kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik yang tak pernah mendekat
BAB 4: TITIK YANG TAK PERNAH MENDEKAT
"Gus, lihat cahaya oranye itu!" seru Indra sembari menunjuk sebuah titik terang di kejauhan. "Tujuan kita sudah dekat."
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," sahut Agus dengan napas lega yang panjang. Beban di pundaknya seolah sedikit terangkat.
Indra langsung mempercepat langkahnya, semangatnya kembali penuh. Namun, Agus justru melambat. Di tengah kesunyian hutan, ia merasa ada yang tidak beres. Ia berkali-kali menoleh ke belakang, menatap deretan pohon yang gelap, seolah ada bayangan yang sedang mengintai dan mengikuti langkah mereka dari balik semak-semak.
"Dra, tunggu aku!" seru Agus sambil setengah berlari. Napasnya tersengal. "Kalau tahu dari awal ujungnya begini, nggak bakal aku mau mengantarmu!"
Indra tertawa lepas mendengar gerutu sahabatnya itu. Baginya, omelan Agus hanyalah lelucon pelipur lara di tengah perjalanan mereka.
"Hahaha! Lagian, siapa suruh kamu balik lagi? Kenapa tidak lanjut pulang saja tadi?" goda Indra. "Pakai alasan khawatir segala lagi. Bilang saja, Gus, kalau kamu itu takut jalan sendirian. Kamu memang pengecut sejak kita masih SMP, kan?"
Agus hanya menunduk, wajahnya memerah karena malu. Di dalam hati, ia mengakui bahwa setiap kata yang diucapkan Indra ada benarnya. Namun, rasa gengsi membuatnya enggan mengaku kalah.
"Sudah, cepat jalan! Keburu kita membeku di sini gara-gara kedinginan," timpal Agus ketus sembari mendorong bahu Indra agar kembali melangkah.
Mereka kembali memacu langkah, mencoba mengabaikan rasa takut yang menggerogoti perlahan. Namun, logika mereka mulai berontak. Ada sesuatu yang ganjil sedang terjadi.
Sudah satu jam kaki mereka menghantam tanah becek, membelah tirai hujan dan kegelapan. Secara logika, mereka seharusnya sudah sampai di tujuan dalam sepuluh hingga lima belas menit. Tapi nyatanya? Cahaya oranye itu tetap membeku di sana. Jauh, asing, dan seolah sengaja mundur setiap kali mereka mencoba mendekat.
"Dra, berhenti dulu sebentar!" seru Agus, suaranya parau tertelan deru hujan.
"Apa lagi sih, Gus? Kamu kelihatan kayak orang trauma, tahu nggak? Jalan aja terus!" timpal Indra tanpa menoleh, dengan nada bicara yang mulai tersulut emosi.
Agus menyambar lengan Indra, memaksanya berhenti. "Apa kamu nggak merasa ada yang salah? Logika aja, Dra! Kita sudah jalan hampir satu jam, tapi cahaya itu malah kelihatan makin jauh. Kita cuma diputar-putar di sini!"
Indra terdiam. Napasnya memburu, uap hangat keluar dari mulutnya bertemu udara dingin hutan. Ia ingin membantah, tapi matanya sendiri tak bisa berbohong. Cahaya itu tetaplah sebuah titik kecil yang mengejek mereka dari kegelapan.
"Kamu benar, Gus," sahut Indra pelan. Suaranya pecah, nyaris tenggelam oleh suara hujan. "Sepertinya kita memang hanya berputar-putar di sini."
Agus merapat, mencengkeram bahu sahabatnya itu dengan sisa tenaga yang ada. "Sudah, kita balik saja, Dra. Urungkan niatmu untuk membalas dendam pada Mira. Anggap saja ini peringatan dari alam. Hutan ini tidak mengizinkan kita lewat."
Kalimat itu menghantam Indra tepat di ulu hati. Ia terpaku, membiarkan rintik hujan menghujam wajahnya yang kaku. Logikanya yang semula keras kepala mulai goyah. Ia teringat kembali rentetan keanehan yang mereka lalui, peringatan demi peringatan yang terus diabaikan oleh egonya yang membara. Kini, di tengah kesunyian yang mencekam, rasa dendam itu mulai luruh, terkubur oleh nyali yang perlahan habis.
Namun, Indra menggeleng keras, seolah menepis suara hati yang mulai berbisik. "Tidak... Aku sudah sejauh ini. Tidak ada jalan kembali."
Agus kembali terbungkam. Ada gejolak amarah yang mendidih di dadanya melihat sikap keras kepala sahabatnya itu. Sejenak, terlintas dalam pikirannya keinginan untuk menghantam kepala Indra dengan batu besar agar dia pingsan dan bisa diseret pulang. Namun, ia segera menelan ludah; secara fisik, ia tahu Indra bukan tandingannya. Ia hanya bisa berdiri mematung, terjepit antara rasa setia kawan dan keinginan untuk lari menyelamatkan nyawanya sendiri.
Dengan berat hati, Agus kembali menyeret langkahnya, mengekor di belakang Indra yang sudah lebih dulu ditelan kegelapan. Tidak ada lagi percakapan; hanya suara napas yang berat dan bunyi sepatu yang membelah genangan air.
Setelah dua puluh menit perjuangan mereka menembus lebatnya hutan, pepohonan di depan mereka mulai merenggang. Di sanalah, di balik kabut tipis dan guyuran hujan, sebuah bangunan tua akhirnya berdiri menampakkan diri.
Di bawah cahaya remang yang samar-samar, bangunan itu tampak seperti raksasa yang sedang tidur, yang siap menyambar siapa saja yang berani mengganggu istirahatnya. Mereka sudah sampai. Di depan mata mereka, berdiri gerbang menuju dunia yang lebih gelap lagi.
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar yah
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