Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan untuk garendra
Pagi kembali menyapa.
Sinar mentari perlahan menembus jendela kamar, membangunkan Felisyah dari tidurnya.
Setelah bersiap, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Suasana rumah masih begitu sunyi.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Felisyah menuruni anak tangga.
Sesekali ia menoleh ke sekeliling rumah yang masih tampak lengang.
"Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya lirih.
"Nggak mungkin aku hanya diam dan bermalas-malasan di rumah ini."
Ia menggigit bibir bawahnya pelan.
"Semoga... belum ada orang di dapur."
Dengan langkah ragu, ia berjalan menuju dapur.
Begitu pintu dapur terbuka...
Kedua matanya langsung membulat.
"Masya Allah..."
Dapur itu begitu luas dan mewah.
Lemari-lemari berwarna putih tersusun rapi. Sebuah kulkas besar berdiri di sudut ruangan, sementara berbagai peralatan memasak tertata lengkap di tempatnya masing-masing.
Di tengah ruangan terdapat meja marmer yang biasa digunakan untuk menyiapkan bahan masakan.
Felisyah memandang sekeliling dengan takjub.
"Semuanya... mewah sekali."
Tanpa sadar, ia membandingkannya dengan dapur kecil di rumah lamanya.
"Dulu... dapur kami sangat sederhana."
"Bahkan peralatan memasak pun seadanya."
Senyum tipis terukir di wajahnya, meski terselip rasa rindu.
Perlahan ia mengambil sebuah celemek, lalu memakainya.
Tatapannya beralih ke arah kulkas.
"Aku nggak tahu Garendra suka makanan apa," gumamnya sambil tersenyum kecil.
"Masa iya aku harus tanya langsung ke orangnya? Malu..."
Ia membuka pintu kulkas.
Seketika matanya kembali berbinar.
Di dalamnya tersimpan berbagai bahan makanan yang masih segar.
Sayuran, buah-buahan, daging, ayam, telur, hingga aneka bumbu tersusun begitu rapi.
Melihat semua itu, semangat Felisyah perlahan tumbuh.
Memasak memang selalu menjadi hal yang paling ia sukai.
"Apa kubuatkan sup ayam saja, ya?"
"Semoga dia suka."
Namun, ia segera menggeleng pelan.
"Bukan... bukan karena aku ingin mengambil hatinya."
"Aku hanya merasa nggak enak."
"Dia sudah memberiku tempat tinggal, pakaian, dan memperlakukanku dengan baik."
"Setidaknya... aku juga harus melakukan sesuatu selama tinggal di rumah ini."
Tanpa ia sadari, senyum kecil menghiasi wajahnya saat mulai menyiapkan bahan-bahan.
Inilah pertama kalinya ia melakukan sesuatu untuk Garendra atas keinginannya sendiri.
Sejak mengetahui bahwa rumah itu hanya dihuni oleh Garendra, dirinya, dan para pelayan, perlahan rasa takut Felisyah mulai berkurang.
Ia tidak lagi dihantui bayangan harus berhadapan dengan keluarga besar Garendra setiap saat.
Yang masih membuatnya canggung...
Hanyalah Garendra.
Pria yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan memberinya begitu banyak perhatian yang tak pernah ia bayangkan.
Tak lama kemudian, aroma sup ayam mulai memenuhi dapur.
Felisyah sibuk mengaduk panci di hadapannya.
Sesekali ia mencicipi kuahnya, lalu menambahkan sedikit bumbu.
Memasak selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Tiba-tiba...
"Ya ampun, Nyonya!"
Suara itu membuat Felisyah tersentak.
Ia buru-buru menoleh.
Mbak Lala sudah berdiri di belakangnya dengan wajah panik.
Wanita itu segera menghampiri dan hendak mengambil sendok kayu dari tangan Felisyah.
"Biar saya saja, Nyonya."
Felisyah refleks mundur selangkah.
"Eh... Mbak Lala..."
Wajahnya langsung berubah gugup.
Ia menundukkan kepala.
"Maaf... saya lancang masuk ke dapur tanpa izin."
Mbak Lala menggeleng cepat.
"Bukan begitu, Nyonya."
"Ini memang pekerjaan kami."
"Nyonya tidak perlu repot-repot."
"Tugas Nyonya adalah beristirahat dan menikmati semua fasilitas di rumah ini."
"Kami yang dibayar untuk melayani Nyonya."
