NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Jejak luka yang tak terhapus

Bab 2: Jejak Luka yang Tak Terhapus

Lift itu melaju turun perlahan, seolah enggan mengantarkan Diana kembali ke dunia nyata yang terasa begitu kejam.

Di dalam ruang sempit itu, hanya ada suara detak jantungnya yang berpacu kencang dan napas yang terasa sesak, seolah ada batu besar yang menekan kuat di dadanya.

Air mata yang sedari tadi ia tahan kini meluncur deras tanpa bisa dibendung lagi, membasahi kedua pipinya yang terasa dingin.

Kotak kue dan bungkus kado yang sedari tadi digenggamnya erat kini terasa menjadi beban paling berat yang pernah ia pikul.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meletakkannya di lantai lift,

seolah benda-benda itu pun ikut mengingatkannya pada harapan yang baru saja hancur berkeping-keping.

"Kenapa kamu lakuin ini sama aku?"

Dua tahun. Dua tahun waktu yang terasa begitu panjang, penuh dengan cerita tawa, dan rencana masa depan yang mereka susun .

Jadi semua janji itu palsu!

Selama itu, Diana selalu menganggap Gilang adalah rumah tempat ia pulang, tempat ia mencurahkan segala isi hati dan mimpinya.

Ia percaya sepenuhnya pada setiap kata yang terucap dari bibir pria itu, percaya bahwa cinta yang mereka bangun cukup kuat untuk menghadapi apa pun.

Namun kenyataan yang baru saja ia saksikan membuktikan bahwa semua itu hanyalah sandiwara indah yang dibangun di atas kebohongan.

“Dijodohkan sejak kecil… sebentar lagi akan menikah…”

Kata-kata wanita itu terus berputar di kepalanya, seperti bisikan tajam yang menusuk-nusuk kesadarannya.

Jika memang benar hal itu, mengapa Gilang tidak pernah mengatakannya padanya?

Mengapa ia terus mendekat, memberikan perhatian, dan membuat Diana semakin jatuh hati?

Apakah benar kata wanita itu, bahwa ia hanyalah pelarian semata ketika Gilang merasa bosan?

Pikiran-pikiran itu terasa seperti pisau yang berputar-putar melukai hatinya, membuat ia merasa begitu bodoh dan dipermainkan habis-habisan.

Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, Diana melangkah keluar dengan langkah gontai.

Banyak orang yang berlalu lalang, berbisik membicarakan nya.

Kakinya terasa lemas, seolah tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, menyusuri trotoar kota yang mulai ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki yang pulang dari aktivitas masing-masing.

Di sekelilingnya, kehidupan berjalan seperti biasa, namun baginya dunia terasa berhenti berputar.

Langit yang tadi sore terlihat indah kini berubah menjadi kelabu dalam pandangannya, seolah ikut merasakan kesedihan yang melanda hatinya.

"Kenapa hidupku seperti ini?"

Ia akhirnya berhenti di sebuah bangku taman kecil yang terletak tidak jauh dari area gedung apartemen itu.

Menjatuhkan tubuhnya nya dengan lunglai, menatap kosong ke arah jalan raya yang dipenuhi cahaya lampu kendaraan yang mulai menyala.

Angin sore berhembus menerpa wajahnya, mengeringkan sedikit air mata yang masih tersisa,

namun tak mampu menghapus rasa perih yang mendalam di dalam dadanya.

Perlahan, ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel genggamnya.

Jari-jarinya yang masih gemetar bergerak membuka galeri foto, di mana tersimpan banyak sekali kenangan bersamanya dan Gilang.

"Aku sudah terlanjur jatuh, bahkan sudah seperti ini, aku masih belum bisa membencimu sepenuhnya"

Ada foto mereka saat berlibur ke pantai, saat merayakan hari jadi, hingga foto-foto santai yang diambil tanpa sengaja.

"Aku berharap ini mimpi!"

Dulu, setiap kali melihat foto-foto ini, senyum pasti terukir di bibirnya.

Namun sekarang, setiap pandangan justru membawa rasa sakit yang semakin membara.

Diana menekan dadanya yang terasa sesak, mencoba menahan isak tangis agar tidak meledak di tempat umum.

Ia merasa malu, kecewa, sekaligus marah—marah pada Gilang yang telah mempermainkan perasaannya,

dan lebih marah lagi pada dirinya sendiri yang terlalu percaya hingga buta melihat tanda-tanda yang mungkin selama ini ada namun ia abaikan.

"Hah... Aku emang bod*h"

Setelah cukup lama duduk termenung, menyusun kembali serpihan hati yang berserakan,

Diana menarik napas panjang dalam-dalam, berusaha mengumpulkan sisa kekuatan yang masih ada.

Ia tahu, menangis dan meratapi nasib tidak akan mengubah apa pun.

Kenyataan pahit itu sudah terjadi, dan ia harus menerimanya, seberat apa pun rasanya.

Dengan tekad yang mulai ia bangkitkan perlahan, ia kembali memandang layar ponselnya, lalu membuka daftar kontak.

Jemarinya berhenti lama di nama “Gilang”, nama yang selama ini paling sering ia cari dan hubungi. Sekarang, nama itu terasa asing dan menyakitkan.

Tanpa ragu lagi, Diana menekan opsi untuk memblokir nomor tersebut,

lalu melanjutkan dengan menghapus seluruh riwayat percakapan dan foto-foto yang pernah mereka miliki.

Meskipun tangannya terasa berat dan hatinya menjerit menahan rasa sakit, ia tahu ini satu-satunya cara untuk memulai pemulihan.

Ia tidak ingin ada lagi satu pun hal yang bisa mengingatkannya pada pria yang telah menghancurkan kepercayaannya.

“Sudah cukup, Diana. Ini sudah berakhir,” bisiknya pada dirinya sendiri dengan suara parau.

“Dia tidak pantas untuk air matamu, tidak pantas untuk hatimu yang tulus ini.”

Malam semakin larut, suhu udara mulai terasa dingin.

Diana membenahi posisi duduknya, menyeka sisa air mata terakhir, lalu berdiri tegak.

Meskipun hatinya masih penuh luka, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan terpuruk selamanya.

Ia akan bangkit, melanjutkan hidupnya, dan membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa kehadiran Gilang di sisinya.

"Semangat Diana, masih banyak hal yang bisa kita raih" Ujarnya pada diri sendiri

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!