Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Rumah yang Bukan Rumah
Rumah keluarga Santoso masih sama.
Gerbang tinggi berwarna hitam. Pos satpam di sisi kanan. Halaman luas dengan pohon kamboja Jepang yang dipangkas rapi. Kolam kecil di depan teras memantulkan langit kelabu Jakarta.
Dulu, pertama kali Nadia masuk ke rumah itu sebagai pengantin baru, ia sempat menahan napas.
Ia anak panti yang terbiasa tidur berderet di kamar panjang. Lemari yang ia punya hanya satu laci kecil. Makan pun bersama puluhan anak lain, rebutan lauk kalau ayam gorengnya tinggal sedikit.
Lalu tiba-tiba ia menjadi istri Rafi Santoso.
Rumah itu terlihat seperti istana.
Waktu itu Nadia berpikir, mungkin hidup akhirnya berhenti memukulnya.
Ia salah.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Seorang ART membuka pintu untuk Rafi, lalu terdiam ketika melihat Nadia turun dari sisi lain.
"Bu Nadia..." Suaranya terdengar ragu.
Nadia mengenali perempuan itu. Bi Sari. Dulu ia sering membantu Nadia di dapur, tapi setelah perceraian, tentu semua orang di rumah ini memilih lupa.
Nadia mengangguk. "Bi."
Bi Sari menatap cincin di jari Nadia, lalu buru-buru menunduk.
Rafi berjalan masuk lebih dulu. Nadia mengikutinya sambil membawa tas kecil berisi beberapa pakaian Aira dan dokumen rumah sakit. Barang-barangnya sendiri hampir tidak ada. Semua yang ia miliki bisa masuk ke satu ransel.
Begitu masuk, aroma rumah itu menyergapnya.
Wangi kayu mahal, pendingin ruangan, dan bunga segar.
Tapi ada wangi lain.
Manis.
Seperti vanila dan buah persik.
Bukan wangi yang pernah Nadia pilih untuk rumah ini.
Di ruang keluarga, foto besar Raka terpajang di dinding. Anak laki-laki itu memakai seragam sekolah internasional, tersenyum lebar dengan satu gigi susu yang tanggal. Di sebelahnya ada foto Rafi menggendong Raka saat acara ulang tahun.
Tidak ada foto Aira.
Tentu saja.
Nadia tidak mencarinya lagi.
"Kamar utama masih di atas," kata Rafi tanpa menoleh.
Nadia berhenti. "Aku tidak akan tidur di kamar utama."
Rafi menoleh pelan.
"Apa maksudmu?"
"Aira butuh ruang yang bersih dan tenang. Aku akan tidur dengannya."
"Aira masih di rumah sakit."
"Nanti kalau pulang."
"Kamu istriku."
"Aku ibunya Aira."
Rafi menatapnya dengan mata dingin.
Dulu, tatapan seperti itu cukup membuat Nadia meminta maaf bahkan sebelum tahu salahnya apa.
Sekarang ia hanya lelah.
"Terserah," kata Rafi akhirnya. "Jangan membuat drama."
Ia menaiki tangga.
Nadia ikut naik, bukan ke kamar utama, tetapi karena tas Aira perlu diletakkan. Saat melewati lorong lantai dua, langkahnya melambat.
Pintu kamar utama terbuka.
Nadia melihatnya tanpa sengaja.
Tempat tidur besar dengan seprai abu muda. Lampu meja baru. Tirai diganti warna peach. Di meja rias, ada botol skincare perempuan. Lipstik. Parfum. Jepit rambut mutiara.
Di salah satu kursi, terlipat cardigan putih kecil.
Selin.
Rafi berdiri di depan pintu kamar, menyadari arah pandang Nadia.
"Selin pernah menginap di sini waktu hujan deras. Kamarnya bocor, jadi dia pakai kamar ini sebentar."
Nadia mengangguk.
"Aku tidak tanya."
Rafi tampak kesal. "Aku hanya menjelaskan supaya kamu tidak salah paham."
"Aku tidak salah paham."
"Bagus."
Nadia melewati kamar itu.
Di ujung lorong, ia membuka pintu kamar tamu kecil yang dulu dipakai untuk kerabat jauh. Debu tipis menempel di meja. Lemari kosong. Jendela menghadap halaman belakang. Tidak mewah, tapi cukup.
"Aku pakai kamar ini," katanya.
Rafi berdiri di belakangnya. "Kamu sengaja?"
"Sengaja apa?"
"Bersikap seperti korban."
Nadia meletakkan tas di atas kasur. "Aku hanya memilih kamar."
"Kamar utama itu tempatmu."
"Tempatku ada di mana pun Aira bisa tidur dengan aman."
Rafi tertawa kecil, tanpa humor. "Kamu benar-benar ingin membuatku terlihat seperti suami jahat."
Nadia berbalik.
"Tidak perlu, Rafi. Kamu bisa melakukannya sendiri."
Wajah Rafi mengeras.
Sebelum ia sempat menjawab, suara langkah kecil terdengar dari tangga.
"Papa!"
Raka berlari naik. Anak itu memakai kaus mahal bergambar superhero, rambutnya rapi, pipinya sehat. Ia langsung memeluk kaki Rafi, lalu mendongak dengan wajah cerah.
