Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
Lobi resort dipenuhi suara koper yang bergeser di atas lantai marmer.
Beberapa karyawan sibuk mengambil kartu kamar, sementara yang lain menikmati secangkir teh hangat yang disediakan panitia.
Udara Puncak terasa jauh lebih dingin dibanding Jakarta.
Kabut tipis mulai turun, membuat suasana resort terlihat tenang dan menenangkan.
"Teman-teman, mohon perhatiannya sebentar."
Seorang panitia berdiri di depan sambil membawa daftar.
"Karena ada sedikit kendala pada beberapa cottage, pembagian kamar mengalami perubahan."
Rina langsung berbisik kepada Nadira.
"Semoga jangan sekamar sama orang yang ngorok."
Nadira tertawa kecil.
"Amin."
Panitia mulai membacakan nama satu per satu.
"Pak Dimas bersama Pak Hendra."
"Oke."
"Rina bersama Siska."
"Yes! Aman!"
Satu per satu nama dipanggil.
Hingga akhirnya...
"Nadira bersama Tiara."
Nadira menghela napas lega.
Syukurlah.
Ia memang cukup akrab dengan Tiara, staf HR yang terkenal ramah.
"Arga bersama Farhan."
Arga dan Farhan saling menoleh, lalu tertawa kecil.
"Kayaknya kita memang jodoh jadi teman sekamar," celetuk Farhan.
Arga menggeleng geli.
"Asal jangan ngorok."
"Tenang."
"Aku ngigau."
"Kok lebih serem?"
Mereka tertawa bersama, membuat suasana tetap ringan.
---
Cottage mereka berada bersebelahan.
Cottage perempuan di sebelah kiri.
Cottage laki-laki tepat di sebelah kanan.
Di tengahnya terdapat taman kecil dengan bangku kayu menghadap ke arah perbukitan.
Begitu masuk ke kamar, Nadira langsung merebahkan tubuh di atas kasur.
"Enak banget."
Tiara ikut menjatuhkan diri ke kasur sebelah.
"Aku pengin tidur."
"Belum boleh."
"Kenapa?"
"Nanti ada games."
Tiara mengerang pelan.
"Siapa sih yang bikin gathering tapi nggak kasih waktu rebahan?"
---
Sementara itu, di cottage sebelah...
Farhan membuka koper sambil bersiul pelan.
Arga sedang merapikan pakaian ke dalam lemari.
"Gar."
"Hm?"
"Boleh nanya sesuatu?"
"Tanya aja."
Farhan duduk di tepi kasur.
"Kamu mulai suka Nadira sejak kapan?"
Arga berhenti melipat jaket.
"Cukup lama."
"Sejak pertama ketemu?"
Arga menggeleng.
"Nggak."
"Lalu?"
"Sejak dia marahin aku."
Farhan tertawa keras.
"Apa?"
"Serius."
Arga ikut tertawa.
"Waktu itu aku pikir dia perempuan paling menyebalkan."
"Terus?"
"Semakin sering ketemu..."
"...aku baru sadar."
"Sebenarnya dia bukan galak."
"Cuma terlalu peduli sama pekerjaannya."
Farhan mengangguk pelan.
"Aku juga lihat itu."
Hening sejenak.
Farhan tersenyum.
"Kamu beruntung."
"Kenapa?"
"Karena kamu mengenal sisi dirinya yang tidak semua orang lihat."
Arga menatap keluar jendela.
"Semoga saja suatu hari..."
"...dia juga melihat sisi diriku yang sebenarnya."
---
Sore hari, seluruh peserta berkumpul di lapangan rumput.
Panitia sudah menyiapkan berbagai permainan kelompok.
"Games pertama!"
Semua langsung bersorak.
"Lomba estafet balon!"
Rina langsung mengangkat tangan.
"Aku mau timnya sama Nadira!"
Panitia menggeleng.
"Pembagian tim diacak."
Beberapa menit kemudian, hasil undian dibagikan.
Tim Merah:
* Nadira
* Arga
* Rina
* Pak Dimas
* Dua karyawan lainnya
Tim Biru:
* Farhan
* Tiara
* Siska
* Dan peserta lain
Farhan tersenyum melihat hasil itu.
"Kayaknya memang takdir hari ini bukan sama Nadira."
Ia mengucapkannya sambil bercanda.
Arga hanya tersenyum tipis.
---
Permainan berlangsung seru.
