NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34: Pemainan di Balik Layar

Kamis pagi pukul delapan, suasana di dalam ruang transaksi utama Artha Sekuritas yang terletak di lantai dua puluh Tower Bursa Efek Jakarta terasa begitu sunyi namun menegangkan.

Deretan layar monitor datar menampilkan angka-angka pergerakan saham pra-pembukaan (pre-opening) yang terus berkedip hijau dan merah.

Di sudut ruangan, tepat di dalam bilik VIP yang kedap suara, Amanda Santoso duduk dengan menyilangkan kakinya dengan tegang.

Di hadapannya, seorang pialang saham senior bernama Roy sedang meneliti lembar instruksi penjualan saham treasury milik PT Santoso Karya.

"Nona Amanda, harga penawaran yang Anda ajukan berada di angka sepuluh persen di bawah harga pasar reguler saat ini," Roy membetulkan letak kacamata miliknya, menatap Amanda dengan pandangan profesional yang sangsi.

"Secara teori, diskon sebesar ini seharusnya bisa menarik minat investor institusi dengan cepat."

"Namun, dengan rumor miring yang beredar tentang eksposur kas PT Santoso Karya di Bank Nusa Sentosa, sejak kemarin sore belum ada satu pun dana pensiun atau manajer investasi lokal yang berani memasukkan penawaran beli (bid)."

Amanda mencengkeram tas Hermès di pangkuannya dengan jemari yang memutih.

"Roy, aku tidak peduli dengan proses due diligence mereka yang bertele-tele. Ayahku membutuhkan dana tunai sebesar tiga puluh miliar rupiah masuk ke rekening korporat kami sebelum kliring perbankan ditutup besok sore."

"Cari siapa saja yang memegang likuiditas tunai saat ini. Potong harganya menjadi dua belas persen jika perlu!"

Roy menghela napas pendek, jemarinya mulai menari di atas papan ketik komputer trading untuk memperbarui sistem penawaran khusus di pasar negosiasi.

"Baik, Nona Amanda. Saya akan melempar kode penawaran ini kembali ke sistem blok perdagangan terikat (block trading)."

"Jika dalam dua jam ke depan tetap tidak ada respons, kita terpaksa harus menunggu hingga pekan depan."

Sementara itu, di lantai dua ruko Salman Holdings di Pluit, Doni Salman sedang berdiri di depan lima layar monitor tabungnya yang menampilkan sistem perdagangan saham real-time.

Di belakangnya, seorang analis keuangan senior yang sengaja ia sewa dari firma sekuritas asing, sedang memegang gagang telepon dengan wajah yang serius.

"Pak Doni, penawaran saham treasury PT Santoso Karya baru saja diperbarui di sistem pasar negosiasi Artha Sekuritas," kata analis itu, menunjuk ke arah baris kode khusus yang berkedip di sudut layar komputer.

"Diskonnya dinaikkan menjadi dua belas persen dari harga penutupan kemarin."

"Devan Santoso benar-benar sudah kehabisan napas untuk mencari uang tunai."

Doni Salman menyesap teh melati hangatnya dengan gerakan yang sangat tenang. Sebaris angka digital di layar memantulkan kilatan dingin di manik mata sumur tuanya.

"Gunakan rekening cangkang Pacific Blue Investment yang terdaftar di British Virgin Islands untuk mengeksekusi pembelian itu," perintah Doni, suaranya mengalir datar tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Pacific Blue adalah entitas luar negeri yang seluruh sahamnya dikendalikan secara mutlak oleh Salman Group lewat perjanjian nominator bawah tangan."

"Dengan cara ini, Devan maupun otoritas Bapepam tidak akan pernah tahu bahwa akulah yang berdiri di balik dana segar yang masuk ke rekening mereka."

Analis itu mengangguk paham, jemarinya dengan cekatan memasukkan kode enkripsi akun luar negeri tersebut ke dalam sistem kliring bursa efek.

"Berapa banyak volume yang akan kita ambil, Pak?"

"Ambil seluruh lima persen saham treasury yang mereka tawarkan," desis Doni Salman, sebuah senyuman kejam yang sangat tipis terukir di wajah tirusnya.

"Bayar tunai sebesar tiga puluh miliar rupiah hari ini melalui Bank pusat."

"Biarkan Devan Santoso mengira dia telah menemukan dewa penyelamat dari luar negeri, padahal dia baru saja menyerahkan lima persen lagi tali gantungan bisnisnya ke dalam genggamanku."

Pukul sebelas siang, sebuah notifikasi suara ping yang nyaring berbunyi dari komputer trading milik Roy di bilik VIP Artha Sekuritas. Pria itu seketika tersentak dari kursinya, matanya melebar menatap layar monitor dengan tatapan tidak percaya.

"Terjual, Nona Amanda! Seluruh lima persen saham treasury Anda baru saja dieksekusi secara tunai!" seru Roy dengan nada suara yang bersemangat.

