NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 4

...4: KEPALSUAN ARVENDEL...

...****************...

"Misi kalian adalah memburu dan membasmi sisa-sisa roh jahat milik Zatrah Dvareht—entitas terkutuk yang telah menyebarkan petaka di dunia ini sejak zaman kuno."

...----------------...

Mendengar penuturan Arvendel, tubuh Kenzie seketika menegang. Aliran darahnya seolah membeku. Membasmi entitas kuno? Jangankan melawan monster, saat ini pun ia bahkan tidak memiliki kekuatan batin yang cukup untuk sekadar melindungi dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Apalagi harus melawan roh kuno, Beban itu terasa teramat berat menindih pundaknya yang tidak memiliki kekuatan sama sekali bahkan ia masih lemah.

"Jangan tegang begitu. Misi yang kukatakan tadi jelas belum mampu kamu tangani sekarang," ujar Arvendel, mendadak memotong keheningan demi mencairkan suasana yang sempat mencekam.

Kenzie mengembuskan napas yang sempat tertahan. "Lalu Tuan, apa yang harus kulakukan agar aku bisa tumbuh menjadi sosok yang mampu mengemban misi seberat itu?"

"Belum saatnya memikirkan ujung jalan. Tugasmu sekarang hanyalah satu: belajar, patuh, dan berlatih sampai tubuhmu melampaui batas manusia biasa."

"Baik, Tuan. Aku akan mengerahkan seluruh jiwa dan ragaku demi menjadi orang yang kuat."

Arvendel membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kenzie dengan pandangan sedalam lautan. "Kalau begitu, apakah kamu bersedia menjadi muridku?"

Tanpa ragu sedikit pun, Kenzie berlutut satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku bersedia menjadi murid Anda, Tuan."

"Bagus. Namun, mulai detik ini, buang jauh-jauh masa lalumu. Tanggalkan statusmu sebagai Pangeran Laurent yang manja. Di tempat ini, di hadapanku, kamu hanyalah seorang murid biasa yang merangkak dari dasar demi menggapai kekuatan," ucap Arvendel, suaranya sarat akan penekanan mutlak.

"Baik, Tuan. Saya akan mengubur masa lalu dan status saya. Saya adalah murid Anda."

"Sempurna. Setelah kereta ini menemukan tempat yang cocok, kita akan turun dan membangun gubuk untuk menetap."

Kenzie mengangguk patuh. Ia melemparkan pandangannya ke luar jendela kereta kuda sihir, mengamati deretan pegunungan yang membentang di bawah mereka. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah titik.

"Sebentar, Tuan... sepertinya kita bisa tinggal di atas bukit itu. Dataran di puncaknya cukup luas dan strategis," tunjuk Kenzie pada sebuah bukit terisolasi yang tampak sempurna untuk dijadikan tempat persembunyian.

Arvendel melirik ke arah yang ditunjuk Kenzie, lalu mengangguk pelan. "Pilihan bagus tidak buruk sama sekali. Tempat itu memang cocok untuk membangun gubuk dan menjadi tempat pelatihan untuk dirimu."

Arvendel mengibaskan jubahnya saat kereta mulai menukik turun. "Dan satu lagi... mulai sekarang, jangan panggil aku 'Tuan'. Panggil aku 'master'. Mari kita turun."

Kereta sihir itu mendarat mulus sebelum akhirnya lenyap menjadi serpihan cahaya biru. Mereka kini resmi menginjakkan kaki di area yang akan menjadi tempat tinggal mereka.

Bagi Arvendel, wilayah bukit ini adalah surga tersembunyi untuk menempa seorang petarung dari nol. Sudut matanya mengamati rintangan alam di sekitar: perbukitan berbatu tajam, akar-akar pohon raksasa yang mencuat secara acak, hingga jurang gunung yang curam dan menganga lebar.

Di dalam kepalanya, Arvendel sudah mulai berfantasi dengan liar mengenai menu latihan penyiksaan yang akan dijalani Kenzie. Jurang curam itu sangat bagus untuk melatih pergerakan insting dan kontrol napas. Aku akan menyuruhnya berlari memikul beban berat secara bertahap, mulai dari lima belas kilogram hingga ratusan kilogram menanjak bukit ini, batin Arvendel menyeringai kejam.

Bagi Arvendel, orang yang ingin mencapai puncak tertinggi harus mendedikasikan hidupnya pada latihan ekstrem secara konsisten. Dan jalan itu, tentu saja, tidak akan pernah segampang mengunyah kerupuk.