"Papa pulang! Tante Selin mana?"
Nadia berdiri diam.
Raka baru melihatnya beberapa detik kemudian. Senyum anak itu menghilang.
"Dia ngapain di sini?"
Rafi mengusap kepala Raka. "Raka, mulai hari ini Mama Nadia tinggal di sini lagi."
Raka mengerutkan hidung. "Aku nggak punya mama itu."
Kalimat itu keluar begitu mudah.
Nadia tahu anak lima tahun belum paham sepenuhnya arti kata-katanya. Tapi luka tidak selalu menunggu seseorang dewasa untuk menjadi tajam.
"Raka," Rafi menegur, tidak keras. "Jangan begitu."
Raka bersembunyi di balik kaki ayahnya. "Dia jahat. Dia ninggalin Papa. Tante Selin bilang dia bikin Papa sedih."
Nadia memandang anaknya.
Anak yang dulu ia susui sambil menahan kantuk. Anak yang demam pertamanya membuat Nadia menangis karena takut. Anak yang dulu memanggilnya Mama dengan mulut berlepotan bubur.
Sekarang ia menatap Nadia seperti melihat orang asing.
"Tante Selin salah," kata Nadia pelan.
Raka langsung melotot. "Jangan jelek-jelekin Tante Selin!"
Rafi menghela napas. "Nadia, jangan mulai."
Nadia menoleh padanya. "Aku belum mulai apa pun."
"Raka masih kecil."
"Justru karena masih kecil, jangan biarkan dia diajari membenci ibunya."
Raka berteriak, "Kamu bukan ibuku!"
Lorong itu mendadak sunyi.
Nadia merasakan sesuatu di dadanya retak, tapi ia sudah terlalu sering menyatukan pecahan sendiri.
Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan Raka.
"Baik. Kalau kamu belum mau memanggilku Mama, panggil aku Bu Nadia."
Raka bingung. Ia mungkin menunggu Nadia menangis atau marah.
Nadia tidak melakukan keduanya.
"Tapi kamu tidak boleh menghina Aira."
"Aira siapa?"
"Adikmu."
"Aku nggak punya adik!" Raka berteriak lagi. "Papa cuma punya aku!"
Rafi memijat pelipis. "Raka, cukup."
Raka makin keras memeluk kaki Rafi. "Papa, suruh dia pergi. Aku mau Tante Selin. Tante Selin baik. Dia suka main sama aku. Dia nggak bau hujan."
Bau hujan.
Nadia baru sadar pakaiannya memang masih lembap. Rambutnya juga belum kering. Ia bahkan belum sempat mandi sejak semalam.
Rafi menatapnya. Ada sedikit ketidaknyamanan di wajahnya, tapi bukan pembelaan.
"Nadia, mandilah dulu. Jangan berdiri di sini membuat anak tidak nyaman."
Nadia berdiri.
"Baik."
Ia masuk ke kamar tamu dan menutup pintu.
Di balik pintu, suara Raka masih terdengar.
"Papa, dia tinggal di sini lama?"
"Untuk sementara."
"Tante Selin nggak marah?"
"Tidak."
"Aku nggak mau dia jemput aku sekolah."
"Nanti Papa atur."
Nadia membuka ranselnya. Di dalamnya hanya ada dua baju ganti, mukena, map rumah sakit, dan boneka kelinci kecil milik Aira.
Ia mengambil boneka itu, duduk di tepi ranjang, lalu menatapnya lama.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari rumah sakit.
[Bu Nadia, Aira sudah bangun dan mencari Ibu.]
Nadia langsung berdiri.
Ia belum mandi. Belum makan. Belum tidur.
Tapi Aira mencari dirinya.
Ia membuka pintu.
Rafi masih di lorong bersama Raka.
"Aku ke rumah sakit."
Rafi mengerutkan dahi. "Baru sampai."
"Aira bangun."
"Ada perawat."
"Dia mencari ibunya."
Rafi hendak bicara, tapi ponselnya berbunyi. Ia melihat layar. Nama Selin muncul.
Wajahnya berubah lebih lembut.
Nadia melihat perubahan itu.
Kecil.
Tapi cukup.
Rafi menjawab panggilan. "Ya, Selin?"
Nadia tidak menunggu.
Ia menuruni tangga sendiri.
Di pintu depan, Bi Sari mengejarnya dengan payung.
"Bu Nadia, pakai payung."
Nadia menerima payung itu.
"Terima kasih, Bi."
Bi Sari menatapnya ragu. "Bu... benar Ibu balik lagi?"
Nadia membuka payung di halaman.
"Tidak."
Bi Sari terkejut.
Nadia menatap hujan yang mulai turun lagi.
"Saya cuma singgah sampai anak saya selamat."
Lalu ia berjalan keluar.
Di balik pagar, sopir keluarga menawarkan mobil, tapi Nadia menolak. Ia memilih memesan ojek online dari ponselnya sendiri, walau saldonya tinggal sedikit.
Ia tidak ingin berutang lebih banyak pada rumah itu.
Payung di tangannya bergetar diterpa angin. Nadia menoleh sekali ke jendela lantai dua. Dari sana, lampu kamar utama menyala hangat.
Hangat untuk orang lain.
Bukan untuknya.