Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesatria Yang Tidak Pernah Pergi
Leonard Aster masih berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam. Seragam kesatrianya masih sedikit basah oleh hujan, menandakan ia datang terburu-buru.
Tidak ada suara apapun, semua orang bergetar ketakutan melihat Leonard datang secara tiba-tiba.
Mata Leonard berpindah dari kepala dapur menuju kotak teh yang ada di tangan Arcelia lalu kembali pada wajah wanita itu.
“Ada yang ingin menjelaskan apa yang sedang terjadu?” tanya Leonard dengan suara dingin.
Kepala dapur semakin pucat karena Leonard juga turun tangan secara langsung. “S-Saya tidak melakukan apa pun tuan” katanya dengan tubuh yang berkeringat.
Leonard tidak menjawab apapun, sorot matanya menajam dia berbeda dengan bangsawan lain yang ada di mansion ini, Leonard bukan tipe yang mudah dipermainkan dengan kata-kata.
Leonard dikenal sebagai kesatria paling setia milik keluarga Vareinne.
Dan dari ingatan tubuh Arcelia ini, Leonard selalu melindungi Arcelia secara diam-diam sejak kecil.
Sayangnya, Arcelia lama terlalu takut untuk meminta bantuan kepada Leonard.
“Apa Ayah yang menyuruhmu datang?” tanya Arcelia.
Leonard sedikit terdiam sebelum menggeleng. “Saya mendengar keributan dari seorang pelayan yang mengatakan anda sedang memeriksa dapur.”
Berarti Leonard datang atas kemauannya sendiri, "menarik." batin Arcelia.
Usia pria itu mungkin sekitar dua puluh tahun. Wajahnya tampan dengan garis tegas khas prajurit, sementara bola matanya berwarna cokelat gelap dan sulit untuk ditebak.
Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda dari orang lain di mansion ini. Tatapannya terhadap Arcelia tidak dipenuhi hinaan ataupun rasa kasihan.
Melainkan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.
“Kondisi Anda belum pulih,” katanya pelan. “Anda seharusnya beristirahat.” sorot matanya melembut ketika menatap Arcelia.
“Aku tidak bisa tidur tenang saat tinggal di rumah yang mencoba untuk membunuhku.” kata Arcelia dengan tenang dan sesekali melirik kepala dapur yang masih tertunduk.
Ucapan Arcelia membuat semua orang bergetar ketakutan bahkan kepala dapur nyaris pingsann.
Sementara Leonard langsung menatap Arcelia serius. “Anda yakin dengan ucapan itu? Ada seseorang yang benar-benar ingin membunuh anda?” tanyanya untuk memperjelas keadaan.
“Aku tidak suka mengulang perkataan yang sama.” kata Arcelia.
Tatapan mata Arcelia bertemu dengan Leonard, kemudian dia melangkah mendekati Arcelia.
“Siapa yang sedang anda curigai?” tanya Leonard dengan suara datar membuat semua yang mendengar bergidik merinding.
“Semua orang.” matanya menatap seluruh pelayan yang ada disana satu per satu.
Jawaban itu membuat pria tersebut sedikit mengernyit. Namun anehnya, dia tidak terlihat menganggap Arcelia berbicara berlebihan.
Sebaliknya, wajah Leonard justru semakin marah seolah sebagian dirinya memang sudah menduga ada sesuatu.
Arcelia menangkap perubahan kecil itu. “Kamu sepertinya tahu sesuatu,” ucapnya pelan kepada Leonard.
Leonard langsung diam tidak menjawab pertanyaan Arcelia.
[Kebohongan terdeteksi aktif.]
[Keraguan terdeteksi.]
[Target menyembunyikan informasi.]
"katakan sesuatu jika kamu benar-benar tahu sesuatu." kata Arcelia memecahkan lamunan Leonard
“Saya memang mencurigai sesuatu tapi saya tidak memiliki bukti.” kata Leonard.
Arcelia mengerutkan keningnya sambil menatap Leonard. Pria itu menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata,
“Beberapa bulan terakhir, saya memang merasa ada sesuatu yang aneh di mansion ini.” katanya.
“Kejanggalan seperti apa yang kamu curigai?” tanya Arcelia.
