Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Dayang menyusuri gang sempit perkampungan dengan motor sport-nya, membuat beberapa tetangga yang menyapu pelataran menoleh dan melambaikan tangan.
Ia membalasnya dengan klakson singkat, lalu memarkirkan motor di pelataran rumah kayu yang sederhana namun asri.
Suasana halaman yang tertata rapi oleh tanaman pot membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
"Kak Dayang datang!"
Sambutan hangat dari Bintang, adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMA, menyapa pendengarannya bahkan sebelum Dayang sempat melepas helm.
Bintang berlari kecil menyambut Dayang dengan ceria, membawakan tas pinggang sang kakak yang berat oleh uang hasil jualan.
Dengan telaten, remaja itu menarik kursi teras dan mengoleskan minyak kayu putih ke tengkuk serta bahu Dayang yang kaku, tahu betul kakaknya lelah setelah seharian berjualan sejak subuh.
"Capek banget ya, Kak? Nanti malam tak pijitin lagi yang benar," ujar Bintang penuh perhatian.
Dayang tersenyum tipis, merapikan rambut adiknya yang sedikit berantakan.
Tak lama, mereka masuk ke dalam rumah dan duduk untuk menikmati percakapan hangat di meja makan sederhana.
Bau harum nasi hangat dan sambal terasi memenuhi ruangan.
Di sela-sela makan, Bintang menceritakan sekolahnya dan kebutuhan biaya ujian yang sudah diumumkan wali kelasnya kemarin.
Dayang yang sedang mengunyah tiba-tiba menyadari sesuatu.
Ia menatap seragam putih-abu-abu yang sudah rapi melekat di tubuh adiknya.
"Jadi dari tadi kamu belum berangkat nunggu kakak?" tanya Dayang.
Bintang menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Kak. Kan belum pamit sama belum dapat uang saku," kekehnya polos.
Dayang menggeleng pelan, lalu mengambil tasnya dan memberikan uang kepada Bintang sekaligus uang saku lebih untuk seminggu ke depan.
Dayang menegaskan agar Bintang hanya fokus belajar, sebab urusan rezeki dan biaya sekolah adalah tanggung jawab Dayang sebagai kakak.
Ia tidak mau Bintang kepikiran hal lain selain mengejar cita-citanya.
Semenjak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Dayang yang bekerja menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran ayah dan ibu demi memastikan Bintang bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Bintang menatap lembaran uang di tangannya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa kata, Bintang memeluk tubuh kakaknya dengan erat, menyerap ketegaran sosok perempuan luar biasa di hadapannya itu.
"Terima kasih, Kak. Nanti pulang sekolah aku belikan telur gulung ya!" janji Bintang dengan senyum merekah saat melepas pelukannya.
Dayang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.
"Janji ya! Yang banyak micinnya!"
Bintang tertawa, menyambar tas sekolahnya, lalu mengambil sepeda onthel dan segera berangkat ke sekolah, mengayuh pedalnya menyusuri gang dengan semangat yang membara.
Melihat adiknya yang sudah berangkat menyusuri gang dengan sepedanya, rasa lelah yang menumpuk sejak pukul tiga pagi mendadak menyergap tubuh Dayang.
Ia menghela napas panjang, melangkah menuju kamar tidurnya yang bersahaja.
Dayang yang kelelahan memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum ia menuju ke pasar ikan lagi nanti sore untuk mengecek pasokan kapal nelayan.
Sementara itu, di dalam mobil mewah Suryo Group yang terparkir tak jauh dari lorong Pasar Matahari, suasana terasa begitu dingin dan pekat.
Rimba menyandarkan punggung dengan rahang mengeras.
Harga dirinya sebagai CEO terhempas hanya karena ditolak oleh seorang "penjual ikan pasar".
Sepanjang karier bisnisnya, tak pernah ada satu orang pun yang berani menepis tawarannya, apalagi hanya seorang wanita penjual ikan berkaos oblong di pasar becek.
Rimba menolak menerima kata "tidak". Ia menganggap sikap Dayang hanyalah jual mahal untuk menaikkan harga jual ikan.
Di matanya, semua orang di dunia ini pasti memiliki harga—termasuk perempuan tomboy bermotor sport itu.
