NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil Baru dan Amuk Buta di Tengah Mall

Matahari pagi yang cerah menyinari garasi mansion keluarga Dirgantara ketika Zenix sedang bersiap-siap dengan jaket kulit hitam andalannya. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Rencananya, ia akan berangkat sendirian menuju diler mobil terbesar di pusat kota untuk menebus kendaraan tangguh yang akan menjadi jembatan perjalanannya menuju Desa Beringin Sakti. Namun, tepat saat ia hendak melangkah menuju pintu luar, sebuah hadangan manis sudah menunggunya di ruang tengah.

"Abang!!! Mau ke dealer, kan? Aku ikut! Pokoknya Silvi harus ikut!" rengek Silvia, berdiri di depan Zenix sambil memeluk sebuah boneka beruang kecil dengan wajah yang sengaja dibuat memelas.

Zenix menghela napas panjang, melirik jam tangan digitalnya. "Silvi, Abang mau urusan bisnis, bukan mau main. Kamu di rumah saja sama Mama, ya?"

Mendengar penolakan itu, Silvi langsung mengentakkan kakinya ke lantai marmer. "Enggak mau! Pokoknya ikut! Kalau Abang enggak ngajak aku, aku bakal teriak-teriak sekampung dan bilang ke Papa kalau Abang pelit!" ancam Silvi dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, siap-siap mengambil ancang-ancang untuk menangis heboh.

Zenix yang memang sangat memanjakan adik perempuan satu-satunya itu seketika menyerah. Ia tahu betul jika suara cempreng adiknya sudah keluar, seisi mansion bisa gempar dan kepalanya akan pusing tujuh keliling. Daripada harus berdebat panjang dan merusak suasana hatinya yang sedang bagus, Zenix akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah, cepat ganti baju. Abang tunggu lima menit. Kalau lewat, Abang tinggal."

"Asyik! Abang Zenix emang yang paling ganteng sedunia!" pekik Silvi kegirangan, langsung berlari menaiki anak tangga dengan kecepatan penuh, meninggalkan Zenix yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

Setengah jam kemudian, sepasang kakak beradik itu telah tiba di dealer mobil premium terbesar di kawasan Jakarta Selatan. Aroma harum khas mobil baru dan deretan kendaraan mengilat langsung menyambut kedatangan mereka. Seorang wiraniaga diler dengan pakaian jas rapi segera menghampiri Zenix dengan sikap yang sangat hormat, mengenali pemuda itu sebagai putra dari salah satu pengusaha properti raksasa tanah air.

Zenix tidak membuang waktu untuk sekadar melihat-lihat mobil sport ceper yang biasa digemari anak muda seumurannya. Langkah kakinya yang tegap langsung tertuju pada deretan mobil SUV (Sport Utility Vehicle) berukuran besar yang berjejer di sudut diler. Matanya mengunci sebuah mobil SUV bermesin tangguh dengan sistem penggerak empat roda (All-Wheel Drive). Mobil itu memiliki ground clearance yang tinggi, suspensi yang kokoh, serta bodi yang gagah berbalut warna hitam metalik yang sangat pekat seolah memancarkan aura misterius yang senada dengan kepribadian Zenix.

"Saya ambil yang ini. Warna hitam," ujar Zenix tanpa ragu, menunjuk mobil pilihan tepat di depan wiraniaga yang terkesima dengan keputusan kilatnya.

"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan Muda Zenix. Mobil tipe ini sangat tangguh untuk segala medan, baik jalanan kota maupun medan berat luar kota," puji sang penjual mobil dengan penuh semangat.

Proses administrasi tidak memakan waktu lama. Karena Papa Raymond telah mengirimkan jaminan pembayaran penuh melalui sekretarisnya, dokumen-dokumen kendaraan langsung diselesaikan dengan sistem jalur cepat. Tidak sampai dua jam, surat jalan sementara telah terbit, dan kunci mobil berlogo mewah itu sudah berpindah ke genggaman tangan kanan Zenix yang mengenakan cincin perak.

"Silvi, naik," perintah Zenix setelah membuka pintu kemudi.

"Wah... mobil Abang keren banget! Kayak mobil agen rahasia!" puji Silvi dengan mata berbinar-binar saat bokongnya menyentuh jok kulit premium yang masih berbau baru.

Zenix menyalakan mesin. Deru suara knalpot dan mesin bertenaga besar terdengar menggelegar halus di dalam diler, memberikan kepuasan tersendiri di dalam dada Zenix. Namun, sebelum ia mengarahkan setir menuju jalan pulang, ia melirik adiknya yang sejak kemarin terus merengek minta diajak jalan-jalan. Zenix teringat bahwa sejak kepulangan Silvi dari luar negeri, ia belum sempat meluangkan waktu khusus untuk menyenangkan hati adiknya itu.

"Kita ke mall dulu. Katanya kamu mau belanja?" tanya Zenix datar, namun sarat akan perhatian.