“Pelayan lama Anda dipindahkan satu per satu. Kemudian orang-orang yang dekat dengan anda mendadak menghilang.” kata Leonard sorot matanya tajam.
Ekspresi Arcelia berubah menjadi suram, "metode klasik dengan menjauhkan orang-orang terdekat dan digantikan orang-orang yang menjadi mata-mata." batin Arcelia. "sungguh wanita licik." gumamnya sambil tersenyum sinis.
“Saya pernah mencoba untuk menyelidiki masalah ini,” lanjut Leonard, “tetapi selalu dihentikan.”
“Siapa yang menghentikan penyelidikanmu?” tanya Arcelia meskipun sebenarnya dia sudah menduga siapa dalangnya.
Pria itu terdiam sesaat sebelum menjawab, “Marquise Elena."
Deg...!!
Semua orang terdiam takut, keringat dingin mulai membanjiri tubuh para pelayan bahkan kepala dapur mulai mengeluarkan air matamya.
“Saya tidak ingin terlibat… saya hanya mengikuti perintah…” kata kepala dapur itu.
Arcelia menatap wanita itu sebelum berkata, “Kalau begitu coba kamu buktikan tidak keterlibatanmu!.” bentak Arcelia.
“Maksud Nona?” tanya wanita paruh baya itu dengan tangan masih gemetar dilantai namun matanya menatap Arcelia.
“Katakan siapa yang memberimu racun itu kepadamu." kata Arcelia tatapannya menajam.
Membuat wanita itu gemetar hebat. Namun sebelum ia menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar.
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki yang sangat terburu-buru bahkan sesekali terdengar seperti berlari kecil.
Semua orang gemetar ketakutan karena mereka bisa menebak siapa kali ini yang datang tergesa-gesa.
Klikk..!
Suara pintu langsung terbuka dan semua orang melihat sosok yang sedang berdiri didepan pintu.
Kali ini seorang pelayan laki-laki masuk dengan wajah pucat. “T-Tuan Leonard!” katanya sambil menyeka keringat karena gugup.
“Ada apa?” kata Leonard sambil mengerutkan keningnya.
“Marquise Elena sedang menuju kemari!” kata pelayan laki-laki itu.
Kepala dapur langsung terlihat putus asa. Sementara Leonard mengernyit tajam.
“Cepat sekali wanita ular itu datang,” gumam Arcelia pelan.
Dalam hal ini, pasti seseorang sudah melaporkan kepada Marquise tentang apa yang sedang terjadi didapur.
"memang Marquise mengirim banyak lalat." batin Arcelia.
“Nona, sekarang apa yang harus kita lakukan? Marquise Elena sedang dalam perjalanan kemari.” bisik Lilian panik.
Arcelia justru tersenyum tipis. “Apa yang harus dilakukan? Justru saya menunggu saat-saat itu. Apa yang harus ditakutkan." kata Arcelia seolah sedang menikmati suasana ini.
“Nona…” kata Lilian dengan menekan suaranya saat menyebut kata nona.
“Kenapa? Bukankah lebih baik jika beliau datang sendiri?” kata Arcelia sambil tertawa.
Arcelia benar-benar menikmati permainan ini, padahal Lilian sudah ketakutan setengah mati.
Tatapan merah anggur milik Arcelia terlihat tenang. Namun ketenangan itu justru membuat orang lain semakin gelisah.
Beberapa detik kemudian, suara hak sepatu terdengar dari lorong.
Tap.. Tap.. Tap..
Dan seperti dugaan mereka Marquess Elena Vareinne telah muncul di depan pintu.
Wanita itu masih terlihat anggun seperti biasa.
Gaun hitam elegan membungkus tubuhnya sempurna, sementara senyum lembut menghiasi wajah cantiknya.
Namun mata tajamnya langsung menangkap situasi di ruangan.
Kepala dapur yang sedang berlutut dengan tubuh gemetar, para pelayan lain yang menundukkan kepalanya dan yang lebih menarik perhatiannya kotak teh itu ada ditangan Arcelia sekarang.
Dan Arcelia berdiri di tengah semua itu.
“Sepertinya aku datang di waktu yang menarik,” ucap Elena lembut.
