NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Gila, Zo! Ini serius lo yang bakal pegang?"

Plak!

Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Kenzo, membuat cowok itu sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Gani, sahabat sekaligus sesama atlet renang di kampus, sudah berdiri di sampingnya dengan mata melotot lebar, menatap lurus ke arah lembar biodata yang dipegang Kenzo.

"Apaan sih, Gan? Datang-datang hobi banget nepuk pundak orang," gerutu Kenzo sambil merapikan kembali kertas biodata Rindu agar tidak lecek.

Gani tidak mempedulikan protes Kenzo. Ia malah memajukan wajahnya, menatap lekat-lekat pasfoto formal berlatar merah yang menempel di pojok kanan atas kertas tersebut. Di sana, wajah cantik Rindu Prameswari menatap kamera dengan ekspresi datar yang dingin, namun tidak bisa menyembunyikan pesona alaminya.

"Ini kan Rindu Prameswari! Si Ratu Lintasan yang fotonya minggu lalu dipajang di majalah olahraga nasional!" seru Gani heboh, volume suaranya untungnya tertahan karena mereka masih di koridor dekat ruang dosen. "Cantik banget asli, aslinya pasti lebih badai. Tapi bentar... dia kan atlet elite bentukan klub internasional, kok bisa-bisanya ditaruh di kolam kampus kita? Privat sama lo pula?"

Kenzo mengembuskan napas pendek, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. "Penurunan performa drastis akibat tekanan mental. Bokapnya nyari tempat yang jauh dari media, dan Prof Tan nunjuk gue buat megang kasusnya."

Gani langsung bersiul panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan antara takjub dan kasihan pada sahabatnya itu.

"Tugas berat nih, Bro. Di atas kertas, dia emang aset emas negara. Tapi denger-denger dari anak-anak klub sebelah, mentalnya lagi hancur-hancuran gara-gara bokapnya sama Coach Hermawan yang terkenal kejam itu," ujar Gani, kini nadanya berubah agak serius. Ia kembali menepuk bahu Kenzo, kali ini dengan gerakan lebih pelan, memberi simpati.

"Gue akuisisi deh rasa iri gue karena lo dapet atlet secantik ini. Tapi jujur, ngadepin singa betina yang lagi terluka dan mogok kayak dia... lo harus ekstra sabar, Zo. Salah langkah dikit, lo yang bakal didepak sama bokapnya yang punya pengaruh gede itu."

Kenzo terdiam, menatap kembali biodata di tangannya. Kata-kata Gani barusan makin menegaskan apa yang dikatakan Prof Tan di dalam ruangan tadi. Sore nanti, tantangan yang sesungguhnya sudah menunggu di tepi kolam.

Kenzo langsung tertawa renyah mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia melipat berkas biodata Rindu, lalu menepuk-nepuknya ke dada Gani dengan gaya tengil yang khas.

"Ya jelaslah. Siapa sih yang gak akan bertekuk lutut di bawah bimbingan Kenzo Adhyaksa?" sahut Kenzo dengan penekanan penuh percaya diri, lengkap dengan cengiran lebar dan sebelah alis yang terangkat.

"Yis... sombong lo!" Gani langsung menepis tangan Kenzo sambil mendengus sebal, meski ujung-ujungnya ikut terkekeh melihat tingkat kepedean sahabatnya yang sundul langit itu. "Awas aja lo ya, kalau sore ini lo malah dikacangin lagi sama si Ratu Lintasan, gue orang pertama yang bakal ketawa paling keras di tepi kolam!"

"Nggak akan," cetus Kenzo santai, meskipun dalam hati ia tahu tantangannya tidak akan semudah itu. "Kemarin dia emang bisa bolos. Tapi sore ini, bokapnya sendiri yang bakal mastiin dia dateng. Kita lihat aja nanti, siapa yang bakal bikin siapa bertekuk lutut."

"Gaya lo, Zo! Ya udah, gue mau ke kantin dulu, laper dari pagi nungguin lo bimbingan. Lo mau ikut kagak?" ajak Gani sambil berjalan mundur.

