Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|04|Setelah Materai
-Penthouse Devara Mahesa lantai 98, Skyline City.
Sinar mentari pagi menerobos masuk kedalam sela-sela tirai yang tak tertutup rapat, didalam kamar besar bernuansa hitam dan keemasan itu Aruna masih memejamkan matanya. Usai tanda tangan diatas materai yang membuat dirinya seketika tak sadarkan diri. Rasa pusing yang terus dipendam dan diabaikan sedari masuk ruangan itu Aruna memikirkan dirinya sama sekali, yang ada dipikirannya hanya ayahnya dan kontrak yang ada didepan matanya.
Sraaakkk.... Suara tirai dibuka, cahaya keemasan masuk kedalam ruangan redup itu yang membuat Aruna terbangun. Samar-samar Ia melihat ruangan bernuasa hitam, sama sekali bukan kontrakan kecilnya, Aruna langsung beranjak dari tidurnya saat mendapati dirinya berada ditempat yang tidak Ia ketahui.
"Selamat pagi Bu Aruna" Sapa Andre, asisten Devara.
Aruna terkejut melihat Andre yang berada di samping membuka tirai lebar itu, Aruna langsung reflek menutupi dirinya dengan selimut tebal. "Dimana aku?" Tanya Aruna.
Andre tak menjawab, Ia langsung menuju lemari besar didepan tempat tidur Aruna, membuka lemari tersebut dan mengambil dress berwarna putih. "Pakai ini ya seusai mandi, saya tunggu 10 menit diluar" Ujar Andre, lalu meletakan gaun tersebut diatas tempat tidur.
'Gaun?, untuk apa? Dimana aku?. Apa aku ada ditempat pria tato naga itu?'. -batin Aruna.
Aruna beranjak dari tidurnya, sapu tangan yang diberikan Devara masih menempel ditangan kanannya, sapu tangan berwarna putih tulang itu sudah berubah warna menjadi merah darah yang telah mengering.
Aruna melepas sapu tangan itu, Ia perlahan berjalan menuju kamar mandi yang terletak didalam kamar yang menurutnya lebih luas dari kamarnya dulu waktu masih tinggal dikediaman Wijaya.
Aruna menuju wastafel, mencuci sapu tangan itu dengan air mengalir lalu Ia beri sabun dan di cuci sampai bersih hingga noda darahnya hilang. Setelah itu Aruna pergi mandi membersihkan dirinya.
Hampir 10 menit lebih berlalu, Aruna mengambil gaun itu setelah berpikir lama. Namun, Ia melirik lemari yang dibuka oleh Andre tadi. Ia membuka lemari itu, didalamnya nyaris tak ada baju yang menurut Aruna 'normal' untuk Ia pakai. Hampir satu lemari berisi gaun ataupun dress minim kain, terlalu sexi menurutnya. Satu gaun Aruna ambil, masih ada label di gaun itu. Dilabel itu tertulis Custom for Mrs. Mahesa| VERTIGO private collection. Mata aruna membulat melihat tulisan label yang masih menggantung di gaun itu dan segera memasukkan kembali kedalam lemari, lalu menutupnya.
Pikirannya pagi ini hanya ingin pergi ke rumah sakit, Ia akan memohon kepada suster untuk memperpanjang masa pembayaran agar Ia bisa berhutang kepada Elula untuk pembayaran setengah-nya.
Aruna duduk disisi ranjang, Ia sedang berpikir bagaimana cara keluar dari rumah ini tanpa ketahuan oleh Andre. Aruna berjalan kearah jendela kaca lebar yang ada di sisi ranjang-nya.
"Astaga, ini bukan rumah. Tempat apa yang berada diatas ketinggian seperti ini. Bagaimana caranya aku kabur?" Aruna menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca kembali saat melihat dari jendela besar itu. Bahkan jika dirinya melompat dari atas sini mungkin akan langsung berada dialam lain secepat mungkin.
Aruna menuju pintu keluar, Perlahan Ia buka knock pintu kamar tersebut, pelan tak butuh tenaga ekstra untuk membuka-nya. Sekali lagi Aruna melongo melihat ruangan yang sangat luas seperti showroom tak terpakai, sepi namun mewah. Nuansa keemasan, seperti sedang didalam sebuah kerajaan.
"Jangan sampai terlambat Bu, Pak Devara sudah menunggu dibawah" Ujar Andre memecah lamunan Aruna.
