."

Sambungan diputus.

Aku menoleh ke arah Adrian. Pria itu menatapku dengan sorot mata yang menyala buas—tatapan seorang raja yang menyaksikan pasangannya mengayunkan keadilan tanpa sedikit pun keraguan.

"Mobil sudah siap di lobi bawah," kata Adrian seraya menyambar mantel hitam panjangnya. "Mari kita hadiri pertemuan keluarga di Raffles Place, Nadia."

Lantai empat puluh gedung Trans-Oceanic Tower, Raffles Place, Singapura.

(Pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit).

Ruang rapat utama di lantai teratas gedung pencakar langit itu berdinding kaca lapis ganda antipeluru, menghadap langsung ke kilau lampu pelabuhan tersibuk di dunia. Di tengah ruangan, meja marmer putih oval berukuran sepuluh meter dikelilingi oleh belasan pria berjas formal dengan ekspresi wajah tegang.

Di ujung meja, Marcus Valois berdiri tegak seraya menghantamkan kedua tangannya ke atas permukaan marmer.

BRAK!

"Kalian bertiga adalah orang-orang tua yang tidak berguna!" desis Marcus dengan aksen Prancis yang tajam dan bergetar menahan murka. Rambut pirangnya berantakan, dasi sutranya miring, dan matanya merah menyala akibat kurang tidur selama penerbangan lintas benua. "Dua puluh delapan kapal tanker saya tertahan di luar pelabuhan! Jutaan barel minyak mentah terombang-ambing di laut lepas tanpa bisa dibongkar! Kalian bilang kalian menguasai Jakarta! Kalian bilang keluarga Arlena hanyalah boneka yang mudah dimanipulasi!"

Tuan Tua Chen Bo—pria berusia tujuh puluh tahun dengan jubah sutra abu-abu tradisional—mengetuk tongkat gioknya ke lantai dengan wajah dingin berkerut.

"Jaga bicaramu, Marcus," suara Chen Bo serak namun berat. "Kami kehilangan Raymond Zhou di penjara Jakarta, Gavin Zhou tewas di laut, dan seluruh jaringan pencucian uang kami di Batam dibekukan kemarin siang. Anak perempuan Helena itu bukan sekadar boneka biasa. Dia bergerak dengan dukungan penuh Varell Group dan membawa dokumen wasiat yang mengunci seluruh otoritas perbankan di Jenewa!"

"Lalu apa rencanamu?!" bentak Marcus seraya menunjuk dokumen gugatan di hadapannya. "Tandatangani surat penetapan darurat ini! Sebagai wali sah pamanku yang koma, aku punya hak untuk membubarkan dewan komisaris anak perusahaan di Asia! Kita ganti seluruh direksi malam ini juga!"

Robert Tan, pialang pelabuhan bertubuh tambun, baru saja meraih pena emasnya dengan tangan gemetar ketika sebuah suara mendadak terdengar dari arah pintu masuk:

"Sentuh pena itu satu milimeter saja, Tuan Tan... dan esok pagi nama Anda akan dicatat sebagai buronan Interpol di perairan internasional."

KLEK.

Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar tanpa ada pengumuman dari sekretariat.

Seluruh kepala di dalam ruangan serentak menoleh bagai tersengat listrik.

Dua pengawal Corsica bersenjata laras pendek yang berjaga di ambang pintu sudah terkapar di lantai koridor dengan leher terpelintir, dilumpuhkan dalam hening oleh empat operator tempur bertopeng hitam Varell yang kini mengamankan pintu masuk.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan.

Sepatu hak tinggi kristal hitamku berketuk lambat di atas lantai marmer putih. Di belakangku, Adrian Varell melangkah menjulang bagai bayangan elang raksasa, sementara Bastian menenteng koper diplomatik antipeluru berlogo trisula perak.

Keheningan di ruangan itu seketika menjadi begitu pekat hingga suara tarikan napas panik dari para tetua terdengar jelas.

Mata Marcus Valois membelalak lebar. Pandangannya terpaku pada wajahku, lalu turun ke liontin giok hitam yang menggantung di leherku, sebelum akhirnya mengunci sepasang mata dinginku yang menatapnya lurus tanpa berkedip.

"K-kamu..." bibir Marcus bergetar hebat, warna darah seketika tersedot habis dari wajahnya yang tirus. "Wajah itu... Helena...?"