"Duluan aja, Gan. Gue mau balik ke kosan bentar, mau beresin revisi bab empat dari Prof Tan biar sore nanti pikiran gue bener-bener fokus di kolam," tolak Kenzo sambil melambaikan tangan.

Setelah Gani menghilang di belokan koridor, senyum tengil di wajah Kenzo perlahan memudar, berganti dengan tatapan yang serius. Ia menunduk, memandangi map di tangannya sekali lagi.

Kenzo tahu ucapan konyolnya kepada Gani tadi hanya sekadar tameng untuk menutupi rasa penasarannya. Menghadapi atlet secantik dan seberbakat Rindu Prameswari yang sedang hancur secara mental bukan perkara memamerkan pesona atau kehebatan taktik. Ini adalah perang batin. Sore nanti, ia harus siap menjadi dinding yang kokoh sekaligus air yang tenang untuk menghadapi badai emosi yang dibawa gadis itu dari rumahnya.

Kenzo menarik napas pelan, mengisi paru-parunya dengan udara koridor kampus yang mulai terasa hangat oleh terik siang. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba membayangkan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Rindu Prameswari sore nanti.

Di dalam kepalanya, ia tidak membayangkan sebuah pertemuan formal yang manis antara pelatih dan atlet baru. Sebaliknya, ia membayangkan sebuah benturan dua kutub.

Kenzo bisa membayangkan gadis itu melangkah masuk dengan sisa-sisa keangkuhan seorang juara nasional dagu yang terangkat, tatapan mata yang tajam namun rapuh, dan sepasang bahu yang kaku karena memikul beban ekspektasi sebesar gunung. Gadis itu pasti akan menatapnya dengan penuh skeptisisme. Memandangnya sebelah mata hanya karena ia seorang mahasiswa akhir yang kos di kamar sederhana, bukan pelatih perlente berlisensi internasional seperti yang biasa ia temui di klub elite.

“Dia pasti bakal pasang tembok pertahanan setinggi mungkin,” batin Kenzo, sudut bibirnya sedikit berkedut membentuk senyum tipis.

Kenzo tahu betul, memenangkan hati atlet yang sedang terluka tidak bisa dengan cara dibentak seperti yang dilakukan Coach Hermawan, ataupun didekte seperti kemauan sang ayah. Atlet seperti Rindu tidak butuh orang lain yang menuntutnya berlari lebih cepat dia sudah tahu cara melakukannya sejak kecil. Yang dia butuhkan saat ini adalah seseorang yang mengerti kapan harus mengerem, dan kapan harus menyembuhkan luka sebelum kembali melompat dari balok start.

"Oke, Rindu Prameswari," gumam Kenzo pelan sambil membuka matanya kembali. Tatapannya kini berubah menjadi lebih fokus dan bertekad. "Kita lihat seberapa keras kepala lo sore nanti di depan gue."

Dengan map jepit yang didekap erat di dadanya, Kenzo memantapkan langkah menuju parkiran motor. Waktu terus berjalan, dan hitungan mundur menuju pukul tiga sore resmi dimulai.

**

Kenzo membanting pelan tubuhnya ke atas kasur busa begitu sampai di kamar kos. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwujud tripleks putih, sementara pikirannya sudah melompat jauh ke pukul tiga sore nanti. Tak mau membuang waktu, ia langsung bangkit dan duduk di meja belajar untuk menuntaskan revisi bab empat dari Prof Tan terlebih dahulu. Baginya, urusan akademis harus rapi sebelum ia bertempur di lapangan.

Setelah meluruskan beberapa analisis data yang sempat dicoret, Kenzo menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Tugas pertama selesai. Kini, saatnya ia menyiapkan diri untuk menu utama hari ini: Rindu Prameswari.

Kenzo membuka lemari pakaiannya, memilah beberapa potong baju kaos khusus pelatih miliknya. Berbeda dengan Coach Hermawan yang mungkin selalu tampil kaku dengan polo shirt ketat dan kacamata hitam, Kenzo memilih pendekatan yang berbeda.