Tim Merah berkali-kali gagal karena Rina terlalu banyak tertawa.
"Rin!"
"Jangan ketawa terus!"
"Aku nggak kuat!"
Sementara Nadira sampai memegang perut karena melihat tingkah Rina yang berlari sambil menjepit balon hingga akhirnya balon itu meletus sendiri.
"Astaga..."
"Lucu banget."
Melihat Nadira tertawa lepas seperti itu, Arga ikut tertawa.
Rasanya sudah lama ia tidak melihat perempuan itu seceria hari ini.
---
Games terakhir adalah **treasure hunt**.
Setiap tim mendapat petunjuk yang harus dipecahkan untuk menemukan kotak harta karun.
Tim Merah berjalan menyusuri taman resort.
"Petunjuk pertama..."
Pak Dimas membaca keras-keras.
> *'Carilah tempat yang selalu memantulkan langit, meski tidak pernah terbang.'*
Rina langsung mengangkat tangan.
"Kolam!"
"Benar!"
Mereka berlari menuju kolam kecil di belakang resort.
Di sana terdapat petunjuk kedua.
Begitu membuka amplop, Nadira membaca pelan.
> *'Langkah berikutnya hanya bisa ditemukan jika dua orang berjalan bersama.'*
Semua saling berpandangan.
"Maksudnya?"
Panitia yang berdiri tak jauh dari sana tersenyum.
"Dalam petunjuk itu memang ada syarat."
"Apa?"
"Dua orang harus berjalan melewati jembatan kayu di depan sana."
Rina langsung menunjuk Arga dan Nadira.
"Udah."
"Kalian aja."
"Nggak usah."
protes Nadira.
Pak Dimas malah ikut mengangguk.
"Iya."
"Biar cepat."
Karena tidak ingin memperpanjang waktu, akhirnya mereka berdua berjalan menuju jembatan kayu.
Jembatan itu cukup sempit.
Hanya muat dua orang berdampingan.
Di bawahnya mengalir sungai kecil dengan suara gemericik air yang menenangkan.
Udara pegunungan terasa semakin dingin.
"Lucu ya."
kata Arga pelan.
"Apa?"
"Dulu kita kalau jalan bareng..."
"...isinya debat."
Nadira tersenyum.
"Sekarang?"
"Sekarang..."
Arga menoleh kepadanya.
"...aku malah berharap jalannya lebih panjang."
Nadira menunduk.
Ia tidak sanggup membalas tatapan itu terlalu lama.
---
Begitu mereka sampai di ujung jembatan, panitia memberikan amplop berikutnya.
Namun saat Nadira hendak membukanya...
Langit yang sejak tadi mendung tiba-tiba berubah gelap.
Beberapa detik kemudian...
**Braaak!**
Suara petir menggelegar.
Tak lama setelahnya, hujan turun sangat deras.
"Semua peserta kembali ke aula!"
teriak panitia.
Orang-orang langsung berlarian mencari tempat berteduh.
Dalam kepanikan itu, Nadira yang berlari di atas jembatan kayu tiba-tiba terpeleset karena permukaan yang licin.
"Dir!"
Arga langsung menarik tangannya.
Namun karena tarikan itu terlalu kuat, tubuh Nadira justru terdorong ke arah Arga.
Mereka kehilangan keseimbangan.
Dan...
**Bruk!**
Keduanya jatuh bersamaan di atas jembatan kayu yang basah.
Arga refleks memeluk Nadira agar tubuh perempuan itu tidak membentur papan jembatan.
Mereka sama-sama terdiam.
Jarak wajah mereka begitu dekat.
Suara hujan menutupi segala hal di sekitar.
Untuk beberapa detik...
Dunia seolah hanya menyisakan mereka berdua.
Lalu terdengar suara Rina dari kejauhan.
"ASTAGA!"
"KALIAN BERDUA NGAPAIN DI SITU?"
Nadira langsung tersadar.
Ia buru-buru bangun dengan wajah semerah tomat.
Sementara Arga menahan tawa karena melihat ekspresi panik Nadira.
Namun dari bawah gazebo, Farhan yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum tipis.
Ia mengembuskan napas pelan.
Kini ia benar-benar mengerti.
Ada perasaan yang memang tidak bisa dilawan, sekuat apa pun seseorang berusaha.
Dan mungkin...
Sudah waktunya ia merelakan.
**Bersambung ke Episode 25...**