"Helena Arlena adalah ibu saya, Marcus," suaraku mengalun tenang, membelah keheningan ruangan dengan kejernihan yang mematikan. "Dan Arthur Valois... adalah ayah kandung yang darahnya mengalir di dalam tubuh ini."

Chen Bo terperenyak di kursinya, tongkat gioknya nyaris terlepas dari genggamannya. "Pewaris sah darah Arthur... gadis ini benar-benar ada..."

Marcus mengertakkan giginya hingga rahangnya menonjol tegang. Ketakutan yang sempat melintas di matanya mendadak berganti menjadi kobaran amarah liar seorang ahli waris yang menolak takhtanya dirampas.

"Palsu!" raung Marcus histeris seraya menunjuk wajahku dengan jari gemetar. "Kamu hanyalah anak yang dipungut Edward Arlena dari jalanan Jakarta! Arthur Valois tidak pernah mengakui pernikahan rahasianya dengan wanita itu! Kamu tidak punya hak atas satu sen pun dari aset konsorsium Valois!"

"Apakah surat penetapan dari Mahkamah Federal Swiss di Jenewa ini juga kamu anggap palsu, Tuan Marcus Valois?"

Suara bariton Adrian Varell berdentum rendah, menenggelamkan histeria pemuda Prancis itu seketika.

Bastian melangkah maju, membuka koper diplomatik di atas meja marmer, lalu melemparkan seberkas dokumen tebal berstempel segel timah merah Mahkamah Agung Konfederasi Swiss dan Bank Pictet tepat ke hadapan Marcus.

"Surat penetapan pembekuan hak wali atas Arthur Valois," lanjut Adrian dingin seraya melangkah maju satu tapak, memancarkan aura intimidasi yang membuat dua pengawal Corsica yang tersisa di sudut ruangan refleks mundur merapat ke dinding. "Atas dasar bukti forensik medis yang diajukan oleh rumah sakit di Nice sore tadi, ditemukan jejak racun polonium radioaktif dosis mikro di dalam darah Arthur Valois. Dan penyelidikan kejaksaan Prancis menetapkan satu nama sebagai tersangka utama percobaan pembunuhan berencana terhadap patriark keluarga: Marcus Valois."

DEG.

Ruangan itu mendadak kehilangan seluruh udaranya.

Marcus terhuyung mundur menabrak sandaran kursinya. Matanya menatap berkas medis itu dengan kaget yang murni. Rahasia paling gelap yang ia kubur selama dua tahun di dalam kastel di pesisir Nice—metode peracunan lambat yang dirancangnya agar pamannya mati secara alami—kini terbentang jelas di hadapan dewan tetua Sembilan Teratai.

"B-bagaimana bisa... tim dokter di Nice..." bisik Marcus terbata-bata, peluh dingin membanjiri pelipisnya.

"Kamu mengira kepala tim medis pamanmu setia padamu hanya karena kamu memberinya cek kosong setiap bulan?" tanyaku dingin, melangkah perlahan mengelilingi meja marmer hingga berdiri tepat dua langkah di sampingnya.

Aroma parfum mawarku berbaur dengan ketakutan yang menguar dari tubuhnya.

"Kepala tim medis itu adalah mantan perwira medis angkatan laut yang dulu berutang nyawa pada Arthur Valois," bisikku pelan tepat di samping telinganya, suaraku mengiris saraf kewarasannya bagai pisau bedah. "Dia menyimpan sampel darah ayah saya di brankas tersembunyi, menunggu hari di mana putri kandung Arthur datang untuk menuntut balas. Dan hari itu... adalah malam ini."

Marcus menelan ludah dengan susah payah, dadanya sesak oleh teror yang tak lagi mampu ia kendalikan. Ia menoleh liar ke arah tiga tetua Sembilan Teratai di seberang meja.

"Chen Bo! Robert Tan! Panggil pasukan pengamanan pelabuhan sekarang juga!" jerit Marcus serak. "Lumpuhkan mereka berdua di ruangan ini! Jangan biarkan mereka keluar dari Singapura!"

Namun tidak ada satu pun dari ketiga tetua itu yang bergerak.

Chen Bo perlahan meletakkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapanku.

