Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Di Balik Gemerlap
Malam telah larut ketika Alena akhirnya tiba di apartemen pribadinya. Keadaan di dalam hunian mewah yang terletak di lantai tiga puluh salah satu gedung pencakar langit Jakarta itu tampak sepi dan mati, kontras dengan gemerlap lampu kota yang berpendar di balik dinding kaca raksasanya.
Alena melangkah masuk dengan tubuh yang terasa sangat ringkih, seolah-olah seluruh energinya telah diperas habis di dalam mobil van tadi. Ia bahkan tidak kuat untuk menyalakan lampu utama. Dalam kegelapan yang temaram, ia berjalan gontai menuju sofa ruang tengah dan menjatuhkan dirinya di sana.
Kata-kata Siska terus berputar di dalam kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa.
“Singapura dan tetap menjadi ratu, atau pertahankan janin itu dan hancur berkeping-keping.”
Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal. Alena tahu betul seberapa besar kekuasaan Siska di industri ini. Siska memiliki jaringan yang luas dengan para jurnalis hiburan, pemilik agensi raksasa, hingga para investor bertangan besi.
Jika Siska mau, wanita itu hanya perlu membuat satu panggilan telepon anonim untuk membocorkan hasil laboratorium ke media, dan besok pagi wajah Alena akan terpampang di seluruh portal berita dengan tajuk utama yang memalukan.
Alena memeluk kedua lututnya di atas sofa, membenamkan wajahnya yang masih menyisakan sisa-sisa riasan tebal yang mulai luntur oleh air mata. Rasa mual di perutnya kembali datang, namun kali ini bukan karena kondisi fisiknya, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat. Ketakutan akan kehilangan semua yang telah ia perjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata selama sepuluh tahun terakhir.
Ia teringat masa-masa awal kariernya. Menghadiri puluhan audisi dalam sehari, ditolak berulang kali, tidur hanya dua jam semalam, hingga menahan lapar demi menjaga bentuk tubuh agar sesuai dengan standar industri yang kejam. Semua pengorbanan itu ia lakukan demi mencapai posisinya yang sekarang: seorang aktris papan atas yang dihormati, ikon kesucian yang dipuja jutaan orang, dan tumpuan harapan bagi keluarganya. Dan kini, semua kemegahan itu terancam lenyap dalam semalam hanya karena selembar kertas hasil tes kehamilan.
Secara refleks, tangan Alena kembali turun ke atas perutnya. "Kenapa kamu harus hadir di saat seperti ini...?" bisiknya lirih ke arah perutnya sendiri. Air matanya menetes, membasahi kain gaun satinnya. Namun, meskipun logika dan akal sehatnya berteriak agar ia mengikuti saran Siska untuk pergi ke Singapura, hatinya menolak dengan keras. Setiap kali ia membayangkan dirinya berbaring di atas ranjang operasi klinik aborsi, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Ada sebuah ikatan tak kasat mata yang mulai mengikatnya dengan janin yang tak berdosa itu. Janin itu adalah bagian dari dirinya, darah dagingnya sendiri.
Keesokan paginya, Alena terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memaksa kedua matanya yang bengkak untuk terbuka. Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama Siska.
Jantung Alena berdegup kencang. Dengan tangan yang gemetar, ia mengangkat telepon itu.
"Bagaimana, Alena? Dua puluh empat jam sudah berlalu. Apa keputusanmu?" suara Siska di seberang sana terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada bentakan.
Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa keberanian di dalam hatinya yang rapuh. "Aku tetap pada keputusanku, Mbak. Aku tidak bisa pergi ke Singapura. Aku akan mempertahankan anak ini."
Hening sejenak di seberang telepon. Alena bisa mendengar suara helaan napas Siska yang terdengar sangat dingin.
"Baiklah kalau itu pilihanmu," ujar Siska datar. "Tapi jangan harap aku atau agensi akan melindungimu lagi. Sore ini ada acara *Gala Premiere* untuk film terbarumu di Grand Indonesia. Kamu diwajibkan datang karena itu adalah bagian dari kontrak promosi yang sudah ditandatangani jauh-jauh hari. Datanglah dengan penampilan terbaikmu, Alena. Karena bisa jadi, itu adalah panggung megah terakhir yang akan kamu injak seumur hidupmu."
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus. Alena menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Panggung megah terakhir. Kata-kata itu terdengar seperti vonis mati. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Jika ia mangkir dari acara sore ini, pihak promotor film bisa langsung menuntutnya atas pelanggaran kontrak, dan itu hanya akan mempercepat kehancurannya.
Sore harinya, suasana di area red carpet Grand Indonesia luar biasa megah dan riuh. Ratusan penggemar telah memadati area pembatas sejak siang hari, membawa poster-poster besar bergambar wajah Alena dan Adrian.
