SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - SUARA YANG MENGHINA KEMISKINANKU
Pontianak sore itu terasa lebih panas dari biasanya.
Bukan hanya karena matahari masih menggantung rendah di atas deretan atap seng, memantulkan cahaya menyilaukan ke jalanan sempit yang dipenuhi suara motor dan klakson pendek. Bukan juga karena udara dari arah Sungai Kapuas terasa lembap, menempel di kulit seperti selimut tipis yang sulit dilepaskan.
Bagi Arkan Pradipta, panas hari itu datang dari sesuatu yang lebih sederhana.
Uang di dompetnya tidak cukup.
Ia duduk di atas motor tua berwarna hitam kusam yang mesinnya masih menyala kasar di depan sebuah bangunan sekolah swasta. Cat pagar sekolah itu mulai pudar, tetapi papan namanya tetap berdiri besar seolah ingin menunjukkan bahwa tempat itu lebih tinggi daripada orang-orang yang datang memohon keringanan.
Di jok belakang, Naya, adiknya, turun perlahan sambil memeluk map cokelat yang ujungnya sudah agak lecek. Wajah gadis itu terlihat tegang. Matanya beberapa kali menatap gerbang sekolah, lalu menunduk kembali seakan tempat itu bukan lagi sekolah, melainkan ruang sidang yang siap memutuskan apakah masa depannya boleh berjalan atau berhenti.
“Bang,” suara Naya pelan, hampir tenggelam oleh deru motor di jalan raya, “kalau memang belum cukup, nggak apa-apa. Naya bisa tunggu.”
Arkan mematikan mesin motor. Suara kasar itu akhirnya berhenti, menyisakan keheningan pendek yang justru membuat dadanya terasa lebih sempit. Ia melepas helm lamanya, helm yang kacanya sudah buram dan bagian busanya mulai tipis, lalu menoleh ke adiknya.
Naya mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terlalu dipaksakan. Arkan tahu. Ia sudah terlalu sering melihat wajah seperti itu di rumah mereka—wajah orang yang ingin terlihat tidak kecewa hanya karena takut membuat orang lain merasa bersalah.
“Berkas kamu harus keluar hari ini,” ucap Arkan pelan. “Pendaftaran kampus sebentar lagi dibuka. Kalau kita nunggu terus, nanti kamu yang rugi.”
Naya memeluk mapnya lebih erat. “Tapi uangnya…”
“Abang urus.”
Kalimat itu keluar tegas, tetapi setelah mengucapkannya, Arkan merasakan bagian dalam dadanya seperti ditarik pelan. Di dompetnya hanya ada beberapa lembar uang yang ia kumpulkan dari kerja serabutan selama beberapa minggu terakhir. Sebagian dari uang itu sebenarnya harus dipakai untuk membeli obat ibu. Sebagian lagi untuk bensin, listrik, dan belanja makan di rumah.
Namun Naya tidak perlu tahu semua hitungan itu.
Adiknya sudah terlalu sering ikut dewasa sebelum waktunya.
Arkan memasukkan helm ke gantungan motor, lalu merapikan jaket hitam lamanya. Jaket itu bukan gaya. Bukan pilihan. Ia hanya memakai itu karena bagian lengannya masih layak dan warnanya cukup gelap untuk menyembunyikan noda. Celana jeans yang ia kenakan juga sudah mulai memudar di bagian lutut, sementara sepatu hitamnya memiliki bekas lem di sisi kanan.
Mahasiswa Manajemen Bisnis yang cuti karena biaya.
Begitulah status Arkan sekarang.
Bukan lulus. Bukan bekerja tetap. Bukan punya usaha besar seperti mimpi yang dulu ia simpan saat pertama masuk kuliah.
Cuti.
Kata yang terdengar sopan untuk menjelaskan keadaan seseorang yang hidupnya sedang tertahan.
