Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: DMAM
Sementara ibunya sibuk menyebarkan fitnah di luar rumah, di lantai dua rumah mewah itu, suasana justru terasa mencekam dengan cara yang berbeda.
Dimas mengurung dirinya di dalam kamar seluas lapangan basket. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu berbaring telentang di atas tempat tidur berseprai sutra.
Ponsel terbarunya, iPhone 15 Pro Max warna Titanium yang baru dibeli beberapa hari lalu, tergeletak di samping dadanya. Layarnya menampilkan foto Aisyah, sebuah foto yang diambil secara diam-diam oleh Dimas saat Aisyah sedang mengajar anak-anak SD beberapa bulan lalu.
Dalam foto itu, Aisyah sedang tersenyum tulus sambil membawa tumpukan buku dengan senyum yang begitu teduh.
Dimas mengusap layar ponselnya dengan jemarinya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa hampa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Selama ini, semua wanita yang mendekatinya selalu memandang mobil mewahnya, pakaian bermereknya, atau uang jajan berlimpah yang selalu siap dikucurkan oleh ibunya.
Hanya Aisyah satu-satunya perempuan yang menatap matanya bukan karena harta, melainkan karena mengharapkan dirinya menjadi seorang pria sejati.
Aisyah adalah satu-satunya wanita yang berani menatapnya dan berkata jujur, tanpa berpura-pura kagum pada kekayaan ibunya.
"Aisyah..." gumam Dimas lirih. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mahal. "Aku gak mau perempuan lain... Aku cuma mau kamu..."
Klik!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rosma masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan camilan impor kesukaan anak tunggalnya itu.
"Sayang... Mami bawain susu nih. Kamu dari pagi belum makan loh," panggil Rosma dengan nada yang amat lembut dan sangat bertolak belakang dengan nada tajam yang ia gunakan saat memfitnah Aisyah di luar.
Namun Dimas tidak bergeming. Ia hanya membalikkan badannya membelakangi ibunya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala.
"Dimas... jangan seperti ini dong, Nak. Mami sedih lihat kamu mengurung diri gini," ujar Rosma sambil duduk di tepi tempat tidur, lalu mengelus punggung anak laki-lakinya itu.
"Dimas gak mau makan! Dimas gak mau apa-apa!" jerit Dimas dari balik selimut dengan nada merajuk yang persis seperti anak kecil usia lima tahun.
Rosma menghela napas dan mencoba membujuk lagi. "Ya sudah, nanti sore kita ke showroom ya? Mami beliin mobil sport baru yang kamu taksir minggu lalu, mau ya? Atau kita liburan ke Eropa minggu depan? Biar kamu lupa sama perempuan kampung itu."
Dimas langsung menyingkap selimutnya dengan kasar dan terduduk tegak. Matanya sembab dan memerah.
"Dimas gak mau mobil baru! Dimas gak mau ke Eropa!" teriak Dimas sambil menghentakkan kedua kakinya ke kasur. "Dimas cuma mau Aisyah, Mami! Cuma mau Aisyah!"
Rosma terperanjat. Wajahnya membeku melihat reaksi keras anak tunggalnya. "Dimas! Kamu ini bicara apa sih?! Perempuan itu sudah mempermalukan Mami! Dia sudah menghina kamu di depan Paman Heru dan kerabat kamu! Kenapa kamu masih mengharapkan dia?!"
"Tapi Dimas suka sama Aisyah, Mi!" rengek Dimas dengan mata yang berair, seraya memegang kedua tangan ibunya. "Aisyah itu beda sama cewek-cewek lain yang Mami kenalin ke Dimas! Aisyah itu baik, lembut, ceria... Dimas gak mau ganti Aisyah! Pokoknya Dimas cuma mau nikah sama Aisyah!"
"Dimas!" nada suara Rosma naik satu oktaf. "Buka mata kamu! Dia itu menolak kamu! Dia membuang kamu!"
"Itu karena Mami yang bikin dia kabur!" potong Dimas dengan suara yang melengking.
Kalimat itu membuat Rosma bungkam seketika.
"Mami yang selalu campur tangan!" lanjut Dimas tanpa menyadari masalah dalam dirinya sendiri. "Aisyah kan ditanya sama aku, tapi Mami yang potong bicaranya! Aisyah cuma mau aku yang jawab! Tapi Mami malah bikin suasana jadi panas! Pokoknya ini salah Mami! Bawa Aisyah kembali ke Dimas, Mi! Carikan cara gimana caranya Aisyah mau nikah sama Dimas!"
Bug!
Dimas mulai menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur, memukul-mukul bantal dengan kedua tangannya sambil menangis sesenggukan. "Gak mau yang lain! Mau Aisyah! Mami beliin Aisyah buat Dimas! Mami kan bisa beli apa aja!"