Puluhan kamera jurnalis dari berbagai media massa berjejer rapi di sepanjang karpet merah, siap mengabadikan momen kedatangan para bintang utama. Cahaya lampu sorot yang berwarna-warni membelah langit-langit mal yang megah, menciptakan atmosfer yang penuh dengan kemewahan dan prestise.
Di dalam ruang tunggu artis, Alena sedang duduk di depan meja rias.
Tim penata rias dan penata rambut yang dikirim oleh agensi bekerja dalam diam. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat canggung dan dingin. Biasanya, Siska akan mendampinginya di dalam ruangan ini, memeriksa setiap detail penampilannya dengan cerewet, dan memberikan kata-kata penyemangat. Namun hari ini, Siska sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Siska benar-benar melepaskan tangannya dari Alena, membiarkannya berjalan di atas tepi jurang sendirian.
"Mbak Alena, gaunnya sudah siap," ujar salah satu penata busana dengan suara pelan.
Alena bangkit berdiri dan mengenakan gaun malam rancangan desainer ternama berwarna hitam pekat dengan aksen payet yang berkilauan seperti bintang di langit malam. Gaun itu bertipe A-line yang longgar di bagian pinggang ke bawah sebuah permintaan khusus dari Alena untuk menyembunyikan kondisi perutnya, meskipun saat ini usia kehamilannya baru memasuki empat minggu dan belum menunjukkan perubahan fisik yang berarti. Ketika ia melihat pantulan dirinya di cermin besar, ia tampak sangat anggun dan berkuasa, seorang ratu panggung yang tak tertandingi.
Namun di balik gaun berharga ratusan juta itu, Alena bisa merasakan tubuhnya yang dingin dan jantungnya yang berdegup tidak karuan.
"Alena, giliranmu untuk naik ke red carpet," seru salah satu staf floor manager yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
Alena menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan meremas jemarinya. Ketika ia membuka mata kembali, ia memasang topeng terbaiknya: sebuah senyuman manis, anggun, dan penuh percaya diri yang telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.
Begitu Alena melangkah keluar dari ruang tunggu dan menginjakkan kakinya di atas karpet merah, suara gemuruh dari para penggemar langsung meledak memenuhi ruangan.
"Alena! Alena! Tatap ke sini!" teriak puluhan jurnalis foto, disusul oleh kilatan lampu *flash* yang membabi buta, melukai pandangan matanya.
Alena berjalan dengan langkah yang anggun dan stabil, melambaikan tangannya ke arah kerumunan penggemar yang histeris memanggil namanya. Ia berhenti di beberapa titik untuk memberikan pose terbaiknya kepada kamera jurnalis. Di tengah gemerlapnya cahaya dan sorak-sorai yang memekakkan telinga itu, Alena mendadak merasa sangat terasing. Semua orang di tempat ini memuja bayangan dirinya yang sempurna di atas panggung, namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di dalam tubuh wanita yang sedang mereka puja ini, ada sebuah rahasia besar yang siap menghancurkan ilusi kesempurnaan tersebut.
Tiba-tiba, suasana menjadi semakin riuh ketika Adrian melangkah masuk ke area red carpet. Pria itu tampil luar biasa tampan dengan setelan tuksedo klasik berwarna hitam dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Rambutnya ditata dengan gaya sleek back yang rapi, menonjolkan rahangnya yang tegas dan garis wajahnya yang rupawan. Adrian berjalan dengan penuh kharisma, menebarkan senyuman menawan yang langsung membuat para penggemar wanita berteriak histeris.
Sesuai dengan protokol acara, sebagai sepasang kekasih di dalam film, Alena dan Adrian harus berjalan bersama dan berpose mesra di hadapan para jurnalis sebelum memasuki studio bioskop.
Adrian melangkah mendekati Alena, lalu dengan natural melingkarkan lengan kirinya di pinggang Alena, menarik tubuh wanita itu agar berdiri lebih dekat dengannya.
Sentuhan tangan Adrian di pinggangnya membuat tubuh Alena seketika menegang. Aroma parfum maskulin khas pria itu kembali menyeruak masuk ke indra penciumannya, memicu memori malam terkutuk di hotel itu dan memicu rasa mual yang luar biasa di perutnya. Alena berusaha keras untuk tidak menunjukkan reaksi fisik apa pun di depan kamera. Ia memaksakan senyumnya tetap mengembang, meskipun bibirnya terasa sangat kaku.
"Tersenyumlah lebih natural, Alena. Semua kamera sedang menyorot kita," bisik Adrian dengan suara yang sangat pelan di dekat telinga Alena, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedang tersenyum menawan ke arah kamera.
Alena tidak menjawab. Ia hanya terus mengikuti ritme langkah Adrian di atas karpet merah, menahan rasa pening yang mulai menyerang kepalanya akibat kilatan lampu flash yang tak henti-hentinya menyala.
