NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Suasana tenang di kediaman Herman mendadak pecah oleh suara teriakan melengking dari arah ruang keluarga di lantai satu.

​"Pelayan! Satpam! Kumpulkan semua orang sekarang juga!"

​Tante Vina berdiri di tengah ruangan dengan wajah memerah, nafas memburu, dan tangan yang berkacak pinggang. Pak Herman, Clara, dan Bima yang sedang berada di teras belakang segera bergegas masuk mendengar keributan tersebut.

​"Ada apa ini, Vina? Kenapa kau berteriak-teriak seperti kesetanan di pagi hari?" tanya Pak Herman dengan nada berat dan tenang. Sorot matanya sangat tajam, menyimpan kemarahan yang sengaja ia redam sejak semalam.

​Tante Vina menunjuk ke arah kamarnya dengan gaya dramatis.

​"Kalung berlian biru milikku hilang, Kak! Kalung warisan ibu yang harganya miliaran itu tidak ada di laci riasku!" seru Tante Vina sambil melirik sinis ke arah Bima. "Dan aku yakin, pencurinya ada di ruangan ini!"

​Clara mengerutkan keningnya, merasa muak dengan kelakuan tantenya. "Apa maksud Tante? Semua pekerja di rumah ini sudah mengabdi belasan tahun dan sangat bisa dipercaya."

​"Tentu saja bukan para pelayan yang aku curigai, Clara sayang," potong Tante Vina cepat. Ia melangkah maju dan menunjuk lurus tepat ke depan hidung Bima. "Tapi gembel kampung ini! Sejak dia masuk ke rumah kita, banyak hal aneh terjadi. Dia pasti memanfaatkan akses bebasnya untuk mencuri barang berharga sebelum kabur!"

​Wajah Clara seketika memerah karena amarah yang memuncak. Tanpa ragu sedikit pun, gadis itu melangkah maju dan berdiri di depan Bima, melindungi pemuda itu dengan tubuhnya sendiri.

​"Jaga ucapan Tante! Bima adalah tabib yang menyelamatkan nyawaku! Dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Aku bersamanya sepanjang pagi ini!" bantah Clara dengan suara lantang yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya.

​Bima sedikit terkejut melihat punggung kecil Clara yang berdiri kokoh membelanya. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibir pemuda itu.

​Tante Vina tertawa sinis melihat keponakannya membela Bima. "Kau sudah dicuci otaknya oleh trik sulap kampungan anak ini, Clara! Kalau dia memang tidak bersalah, biarkan satpam menggeledah kamar tamu yang dia tempati sekarang juga!"

​"Silakan," jawab Bima tiba-tiba dengan suara yang sangat tenang. Ia melangkah ke samping Clara. "Saya tidak keberatan kamar saya digeledah, asalkan Tante Vina siap menanggung konsekuensinya jika tuduhan itu tidak terbukti."

​Tante Vina mendengus angkuh. "Bawa tas ransel lusuhnya kemari!"

​Dua orang satpam berlari ke lantai dua dan kembali beberapa menit kemudian membawa tas kain butut milik Bima. Di hadapan semua orang, satpam itu membuka ritsleting tas dan menuangkan isinya ke atas meja kaca.

​Bersamaan dengan jatuhnya beberapa helai pakaian sederhana, sebuah kalung berlian biru yang berkilauan ikut meluncur dan bergemerincing menimpa meja.

​"Lihat!" Tante Vina berteriak penuh kemenangan. "Sudah kubilang, dia ini penipu dan pencuri! Kak Herman, panggil polisi sekarang juga dan seret gembel ini ke penjara!"

​Clara terkesiap menatap kalung itu. Hatinya menolak percaya, tapi bukti itu ada di depan matanya. Ia menoleh ke arah Bima dengan mata berkaca-kaca, menunggu penjelasan.

​Namun, bukannya panik, Bima justru merogoh saku celananya dengan santai dan tertawa kecil.

​"Tante Vina, rencanamu sungguh terlalu murahan dan terburu-buru," ucap Bima dingin. "Apakah Tante lupa bahwa sejak insiden penyusupan semalam, Pak Herman telah memerintahkan pemasangan sistem keamanan darurat?"

​Wajah Tante Vina mendadak kaku. "A-apa maksudmu?"

​Pak Herman maju ke depan, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan menyambungkannya ke layar televisi besar di ruang keluarga.

​"Aku diam sejak pagi karena ingin melihat sejauh mana kau akan bermain api di rumahku sendiri, Vina," geram Pak Herman dengan suara yang bergetar menahan murka.

​Layar televisi menyala, menampilkan rekaman CCTV tersembunyi dengan resolusi sangat jernih di lorong lantai dua. Di layar itu, terlihat jelas Tante Vina sedang mengendap-endap masuk ke dalam kamar Bima setengah jam yang lalu, menyelipkan kalung berlian itu ke dalam tas ransel Bima, lalu bergegas keluar dengan wajah panik.

​Brak!

​Pak Herman menggebrak meja dengan sangat keras hingga kalung berlian itu melompat.

​"Bukan hanya fitnah kotor ini, Vina! Aku juga sudah tahu semuanya! Orang suruhanku baru saja meretas jejak rekening bayanganmu yang mentransfer uang ke Organisasi Serigala Malam untuk menyewa pembunuh bayaran!" teriak Pak Herman, membuat seluruh pelayan dan satpam di ruangan itu menahan nafas ketakutan.

​Kaki Tante Vina seketika kehilangan tenaga. Tubuhnya merosot jatuh berlutut di atas lantai marmer. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan seluruh keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Rencana yang ia susun dengan panik ternyata menjadi senjata makan tuan yang menghancurkannya seketika.

​"K-Kak Herman... dengarkan penjelasanku... i-ini semua salah paham..." Tante Vina memohon dengan suara parau yang menyedihkan.

​"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau tega meracuni darah dagingku sendiri selama bertahun-tahun demi harta!" Pak Herman memberi isyarat tangan yang sangat tegas kepada para satpam. "Seret wanita ini ke ruang isolasi bawah tanah. Jangan biarkan dia menghubungi siapa pun di luar sana sampai polisi khusus datang untuk menjemputnya!"

​Dua satpam berbadan besar langsung mencengkeram kedua lengan Tante Vina dan menyeretnya pergi secara paksa. Teriakan histeris dan tangisan wanita itu menggema sejenak sebelum akhirnya lenyap di balik pintu lorong.

​Clara yang syok berat melihat kenyataan kejam keluarganya langsung meneteskan air mata. Tubuhnya oleng dan hampir jatuh, namun dengan sigap lengan kokoh Bima menangkap bahunya, menahannya agar tetap berdiri tegak.

​"Semuanya sudah berakhir, Clara," bisik Bima dengan nada lembut yang menenangkan. "Benalu di dalam rumah ini sudah dicabut sampai ke akarnya."

​Clara memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata di dada Bima, memeluk pemuda itu erat-erat mencari perlindungan. Bima yang biasanya kaku, kali ini membiarkan gadis itu menangis dan menepuk pelan punggungnya, sementara Pak Herman menatap keduanya dengan seulas senyum lega di balik kepedihannya.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!