NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih

Pagi itu, selembar kertas lusuh terbentang di atas lantai kamar saat Zhao Fei duduk bersila di depannya, kuas di tangan, menulis dengan cara yang persis seperti dia dulu mencatat formula kultivasi di Alam Dewa. Sistematis. Terurut. Tidak ada yang terlewat. Bedanya kali ini yang dia catat adalah daftar tanaman herbal untuk mengurangi batuk, jenis makanan yang paling mudah dicerna oleh tubuh yang sudah lama lemah, dan ramuan sederhana dari bahan-bahan yang bahkan bisa ditemukan di pasar desa.

Dari memori pemilik tubuh yang asli, muncul nama yang selalu dia hindari karena terasa terlalu jauh: Tabib Wen, seorang pengobat yang tinggal di kota terdekat dan disebut-sebut bisa menyembuhkan penyakit yang sudah menahun. Pemilik asli tubuh ini tidak pernah serius memikirkan kemungkinan itu karena biayanya pasti mahal. Tabibnya pasti sibuk, atau halangan lainnya.

Zhao Fei menatap nama itu di dalam kepalanya, lalu tersenyum.

Bagi dirinya yang pernah menundukkan ribuan murid tingkat tinggi dan memimpin perguruan terbesar di Alam Dewa, seorang tabib di kota kecil hanyalah satu langkah dari sekian banyak langkah yang perlu dia ambil. Bukan penghalang, malah menjadi tanda penunjuk arah.

"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?"

Suara dari pintu kamar itu terdengar seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang. Zhao Kun bersandar di kusen pintu dengan tangan bersilang, matanya menyipit dengan ekspresi yang berpura-pura santai tapi jelas tidak santai sama sekali.

"Tidak apa-apa," kata Zhao Fei tanpa menoleh.

Zhao Kun masuk tanpa dipersilakan. "Masakanmu tadi malam... enak." Nadanya seperti menuduh, bukan memuji. "Terlalu enak untuk orang yang tidak pernah bisa masak. Kau belajar dari siapa?"

"Mencoba-coba."

"Di hutan?" Zhao Kun membesarkan matanya, lalu tertawa pendek yang tidak terdengar lucu sama sekali. "Aku hampir menjemputmu ke sana, tahu. Khawatir kalau-kalau ada yang tidak beres."

Zhao Fei akhirnya menoleh. Matanya menatap saudaranya dengan ekspresi yang persis sama seperti saat dia dulu memandang murid-murid yang mencoba menyembunyikan kesalahan. Datar, tahu sepenuhnya, tapi tidak tertarik untuk membuat drama.

Setidaknya kau tidak berpura-pura menyayangiku, pikirnya dalam hati. Li Tianming melakukannya selama ribuan tahun sebelum akhirnya menusuk punggungku. Dibanding itu, kejahatan yang jelas-jelas terlihat jauh lebih mudah dihadapi.

"Terima kasih atas perhatiannya," kata Zhao Fei, lalu kembali menatap kertas di depannya.

Zhao Kun tidak pergi. Dia berdiri di sana beberapa detik, seperti menunggu reaksi yang tidak datang sebelum memanggil ke arah ruang tengah, "Jie! Kemarilah!"

Suara langkah berat terdengar saat Zhao Jie muncul di pintu dengan muka mengantuk dan rambut berantakan.

"Ada apa?" tanya Zhao Jie.

"Katakan pada adik kita ini," kata Zhao Kun, kembali tersenyum sarkastik, "apa yang akan terjadi pada orang bodoh yang tidak punya bakat kultivasi kalau nekat mendaftar ke Sekte Garuda Putih."

Zhao Jie langsung tertawa. Entah karena memang lucu di matanya, atau karena terbiasa tertawa setiap kali kakaknya memberi isyarat untuk tertawa. "Apa? Kau mau masuk sekte? Yang mana? Sekte Garuda Putih?" Matanya melirik adik bungsunya dari ujung kepala ke ujung kaki. "Dengan badan seperti itu?"

"Bahkan kera pun lebih berbadan tegap," sambung Zhao Kun, tertawa keras.

Zhao Fei melipat kertas catatannya, menyimpannya, lalu berdiri. Kedua saudaranya masih tertawa ketika dia mengangkat tas kecilnya yang sudah disiapkan sejak pagi.

"Aku berangkat dulu," katanya. "Tolong jaga ibu."

Tawa mereka mengikutinya sampai ke luar pintu.

Jalanan menuju kota yang di sana terdapat gerbang Sekte Garuda Putih tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Lumpur di pinggir jalan menempel di sol sepatunya. Atap-atap rumah dari kayu di kanan kiri jalan terlihat seperti berlomba-lomba siapa yang paling miring. Udara di sini terasa lebih berat dari yang biasanya dia hirup selama sepuluh ribu tahun.

Zhao Fei menikmati perjalanan itu dengan tenang. Matanya menyapu setiap wajah yang lalu-lalang. Ada beberapa gadis muda yang melewatinya, tertawa di antara mereka sendiri. Zhao Fei menatap sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dengan cepat.

Ah. Ini masalah yang lain.

Pemilik asli tubuh ini punya mimpi tentang pasangan hidup. Itu sudah Zhao Fei catat sebagai bagian dari janji yang harus dipenuhi. Tapi masalahnya adalah, selama sepuluh ribu tahun, Alam Dewa dipenuhi oleh dewi-dewi yang kecantikannya bisa membuat bintang-bintang di langit merasa malu. Seorang peri bulan pernah menangis karena merasa tidak cukup cantik untuk berdiri di depan para selir Zhao Fei.