Setelah sesi foto dan wawancara singkat yang melelahkan di red carpet selesai, para pemeran utama diarahkan menuju area lounge VIP yang terletak di bagian belakang bioskop sebelum pemutaran film dimulai.
Area ini jauh lebih sepi dan dijaga ketat oleh petugas keamanan, memberikan sedikit privasi bagi para artis dari kejaran media dan penggemar.
Alena langsung berjalan menuju sudut ruangan yang paling sepi, berniat untuk mencari segelas air putih untuk menenangkan perutnya yang kembali bergejolak. Namun, sebelum ia sempat meraih gelas, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan lembut namun tegas, menariknya menjauh dari kerumunan staf menuju sebuah lorong sepi di dekat pintu keluar darurat.
Alena terkesiap dan berbalik, bersiap untuk memprotes, namun suaranya tertahan di tenggorokan ketika melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Itu adalah Adrian.
Pria itu melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Alena dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh dengan emosi yang sulit diartikan. Suasana di lorong sepi itu terasa sangat kontras dengan kebisingan di luar sana.
"Ada apa, Adrian? Kenapa kamu membawaku ke sini? Jika ada orang atau staf yang melihat kita, ini bisa menimbulkan kesalahpahaman," ujar Alena dengan suara ketat, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku dalam tuksedonya, mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah tampak agak lecek, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Alena.
Jantung Alena seolah berhenti berdetak seketika ketika melihat dokumen tersebut. Itu adalah salinan kertas hasil laboratorium miliknya yang menyatakan bahwa ia positif hamil.
"Dari mana... dari mana kamu mendapatkan kertas ini?!" tanya Alena dengan suara yang gemetar hebat, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat pucat.
"Siska yang memberikannya padaku dua jam yang lalu," jawab Adrian dengan suara berat yang terdengar sangat dingin. "Manajermu itu mendatangi ruang ganti pribadiku sebelum acara dimulai. Dia menceritakan semuanya padaku, Alena. Tentang kondisimu, tentang penolakanmu untuk pergi ke Singapura, dan tentang fakta bahwa... anak yang sedang kamu kandung itu adalah anakku."
Alena merasa dunianya runtuh untuk yang kesekian kalinya. Siska benar-benar melakukan apa yang diancamkannya. Wanita itu tidak hanya melepaskan tangan, tetapi secara aktif mulai menghancurkan Alena dengan melibatkan Adrian dan kekuatan besar di belakang pria itu.
"Apa yang kamu inginkan, Adrian?" tanya Alena pasrah, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Apakah kamu di sini untuk memaksaku melakukan aborsi juga? Untuk melindungimu, melunasi nama besarmu, dan melindungi nama baik Dewangga Group?!"
Adrian menatap Alena yang sedang menangis di hadapannya. Ekspresi dingin di wajah pria itu perlahan memudar, digantikan oleh sebuah guratan rasa bersalah dan kebingungan yang mendalam. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong yang dingin.
"Malam itu... aku tahu kita sama-sama melakukan kesalahan besar, Alena," ujar Adrian pelan, suaranya terdengar serak. "Aku tidak pernah berniat untuk merusak hidupmu atau kariermu. Dan jujur, ketika Siska menunjukkan kertas ini padaku, aku merasa sangat terkejut dan takut. Aku takut akan reaksi keluargaku, aku takut akan dampak bisnis yang akan menimpa perusahaanku."
Adrian menjeda kalimatnya sejenak, menatap langsung ke dalam mata Alena yang basah oleh air mata. "Tapi, aku bukan seorang pengecut yang akan membiarkan seorang wanita menanggung akibat dari kesalahan bersama sendirian. Aku juga tidak akan pernah mendukung ide gila manajermu untuk melakukan aborsi di Singapura. Membunuh anakku sendiri demi sebuah reputasi? Aku tidak sekeji itu."
Alena tertegun mendengarnya. Kata-kata Adrian barusan seperti sebuah oase di tengah padang pasir yang gersang bagi hatinya yang selama ini didera oleh penolakan dan ancaman dari semua orang di sekitarnya. Untuk pertama kalinya semenjak ia mengetahui kehamilannya, ada orang lain yang berdiri di pihaknya dan mengakui keberadaan janin tersebut sebagai seorang anak, bukan sebagai sebuah 'masalah' atau 'gumpalan darah pembawa sial'.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan, Adrian?" tanya Alena lirih, suaranya sarat akan keputusasaan. "Siska mengancamku dengan ganti rugi kontrak sebesar lima puluh miliar rupiah jika skandal ini bocor. Agensiku tidak akan tinggal diam. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku akan hancur."
Adrian melangkah mendekati Alena, mengulurkan tangan kanannya, dan dengan perlahan menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kali ini tidak lagi terasa menakutkan bagi Alena, melainkan terasa hangat dan penuh dengan rasa protektif.