Melihat anak kesayangannya menangis histeris hingga memukul-mukul kepala di atas bantal, pertahanan Rosma runtuh. Rasa sayangnya yang buta dan salah kaprah pada Dimas melumpuhkan segala logika dan harga dirinya sebagai ibu.
Ia tidak sanggup melihat anak tunggalnya menderita atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan jika keinginan itu adalah seorang wanita yang sangat ia benci.
"Iya, iya! Sayang, stop! Jangan pukul-pukul kepala begitu, nanti kamu pusing!" jerit Rosma panik sambil merengkuh tubuh Dimas yang besar itu ke dalam pelukannya.
"Mami janji beliin Aisyah buat Dimas?" bisik Dimas di dada ibunya, sambil sesenggukan.
Rosma meremas jemarinya kuat-kuat. Dendam di matanya semakin memuncak, namun ia memelankan suaranya, lalu membelai rambut anak laki-lakinya itu dengan kelembutan.
"Dengar Mami baik-baik, anak ganteng," bisik Rosma di telinga Dimas. "Mami sayang banget sama Dimas. Mami gak akan biarkan Dimas sedih. Kalau Dimas memang benar-benar cuma mau Aisyah, Mami bakal turuti."
Dimas melepas pelukannya dan menatap wajah ibunya dengan mata berbinar harapan. "Beneran, Mi? Mami mau datang lagi ke rumah Aisyah?"
Rosma tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang penuh perhitungan. "Tapi ada syaratnya, Dimas."
"Syarat apa, Mi? Dimas bakal turuti apa aja!"
"Untuk sekarang, kamu harus diam dulu," tegas Rosma, seraya menatap mata anaknya dalam-dalam. "Jangan telepon Aisyah, jangan datangi rumahnya, dan jangan merajuk lagi di kamar ini. Kita harus main cantik."
"Kenapa harus diam, Mi? Nanti Aisyah diambil orang lain gimana?" tanya Dimas panik.
"Dengarkan Mami!" potong Rosma tajam. "Kejadian malam lamaran itu masih hangat. Keluarga besar kita sedang menanggung malu. Teman-teman Mami juga sudah tau kalau lamaran itu batal. Kalau kita langsung mengemis-ngemis balik ke rumah Aisyah sekarang, harga diri keluarga kita hancur lebur di dasar tanah! Mami tidak akan membiarkan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang!"
Dimas langsung menunduk dan cemberut lagi. "Tapi Dimas takut Aisyah lupa sama Dimas..."
"Dia tidak akan lupa," balas Rosma dengan senyum liciknya. "Biarkan rasa malu keluarga kita surut dulu beberapa minggu. Sementara itu, biarkan Mami yang mengurus Aisyah dan ibunya dari belakang. Mami akan buat situasi di mana Aisyah sendiri yang akhirnya tidak punya pilihan lain selain berlutut dan memohon untuk dinikahi oleh kamu."
Dimas mengerutkan dahinya karena tidak sepenuhnya memahami maksud ibunya. "Maksud Mami gimana?"
"Kamu tidak perlu pusing memikirkan jalannya, sayang," ujar Rosma sambil mengelus pipi Dimas dengan penuh kasih sayang yang beracun.
"Kamu tidak perlu pikirin, ada Mami yang akan urus. Yang penting sekarang, kamu minum susumu, mandi, dan kembali tersenyum. Biarkan Mami yang bekerja di balik layar. Pada akhirnya, Aisyah akan jadi milik kamu, dan dia akan belajar bagaimana caranya patuh pada keluarga kita."
Dimas yang tidak pernah diajari untuk berpikir kritis atau mempertanyakan tindakan ibunya, langsung mengangguk lugu. Bayangan bahwa Aisyah akan kembali ke tangannya membuat seluruh rasa kesal di hatinya langsung sirna.
"Asyik! Makasih banyak ya, Mami!" Dimas menyambar gelas susu di atas nampan dan meminumnya hingga kandas. "Mami memang ibu terbaik di dunia! Kalau gitu, Dimas minta uang jajan tambahan dong, Mi. Mau jalan-jalan sama teman-teman ke kafe biar gak stres."
Rosma tersenyum puas melihat anaknya kembali ceria. Ia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah nominal seratus ribu dalam jumlah yang tebal, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Dimas.
"Ini lima juta buat hari ini. Kalau kurang, tinggal bilang Mami ya, sayang."
"Makasih Mami!"
Dimas mencium pipi ibunya dengan gembira, lalu berlari keluar kamar membawa uang tersebut tanpa memikirkan sedikit pun beban atau kepedihan yang sedang dirancang ibunya untuk wanita yang dikatanya sangat ia cintai itu.