Gadis-gadis desa di depannya ini berbeda bukan karena mereka jelek. Tapi karena standar yang sudah tertanam selama sepuluh ribu tahun tidak bisa dihapus hanya karena tubuhnya berganti.

Urusan itu nanti saja, putusnya. Ibu dulu. Kekuatan dulu. Selebihnya akan mengikuti.

Dia melihat mereka dari jarak yang cukup jauh. Sekelompok orang berseragam putih dengan bordir burung garuda di lengan kanan, berjalan dalam barisan rapi ke arah yang sama dengannya. Langkah mereka terlatih, punggung mereka tegak, dan ada aura kepercayaan diri yang keluar dari cara mereka membawa diri.

Zhao Fei mempercepat langkahnya dan menyejajarkan diri dengan barisan paling belakang.

"Permisi," katanya.

Salah seorang dari mereka menoleh. Pandangannya langsung jatuh ke pakaian Zhao Fei, lalu naik lagi ke wajahnya. Ada jeda sebentar sebelum dia menjawab dengan sopan, "Ada yang bisa kami bantu?"

"Kalian dari Sekte Garuda Putih?" tanya Zhao Fei.

"Benar."

"Aku sedang menuju seleksi. Boleh aku bertanya beberapa hal tentang ujiannya?"

Mereka menjawab dengan cukup terbuka. Tentang sistem bakat, tentang berapa lama masa percobaan murid baru, tentang fasilitas yang ada. Zhao Fei mendengarkan dan mencatat semua itu dalam kepalanya. Sampai kemudian salah satu dari mereka, seorang gadis dengan rambut dikepang dua, menatapnya dengan ekspresi sedikit penasaran.

"Kalau boleh tahu, apa yang mendorongmu mendaftar?"

"Ibuku sakit," jawab Zhao Fei. "Aku dengar di sekte ini ada orang yang bisa menyembuhkannya."

Wanita itu terdiam. Yang lain juga. Mereka saling pandang dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.

Mungkin mereka terbiasa mendengar alasan yang lebih megah. Aku ingin menjadi kuat. Aku ingin menguasai dunia. Aku ingin membuktikan diri.

Tapi jawaban sesederhana itu rupanya tidak ada dalam daftar yang pernah mereka dengar.

Lapangan di depan gerbang Sekte Garuda Putih sudah penuh ketika Zhao Fei tiba.

Puluhan calon murid berdiri dalam barisan tidak rapi, pakaian mereka beragam dari yang sangat rapi sampai yang hanya sedikit lebih baik dari milik Zhao Fei. Beberapa tampak gugup dan terus menggerak-gerakkan jari. Beberapa yang lain berpura-pura tidak gugup dengan cara yang sangat terlihat.

Gerbang sekte itu sendiri berdiri megah di belakang, dengan dua burung garuda putih diukir di sisi kanan dan kirinya. Satu-satunya ornamen di tempat itu yang benar-benar membuat Zhao Fei mengangkat alisnya sedikit.

Cukup bagus untuk ukuran dunia ini, pikirnya.

Di depan kerumunan, berdiri seorang tetua dengan jubah putih yang lebih megah dari yang lain. Rambutnya abu-abu, tubuhnya tegak, dan ketika dia berdehem, suaranya menggema di seluruh lapangan seperti batu yang dijatuhkan ke kolam besar.

"Diam!"

Semua percakapan berhenti seketika itu juga.

Tetua itu memandang kerumunan dengan tatapan yang sudah terlatih untuk membuat orang tidak nyaman. "Seleksi hari ini terdiri dari tiga ujian. Yang lulus ketiga ujian ini akan diterima sebagai murid resmi. Yang gagal di ujian pertama, akan pulang hari ini."

Tangannya terangkat. Di atasnya, sebuah bola berukuran sebesar kepalan tangan bersinar dengan cahaya keemasan, seperti ada bara api yang terjebak di dalamnya tapi tidak membakar.

"Bola ini akan mengukur aliran qi di dalam tubuhmu," kata tetua itu. "Pegang dengan kedua tangan. Jika cahayanya menyala terang, kau lolos. Jika meredup atau tidak berubah, kau pulang." Dia menurunkan tangannya. "Siapa yang maju lebih dulu?"

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Semua calon murid tiba-tiba menemukan tanah di depan kaki mereka sangat menarik untuk ditatap. Masing-masing menunggu orang lain yang lebih berani.

Kemudian, dari barisan paling belakang, satu tangan terangkat.

Langsung saja semua kepala menoleh. Puluhan pasang mata memandang ke arah yang sama, ke arah seorang pemuda dengan pakaian paling sederhana di antara semua yang hadir, berdiri dengan punggung tegak dan tangan terangkat seperti dia sedang menjawab pertanyaan yang sudah dia tahu jawabannya.

Zhao Fei berjalan ke depan.

Kerumunan membuka jalan tanpa dia perlu meminta. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tidak ragu pula, seperti seseorang yang berjalan menuju tempat yang sudah lama dikenalnya. Sampai dirinya berhenti tepat di depan tetua itu, dengan bola emas berkilauan di antara mereka berdua.

Tetua itu menatapnya dari atas ke bawah. "Namamu?"

"Zhao Fei."

"Klanmu?"

"Klan Zhao. Cabang pinggiran."

Tetua itu tidak berkomentar, tapi ada sesuatu di matanya yang seperti mempersiapkan diri untuk kecewa. Dia mengulurkan bola emas itu ke depan.

"Cepat pegang ini."

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!