Ia mengambil sebuah kaos dry-fit hitam polos yang pas di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana pendek olahraga sewarna. Ia sengaja memilih pakaian yang santai namun tetap profesional ia tidak ingin terlihat seperti sosok otoriter yang menakutkan di mata Rindu yang sedang defensif.

Selanjutnya, Kenzo mulai mengemasi coaching kit miliknya ke dalam ransel besar:

Stopwatch digital bersertifikat standar kompetensi.

Peluit fosfor yang jarang ia tiup kecuali dalam kondisi darurat (karena Kenzo lebih suka berbicara langsung daripada terus-menerus meniup peluit).

Papan klip (clipboard) yang kini menjepit rapi berkas biodata Rindu beserta selembar kertas kosong.

Kenzo sengaja mengosongkan lembar program latihan untuk sore ini. Di sana tidak ada target waktu, tidak ada menu short rest yang menyiksa, dan tidak ada angka 55 detik seperti yang dituntut oleh lingkungan lama Rindu.

"Anak yang sedang mogok tidak butuh dijejali menu latihan baru. Dia cuma butuh ruang aman untuk kembali percaya pada air," gumam Kenzo, mengingat salah satu teori psikologi olahraga yang pernah ia pelajari.

Sebelum mengunci pintu kosnya, Kenzo berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di dekat lemari. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut untuk menstabilkan detak jantungnya sendiri.

Sebagai mantan atlet kejurnas, Kenzo tahu betul bahwa energi seorang pelatih akan menular pada atletnya. Jika sore ini ia datang dengan ambisi dan ketegangan, maka Rindu akan semakin menutup diri. Ia harus menjadi sosok yang tenang, tidak tertebak, namun menghanyutkan.

Dengan senyum tipis penuh percaya diri, Kenzo menyandang ranselnya, mengunci pintu kamar kos, dan bersiap membelah jalanan menuju kolam renang universitas. Pertunjukan yang sesungguhnya akan segera dimulai.

**

Matahari sore baru saja bergeser ke barat, namun Rindu Prameswari sudah berdiri di depan gerbang Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sengaja ia meminta sopir pribadinya untuk menurunkan dirinya tiga puluh menit lebih awal dari jadwal. Bukan karena ia bersemangat, melainkan karena ia tidak tahan berlama-lama berada di dalam mobil jemputan bentukan ayahnya yang terasa seperti peti mati berjalan.

Rindu melangkah masuk menyusuri koridor fakultas dengan langkah yang terasa begitu berat. Setiap ketukan sol sepatunya di atas ubin koridor seolah menggaungkan rasa frustrasi yang menumpuk di dadanya.

Tas ransel besar berisi perlengkapan renang yang biasanya terasa ringan, kini terasa seperti bongkahan batu yang menekan pundaknya ke bawah. Wajahnya ditekuk datar, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin dan defensif. Ia sengaja menarik topi jepitnya agak rendah, berusaha menyembunyikan sepasang mata sembap yang kurang tidur akibat menangis semalaman.

Begitu melewati pintu masuk area kolam renang indoor, aroma tajam kaporit langsung menyengat indra penciumannya. Langkah Rindu sempat terhenti kaku di ambang pintu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, memicu memori traumatis bentakan Coach Hermawan dan tatapan dingin ayahnya tadi pagi kembali berputar di kepala.

Rindu memejamkan mata sejenak, mengepalkan tinjunya kuat-kuat di dalam saku jaket olahraga tebalnya.

“Gue cuma perlu gugur kewajiban di sini. Habis itu pulang,” batin Rindu membentengi diri.

Area kolam renang universitas itu masih sangat sepi. Belum ada tanda-tanda kehadiran anak-anak UKM atau mahasiswa lain. Air kolam yang berwarna biru jernih itu tampak begitu tenang, memantulkan cahaya matahari sore yang menembus jendela-jendela kaca besar di langit-langit gedung.