"Baiklah, kita sudah sampai," suara Arvendel membuyarkan lamunan Kenzie. "Sebelum malam tiba, mari kita bangun gubuk sebagai tempat tinggal kita di sini."

Arvendel kemudian menunjuk ke arah hutan kecil di lereng bukit. "Kumpulkan batang pohon yang kokoh dan ranting-ranting yang bisa dipakai. Ayo, segera bergerak!"

"Baik, master!" seru kenzie sangat antusias

Dengan semangat yang membara, Kenzie segera melaksanakan perintah pertamanya. Ia melangkah mantap menuju hutan, membawa kapak tua yang telah disediakan oleh Arvendel.

Pangeran muda itu memilih bahan dengan sangat teliti, ia hanya menebang pohon-pohon berbatang lurus berkualitas tinggi dan memangkas ranting-rantingnya secara terpisah.

Beberapa puluh menit berlalu, keringat mulai membanjiri tubuh Kenzie. Karena dirinya belum pernah membangkitkan atau mempelajari sihir energi sama sekali, ia terpaksa melakukan seluruh pekerjaan berat itu menggunakan kekuatan ototnya secara manual dengan fisiknya. Dengan alat seadanya, Kenzie mengangkat batang pohon yang berat itu di atas pundaknya, lalu menyeretnya satu per satu kembali ke puncak bukit.

Namun, setibanya Kenzie di area kliring, langkah kakinya mendadak terhenti. Matanya membelalak tak percaya.

Di sana, Arvendel, sang pendekar hebat yang memiliki kekuatan penghancur jiwa, tengah sibuk membabat semak belukar, memindahkan batu-batu besar, dan membersihkan area tanah secara manual dengan kedua tangannya sendiri! Tanpa menggunakan seulas sihir pun.

Bagi Arvendel, pekerjaan kasar seperti ini sebenarnya adalah bagian dari latihan fokus batin agar pikiran tetap bekerja tajam tanpa selalu mengandalkan jalan pintas magis. Namun, Kenzie tidak tahu hal itu.

Di dalam pikiran Kenzie yang masih polos, sebuah gelombang rasa hormat dan haru yang luar biasa langsung membubung tinggi. Biasanya, dari apa yang ia lihat di istana, seorang master atau pejabat tinggi yang memberi perintah pasti hanya akan duduk diam, bersedekap, dan bersantai sembari minum teh sementara bawahannya bermandikan keringat berkerja dengan sangat keras.

Namun, Arvendel berbanding terbalik! Sosok yang begitu hebat ini justru ikut mengotori tangannya dengan lumpur demi membantu membangun gubuk tempat tinggal mereka. Semakin Kenzie memandangi punggung gurunya yang sedang bekerja kasar, semakin ia merasa takjub dan bersyukur telah terpilih sebagai murid seorang guru yang begitu bersahaja.

"Apakah... Apakah Anda membutuhkan bantuan, master?" tanya Kenzie dengan nada suara yang bergetar menahan rasa hormat.

Arvendel menoleh tipis, wajahnya tetap datar. "Tidak perlu. Cukup selesaikan bagian tugas yang sudah kuberikan padamu."

"Baik, master! Kalau begitu, aku akan segera mengambil sisa batang dan ranting pohon yang tertinggal!"

Terbakar oleh rasa takjub dan tidak ingin terlihat malas di depan sang guru yang luar biasa itu, Kenzie berlari kembali ke hutan dengan semangat yang meledak-ledak. Ia menyeret sisa-sisa kayu dengan kecepatan dua kali lipat, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang mulai melepuh.

...----------------...

Beberapa saat kemudian...

Seluruh batang dan ranting pohon berkualitas tinggi telah selesai diseret oleh Kenzie dan menumpuk rapi di area kliring. Area tanah pun sudah bersih sempurna berkat kerja keras Arvendel. Kini, tiba saatnya untuk tugas terakhir: menyusun material menjadi sebuah gubuk.

Kenzie bersiap-siap mengambil tali pengikat, mengira mereka akan menyusun kayu-kayu itu secara manual lagi. Namun, Arvendel tiba-tiba melangkah ke tengah area, merentangkan tangannya perlahan.

“O Terra Lumivale... Dengan keajaiban alam dan roh pelindung, bantulah aku membangun sebuah gubuk megah yang melampaui kehendak manusia.”

Mantra kuno mengalun dari bibir Arvendel.

