NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Tenang Kelas Sepuluh-Empat

Bagi Lyra Anya Cassandra, seminggu pertama menjalani kehidupan sebagai siswi baru di SMA Gava ternyata berjalan jauh lebih baik dari segala dugaan buruk yang sempat menghantui benaknya. Ketakutan yang sempat membayangi pikirannya saat melihat deretan mobil mewah bergantian masuk melintasi gerbang utama di hari pertama sekolah, perlahan-lahan mulai memudar seiring berjalannya waktu. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada misi utama yang ia canangkan sejak awal: menjadi murid biasa yang tidak menonjol dan benar-benar tidak terlihat oleh siapa pun.

Lyra ditempatkan di kelas Sepuluh-Empat. Ruang kelas itu terletak di lantai dua sayap barat gedung sekolah, sebuah area yang relatif jauh lebih tenang karena posisinya yang terisolasi dari laboratorium utama, ruang olahraga, dan kantin pusat yang selalu bising. Di dalam ruangan ber-AC dengan dinding bercat krem teduh tersebut, Lyra sengaja memilih meja paling belakang di sudut kanan ruangan. Posisi itu sangat strategis bagi dirinya, tepat berada di samping jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah hamparan taman belakang sekolah yang ditumbuhi oleh deretan pohon-pohon rindang.

Kring!

Bunyi bel elektronik yang menandakan jam pelajaran pertama dimulai berdentang nyaring melalui pelantang suara yang bertengger di atas pintu kelas. Lyra segera menyudahi kegiatannya memandangi daun-daun di luar jendela. Dengan gerakan yang teratur, ia membuka ritsleting tas ransel kainnya, mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul cokelat polos yang tampak bersih, lalu menyusul kotak pensil kainnya untuk ditata dengan rapi di atas meja kayu yang halus.

"Selamat pagi semuanya. Tolong buka buku paket matematika kalian sekarang, buka halaman lima belas," ucap Bu Ratna, seorang guru wanita paruh baya yang terkenal sangat tegas namun adil di kalangan murid, saat langkah kakinya yang mantap memasuki ruang kelas.

Lyra mengembuskan napas lega dari hidungnya secara perlahan. Pelajaran matematika selalu menjadi salah satu zona nyaman terbesarnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Di dalam kelas Sepuluh-Empat ini, atmosfer pergaulan di antara para murid terasa cukup hangat namun tetap menjaga jarak yang sopan. Sebagian besar remaja yang mengisi ruangan ini adalah anak-anak dari keluarga pengusaha menengah atau sesama anak berprestasi yang masuk melalui jalur beasiswa seperti dirinya. Tidak ada aksi pamer kekayaan yang ekstrem atau pembicaraan mengenai merek barang-barang mewah di sudut ruangan ini. Mereka semua tampak terlalu sibuk mengejar nilai akademik atau sibuk mendiskusikan pembagian tugas kelompok yang rumit.

Di sebelah kiri meja Lyra, duduk seorang anak laki-laki berkacamata tebal bernama Miko yang sejak tadi sibuk memutar-mutar pulpen hitamnya dengan jemari yang tampak gelisah.

"Hei, Lyra," bisik Miko pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah meja Lyra, memanfaatkan momen berharga saat Bu Ratna sedang membalikkan badan untuk menuliskan rumus panjang di papan tulis hitam menggunakan kapur putih. "Kau sudah menyelesaikan soal latihan nomor lima yang ditugaskan minggu kemarin? Rumusnya benar-benar membingungkan sekali, aku sampai tidak tidur memikirkannya," keluh Miko dengan dahi yang berkerut dalam.

Lyra menolehkan kepalanya sedikit ke arah Miko, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis hingga memamerkan lesung pipit kecil di pipi kirinya. Dengan gerakan halus agar tidak menarik perhatian guru di depan, ia menggeser buku catatan cokelatnya beberapa sentimeter ke arah meja Miko. "Sudah kok. Sebenarnya kau hanya perlu membalik variabel (X) dan (Y) terlebih dahulu sebelum memasukkan rumus kuadratnya ke dalam persamaan awal. Coba lihat bagian coretan pensilku yang ini," bisik Lyra lembut sambil menunjuk baris demi baris angka yang tertulis rapi di bukunya.

Miko menatap buku Lyra selama beberapa detik, lalu menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan secara pelan. "Astaga, benar juga! Kenapa aku bisa sebodoh ini, ya?" bisik Miko dengan binar mata yang mendadak penuh dengan rasa syukur yang masif. "Kau benar-benar jenius sekali, Ly. Terima kasih banyak ya, kau sudah menyelamatkan nyawaku dari amukan Bu Ratna pagi ini," tambahnya lagi dengan nada lega yang sangat tulus sebelum ia kembali fokus menyalin rumus tersebut ke dalam bukunya sendiri.

Rasa hangat yang menyenangkan seketika menjalar di dalam dada Lyra mendengarnya. Interaksi kecil, sederhana, dan damai seperti inilah yang sangat ia harapkan bisa terjadi setiap hari selama tiga tahun masa remajanya di sekolah ini. Di kelas Sepuluh-Empat yang tenang ini, ia tidak perlu memusingkan masalah status sosialnya yang timpang jika dibandingkan dengan murid-murid di sayap timur sekolah. Ia tidak perlu merasa minder atau rendah diri hanya karena tidak memiliki tas punggung bermerek luar negeri yang harganya selangit. Di ruangan ini, ia dinilai murni karena ketulusannya membantu teman sekelas dan kecerdasannya dalam menangkap setiap materi pelajaran yang diberikan oleh guru.

Saat jam pelajaran terus berlanjut diiringi suara ketukan kapur Bu Ratna pada papan tulis, Lyra kembali melemparkan pandangan matanya ke luar jendela kaca besar di samping tempat duduknya. Dari lantai dua sayap barat ini, ia bisa melihat dengan jelas hamparan rumput hijau segar di taman belakang sekolah yang tampak sangat sepi dan damai. Angin pagi yang berembus pelan tampak menggoyang-goyang ujung ranting pohon beringin tua yang tumbuh kokoh di bawah sana, menciptakan tarian bayangan dedaunan yang sangat menenangkan di atas permukaan tanah.

Lyra benar-benar merasa sangat bersyukur atas kedamaian yang ia miliki saat ini. Pikirannya benar-benar bersih dari segala macam masalah. Di sayap barat yang terisolasi dari hiruk-pikuk ini, ia hidup dengan sangat tenang di dalam dunianya sendiri yang sederhana. Ia belajar dengan tekun dari pagi hingga siang hari, mencatat setiap ilmu dengan penuh semangat. Lalu, tepat setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring nanti, ia akan langsung berjalan cepat menuju halte bus, naik angkutan umum untuk kembali ke rumah, dan segera memakai celemeknya untuk membantu Nenek membentuk adonan kue bolu gulung cokelat yang manis di toko kue mereka.

Kehidupan Lyra di seminggu pertama sekolah ini terasa berjalan begitu linear, sangat aman, teratur, dan benar-benar terbebas dari kejutan-kejutan berbahaya yang bisa merusak ketenangannya. Gadis belia yang polos itu benar-benar menikmati statusnya sebagai seseorang yang tak kasat mata di sekolah megah tersebut, tanpa pernah tahu bahwa takdir sebenarnya sedang menahan napas, menanti hari esok datang membawa badai besar yang akan membalikkan dunianya dalam sekejap mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!