"Uang lima puluh miliar bukan masalah besar bagi Dewangga Group, Alena. Aku bisa melunasinya dalam hitungan menit jika agensimu berani melayangkan tuntutan hukum kepadamu," tegas Adrian dengan nada suara yang penuh dengan otoritas mutlak seorang pewaris konglomerat. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu atau menghancurkanmu."
Alena menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... kamu mau membayarnya? Tapi bagaimana dengan media? Bagaimana dengan publik jika mereka tahu?"
Wajah Adrian kembali mengeras, menatap lurus ke depan seolah sedang menyusun sebuah strategi perang yang besar di dalam kepalanya. "Kita tidak bisa menyembunyikan ini selamanya, Alena. Perutmu akan segera membesar dalam beberapa bulan ke depan. Siska juga memegang kartu as kita dan dia bisa menggunakannya kapan saja jika dia merasa terdesak. Jadi, sebelum mereka menyerang kita dan mendikte narasi di media, kita yang harus mengambil kendali terlebih dahulu."
"Maksudmu?" Alena mengerutkan keningnya bingung.
"Besok pagi, aku akan mengumpulkan seluruh tim hukum terbaik dari Dewangga Group dan mengurus pemutusan kontrakmu dengan agensimu secara sepihak. Aku akan membayar seluruh denda penaltinya," jelas Adrian dengan mata yang berkilat tajam. "Setelah itu, kita akan mengadakan konferensi pers resmi. Kita akan mengumumkan kepada publik bahwa kita telah menjalin hubungan serius dan... kita akan mengumumkan pernikahan kita."
Alena membelalakkan matanya terkejut, langkah kakinya mundur satu langkah akibat rasa syok yang luar biasa. "Pernikahan?! Adrian, kamu gila? Kita tidak saling mencintai! Pernikahan mendadak seperti itu di tengah popularitas kita yang sedang berada di puncak justru akan memicu kecurigaan yang lebih liar dari netizen! Mereka akan tahu bahwa aku hamil duluan!"
"Biar saja mereka tahu!" potong Adrian tegas, mencengkeram kedua bahu Alena agar wanita itu kembali fokus menatapnya. "Dengar, Alena. Di industri yang kejam ini, jika seorang aktris hamil di luar nikah dan ditinggalkan sendirian, publik akan menghancurkannya tanpa ampun. Kamu akan dicap dengan segala sebutan buruk yang ada di dunia ini. Tapi, jika kita menghadapinya bersama sebagai sepasang suami istri, jika aku berdiri di sampingmu dan mendeklarasikan bahwa anak itu adalah anakku yang sah di mata hukum, narasi publik akan berubah. Mereka mungkin akan terkejut, mereka mungkin akan kecewa, tapi mereka tidak akan bisa menyentuhmu karena ada perlindungan penuh dari nama besar Dewangga Group di belakangmu."
Alena terdiam seribu bahasa.
Setiap kata yang diucapkan oleh Adrian masuk akal secara logika bisnis dan manajemen krisis di dunia hiburan, namun hatinya menolak untuk menerima kenyataan bahwa ia harus terikat dalam sebuah pernikahan tanpa cinta yang didasari oleh sebuah kesalahan malam satu malam. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi Alena, sesuatu yang selama ini ia impikan akan terjadi sekali seumur hidup dengan pria yang benar-benar ia cintai dan mencintainya balik.
"Apakah... apakah tidak ada jalan lain, Adrian?" tanya Alena dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.
Adrian menggelengkan kepalanya perlahan, tatapan matanya melembut namun tetap menyiratkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidupmu, kariermu yang tersisa, dan yang paling penting... untuk menyelamatkan masa depan anak kita, Alena. Pikirkanlah. Acara di dalam studio akan segera dimulai. Kita harus kembali ke ruang tunggu sebelum staf mulai mencari kita."
Adrian melepaskan cengkeramannya di bahu Alena, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan lorong sepi itu terlebih dahulu, membiarkan Alena kembali sendirian dalam pusaran badai pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Alena menyandarkan punggungnya ke pintu darurat yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai lorong yang sunyi. Di luar sana, suara musik pembuka film terbarunya terdengar bergaung samar-samar, menandakan bahwa panggung megah yang selama ini ia puja telah memulai pertunjukan terakhirnya untuknya.
Dua garis merah yang awalnya ia kira adalah jalan buntu menuju kehancuran total, kini justru membawanya ke sebuah labirin baru yang jauh lebih rumit: sebuah pernikahan kontrak dengan pria yang menjadi sumber dari segala masalahnya, demi melindungi sebuah kehidupan baru yang suci di dalam rahimnya. Alena memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi hari esok yang akan mengubah seluruh garis takdir hidupnya untuk selamanya.