Mereka semua bergetar ketakutan, kemudian mata Marquise Elena berhenti pada sosok wanita paruh baya.
“Sandra.” kata Marquise suaranya lembut namun penuh ancaman.
Wanita paruh baya di lantai langsung membeku, keringatnya kembali menetes membasahi lantai.
“Kenapa kau berlutut seperti itu?” Suara Elena tetap lembut.
Namun justru kelembutan itulah yang membuat Sandra terlihat semakin ketakutan.
Arcelia melihat semua itu dan langsung memiliki kesimpulan bahwa kepala pelayan itu bukan hanya sekedar takut kepada majikan melainkan sesuatu yang lebih besar.
"menarik…" batin Arcelia.
“Mungkin karena dia menyembunyikan sesuatu,” kata Arcelia santai.
Elena menoleh perlahan. “Arcelia.” matanya melebar.
“Aku hanya menemukan racun di tehku. Dan ternyata sudah bertahun-tahun aku mengkonsumsi racun yang ada pada teh itu." Kalimat itu diucapkan begitu saja tanpa ragu.
Lilian terkejut bahkan hampir menahan nafasnya, sedangkan Leonard memasang wajah waspada.
Tetapi Marquise hanya tersenyum seolah tuduhan itu tidak benar.
“Sayang sekali,” katanya lembut. “Kamu pasti terlalu banyak berpikir setelah sakit.” kata Marquise Elena.
Ucapan itu membuat Arcelia hampir tertawa. Wanita ini benar-benar pandai memainkan ekspresi. Kalau dirinya tidak memiliki memori tubuh asli, mungkin ia juga akan tertipu.
“Kalau begitu mari kita panggil tabib kerajaan,” ucap Arcelia. “Biar beliau memeriksa tehnya.”
Mendengar ucapan Arcelia yang masih percaya bahwa ada yang meracuni dirinya senyum Marquise menghilang meskipun hamya sesaat.
Namun perubahan itu tidak luput dari pandangan Arcelia. Dan sistem juga melihatnya.
[Kebohongan terdeteksi aktif.]
[Kecemasan meningkat.]
"huh." dengus Arcelia. "bagus sekali berarti wanita ini mulai kehilangan ketenangan." batinnya.
“Elena.” Suara Leonard terdengar berat. Tatapan pria itu kini sangat tajam. “Menurut saya pemeriksaan memang perlu dilakukan.”
Elena langsung menatapnya tajam. “Kamu meragukanku?”
“Saya hanya ingin memastikan keselamatan Nona Arcelia." kata Leonard.
Suasana semakin mencekam, namun Marquise masih bisa tersenyum, "baiklah kalau itu mau kalian."
Ucapan Marquise Elena membuat semua orang terkejut.
“Tentu saja aku tidak keberatan,” lanjutnya tenang. “Karena aku tidak melakukan apa pun.”
Sikap Marquise Elena masih bisa tenang yang membuat Arcelia curiga, pasti dia telah memiliki jalan keluar.
Jika racun benar-benar diperiksa, kemungkinan besar bukti akan menghilang sebelum sampai ke tabib kerajaan.
"huh wanita Licik." gumam Arcelia.
Namun Arcelia tidak berniat berhenti di sini. Dia sudah memulai permainan ini. Dan sekarang tidak ada jalan untuk mundur.
Saat semua orang masih diam, Elena tiba-tiba berjalan mendekat.
Lalu dengan lembut merapikan rambut Arcelia seperti ibu penyayang. “Tubuhmu masih lemah,” bisiknya pelan. Senyumnya tetap indah.
Namun mata wanita itu dingin seperti es. “Kamu seharusnya tidak terlalu penasaran kalau ingin hidup lama.”
Ucapan Marquise Elena bukan kata-kata yang menunjukkan kasih sayang, namun dibalik itu Arcelia tahu bahwa itu ancaman.
Arcelia tersenyum sinis, dia tidak gentar sekalipun. “Kalau begitu,” balasnya pelan, “mulai sekarang saya harus hidup lebih lama lagi.”
Jawaban Arcelia membuat Marquise Elena sangat marah, namun dia berusaha menutupinya.
Tapi dimata Arcelia tidak ada yang bisa dia sembunyikan.