DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: TIDAK GENTAR SAMA SEKALI**
**
Dimas Santoso bukan tipe orang yang langsung turun tangan sendiri. Itu sebabnya dia masih punya bisnis konstruksi dan jaringan penagih utang yang bertahan lebih dari dua puluh tahun tanpa pernah sekali pun namanya muncul di berita kriminal. Dia mengintai dulu, dia hitung dulu, baru gerak.
Lewat informasi yang sudah dikumpulkan diam-diam, dia tahu David sekarang lebih sering menginap di rumah Anto, dan dia tahu juga ada sosok besar bernama Rambo yang sekarang berdiri di pihak David, sosok yang dulu jadi nama besar di kalangan jalanan Jawa Barat.
"Sebelum gue maju sendiri," Dimas berkata ke salah satu tangan kanannya lewat telepon, suaranya datar, tanpa emosi, seperti membahas proyek bangunan biasa, "gue mau tau dulu seberapa kuat anak ini. Kirim tim The Snake Santos. Bukan buat bunuh, cuma buat uji."
Malam itu, di halaman rumah Anto yang biasanya sepi cuma diisi suara jangkrik, muncul rombongan motor besar yang berhenti mendadak di depan gerbang, lampu-lampunya menyorot tajam ke arah teras.
Dua belas orang turun, badan-badan kekar dengan tato menjalar di lengan, simbol ular melingkar yang menjadi ciri khas kelompok The Snake Santos, dikenal bukan karena jumlah, tapi karena kebrutalan yang tidak kenal ampun.
Rambo, yang malam itu sedang berjaga di teras bersama tiga orang baru yang baru direkrutnya minggu lalu, Baron yang badannya gendut tapi tenaganya besar, Alek yang kurus kering tapi lincah bergerak, dan Eman yang paling muda di antara mereka tapi punya nyali paling besar, langsung berdiri siaga begitu melihat rombongan itu turun dari motor.
"Tuan David!" Rambo berteriak ke dalam rumah, "ada tamu gak diundang!"
David keluar dari rumah, masih memakai kaos santai, tapi matanya langsung berubah tajam begitu melihat jumlah lawan yang jauh lebih banyak dari yang pernah dia hadapi sebelumnya.
"Anjir, ini rame amat," gumamnya, tapi tidak ada nada takut sedikit pun di suaranya.
Pertarungan pecah dalam hitungan detik. Dua belas orang itu menyerang serempak, tidak ada aba-aba, tidak ada basa-basi seperti Rambo dulu. Mereka bergerak seperti kawanan yang sudah terlatih menyerang berkelompok, mengepung dari segala arah.
David bergerak cepat, menangkis dua pukulan sekaligus dengan kedua tangan, memutar badan, menyapu kaki orang ketiga, tapi belum sempat dia menyelesaikan satu lawan, dua lainnya sudah menyerbu dari sisi yang berbeda.
Rambo bertarung di sampingnya, badan besarnya menjadi tameng sekaligus senjata, setiap pukulannya membuat lawan terhuyung mundur, tapi jumlah yang terlalu banyak membuat formasi mereka mulai goyah.
"AWAS, EMAN!" Alek berteriak, tapi terlambat. Tiga orang sekaligus mengepung Eman yang masih muda dan kurang pengalaman, memukulinya bertubi-tubi sampai dia terjatuh, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Baron mencoba menolong, tapi tubuh gendutnya yang kurang lincah membuat dia juga kena hantaman keras di rusuk, "AAAKH!" dia terjungkal, memegangi tubuhnya yang nyeri luar biasa.
David melihat itu dari sudut matanya, dan sesuatu di dalam dirinya berubah seketika. Bukan lagi soal menang atau kalah untuk dirinya sendiri, tapi soal melindungi orang-orang yang sudah mempercayakan keselamatan mereka padanya.
Dia berteriak, menerjang ke arah tiga orang yang mengepung Eman, mengabaikan dua lawan lain yang masih menyerangnya dari belakang, membiarkan punggungnya terbuka demi mencapai Eman lebih cepat.