Bagi keluarga jauh, tetangga, dan beberapa teman lama, Arkan hanyalah pemuda dua puluh dua tahun yang kuliahnya tidak jelas, kerja tidak tetap, dan masih memakai motor tua ke mana-mana. Mereka tidak melihat malam-malam ketika Arkan pulang dengan tubuh lelah setelah membantu bongkar barang di toko. Mereka tidak melihat pagi ketika ia mengantar ibunya berobat lalu menahan lapar karena uang makan dialihkan untuk membeli obat. Mereka juga tidak tahu berapa kali Arkan membuka aplikasi kampus, menatap status cuti akademiknya, lalu menutupnya lagi karena tidak ada yang bisa ia lakukan.
Yang mereka lihat hanya hasil akhirnya.
Arkan gagal.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan bersama Naya melewati gerbang sekolah.
Halaman sekolah tidak terlalu ramai. Beberapa murid kelas bawah masih bergerombol di dekat kantin, tertawa sambil membawa minuman dingin dalam plastik. Di sisi lain, seorang satpam menatap Arkan sekilas dari kepala sampai sepatu, lalu kembali memainkan ponselnya tanpa menyapa.
Naya menunduk. Langkahnya mengecil saat mereka memasuki lorong administrasi.
Arkan melihat itu.
Tanpa bicara, ia berjalan sedikit lebih dulu, seolah tubuhnya sendiri bisa menjadi tameng dari semua tatapan yang mungkin menyakiti adiknya.
Ruang administrasi sekolah itu dingin oleh AC, tetapi bukan dingin yang nyaman. Dingin di sana terasa kaku, seperti ruangan yang terbiasa membuat orang miskin berbicara lebih pelan. Di balik meja, seorang pegawai perempuan muda sedang mengetik sesuatu. Tidak jauh darinya, seorang pria berusia sekitar empat puluhan duduk di kursi dengan punggung bersandar, kemejanya rapi, jam tangannya mengilap, dan wajahnya memancarkan rasa malas yang sengaja diperlihatkan.
Pak Hendra.
Kepala administrasi yayasan.
Arkan pernah bertemu dengannya dua kali. Pada pertemuan pertama, pria itu tersenyum tipis sambil menjelaskan tunggakan dengan nada seolah sedang membacakan vonis. Pada pertemuan kedua, ia mulai kehilangan kesabaran dan menyindir bahwa sekolah bukan tempat penitipan belas kasihan.
Hari ini, Arkan berharap pertemuan ketiga tidak lebih buruk.
Harapan itu hancur bahkan sebelum ia duduk.
Pak Hendra mengangkat mata dari berkas di depannya. Tatapannya berhenti pada Arkan, lalu turun ke jaket, celana, dan sepatu yang dipakai pemuda itu. Sudut bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang sudah tahu lawan bicaranya akan kalah sebelum percakapan dimulai.
“Arkan Pradipta,” ucap Pak Hendra lambat. “Akhirnya datang juga.”
Arkan tidak membalas sindiran itu. Ia menarik kursi untuk Naya, lalu berdiri di samping adiknya. “Saya mau menyelesaikan tunggakan Naya dan mengambil berkasnya, Pak.”
Pak Hendra membuka sebuah map biru di atas meja. Jemarinya membalik beberapa lembar kertas dengan gerakan santai. Terlalu santai. Seolah setiap detik yang ia habiskan untuk membalik kertas adalah cara halus untuk mengingatkan Arkan bahwa waktu orang miskin tidak pernah penting.
“Total tunggakan sudah saya sampaikan sebelumnya,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Termasuk denda keterlambatan administrasi.”
Jari Naya meremas ujung map cokelatnya.
Arkan melihat angka yang disodorkan ke atas meja. Tenggorokannya terasa kering. Jumlah itu lebih besar dari perkiraannya. Bukan sangat besar bagi orang lain mungkin, tetapi bagi keluarga Arkan, angka itu cukup untuk membuat dapur rumah mereka menahan napas selama berminggu-minggu.
Ia membuka dompetnya perlahan.
Di dalamnya, uang yang ia bawa terasa mendadak terlalu tipis.
Pak Hendra melirik gerakan itu. Senyum tipisnya kembali muncul.
