Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 03
POV Felix.
Tidak diduga aku akan menemukan gadis itu secepat ini, terbaring lelap seolah dia tidak akan dalam bahaya jika seperti itu di lingkungan luar.
Niatku berburu untuk menghilangkan rasa kesal ku saat bertemu lady lucinda, gadis bangsawan yang di atur kaisar untuk ku itu mulai bertingkah lagi, kenapa para lady kelihatan rendah sekali ketika di depanku.
Tidak peduli Brian yang melarangku berburu, lantaran luka akibat pertempuran di perbatasan, dengan melalui jendela sedikit lompatan dan ayunan aku akhirnya bisa berburu.
Dan indahnya aku tidak tau kalau masuk ke hutan Ilos, pantas saja para hewan menghilang dari radarku. Mereka berlari kearah gadis itu.
Aku mendekat kearahnya, mengambil posisi di sebelah tubuh gadis itu, surainya yang tergerai sedikit menutupi wajahnya, namun anehnya di mataku terlihat indah.
Aku tidak banyak bertingkah karena para hewan sangat menjaganya, terlihat sekali sejak pertama kali kami bertemu di perbatasan waktu itu, alasan lukaku sejak sekarang masih belum sembuh.
"aku masih berfikir kamu melakukan trik apa hingga luka itu belum kunjung hilang", tanganku terulur membelai rambutnya yang halus.
Memang unik, biasanya aku tidak senyaman itu didekat lady mana pun, Mungkin karena dikelilingi gadis yang menjijikan , aku biasa saja dengan gadis ini.
Aku melihat buku Kecil yang ada di antara kami, aku mencoba membuka catatan berisi beberapa trik pedang dan obat-obatan. Sangat luar biasa gadis yang tampak rapuh ini ternyata punya banyak bakat.
Aku mengusap ujung cover buku yang tercetak ukiran nama sang pemiliknya, tulisan yang indah dan cantik. Sudut bibirku terangkat membacanya dalam hati.
Evanthe
Aku melihat ke wajah gadis itu yang masih terlelap dalam tidurnya, memberi senyuman kecil. Melepas jubahku yang cukup sederhana karena berwarna hitam, menyelimuti gadis itu dengan baik.
Menoleh pada para hewan, dan meletakkan jari ke arah bibirku. "jangan katakan padanya itu dariku ya".
Aku bergegas kembali, sempat menoleh kearah gadis itu lagi, entah kenapa aku merasa kami tidak akan lama lagi akan bertemu.
...****************...
"kamu serius ini buka punyamu Lulu?" Eva masih memeluk jubah itu erat dalam pelukannya.
"mau kau tanya sampai seribu kali jawabannya sama Eva, aku mana bawa jubah untuk apa?. Lagian ya itu ukuran pria tau, paling Leo atau Glen, bahkan bisa saja papamu kan" Luantys sekukuh berkata.
Eva sungguh kaget ketika terbangun terselimuti oleh jubah, para hewan juga tetap tenang jadi dia berpikir itu punya Luantys, tapi saat gadis itu kembali dan sampai sekarang dia tidak tau pemilik asli jubah itu.
Dia tau itu bukan milih Izkye, karena bau di jubah itu sangat berbeda, terlebih untuk kedua sahabat laki-laki nya, sangat jauh berbeda. Jadi dia ragu itu milik siapa, dan kenapa para hewan tenang saja jika itu dari orang asing.
Sampai di rumah Eva menaruhnya dikamar, berharap jubah itu bukan pertanda buruk baginya. Dia baru saja merasa nyaman dengan dunianya yang sekarang,dia masih ingin bersama mama dan papa yang menyayangi nya, dan bersama teman-teman yang tulus dengannya.
Eva menoleh ke jendela. Burung hitam bertengger seperti biasa di tempat pertama dia melihatnya. sejak saat dia pertama kali melihat nya, burung itu selalu berkumpul ke tempatnya.
Eva mendekat ke jendela dengan membawa kursi dan sebuah daging segar yang sempat dia beli, teringat burung itu seperti karnivora karena kukunya yang sangat tajam. Identik dengan burung pemburu, terlebih dia berkunjung hanya dia beri buah atau biji-bijian.
"Hey kau tau tidak burung, hari ini aku mengalami kejadian aneh." eva mengelus bulu burung itu yang mulai asik makan.
"Ada seseorang yang memberikan ku jubah saat tertidur di hutan Ilos, dan aku tak tau dia siapa, andai aku tau aku ingin berterimakasih dan juga mengembalikan jubah itu, sayang aku tidak tau dia siapa" Eva menghelat nafas.
Burung itu melengking,membuatku tersenyum. Kembali mengelus bulunya agar kembali rapih lagi. Tampa sadar melihat ke mata burung itu.
Aneh, sekilas Eva seperti melihat pupil mata burung itu seperti warna merah gelap seperti darah, tapi sekarang dia melihat pupil mata burung itu hitam.