"PLAK." Sebuah pukulan keras menghantam punggung David, dan dia merasakan sakit yang luar biasa, tapi dia tidak berhenti, tetap melaju, menjatuhkan satu orang dengan pukulan telak ke rahang, mematahkan kuncian dua orang lainnya dengan gerakan kilat yang tidak memberi mereka waktu untuk bereaksi.
"KREK." "KRAK."
Suara tulang yang dipaksa bengkok terdengar dua kali berturut-turut, dan dua penyerang itu jatuh sambil menjerit kesakitan, sementara David langsung berlutut di samping Eman yang sudah hampir pingsan, badannya menutupi tubuh kecil itu seperti tameng manusia, membiarkan punggungnya sendiri menjadi target serangan berikutnya demi memberi Eman waktu untuk bernapas.
"Tuan, jangan, biarkan saya saja yang—" Eman berusaha bicara di antara napasnya yang tersengal.
"Diem," David memotong tegas, "lo masih muda, masih banyak yang harus lo jalani. Biar gue yang nahan dulu."
Sisa kekuatan dia kumpulkan, dan dengan kemarahan yang sekarang bercampur dengan tekad melindungi, dia bergerak lebih cepat dari sebelumnya, satu per satu sisa penyerang yang masih berdiri dijatuhkan dengan kombinasi pukulan dan kuncian yang semakin brutal, sampai akhirnya seluruh dua belas orang itu tergeletak di halaman, mengerang, beberapa pingsan, tidak ada satu pun yang masih sanggup berdiri untuk melanjutkan serangan.
Rambo, dengan napas tersengal dan beberapa luka di lengannya, merangkak menghampiri Eman dan Baron, memeriksa keadaan mereka dengan wajah cemas.
"Eman gimana?" David bertanya, suaranya masih bergetar antara lega dan khawatir.
"Masih sadar, Tuan, tapi rusuknya kayaknya ada yang retak," Rambo menjawab, "Baron juga, harus dibawa ke rumah sakit sekarang."
David mengangguk, segera memerintahkan untuk membawa keduanya ke rumah sakit terdekat, sementara dia sendiri berdiri di tengah halaman yang sekarang penuh tubuh-tubuh yang tergeletak, dadanya naik turun cepat, lukanya sendiri mulai terasa nyeri setelah adrenalin mulai surut.
***
Dari kejauhan, di dalam mobil hitam yang terparkir di ujung jalan dengan kaca gelap yang tidak bisa ditembus pandangan dari luar, Dimas Santoso menyaksikan semuanya lewat teropong malam, wajahnya tetap tenang, bahkan ada senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.
"Dua belas orang terbaik gue, kalah semua," asistennya yang duduk di kursi depan berkata dengan nada cemas, "Bos, ini gak biasa."
Tapi Dimas tidak menunjukkan kegentaran sedikit pun, justru tertawa pendek, dingin, penuh kekaguman yang aneh.
"Bagus. Bagus banget malah," dia berkata sambil menurunkan teropongnya, "anak ini bukan cuma kuat. Dia punya sesuatu yang lebih berharga dari kekuatan fisik biasa, dia punya loyalitas, punya alasan buat bertarung lebih dari sekadar menang."
"Kita lanjut serang lagi, Bos?"
"Tidak," Dimas menggeleng, matanya masih menatap David yang berdiri di tengah halaman, masih membantu anak buahnya yang terluka, "rencana berubah. Daripada gue hancurin dia, gue mau tawarin dia kerja sama. Orang seperti ini, kalau dipaksa lawan, bisa jadi musuh paling merepotkan seumur hidup gue. Tapi kalau direkrut, dia bisa jadi aset paling berharga yang pernah gue punya."
Dia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat ke Reza, "Rencana awal gagal. Tapi gue ada ide lebih baik. Akan gue kabari lagi."
Mobil itu kemudian melaju pergi diam-diam, meninggalkan halaman yang masih berantakan, sementara David, yang belum tahu apa-apa soal rencana baru yang sedang disusun di balik kekalahan malam itu, masih sibuk memastikan semua anak buahnya yang terluka mendapat pertolongan secepat mungkin, tidak menyadari bahwa kemenangan malam ini justru membuka pintu bagi ancaman yang jauh lebih rumit untuk dihadapi ke depannya.
*(bersambung)*