Mendengar itu, Felisyah meremas jemarinya.
Ia sempat ragu.
Niatnya membuat sarapan untuk Garendra sepertinya harus diurungkan.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Maaf, Mbak..."
"Tapi... boleh kali ini biar saya saja?"
"Saya memang suka memasak."
"Kalau saya hanya diam di kamar, saya malah merasa nggak enak."
Tatapannya penuh harap.
"Setidaknya dengan begini saya merasa punya kegiatan."
"Lagipula... saya juga ingin melakukan sesuatu selama tinggal di rumah ini."
Ia kembali tersenyum malu.
"Kalau nanti Garendra marah..."
"...biar saya yang menjelaskannya."
Mbak Lala terdiam.
Ia memandangi Felisyah beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang nyonya rumah yang justru merasa sungkan dilayani.
Padahal, kebanyakan wanita yang pernah datang ke rumah itu selalu menyerahkan semuanya kepada para pelayan.
Tanpa sadar, senyum hangat terbit di wajah Mbak Lala.
"Pantas saja Tuan begitu menjaga Nyonya," batinnya.
"Beliau memang wanita yang berbeda."
Akhirnya Mbak Lala menganggukkan kepala pelan.
"Baiklah, Nyonya."
"Kalau memang itu yang Nyonya inginkan, saya tidak akan melarang."
Mendengar jawaban itu, wajah Felisyah langsung berbinar.
"Terima kasih banyak, Mbak," ucapnya tulus.
Melihat senyum polos itu, hati Mbak Lala terasa hangat.
Wanita muda di hadapannya sama sekali tidak bersikap angkuh.
Justru ia begitu rendah hati hingga terus merasa tidak enak kepada semua orang.
Felisyah kembali mengaduk sup ayam yang hampir matang.
Sesekali ia menghirup aroma hangat yang memenuhi dapur.
Senyum kecil tanpa sadar terukir di bibirnya.
"Sepertinya sudah matang," gumamnya pelan.
Ia mematikan api kompor, lalu dengan hati-hati menuangkan sup ke dalam sebuah mangkuk.
Tatapannya tertuju pada semangkuk sup hangat itu.
"Ini pertama kalinya aku membuatkan sarapan untuknya."
"Semoga... dia suka."
Meski begitu, keraguan masih menyelimuti hatinya.
Ia takut masakannya tidak sesuai dengan selera Garendra.
Felisyah kemudian menoleh ke arah Mbak Lala.
"Mbak..."
"Boleh saya tanya sesuatu?"
Mbak Lala tersenyum ramah.
"Tentu boleh, Nyonya. Ada apa?"
Felisyah menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum bertanya.
"Biasanya... Garendra berangkat kerja jam berapa, ya?"
Nada suaranya terdengar malu-malu.
"Oh, Tuan biasanya berangkat pagi," jawab Mbak Lala.
"Kalau tidak ada perubahan jadwal, sebentar lagi beliau pasti turun."
"Lalu, apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Felisyah kembali menatap mangkuk sup di tangannya.
Uap hangat masih mengepul pelan dari permukaannya.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata,
"Emm..."
"Kalau boleh..."
"Maukah Mbak mengantarkan sup ini untuk Garendra?"
Ucapannya terdengar begitu pelan, seolah malu mengatakannya.
Mbak Lala langsung tersenyum.
Senyum itu penuh arti.
Di dalam hatinya, ia mulai melihat secercah harapan bagi hubungan kedua majikannya.
"Tentu saja, Nyonya."
"Dengan senang hati."
Namun, Felisyah buru-buru menambahkan,
"Tapi..."
"Jangan bilang kalau sup itu saya yang membuatnya."
"Saya... malu."
Mbak Lala tersenyum semakin lebar.
"Baik, Nyonya."
"Saya mengerti."
Tepat saat itu...
Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Tok... tok... tok...
Mbak Lala menoleh sekilas.
"Tuan sudah turun," ucapnya pelan.
Felisyah refleks ikut menoleh.
Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.
Dengan hati-hati, ia menyerahkan mangkuk sup itu kepada Mbak Lala.
"Kalau begitu... tolong antarkan untuk beliau, ya."
Mbak Lala menerima mangkuk tersebut dengan hati-hati.
"Baik, Nyonya."
Tanpa menunggu lebih lama, ia pun melangkah menuju ruang makan, sementara Felisyah tetap berdiri di dapur dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
semangat✍️😉