“Kalau belum cukup, seharusnya bilang dari awal.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat pegawai perempuan di sebelahnya berhenti mengetik sebentar. “Kami juga punya banyak pekerjaan. Jangan sampai datang hanya untuk membuang waktu.”
Naya menunduk lebih dalam.
Arkan menahan napas.
Ia bisa menerima dirinya dihina. Ia sudah terbiasa. Kemiskinan punya cara membuat seseorang akrab dengan kalimat-kalimat tajam yang dibungkus nasihat. Tetapi melihat Naya duduk di sana, dengan bahu mengecil dan wajah pucat, membuat sesuatu di dalam dirinya mulai panas.
“Uang saya belum penuh,” kata Arkan akhirnya, suaranya tetap dijaga serendah mungkin. “Tapi saya bisa bayar sebagian dulu hari ini. Sisanya saya lunasi—”
“Tidak bisa.”
Pak Hendra langsung memotong.
Ruangan terasa semakin dingin.
Pria itu menutup map biru di depannya, lalu menatap Arkan seperti guru yang menegur murid bodoh.
“Ini bukan warung, Arkan. Tidak bisa bayar sebagian lalu minta berkas keluar. Aturan tetap aturan. Kalau semua orang seperti kamu, yayasan ini bisa kacau.”
Seperti kamu.
Dua kata itu mendarat lebih keras daripada yang seharusnya.
Naya mengangkat wajah sedikit. “Pak, saya hanya butuh berkas untuk daftar kuliah. Kalau terlambat—”
“Naya,” Pak Hendra memandangnya dengan senyum dibuat-buat, “Bapak paham kamu ingin kuliah. Semua anak juga ingin masa depan. Tapi keinginan harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga.”
Wajah Naya memucat.
Arkan tidak langsung bicara.
Ada kalimat-kalimat yang kalau dijawab dengan emosi hanya akan membuat orang seperti Pak Hendra merasa menang. Maka Arkan diam, menekan amarahnya dalam-dalam sampai kukunya terasa menusuk telapak tangan.
Pada saat itulah sesuatu terdengar.
Bukan dari ruangan.
Bukan dari Pak Hendra.
Bukan dari pegawai perempuan di sebelahnya.
Suara itu muncul langsung di dalam kepala Arkan, datar, dingin, dan anehnya terdengar sangat jelas.
[Pemindaian dimulai.]
Arkan berkedip.
Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan.
Pak Hendra masih menatapnya dengan ekspresi meremehkan. Naya masih duduk kaku. Pegawai perempuan kembali mengetik, meski telinganya jelas masih mendengar.
[Pendeteksian kondisi ekonomi target.]
Jantung Arkan berdegup sedikit lebih keras.
Suara apa itu?
Ia menelan ludah, mencoba tetap terlihat tenang.
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kendaraan: satu unit motor tua dengan suara mesin tidak stabil.]
[Riwayat finansial: terlalu banyak pengeluaran darurat, terlalu sedikit pemasukan tetap.]
[Status pendidikan: mahasiswa cuti karena kendala biaya.]
[Kesimpulan awal: target berada dalam kondisi ekonomi yang menyakitkan untuk diamati.]
Arkan merasa punggungnya menegang.
Ia pasti terlalu lelah.
Mungkin karena belum makan sejak pagi. Mungkin karena tekanan beberapa hari terakhir membuat pikirannya kacau. Mungkin juga karena ruangan ini terlalu dingin dan napasnya terlalu berat.
Namun suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang entah kenapa terasa seperti sedang mengejek.
[Catatan: target mencoba menjaga harga diri.]
[Analisis: itu bukan wibawa.]
[Itu hanya kebiasaan orang miskin yang terlalu sering menahan malu.]
Jari Arkan mengepal.
“Diam,” gumamnya sangat pelan.
Pak Hendra mengangkat alis. “Apa?”
Arkan tersadar. “Bukan apa-apa.”
Naya menoleh padanya dengan cemas. “Bang?”
Arkan menggeleng kecil. Ia tidak bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengerti. Bagaimana mungkin ia berkata kepada adiknya bahwa ada suara asing di kepalanya yang baru saja menghina kondisi ekonominya dengan sangat rinci?