Rimba menyusun strategi awal untuk menundukkan prinsip Dayang.
Jika cara halus dan uang tak bisa menyentuh keteguhan gadis itu, maka cara keras yang akan berbicara.
Rimba memerintahkan Dio untuk mengutus sekelompok orang berbadan tegap guna melancarkan taktik gertakan halus besok pagi di lapak Dayang—dengan perintah membawa paksa pasokan ikan atau menakut-nakutinya agar mau menandatangani kontrak kerja sama eksklusif dengan Suryo Group.
"Tapi, Pak," potong Dio ragu, menyela dengan raut cemas.
"Dari informasi pedagang sekitar, wanita itu bukan sekadar penjual ikan biasa. Dia dijuluki preman pasar karena pernah merobohkan pemeras di sana. Lagipula, memakai kekerasan pada seorang wanita rasanya—"
Rimba melirik ke arah Dio dengan tatapan tajam membekukan yang seketika menghentikan kalimat asistennya itu.
"Aku tidak peduli meskipun dia wanita," bisik Rimba dingin, tanpa keraguan sedikit pun di matanya.
"Bisnis adalah bisnis. Besok pagi, pastikan dia menandatangani kontrak itu atau menyerahkan seluruh pasokan ikannya pada kita."
Jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika mata Dayang perlahan terbuka.
Sinar matahari menerobos masuk lewat celah ventilasi kayu kamarnya.
Dayang bangun dari tidurnya, meluruskan otot-otot tubuhnya yang sempat kaku, lalu bergegas beranjak dari tempat tidur.
Tanpa membuang waktu, ia membersihkan rumah, menyapu pelataran yang sedikit kotor, dan memasak ikan kecap pedas manis kesukaan Bintang untuk makan siang sang adik nanti seusai pulang sekolah.
Bau harum kecap berpadu rempah segar seketika memenuhi dapur kecilnya.
Setelah memastikan masakan tertutup rapi di atas meja, ia segera mandi dan bersiap menuju ke pasar ikan nelayan untuk memesan pasokan udang, cumi, dan barakuda buat besok subuh.
Dayang meraih jaket serta kunci motor sport-nya yang tergantung di dekat pintu.
Namun, saat akan berangkat ke pasar, ia dikejutkan dengan kedatangan Bayu, lelaki yang dari dulu mencintainya.
Bayu adalah pemuda lokal yang gigih dan baik hati, tapi Dayang selalu menolak perasaannya karena ia masih belum mau menikah—fokus utamanya saat ini hanyalah membesarkan Bintang hingga tuntas sekolah.
Bayu berdiri di ambang pintu, menyunggingkan senyum hangat sembari mengangkat dua kantong plastik di tangannya.
Bayu datang membawa durian dan anggur segar yang baunya menyengat harum.
"Boleh aku masuk?" tanya Bayu lembut, matanya menatap Dayang penuh harap.
Dayang menghentikan langkahnya di depan pintu, menatap Bayu dengan serba salah sebelum menghela napas pelan.
"Maaf, Bayu, aku mau ke pasar ikan sekarang. Ada janji sama juragan kapal."
Bayu menganggukkan kepalanya, menyembunyikan rasa kecewanya dengan senyum pengertian yang tetap ramah di wajahnya.
"Kalau gitu, ini dibawakan buat Bintang saja ya, Yang. Kebetulan tadi temanku ada yang panen durian sama anggur," ucap Bayu santai, mengulurkan kantong buah itu dengan tulus tanpa terkesan memaksa.
Dayang menatap kantong plastik itu sebentar, lalu menerimanya dengan senyum tipis yang jujur.
"Makasih banyak ya, Yu. Kebetulan Bintang lagi doyan banget sama anggur. Maaf ya nggak bisa mampir lama, aku beneran keburu dikejar waktu."
"Iya, santai saja. Hati-hati di jalan ya, Yang. Naik motornya jangan ngebut-ngebut," pesan Bayu penuh perhatian sebelum melangkah mundur menuju sepedanya.
Dayang mengangguk, meletakkan kantong buah di meja teras, lalu memakai helmnya.
Mesin motor sport-nya meraung halus saat ia memutar kunci kontak dan melesat membelah gang perkampungan menuju pelabuhan nelayan.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit bagi Dayang untuk sampai di dermaga pelabuhan tempat kapal-kapal nelayan bersandar.