"apa aku salah lihat ya?" batin Eva janggal.
"EVA !! TOLONG MAMA SAYANG", terdengar seruan Ella dari ruang dapur.
"IYA MA!", Eva tersenyum pada burung itu " sampai jumpa esok burung".
eva menutup jendela dan bergegas menemui Ella yang sedang memasak di dapur sendirian.
Di kerajaan Odelions
Felix menutup wajahnya, menahan senyum yang kian melebar kala dia selesai bertelepati pada Grez burung Phoenix hitamnya.
"kau kenapa?, sejak dari perbatasan tingkahmu aneh Felix" seru Brian melihat tingkah aneh Felix.
Felix memang tampak biasa bagi orang biasa, namun bagi orang terdekat seperti kaisar dan Brian mereka akan menemui kejanggalan pada Felix.
"tidak apa" Felix mencoba menetralkan wajahnya agar tidak ketahuan Brian.
Brian hanya menggeleng tidak habis pikir, kembali membersihkan pedangnya, sedangkan Felix kembali fokus mengawasi para kesatria yang berlatih.
Setelah dua jam, mereka berniat kembali ke kamar masing-masing. Brian seperti biasa menemani langkah Felix.selain jadi kesatria pendamping, dia adalah sepupu Felix dari jalur kaisar. Dan hanya Bria yang di percaya kaisar untuk menjadi teman dan penjaga Felix karena sadar masalah yang akan dihadapi putra sulungnya.
Felix tau ayahnya, sang kaisar amat menyayangi nya karena terlahir dari cinta pertama kaisar. Masalahnya posisi itu aman berbahaya jika sudah berhadapan dengan permaisuri dan putranya.
Langkah keduanya terhenti ketika mendapati kegaduhan di lorong persimpangan ke kamar Felix, dari suara dan bau parfum Felix sadar siapa yang kembali berulah.
"Salam untuk pangeran mahkota" para pelayan dan lady memberi hormat.
Felix hanya melirik sepintas Kembali melangkah menuju kamar, namun baru selangkah hendak pergi tangannya sudah dipegang, dan dia sangat tau siapa itu
"saya lelah lady lucinda, bisa lepaskan saya" nada biasa tidak datar tapi juga tidak ramah.
Bukannya melepaskan lucinda semakin erat memeluk lengan Felix, menempelkan tubuh seperti parasit yang membuat Felix mulai kembali kesal.
Brian mendekat untuk mencoba memberi pengertian pada lucinda kalau Felix cukup lelah, namun...
"aku hanya ingin lebih dekat dengan pangeran, apa salah?. Aku kan akan jadi pasangan pangeran nanti" ujarnya.
Felix masih bisa mengontrol emosi, namun semakin kacau saat Flery muncul. Dalan kerajaan, seperti ada hukum tidak tertulis untuk tidak pernah mempertemukan kedua pangeran itu, atau akan ada masalah besar datang nantinya.
Flery tersenyum kecil melihat kakak nya di dekati lucinda, dia bisa lebih mengonfirmasikan rumor itu betul atau tidak, rumor yang mengatakan kalau kakanya itu tidak menyukai perempuan. Karena sering sekali hilang kontrol dengan lawan jenis.
"oh salam lady lucinda, anda semakin rajin berkunjung ya" Flery menyapa ramah yang penuh muslihat.
Lucinda tersipu,memberi hormat pada Ferly, "ah maaf pangeran Ferly. Saya tidak tau anda kemari, iya saya sering berkunjung agar yang mulia pangeran mahkota lebih mengenal saya" .
"waw itu sangat manis sekali, mencoba saling mengenal layaknya pasangan. Bukankah terlihat indah ya 'kak' felix", Flery tersenyum sinis mengejek.
Felix melepas cekalan tangan lucinda dengan cukup kasar, lucinda hampir saja menjerit kaget lantaran kaget akan perlakuan Felix. Brian hanya pasrah mengikuti Felix yang pergi meninggalkan kerumunan, yah baginya itu pilihan yang lebih baik dari pada Felix kelepasan memberi pukulan pada adiknya itu
Saat sampai kamar, Felix melepas pakaiannya yang sudah disentuh lucinda, melempar kan baju itu ke perapian yang menyala. Dia paling benci disentuh lucinda dari siapapun, karena dia tau kalau gadis itu hanya menginginkan kursi putri mahkota. Tidak betul-betul mencintai nya.
Felix berjalan ke pemandian, dan mulai berendam disana untuk mencari ketenangan dalam batinnya yang memanas bahkan hasrat membunuh nya hampir muncul.
Saat matanya melihat bunga teratai yang menghias kolam pemandiannya, seketika dia teringat dengan gadis negeri Ilos itu, gadis yang menarik perhatian nya karena merasa nyaman didekatnya.
"Evanthe... Bisakah kita bertemu lagi". Gumamnya pelan.
...****************...