Rindu berjalan menuju bangku tribun penonton di sisi kolam, lalu mencampakkan tasnya ke atas kursi plastik dengan kasar. Ia duduk di sana sendirian, melipat kedua tangan di dada sambil menatap tajam ke arah balok start lintasan empat. Di tempat asing inilah harga dirinya sebagai pemegang rekor nasional dipaksa untuk tunduk di bawah arahan seorang mahasiswa tingkat akhir yang bahkan belum ia ketahui rekam jejak prestasinya.

Rindu bersiap memasang tembok pertahanan setinggi mungkin. Jika mahasiswa bernama Kenzo Adhyaksa itu datang dan berani berlagak mengatur atau membentaknya, Rindu bersumpah tidak akan sudi menyentuh air kolam itu, bahkan jika ayahnya harus menyita seluruh medalinya sekalipun.

Suara derit pintu besi area kolam renang memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti Rindu.

Kenzo melangkah masuk ke dalam area indoor dengan gaya yang sangat santai, jauh dari bayangan sosok pelatih kaku yang ada di kepala Rindu. Ransel besarnya disandang di satu bahu, sementara tangan kanannya memegang sebuah papan klip. Begitu matanya menyapu area sekitar, Kenzo langsung mendapati sesosok gadis yang sedang berdiri tegak di tepi kolam, menatap lurus ke dalam air biru jernih itu dengan punggung yang kaku dan defensif.

Kenzo tidak langsung memanggil atau mengejutkannya. Ia sengaja memperlambat langkah kakinya, berjalan memutar melewati pinggir kolam. Dari jarak beberapa meter, ia mengamati profil samping Rindu Prameswari. Gadis itu tampak mungil dalam balutan jaket olahraga tebalnya, namun aura "Ratu Lintasan" itu tetap terpancar sekaligus memperlihatkan kerapuhan yang disembunyikan rapat-rapat di balik rahangnya yang mengeras.

Kenzo berhenti tepat beberapa langkah di samping Rindu, ikut menatap air kolam yang tenang tanpa riak.

"Airnya lumayan dingin kalau jam segini. Tapi kaporitnya nggak sekeras di klub elite, jadi nggak bakal bikin mata lo perih," suara Kenzo memecah keheningan, terdengar renyah dan kasual, sama sekali tidak ada nada mengancam atau menuntut.

Rindu sedikit tersentak, lalu menolehkan kepalanya dengan cepat. Sepasang matanya yang dingin langsung menatap tajam ke arah Kenzo, mengamati cowok jangkung berkaos hitam polos di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Lo... Kenzo?" tanya Rindu dengan nada ketus dan penuh selidik, sengaja menjaga jarak pertahanannya.

Kenzo tidak tersinggung dengan sapaan ketus itu. Ia justru menurunkan papan klipnya, lalu mengulurkan tangan kanan sambil melempar senyum tipis yang ramah.

"Kenzo Adhyaksa. Pelatih privat lo atau lebih tepatnya, orang yang ditugasin buat nemenin lo berenang di sini," jawab Kenzo tenang.

Rindu menatap uluran tangan itu selama beberapa detik tanpa niat untuk membalasnya. Ia malah melipat kembali kedua tangannya di dada, membuang muka kembali ke arah kolam. "Gue ke sini cuma karena dipaksa bokap gue. Jadi, jangan harap gue bakal nurutin semua menu latihan gila lo kayak yang biasa dilakuin pelatih-pelatih senior."

Kenzo menarik kembali tangannya dengan santai, lalu terkekeh pelan. Sikap ketus Rindu justru membuatnya merasa tertantang.

"Siapa juga yang mau ngasih menu latihan gila?" Kenzo berjalan selangkah ke depan, lalu duduk di tepi kolam dengan kaki yang dibiarkan menggantung di atas permukaan air. Ia menoleh ke atas, menatap Rindu yang masih berdiri kaku. "Sore ini gue bahkan nggak bawa stopwatch. Lo mau langsung nyebur, atau mau berdiri terus di situ sampai masuk angin?"

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!