**
Di dalam kamar yang sepi, Rosma berdiri mengawasi kepergian anaknya. Senyum ramahnya perlahan menghilang, berganti dengan guratan kejam di sudut bibirnya.
"Aisyah..." gumam Rosma seraya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja setelah mempermalukan keluargaku? Kamu sudah membuat anakku menangis. Dan siapa pun yang membuat Dimas menangis, akan kubuat berlutut mencium kakiku!"
____
________
Sementara itu, di SDN 04 Pagi, suasana pagi terasa sedikit berbeda bagi Aisyah.
Meski ia melangkah dengan perasaan lega setelah membatalkan lamaran dengan Dimas, Aisyah mulai merasakan ada perubahan sikap dari beberapa orang di sekitarnya.
Beberapa wali murid yang biasanya menyapa dengan hangat saat mengantarkan anak-anak mereka di depan gerbang, kini tampak saling berbisik sambil meliriknya dari kejauhan dengan tatapan aneh.
Aisyah yang sedang menuntun seorang murid kelas satu hanya bisa memberikan senyuman santun, meski sapaannya kali ini hanya dibalas dengan anggukan dingin dari beberapa orang tua murid berpunya.
Saat di ruang guru, Bu Maya menghampiri meja Aisyah sambil membawa dua cangkir teh hangat.
"Syah..." panggil Bu Maya pelan, sedangkan wajahnya tampak cemas.
Aisyah pun mendongak dari tumpukan buku tugas murid-muridnya. "Iya, Bu Maya? Ada apa?"
Bu Maya duduk di samping Aisyah dan menggeser kursinya lebih dekat. "Kamu... ada dengar berita apa-apa gak di luar?"
Aisyah mengerutkan dahinya. "Berita apa, Bu? Saya sibuk meriksa tugas matematika dari kemarin."
Bu Maya menghela napas lalu mengusap bahu Aisyah dengan iba. "Tadi pagi, waktu Ibu beli sarapan di depan gang sekolah, Ibu dengar beberapa wali murid kelas lima lagi ngomongin kamu."
"Ngomongin saya? Soal apa, Bu?"
"Mereka bilang..." Bu Maya ragu-ragu sejenak karena takut melukai hati rekan kerjanya itu. "Merek bilang kamu itu sebenarnya guru yang materialistis. Katanya kamu batalin lamaran sama anak orang kaya karena kamu minta mahar dan sertifikat rumah, tapi tidak dituruti."
Aisyah terpaku. Tangannya yang memegang pulpen merah terhenti di udara.
"MasyaAllah..." bisik Aisyah liru. "Siapa yang bilang seperti itu, Bu Maya?"
"Ibu dengar ceritanya memutar dari kelompok arisan ibu-ibu pejabat di kompleks sebelah," terang Bu Maya gusar. "Siapa lagi kalau bukan ulah calon ibu mertua kamu yang tidak jadi itu? Katanya dia cerita ke mana-mana kalau kamu itu cuma mengincar harta anaknya, tapi sok suci."
Dada Aisyah terasa sesak sejenak. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengendalikan gemuruh di dalam dadanya.
Ia teringat pesan ibunya bahwa fitnah adalah ujian keimanan, dan kebenaran tidak akan pernah tertukar hanya karena kebohongan yang diucapkan dengan suara yang keras.
"Biarlah, Bu Maya," jawab Aisyah lembut dengan senyuman yang tenang meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Allah Maha Mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Saya tidak perlu menghabiskan energi untuk membela diri di hadapan orang-orang yang memang ingin mempercayai kebohongan."
"Tapi Syah! Ini menyangkut nama baik kamu sebagai guru!" seru Bu Maya gemas. "Kalau berita ini sampai ke telinga Kepala Sekolah, gimana?"
Aisyah menggenggam jemari Bu Maya yang khawatir. "Kalau Kepala Sekolah bertanya, saya akan jelaskan yang sebenarnya dengan jujur. Tapi kalau tidak, saya akan tetap bekerja seperti biasa. Tugas saya di sini adalah mendidik anak-anak, bukan menyenangkan semua orang."
Dari luar jendela ruang guru, angin berhembus kencang meniup dedaunan pohon mangga. Aisyah menatap lurus ke depan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Ia tau, keputusan menolak Dimas akan membawa riak-riak kecil dalam hidupnya, dan rencana tersembunyi Bu Rosma mungkin baru saja dimulai.
Namun bagi Aisyah, menjaga kehormatan diri dan imannya jauh lebih berharga daripada harus hidup bertekuk lutut di bawah belas kasihan seorang "Anak Mami".
Bersambung...