Amanda Santoso langsung berdiri dari sofa kulitnya, melangkah cepat mendekati meja kerja Roy.

"Siapa? Institusi mana yang membelinya, Roy?!"

Roy meneliti kode kustodian yang tertera pada slip konfirmasi transaksi harian.

"Pembelinya adalah Pacific Blue Investment Nominees Ltd. Sebuah dana investasi asing (offshore fund) yang berbasis di wilayah perlindungan pajak luar negeri."

"Mereka melakukan transfer tunai secara real-time langsung ke rekening penampung PT Santoso Karya."

Amanda menarik napas lega yang luar biasa panjang, seolah-olah seluruh beban berat yang menekan dadanya selama seminggu terakhir lenyap dalam sekejap.

Wajah cantiknya kembali memancarkan rona arogansi sosialitanya yang sempat pudar.

"Bagus... sangat bagus. Sampaikan pada tim keuangan pusat untuk segera mengalihkan dana tiga puluh miliar itu untuk melunasi tagihan besi baja di Sektor Selatan sore ini juga. Kita berhasil selamat dari suspensi bursa, Roy."

Amanda menyambar kacamata hitam Chanel miliknya, memakainya dengan satu gerakan tangan yang anggun, lalu melangkah keluar dari kantor sekuritas dengan kepala tegak.

Di dalam benaknya, ia merasa telah memenangkan pertempuran taktis ini dari Doni Salman.

Ia mengira bahwa dengan mendapatkan dana segar dari investor asing, posisi keluarganya di Menara Thamrin kini kembali kokoh dan tidak bisa lagi didikte oleh kepemilikan sepuluh persen saham milik Doni.

Sore harinya, di ruko Pluit, Doni Salman sedang duduk di kursi kerjanya saat Joko melangkah masuk dengan membawa sebuah berkas dokumen berstempel hukum dari Biro Administrasi Efek Jakarta.

"Pak Doni, proses administrasi transfer kepemilikan saham dari pasar negosiasi sudah selesai di-input ke dalam buku daftar pemegang saham pusat," Joko meletakkan dokumen itu di atas meja jati dengan ekspresi kekaguman yang luar biasa.

"Mulai sore ini, secara tidak langsung lewat Pacific Blue, total hak suara dan kepemilikan kita atas PT Santoso Karya telah resmi menyentuh angka lima belas persen."

Doni Salman menerima dokumen tersebut, melihat nama entitas cangkang miliknya bersanding tepat di bawah nama keluarga Santoso dalam bagan struktur kepemilikan perseroan.

Lima belas persen kepemilikan saham adalah kekuatan yang masif. Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 2006, pemegang saham dengan kepemilikan di atas sepuluh persen memiliki hak legal mutlak untuk meminta dewan komisaris melakukan audit forensik terhadap seluruh transaksi keuangan masa lalu perusahaan jika diduga terjadi penyelewengan.

"Langkah kelima dari cetak biru kita sudah terkunci dengan sempurna, Joko," kata Doni, suaranya terdengar begitu berat, menyimpan dinginnya takdir yang tidak bisa diubah oleh siapa pun.

"Lalu... apa langkah kita selanjutnya, pak? Apakah kita akan langsung mengajukan tuntutan audit forensik ke Menara Thamrin besok pagi?" tanya Joko, mengernyitkan dahinya penuh antisipasi.

"Belum waktunya, Joko," Doni bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca kerjanya yang menghadap ke arah pelabuhan utara yang mulai dilingkupi kabut senja.

"Jika kita bergerak sekarang, Devan Santoso masih memiliki uang tiga puluh miliar rupiah hasil penjualan saham tadi untuk menutupi lubang keuangan lainnya."

"Biarkan dia menggunakan uang itu untuk menenangkan para vendornya selama beberapa hari ini."

Doni Salman meraba saku kemejanya, mengeluarkan seikat bunga melati kering yang harumnya selalu mengingatkannya pada kesederhanaan Zahra dan sumpah balas dendamnya.

Matanya berkilat tajam membelah kegelapan malam Jakarta yang mulai turun.

"Dalam waktu satu minggu ke depan, Bank akan secara resmi mengumumkan pembekuan total operasional Bank Nusa Sentosa tanpa ada kompromi lagi," desis Doni Salman, kata-katanya terdengar bagai mantra kematian yang mematikan di dalam ruangan sepi itu.

"Saat hari pengumuman itu tiba, tiga puluh miliar yang baru saja mereka bayarkan ke para vendor akan menjadi sia-sia karena seluruh operasional perusahaan mereka tetap akan lumpuh total akibat hilangnya bank penjamin proyek."

"Dan di saat itulah, dengan kekuatan lima belas persen saham yang kita pegang, kita akan menjatuhkan kapak eksekusi terakhir yang akan memotong seluruh sisa kekuasaan keluarga Santoso hingga ke akar-akarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!