Seketika itu juga, tanah bergetar pelan. Lingkaran sihir raksasa berwarna biru laut bercahaya terang di bawah kaki mereka. Aura khas Arvendel yang masif menguar ke udara, terlihat begitu indah, megah, dan menawan.

Dalam sekejap mata, batang-batang pohon dan ranting yang dikumpulkan Kenzie melayang ke udara secara magis. Kayu-kayu itu berputar, memotong diri mereka sendiri dengan presisi sempurna, lalu saling mengunci dan membentuk sebuah rangka gubuk yang sangat rapi dan kokoh hanya dalam hitungan detik.

Kenzie terpukau melihat keajaiban di depannya. Namun, sedetik kemudian, sebuah rasa heran yang mengganjal mendadak muncul di benaknya. Perasaannya mulai merasa kurang nyaman karena penasaran.

Kenapa Guru membangun gubuk memakai sihir secepat ini? Kalau dia bisa melakukan ini dalam sekejap, lalu kenapa tadi kami harus bekerja manual menggunakan fisik setengah mati?.. batin Kenzie bingung.

Kenzie menahan pertanyaannya sampai lingkaran sihir itu meredup dan bangunan gubuk itu selesai seutuhnya. Sihir tingkat tinggi milik seorang master memang luar biasa; bangunan itu langsung jadi tanpa perlu disentuh lagi.

Setelah gubuk itu berdiri dengan sempurna, Arvendel dengan santai berjalan ke sebuah batu besar, duduk bersandar di sana sembari meneguk sebotol minuman dengan raut wajah acuh tak acuh.

Melihat ada kesempatan, Kenzie memberanikan diri mendekat. "master... ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

"Katakan," sahut Arvendel pelan tanpa menoleh.

"Aku hanya penasaran... Mengapa sejak awal Anda tidak langsung merapalkan mantra sihir Anda saja untuk membersihkan lahan dan membangun gubuk ini? Kenapa kita harus melakukan pekerjaan kasar yang melelahkan tadi?"

Arvendel menurunkan botol minumnya, lalu menatap Kenzie dengan pandangan malas yang luar biasa datar. "Sebenarnya tidak ada alasan istimewa. Aku hanya sedang bosan saja karena tidak ada kerjaan yang bisa kulakukan tadi."

Deg!.

Sontak, Kenzie membeku di tempat. Wajahnya mendadak kaku. Detak jantungnya seakan berhenti karena syok mendengar jawaban yang luar biasa acuh tak acuh itu. Otaknya butuh waktu beberapa detik untuk mencerna perkataan pahit ini.

Kenzie memaksakan sebuah senyum kaku yang terlihat sangat aneh di wajahnya. "Ah... hahahaha... begitu ya, master. Memang... kerja keras lebih membuat hasilnya terasa lebih memuaskan, bukan? Haha..." Kenzie mencoba menghibur diri sendiri, berharap gurunya akan membenarkan filosofi itu.

Arvendel melirik Kenzie dari sudut matanya dengan tatapan santai yang menyebalkan. "Tidak juga, sih. Sebenarnya, kalau aku pakai sihir dari awal, sudah pasti gubuk ini akan jadi jauh lebih bagus dan mewah dari ini."

Arvendel mengetuk-ngetuk botol minumnya. "Hanya saja, tadi aku kekurangan pekerjaan. Ditambah lagi, ketika aku melihatmu tidak melakukan apa-apa, dari pada kamu hanya berdiri. Jadi, aku memilih untuk memberikan pekerjaan kasar saja, sekalian biar kamu ada kerjaan menyeret pohon."

Mendengar kalimat terakhir yang meluncur tanpa dosa dari mulut gurunya, Kenzie seketika merasa separuh jiwanya melayang. Rasa takjub, haru, dan hormat yang membumbung tinggi beberapa menit lalu langsung hancur lebur, menguap tak berbekas.

Kenzie merasa sangat dirugikan. Ia tersadar bahwa dirinya baru saja ditipu mentah-mentah oleh kepalsuan wajah bijaksana Arvendel! Mengingat bagaimana tadi ia begitu bersemangat, menguras seluruh tenaga sampai ototnya mati rasa demi menyeret batang pohon raksasa karena terharu melihat gurunya ikut bekerja... Kenzie hanya bisa meratapi nasibnya dalam diam sembari menatap sang Guru dengan pandangan kosong penuh dendam batin.

Kenzie yang awalnya terharu kini berubah dengan perasaan dongkol pada sang empu yang telah menipu dirinya.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!