NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA

Hari Minggu pagi menyelimuti kediaman Al-Idrus dengan ketenangan yang berbeda. Ketenangan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Habib Umar dan Umi Syarifah telah berangkat sejak subuh. Naik mobil ke luar kota untuk menghadiri acara pengajian akbar selama dua hari. Rumah besar itu kini hanya untuk Zaid dan Khadijah. Hanya mereka berdua.

Bagi Zaid, ini adalah pertama kalinya ia merasa "rumah" benar-benar menjadi tempat yang ia rindukan. Bukan sekadar tempat untuk menumpang tidur. Bukan hotel. Bukan transit.

Ini rumah.

Di dapur, wangi mentega dan bawang mulai memenuhi ruangan. Khadijah sibuk dengan celemek bunga-bunga yang membungkus gamis navy-nya. Celemek yang dipinjamkan Umi semalam.

Ia sedang mencoba membuat camilan tradisional kesukaan Zaid. Bakwan jagung dan beberapa kue ringan pisang goreng. Adonan tepung terigu sudah jadi. Jagung pipil, daun bawang, cabe, semua sudah siap.

Suara sutil yang beradu dengan wajan menjadi musik latar di pagi yang cerah itu. Ting ting.

Namun, nasib malang tak dapat ditolak.

Saat ia hendak menuangkan adonan tepung yang cukup cair ke dalam wadah lain, tangannya tersenggol pinggiran meja marmer. Keseleo.

Crat!

Adonan putih kental itu muncrat ke atas. Seperti letusan gunung. Mengenai sebagian besar kain cadar hitam yang dikenakannya. Dari dagu sampai ke dada. Basah. Lengket.

"Astaghfirullahaladzim..." Khadijah mematung. Meraba kain yang kini terasa lengket dan basah di wajahnya. Panik. "Kotor... kotor..."

Zaid, yang sedari tadi sebenarnya hanya mondar-mandir di ruang tengah. Cari-cari alasan. Ngopi. Bolak-balik buka kulkas. Mencari alasan untuk mendekati istrinya.

Segera masuk ke dapur saat mendengar suara itu.

Ia melihat Khadijah yang tampak panik mencoba mengelap cadarnya dengan tisu. Tapi malah makin belepotan.

"Kenapa? Kena adonan?" tanya Zaid. Langkahnya mendekat. Ia mengambil alih tisu dari tangan Khadijah yang gemetar. "Sini."

"Iya, Zaid," jawab Khadijah dengan suara yang sedikit sengau karena kain yang basah menempel di hidungnya. "Kotor sekali. Saya harus menggantinya. Ganti cadar."

Zaid menatap sekeliling rumah yang sepi. Benar-benar sepi. Tidak ada Abi. Tidak ada Umi. Tidak ada Mbak Siti asisten rumah tangga yang sedang libur.

Ia menatap mata Khadijah lekat-lekat. Dari balik cadar yang basah itu.

"Buka saja," ujar Zaid santai. Bahunya santai. Tapi jantungnya deg-degan. "Nggak ada orang selain kita berdua di rumah ini. Kamu malah susah napas kalau pakai kain basah begitu. Bisa sakit."

Khadijah ragu sejenak. Menimbang. Syariat. Tapi juga kenyamanan.

Namun melihat sorot mata Zaid yang kini jauh lebih hangat dan teduh dari biasanya. Tidak ada nafsu. Tidak ada main-main. Hanya peduli.

Ia perlahan melepas jarum cadarnya. Satu. Dua.

Wajah bidadari itu kembali terpampang nyata di depan Zaid. Pagi-pagi. Tanpa make up. Meskipun ada sedikit noda tepung di dekat dagunya, kecantikan Khadijah justru terlihat menggemaskan. Seperti anak kecil.

"Nah, begini kan lebih enak. Bisa napas," kata Zaid sambil membuang tisu kotor ke tempat sampah. "Sini, aku bantu masaknya. Aku lagi nggak ada kerjaan. Nganggur."

"Mas Zaid bisa masak?" tanya Khadijah sangsi. Bibir pink ranumnya sedikit melengkung membentuk senyuman tipis. Meremehkan tapi manis.

"Meremehkan ya?" Zaid menggulung lengan kemeja putihnya sampai ke siku. Otot lengannya kelihatan. "Begini-begini, kalau lagi touring sama anak-anak, aku yang paling jago bikin mi instan spesial. Pake telor, sosis, cabe rawit 10."

Jawaban Zaid disambut tawa kecil oleh Khadijah. Tawa pertama yang tulus di dapur ini.

Suasana dapur yang kaku selama seminggu ini perlahan mencair. Seperti es yang meleleh.

Khadijah yang biasanya pendiam mulai berani menggoda suaminya. Mulai berani bersuara.

Saat Zaid sedang serius mengaduk adonan bakwan dengan wajah yang sangat tegang. Alis berkerut. Seolah sedang merakit bom. Bukan bakwan.

Khadijah mencelupkan jarinya ke sisa tepung kering di mangkok.

_Pluk!_

Ia mengoleskan tepung itu tepat di pipi kanan Zaid yang memiliki lesung pipi. _Bleber._

Zaid tertegun. Adonan di tangannya berhenti. Ia menoleh ke arah Khadijah yang sedang menutup mulutnya sambil menahan tawa. Bahunya terguncang.

"Oh, berani ya sekarang?" desis Zaid dengan seringai nakal yang jarang terlihat. Mata menyipit. Berbahaya. "Nantangin?"

"Wajah Mas Zaid terlalu serius," goda Khadijah sambil mundur selangkah. Menjauh dari jangkauan Zaid. "Jadi saya kasih hiasan sedikit. Biar imut."