"Menunggu saya?" Tanya Aruna sambil mengikuti langkah Andre.
Andre tak menjawab Ia terus berjalan menuju tangga. Aruna mengikutinya dari belakang, dari atas tangga itu sudah terlihat Devara sedang fokus dengan iPad nya. Duduk menyilangkan kakinya dan dimeja itu tergeletak banyak map dan beberapa dokumen.
"Mungkinkah Devara bekerja dirumah?" Gumam Aruna sambil menuruni tangga perlahan. Fokusnya terpecahkan saat Devara mendengar langkah kaki dan melihat keasal suara, saat itu mata mereka tak sengaja bertemu. Pandangan Aruna langsung beralih, Ia tak lupa kebenciannya dengan pria bertato naga itu.
Aruna duduk di sofa kosong, berjarak cukup jauh dari tempat duduk Devara. Andre mengambil salah satu map, berwarna merah.
'Map warna merah, itu map kemarin bukan. Ada yang gak beres sama dua orang didepan ku ini' -batin Aruna.
"Silahkan dibaca Bu Aruna" Andre memberikan map itu kepada Aruna.
Perlahan Aruna membuka map tersebut, tangannya masih gemetar. Takut disuruh tanda tangan penjualan organ-nya untuk biaya rumah sakit dan hutang yang dibahas Devara semalam.
Setelah map dibuka, tulisan besar diatas map yang pertama kali mencuri perhatian Aruna.
'KONTRAK PERNIKAHAN' , Aruna tersentak sesaat setelah membaca judul didalam map itu, tatapannya langsung menuju Devara. Gadis itu membanting map yang ada ditangannya.
"Kontrak nikah?, Anda memaksa saya tanda tangan kontrak itu" Suaranya gemetar, air mata lolos dipipi Aruna. Gadis polos itu tidak bisa menahannya lagi, sekarang yang ada diruangan hanya mereka bertiga, tanpa ada pengawal yang membawa pistol yang membuat Aruna takut.
Andre mendekat, Ia meraih tangan Aruna yang sedang menunjuk kearah Devara. "Jangan ditunjuk bu, bahaya" bisik Andre, suaranya lirih. Sangat lirih takut kalau didengar oleh Devara.
Devara menutup iPad nya dan meletakkan diatas meja. Ia tak memandang Aruna, namun ia memandang map merah yang Aruna buang itu. Devara mengambil rokoknya yang tersimpan dikotak berlambang naga hitam, menyalakan rokoknya dengan lighter emas.
" Andre" Seru Devara dengan suara datar sambil menyesap rokoknya dalam-dalam.
Andre mundur perlahan seakan mengerti dan mengikuti arahan dari bos nya itu. Aruna semakin tak terkontrol, Ia maju menghadap Devara yang dimatanya terlihat seperti seorang iblis, tato naga di punggung tangan Devara seakan ikut menatap Aruna.
"Saya tidak setuju dengan kontrak itu!, saya bisa mencari uang untuk membayar biaya papah " Ujar Aruna, suaranya meninggi tepat didepan Devara yang sedang duduk bersender santai.
Hembusan asap rokok itu diarahkan ke Aruna, gadis itu tak gentar. Tak mundur, keberaniannya memuncak karena emosinya yang sedari kemarin diluapkan sekarang.
Devara beralih dari duduknya, berdiri mendekati Aruna, tangan bertato naga-nya mencengkram pipi Aruna. "Kamu sudah jadi milik saya, tangisanmu tak berguna disini" perkataan tajam-nya mampu menusuk relung hati Aruna, tak berdarah namun terasa menyesakkan dan sangat sakit.
Detik itu juga, Aruna jatuh terduduk setelah cengkraman Devara. Pria itu pergi meninggalkan Aruna, tato bintang dilehernya yang terlihat tak seseram seperti naga di punggung tangannya.
Map merah yang tergeletak dilantai marmer itu terbuka, tertulis
-Pasal 1 Aruna Wijaya sah menjadi istri Devara Mahesa sampai pihak pertama menyatakan lunas.
-Pasal 2 pihak pertama tidak boleh berhubungan dengan lelaki lain sampai batas waktu kontrak selesai.
-Pasal 3 Tidak boleh keluar rumah lebih dari jam 9 malam.
-...
Note : jika melanggar, denda 1,5 Miliar.
-Devara Mahesa.