Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 - Isi Flashdisk
Hening.
Angin malam bertiup pelan, menggerakkan tirai balkon.
Alea masih menggenggam flashdisk hitam itu. Ukurannya kecil, tetapi rasanya seolah memikul beban yang terlalu besar untuk diabaikan.
"Aku ingin kita melihat isinya," ulang Alea.
Tatapannya lurus ke arah Raka.
Tidak ada lagi keraguan.
Ia lelah hidup dalam ketidakpastian.
Raka menatap flashdisk itu cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
"Baik."
"Hari ini juga."
---
Mereka turun ke ruang kerja.
Ruangan itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Raka menyalakan laptop, lalu mempersilakan Alea duduk di sampingnya.
"Apa pun yang nanti kita lihat..."
Ia berhenti sejenak.
"...jangan langsung mengambil kesimpulan."
Alea mengangguk pelan.
"Aku janji."
Flashdisk itu dipasang.
Beberapa folder langsung muncul di layar.
**Dokumen.**
**Rekaman.**
**Foto.**
Dan sebuah folder terakhir bernama **"Jika Aku Menghilang."**
Alea menelan ludah.
"Aku mulai dari mana?"
"Folder terakhir," jawab Raka pelan.
"Biasanya orang menyimpan hal yang paling penting di sana."
Alea mengklik folder tersebut.
Hanya ada satu file video.
Durasi delapan menit.
Ia menarik napas panjang sebelum menekan tombol putar.
---
Layar menampilkan wajah Arga.
Bukan Arga yang rapi dan percaya diri seperti yang Alea kenal.
Pria itu tampak berantakan.
Matanya merah.
Janggut tipis mulai tumbuh di wajahnya.
Di belakangnya terlihat sebuah ruangan kosong dengan dinding beton.
Arga menatap kamera beberapa detik sebelum berbicara.
> "Kalau video ini diputar..."
> "...berarti aku mungkin sudah tidak bisa menjelaskan apa pun."
Alea membeku.
Tangannya perlahan mengepal.
> "Lea..."
> "Kalau yang menonton ini kamu..."
> "...aku tahu kamu membenciku."
Air mata Alea mulai menggenang.
Raka diam di sampingnya.
Tidak menyela.
Tidak berkomentar.
Arga mengembuskan napas panjang.
> "Aku memang mengkhianatimu."
> "Dan itu tidak punya alasan yang bisa membenarkannya."
> "Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu."
> "Aku tidak pernah berniat menghancurkan ayahmu."
Alea langsung menoleh ke arah Raka.
"Apa maksudnya?"
"Teruskan."
Video kembali berjalan.
> "Hari ketika uang perusahaan hilang..."
> "...aku hanya disuruh memindahkan dana."
> "Aku percaya itu transaksi resmi."
> "Baru setelah semuanya terjadi, aku sadar aku dijadikan kambing hitam."
Ruangan mendadak sunyi.
Jantung Alea berdetak semakin cepat.
> "Orang yang memerintahkanku..."
Arga berhenti.
Ia melihat ke arah pintu, seolah takut ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Lalu ia kembali mendekat ke kamera.
> "Namanya..."
Tiba-tiba...
Layar mendadak berubah hitam.
Video berhenti.
Alea membelalak.
"Kenapa berhenti?"
Raka langsung memeriksa file tersebut.
"Videonya terpotong."
"Bukan rusak."
"Bagian akhirnya sengaja dihapus."
Alea memukul pelan meja.
"Sedikit lagi..."
"Sedikit lagi kita tahu siapa pelakunya."
---
Raka membuka folder berikutnya.
Puluhan dokumen transaksi memenuhi layar.
Nominalnya miliaran rupiah.
Semuanya berpindah melalui beberapa rekening berbeda sebelum akhirnya menghilang.
"Ini pencucian uang."
Suara Raka terdengar pelan.
"Aku pernah melihat pola seperti ini."
Alea menoleh.
"Kapan?"
Raka terdiam sesaat.
"Lima tahun lalu."
Lagi.
Jawaban itu kembali memunculkan masa lalu yang selalu disembunyikannya.
Namun kali ini Alea tidak memotong.
Ia membiarkan Raka melanjutkan.
"Waktu itu aku membantu menyelidiki kasus serupa."
"Modusnya hampir sama."
"Pakai perusahaan-perusahaan kecil sebagai tempat transit uang."
"Tapi pelaku utamanya tidak pernah tertangkap."
Alea mengangguk pelan.
"Berarti kasus ayahku..."
"...berhubungan dengan kasus lama?"
"Sepertinya begitu."
---
Saat Raka membuka folder foto, keduanya sama-sama terdiam.
Foto pertama menunjukkan Arga sedang berjabat tangan dengan seorang pria.
Wajah pria itu sengaja diburamkan.
Namun cincin hitam bergambar burung garuda di jari kanannya terlihat sangat jelas.
Foto kedua...
Arga sedang berbicara dengan Dimas Wijaya di lobi sebuah hotel.
Tanggal foto itu membuat Alea membelalak.
"Itu..."
"Seminggu sebelum hari pernikahanku."
Berarti...
Jauh sebelum Arga kabur.
Ia sudah bertemu dengan Dimas.
"Jadi mereka memang saling mengenal," bisik Alea.
Raka memperbesar foto itu.
Tatapannya berhenti pada pantulan kaca di belakang Dimas.
Samar-samar terlihat sosok seseorang berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajahnya tidak jelas.
Namun postur tubuhnya terasa sangat familiar.
Raka langsung mengambil foto itu lalu memperbesarnya lagi.
Sorot matanya berubah.
"Tidak mungkin..."
"Ada apa?" tanya Alea.
Raka belum menjawab.
Karena tepat saat itu, laptop mereka tiba-tiba mati.
Listrik di seluruh rumah padam.
Gelap.
Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Beberapa detik kemudian...
**Brak!**
Terdengar suara pecahan kaca dari lantai bawah.
Alea refleks berdiri.
"Itu suara apa?"
Raka segera menarik Alea ke belakangnya.
Wajahnya berubah sangat serius.
"Jangan keluar dari ruangan ini."
"Lalu kamu?"
"Ada tamu..."
Ia menatap pintu ruang kerja.
"...yang datang tanpa diundang."
**Bersambung...**