"Sini kamu!" Zaid menyambar segenggam tepung dari mangkok. Putih.

Dan mulai mengejar Khadijah di area dapur yang luas. Melewati meja, melewati kulkas.

Tawa pecah memenuhi ruangan. Tawa yang nyaring. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah ini.

Zaid yang dikenal dingin dan ditakuti di jalanan. Yang mukanya sangar. Kini berlarian seperti anak kecil mengejar istrinya. Kaki telanjang.

Khadijah tertawa lepas. Rambut panjangnya yang hanya dijepit asal bergoyang indah ke kanan kiri.

Namun, karena lantai dapur licin bekas tumpahan air. Saat Khadijah mencoba berbelok di dekat meja makan, kakinya terselip.

"Aah!" Khadijah memekik. Tubuhnya limbung ke belakang. Ke arah lantai.

Waktu berjalan lambat.

Dengan sigap, dengan refleks, Zaid melompat. Menjangkau. Dan menangkap pinggang Khadijah dengan kedua lengannya. Kuat.

Lengan kekarnya menahan tubuh istrinya agar tidak menghantam lantai keramik.

Dalam sekejap, tawa itu hilang. Digantikan oleh keheningan yang luar biasa pekat. Hanya ada suara napas.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sangat dekat.

Zaid bisa merasakan deru napas Khadijah yang memburu di kulit wajahnya. Panas. Wangi mint.

Khadijah terpaku. Tangannya mencengkeram bahu kaku Zaid. Mencari pegangan.

Mata Zaid turun. Terpaku. Tidak bisa lepas.

Pada bibir pink ranum milik istrinya yang sedikit terbuka karena terengah-engah. Basah.

Entah dorongan insting sebagai suami. Entah tarikan magnet cinta yang sudah lama ia pendam sejak melihat wajah Khadijah subuh tadi.

Zaid memberanikan diri.

Ia perlahan menundukkan wajahnya. Satu senti. Dua senti.

Khadijah tidak menghindar. Ia justru memejamkan matanya. Bulu matanya bergetar. Menyerahkan seluruh dunianya pada pria yang kini menjadi imamnya. Pada suaminya.

Zaid mencium bibir Khadijah dengan sangat lembut. Sangat hati-hati. Seperti menyentuh barang paling rapuh di dunia.

Sebuah kecupan. Bukan ciuman nafsu. Penuh rasa syukur. Dan permintaan maaf atas semua luka di masa lalu.

Khadijah yang awalnya kaget dan kaku, perlahan membalas ciuman itu. Dengan kaku. Tapi tulus. Bibirnya mengikuti.

Di tengah dapur yang berantakan karena tepung yang berserakan. Di tengah wajan yang masih di atas kompor.

Waktu seolah berhenti berdetak. Untuk memberi ruang pada dua hati yang baru saja menyatu. Benar-benar menyatu.

Momen magis itu terhenti secara tiba-tiba.

Triinnnggg... Triinnnggg...

Suara nyaring ponsel Khadijah di atas meja makan berdering keras. Memecah segalanya.

Mereka berdua tersentak. Seperti kesetrum. Melepaskan diri dengan cepat. Wajah sama-sama memerah sempurna. Sampai ke leher.

Zaid berdeham kaku. Telinganya merah. Pura-pura sibuk merapikan tumpahan tepung di meja. "Itu... itu hp kamu."

Sementara Khadijah dengan tangan gemetar mengambil teleponnya. Jantung masih copot.

"Halo... Assalamu’alaikum, Ummah?" suara Khadijah terdengar bergetar. Parau.

Ternyata itu adalah telepon dari ibundanya di Yogyakarta. Suara Ummah Khadijah terdengar penuh kerinduan dari speaker.

"Khadijah, Sayang... Ummah rindu sekali," suara Ummah terdengar serak. "Rumah sepi sekali sejak kamu menikah. Sepi banget. Ummah dan Abah sudah bicara. Kalau Zaid tidak keberatan dan jadwal kuliah kalian senggang, maukah kalian pulang ke Jogja sebentar? Menginaplah di sini beberapa hari. Ummah ingin memeluk putri Ummah. Ingin lihat menantu Ummah juga."

Khadijah melirik ke arah Zaid yang rupanya juga mendengarkan pembicaraan itu karena suasana rumah yang sepi. Zaid berdiri di belakangnya.

Zaid mengangguk pelan. Sekali. Memberikan kode bahwa ia setuju. Matanya lembut.

"Iya, Ummah," jawab Khadijah dengan senyum haru. Air matanya mau jatuh. "Nanti Khadijah bicara dengan Mas Zaid ya. Insya Allah kami akan pulang untuk mengobati rindu Ummah dan Abah."

Setelah telepon ditutup, suasana canggung kembali. Tapi canggung yang manis.

Zaid mendekat. Mengambil tisu. Mengusap sisa tepung di dahi Khadijah dengan lembut. Jari-jarinya menyentuh kulit Khadijah.

"Kita berangkat besok sore setelah kelas terakhirku selesai," kata Zaid. "Aku juga ingin mengenal orang yang sudah mendidik bidadari seperti kamu. Mertua aku."

Khadijah menatap Zaid. Binar bahagia di matanya tidak bisa dibohongi.

Perjalanan ke Jogja bukan sekadar pulang kampung. Bukan sekadar silaturahmi.

Tapi menjadi babak baru. Babak dimana Zaid untuk benar-benar masuk ke dalam akar kehidupan Khadijah yang suci. Bertemu dengan orang tuanya. Menjadi bagian dari keluarganya.

Dan di dapur yang berantakan itu, di antara tepung dan tawa dan ciuman pertama, sebuah rumah benar-benar mulai dibangun.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!