Angin laut yang menyengat dan aroma garam menyambutnya saat ia memarkir motor di dekat TPI (Tempat Pelelangan Ikan).
"Eh, Dayang! Tumben agak siangan?" sapa Bang Jaka, salah satu juragan kapal yang sedang mengawasi anak buahnya membongkar muatan es batu.
"Iya, Bang. Tadi habis ketiduran sebentar, capek banget," sahut Dayang sembari melangkah mendekat.
"Bagaimana tangkapan hari ini? Besok subuh aku butuh udang vaname yang super, ikan tengiri, ikan kembung, cumi bening, sama barakuda yang agak gedean. Ada?"
"Ada aman, Yang! Khusus buat kamu, pasokan utama udah aku sisihin sebelum tengkulak-tengkulak lain datang. Ini ada ikan asap juga, mau?" ujar Bang Jaka sambil tertawa renyah.
"Ok aku mau," balas Dayang sigap.
"Ok siap, Yang. Kamu kan pelanggan setia yang nggak pernah nunggak bayar."
Dayang tersenyum puas. "Mantap! Masukkan catatan biasa ya, Bang. Besok jam empat subuh anak buahmu tinggal anter ke lapakku seperti biasa."
Setelah menyelesaikan transaksi dan memberikan uang muka pada Bang Jaka, Dayang sempat mengobrol sebentar dengan para nelayan lokal lainnya.
Kehadiran Dayang selalu disambut hangat di pelabuhan karena ia dikenal adil—tak pernah menawar harga ikan nelayan secara terlampau murah seperti yang kerap dilakukan distributor-distributor besar.
Selesai dengan urusan pasokan ikan untuk besok, Dayang melirik jam di pergelangan tangannya.
Sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ia pun pamit dan bergegas kembali pulang untuk menyambut Bintang yang sebentar lagi pulang sekolah.
Tanpa sedikit pun Dayang ketahui, di sudut lain kota, Dio sedang menyerahkan sejumlah amplop berisi uang tebal kepada empat orang pria bertubuh kekar dengan tato memenuhi lengan mereka.
"Ingat," tegas Dio pada sang ketua preman suruhan itu.
"Tugas kalian besok subuh cuma bikin dia takut dan mau tanda tangan kontrak. Jangan sampai merusak pasokan ikannya!"
Pria bertato itu terkekeh meremehkan. "Tenang saja, Mas. Cuma melunakkan seorang perempuan penjual ikan mah gampang. Subuh besok beres!"
Sesampainya di rumah, Dayang mendapati pintu depan sudah terbuka.
Di meja teras, Bintang tampak duduk santai sembari menikmati anggur segar pemberian Bayu yang tadi ia tinggalkan.
"Bagaimana, sudah dibayar?" tanya Dayang sembari melepas helm dan menaruh kunci motor di atas meja.
"Beres, Kak! Ini tanda buktinya," sahut Bintang sigap, menyerahkan kwitansi pembayaran biaya ujian sekolah dari kantong seragamnya.
Bintang kemudian meraih dua bungkus plastik di sampingnya dengan senyum merekah.
"Dan, ini telur gulung spesial untuk Kak Dayang, plus teh leci dingin kesukaan Kak Dayang!"
Dayang tersenyum lebar, menyambar seikat telur gulung berlumur saus pedas manis itu dan langsung menggigitnya.
"Wah, mantap! Makasih ya, Dek."
"Sama-sama, Kak. Oh iya, tadi Bang Bayu sempat lewat sini lagi, nggak? Anggurnya manis banget ini," ujar Bintang sembari mengunyah.
"Nggak, Dek. Tadi dia cuma ngantar buah ini pas Kakak mau berangkat ke dermaga," jawab Dayang santai seraya menyedot teh leci dinginnya yang menyegarkan dahaga setelah seharian beraktivitas.
"Kamu habiskan saja anggurnya. Kakak mau bersih-bersih dulu, habis ini kita makan pakai ikan kecap..
"Siap, Kak!"
Sore itu berlalu dengan tenang dan hangat di rumah kayu yang bersahaja.
Dayang dan Bintang menikmati makan siang terlambat mereka diselingi tawa dan cerita ringan.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