Silvi hampir melompat dari joknya mendengar tawaran mengejutkan itu. "Mau!!! Mau banget, Abang! Oh my God, akhirnya Abang peka juga!" teriaknya heboh. Zenix hanya tersenyum simpul, menginjak pedal gas, dan membiarkan mobil SUV hitam barunya membelah jalanan kota menuju salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta Pusat.

Sesampainya di mall mewah tersebut, suasana siang itu cukup ramai oleh hilir mudik kaum urban kelas atas. Zenix memarkirkan mobil barunya di area parkir VIP, lalu melangkah masuk ke dalam koridor mall bersama Silvi.

Sebagai abang yang protektif sekaligus penyayang, Zenix membiarkan lengan mungil Silvi bergelayut manja di lengan kekarnya yang terbalut jaket kulit hitam. Sesekali, Zenix menggandeng erat tangan adiknya itu saat melewati kerumunan orang, memastikan Silvi tidak tersenggol atau terpisah darinya. Silvi sendiri tampak sangat antusias; matanya berbinar-binar menunjuk etalase toko-toko baju dan boneka dengan celotehan cemprengnya yang tak henti-henti. Zenix hanya menyimak dengan sabar, sesekali mengangguk dan mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang sebuah pemandangan yang sangat langka dan mustahil dilihat oleh orang-orang di kampusnya.

Namun, di belahan koridor lantai dua yang sama, sebuah badai kecemburuan sedang bergolak hebat.

Jennie bersama kedua sahabat setianya, Bella dan Lucy, kebetulan sedang berada di mall tersebut untuk berbelanja tas branded guna mengalihkan pikiran Jennie yang sedang stres berat. Sejak kemarin, Jennie hampir gila karena semua nomor telepon empat preman sewaan yang ia kirim ke Hutan Sangker mati total tanpa kabar. Pikiran tentang takhayul mulai menghantui tidurnya hingga matanya tampak sembap.

Saat mereka sedang berjalan melewati pembatas kaca lantai dua, pandangan mata Bella mendadak menangkap siluet tubuh jangkung yang sangat ia kenal di lantai bawah. Bella mempertajam pandangannya, lalu menyenggol lengan Jennie dengan heboh.

"Jen! Jen! Lihat ke bawah deh! Itu... bukannya Zenix, ya?" tunjuk Bella dengan nada suara yang meninggi.

Jennie langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Bella. Jantungnya seketika mencelos. Benar saja, di lantai bawah, tampak Zenix Dirgantara sedang berjalan dengan langkah santai. Namun, yang membuat darah Jennie langsung mendidih ke ubun-ubun adalah pemandangan di mana tangan Zenix sedang menggandeng erat tangan seorang gadis muda berambut panjang, bahkan gadis itu sesekali bersandar manja di bahu tegap Zenix dengan tawa yang lepas.

"Gila, Jen! Kemarin surat dari cewek udik bernama Anisa, sekarang Zenix malah berani gandengan tangan terang-terangan sama cewek lain lagi di mall?! Murahan banget seleranya sekarang!" kompor Bella, memanaskan suasana hati Jennie yang memang sudah berada di titik didih terkritis.

Jennie tidak tahu dan tidak mau tahu siapa gadis muda itu. Sifat kepemilikannya yang obsesif dan buta terhadap Zenix, ditambah rasa frustrasi atas hilangnya anak buahnya, membuat seluruh logika sehat di dalam otaknya terbakar habis oleh api cemburu yang menyala-nyala. Wajah cantiknya berubah menjadi merah padam penuh murka.

"Kurang ajar... berani-beraninya mereka!" desis Jennie dengan gigi yang mengatup rapat. Tanpa membuang waktu lagi, Jennie langsung melangkah lebar menuruni eskalator dengan setengah berlari, diikuti oleh Bella dan Lucy yang bersiap menyaksikan keributan besar.

Zenix dan Silvi baru saja keluar dari salah satu toko aksesori ketika tiba-tiba langkah kaki mereka dihadang oleh sesosok gadis dengan pakaian modis berwarna biru pastel yang datang dengan napas memburu dan tatapan mata seperti macan yang siap menerkam.

BRAKK! PUSH!

Tanpa basa-basi atau peringatan sedikit pun, Jennie langsung melangkah maju dan menggunakan kedua tangannya untuk mendorong bahu Silvi dengan sangat keras hingga gadis remaja itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh telentang jika Zenix tidak dengan cekatan menangkap pinggang adiknya.

"Heh! Cewek kecentilan! Berani-beraninya ya kamu menggandeng-gandeng tangan Zenix di tempat umum begini?!" labrak Jennie dengan suara melengking tinggi yang seketika menarik perhatian puluhan pengunjung mall di sekeliling mereka. Jennie menunjuk wajah Silvi dengan kukunya yang panjang penuh cat merah muda, matanya melotot penuh kebencian dan penghinaan. "Dasar cewek enggak tahu diri! Kamu enggak tahu siapa aku?! Aku ini cewek paling berkuasa di kampus Zenix, dan kamu cuma cewek murahan yang mencoba menggoda Zenix dengan modal tampang polosmu itu, kan?! Pergi enggak kamu dari sini sebelum aku bikin hidupmu hancur!"