"Konsorsium Sembilan Teratai... menyatakan mundur dari seluruh perselisihan keluarga Valois," ucap Chen Bo dengan suara bergetar pelan. "Mulai malam ini, seluruh hak konsesi maritim kami di Selat Malaka diserahkan kepada Nona Besar Nadia Valois-Arlena sebagai kompensasi atas kesalahan masa lalu keluarga kami."

"CHEN BO! KAMU PENGKHIANAT!" raung Marcus histeris.

"Tuan Marcus," suara Adrian kembali memotong tanpa ampun. Pria itu memberi isyarat tangan singkat ke arah koridor luar.

Empat petugas berseragam khusus Internal Security Department (ISD) Singapura bersama dua agen Interpol cabang Asia melangkah masuk ke dalam ruang rapat, memegang surat perintah ekstradisi internasional bersampul biru tua.

"Marcus Valois," ucap perwira pemimpin tim penegak hukum itu dengan nada kaku dan dingin. "Berdasarkan Red Notice nomor A-9942 yang diterbitkan oleh kepolisian nasional Prancis atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Arthur Valois dan pendanaan terorisme maritim lintas negara, Anda secara resmi ditahan untuk diekstradisi ke Paris malam ini juga."

Dua petugas langsung mencengkeram kedua lengan Marcus, memilin pergelangan tangannya ke belakang dan menguncinya dengan borgol baja berstandar militer.

"LEPASKAN AKU! AKU PEMIMPIN KLAN VALOIS!" jerit Marcus seraya meronta liar bagai binatang buas yang tertangkap jaring, matanya yang merah menatapku dengan kebencian yang mendidih. "NADIA! KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMEGANG TAKHTA ITU DENGAN TENANG! MEREKA DI EROPA AKAN MENGHANCURKANMU! KELUARGA BESAR VALOIS AKAN MENGULITI DARAHMU HIDUP-HIDUP!"

Aku tidak bergeming.

Tatapanku begitu tenang, hampa, dan dingin menatap sosoknya yang diseret paksa melintasi lantai marmer menuju pintu keluar.

"Biarkan mereka datang ke Asia, Marcus," bisikku pelan sebelum pintu lift menelan jeritannya selamanya. "Karena samudra ini... adalah tempat yang terlalu luas untuk menenggelamkan seluruh klan pengkhianatmu."

Pintu ruang rapat tertutup kembali dengan dentuman halus.

Di dalam ruangan yang kini hening membisu, ketiga tetua Sembilan Teratai yang tersisa bangkit serentak dari kursi mereka, membungkuk penuh ketundukan ke arahku dan Adrian yang berdiri berdampingan di ujung meja pimpinan.

Langkah kedua dari Babak Kedua peta jalan pembalasan dendamku telah tuntas dengan kemenangan mutlak.

Marcus Valois telah digiring menuju penjara bawah tanah di Prancis, ancaman embargo energi telah dibalikkan menjadi kendali kekuasaan mutlak di tanganku, dan dewan tetua Sembilan Teratai di Singapura telah menyerahkan seluruh kedaulatan jalur maritim mereka.

Adrian melangkah mendekat di sampingku, tangannya yang hangat merengkuh pundakku dengan rasa bangga yang tak lagi disembunyikan.

"Malam ini Selat Malaka resmi menjadi milikmu, Nadia Valois," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan pengakuan abadi.

Aku menatap panorama lampu pelabuhan Singapura di bawah kaki kami, meraba liontin giok hitam di dadaku yang kini terasa hangat.

"Bukan hanya Selat Malaka, Adrian," sahutku seraya menoleh, menatap mata kelam pria yang telah menjadi separuh jiwaku di medan pertempuran ini dengan senyuman penuh keyakinan.

"Pesawat kita menuju Nice, Prancis Selatan, akan lepas landas fajar nanti. Saatnya membangunkan ayah kandung saya dari tidurnya... dan menyapu bersih sisa ancaman di tanah Eropa."

Adrian tersenyum tipis—senyuman sang kaisar yang siap menaklukkan benua baru di samping ratunya.

Badai pembalasan dendam ini baru saja melintasi batas samudra.

Dan seluruh dunia... akan segera menyaksikan bagaimana dinasti Valois-Arlena meruntuhkan setiap musuh yang berani berdiri di jalurnya.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!