Silvi yang masih polos dan belum pernah menghadapi kekerasan jalanan kota seperti itu seketika syok luar biasa. Wajah imutnya memucat, dan matanya langsung berkaca-kaca menahan tangis karena ketakutan dipelototi dan didorong sekasar itu di depan banyak orang. "A-Abang... dia siapa, Bang? Silvi takut..." bisik Silvi dengan suara yang bergetar cengeng, bersembunyi di balik punggung tegap Zenix.

Melihat adik perempuan kesayangannya permata keluarga yang bahkan tidak pernah disentuh dengan kasar oleh orang tuanya sendiri kini didorong, dilabrak, dan dibully secara keji di depan matanya sendiri, batas kesabaran Zenix Dirgantara resmi runtuh hingga ke dasar bumi.

Aura kegelapan yang sangat dingin dan mengerikan seketika meledak dari tubuh tegap Zenix. Sepasang mata tajamnya berkilat bagai bilah pisau yang siap menghunjam jantung lawan. Rahangnya mengatup begitu keras hingga urat di lehernya menonjol tegang. Kejadian kemarin saat Jennie merobek surat Anisa masih bisa ia toleransi dengan mengabaikannya, tetapi menyentuh fisik adiknya adalah garis merah yang tabu untuk dilewati.

GABRRAAAKKK!!!

Tanpa memedulikan status Jennie sebagai seorang wanita, Zenix melangkah maju dengan satu pergerakan cepat dan mendorong balik tubuh Jennie menggunakan satu tangan kekarnya dengan dorongan yang sangat kuat dan bertenaga. Tubuh Jennie langsung terlempar mundur beberapa langkah hingga menabrak rak pajangan manekin sebuah toko di belakangnya hingga menimbulkan suara benturan yang keras.

"Zenix!!! Kamu... kamu berani dorong aku demi cewek ini?!" jerit Jennie dengan wajah tak percaya, memegangi bahunya yang terasa sakit akibat benturan, sementara Bella dan Lucy langsung memegangi tubuh Jennie dengan wajah ketakutan melihat amukan Zenix.

"JAGA MULUTMU DAN TANGAN KOTORMU, JENNIE!!!" bentak Zenix dengan suara menggelegar yang begitu berat dan penuh penekanan, membuat beberapa sekuriti mall dari kejauhan mulai berlari mendekat karena situasi yang kian mencekam.

Zenix berdiri tegak di depan Silvi bagai dinding benteng yang tak tertembus, menatap Jennie dengan pandangan mata yang paling menjijikkan dan penuh kebencian yang mendalam. "Gadis yang kamu dorong dan kamu sebut murahan ini... dia adalah Silvia Ayu Dirgantara, adik kandung perempuan ku satu-satunya! Satu-satunya adik yang paling aku hargai di dunia ini!"

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Zenix, detak jantung Jennie seketika berhenti. Wajahnya yang tadinya merah padam karena marah, dalam sekejap berubah menjadi putih pucat laksana kertas mayat. Matanya membelalak horor, menatap bergantian antara Zenix dan gadis remaja yang kini sedang menangis sesenggukan di belakang punggung pemuda itu.

"A-Adik...?" gagap Jennie dengan bibir yang mendadak kelu. Seluruh keberanian dan keangkuhannya runtuh seketika saat menyadari kebodohan fatal yang baru saja ia lakukan karena dibutakan oleh api cemburu yang salah sasaran.

"Sekali lagi kamu... atau orang-orang suruhan sampahmu itu menyentuh keluarga ku atau orang-orang yang aku sayangi..." ancam Zenix dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan janji kehancuran yang nyata, tepat di depan wajah Jennie yang membeku ketakutan. "...aku sendiri yang akan memastikan bahwa kebebasan dan kekayaan keluargamu akan musnah dari kota ini tanpa sisa. Ingat itu baik-baik, Jennie."

Zenix tidak sudi lagi membuang sedetik pun waktunya di tempat itu. Ia membalikkan badan, merangkul pundak Silvi yang masih terisak, lalu menuntun adiknya berjalan cepat meninggalkan koridor mall menuju area parkir. Di belakang mereka, Jennie hanya bisa terduduk lemas di lantai marmer mall dengan air mata penyesalan dan ketakutan yang mulai mengalir, menyadari bahwa ia baru saja menutup rapat-rapat seluruh pintu di hati Zenix Dirgantara untuk selamanya, sementara bahaya mistis dari Hutan Sangker atas hilangnya anak buahnya masih setia menanti jawabannya di ruang sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!