Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITAH YANG MENGIKAT TAKDIR
Aula utama istana malam itu dipenuhi cahaya keemasan.
Lentera-lentera besar menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan kilau hangat pada lantai marmer putih. Musik kecapi mengalun lembut, berpadu dengan aroma dupa yang tipis namun menenangkan.
Para bangsawan duduk rapi di sisi kanan dan kiri aula.
Semua mengenakan pakaian terbaik mereka.
Namun di balik senyum dan sikap tenang itu… tersembunyi banyak pikiran.
Pintu utama perlahan terbuka.
Suara pengawal menggema keras.
“Panglima Gu Zhengyuan dan Nona Gu Yanran telah tiba!”
Seketika seluruh aula menoleh.
Gu Zhengyuan melangkah masuk dengan langkah mantap. Tubuhnya tinggi dan tegap, aura seorang veteran perang begitu kuat hingga membuat suasana di sekitarnya terasa berat.
Di sampingnya berjalan Gu Yanran.
Gaun hitam berpadu merah gelap yang dikenakannya tampak sederhana dibanding para putri bangsawan lain, namun justru membuatnya terlihat lebih mencolok.
Tatapannya tenang.
Punggungnya tegak.
Tidak ada sedikit pun rasa gugup.
Banyak orang diam-diam terkejut.
Karena wanita yang berdiri di hadapan mereka malam ini… berbeda dari rumor yang beredar.
Mereka berjalan hingga ke tengah aula.
Lalu berlutut bersamaan.
“Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar.”
Kaisar yang duduk di singgasana emas mengangguk perlahan.
Tatapannya tajam… namun bibirnya tersenyum tipis.
“Bangkitlah.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Tepuk tangan menggema memenuhi aula.
“Panglima Gu telah kembali membawa kemenangan bagi kerajaan!”
Suara Kaisar terdengar lantang dan penuh wibawa.
“Ini adalah kehormatan besar bagi negeri kita.”
Gu Zhengyuan menunduk hormat.
“Semua ini berkat restu Yang Mulia… serta pengorbanan para prajurit di garis depan.”
Kaisar tersenyum kecil.
“Seperti biasa, Zhengyuan… kau selalu rendah hati.”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya perlahan berubah lebih dalam.
“Kerajaan ini mungkin tidak akan berdiri setegak sekarang… tanpa dirimu.”
Ucapan itu terdengar seperti pujian.
Namun bagi orang-orang yang memahami politik istana…
kata-kata itu justru terasa berbahaya.
Gu Zhengyuan tetap menunduk tenang.
Tetapi tangannya sedikit menegang di balik lengan bajunya.
Ia tahu.
Di istana…
tidak ada ucapan yang benar-benar sederhana.
Kaisar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gu Yanran.
“Dan ini putrimu…”
Gu Yanran mengangkat kepala sedikit.
Tatapannya tetap tenang.
“Keberanianmu di medan perang telah sampai ke telingaku.”
Aula mendadak hening.
“Seorang wanita… namun mampu memimpin pasukan.”
Nada Kaisar terdengar kagum.
“Kau pantas menjadi calon penerus Panglima Gu kelak.”
Beberapa bangsawan langsung saling berpandangan.
Sebagian kagum.
Sebagian lagi iri.
Karena pujian sebesar itu… jarang diberikan langsung oleh Kaisar.
Namun entah kenapa…
udara di aula terasa semakin berat.
Di sisi kiri aula, seorang pria muda memperhatikan semuanya tanpa berkedip.
Mo Chen.
Pangeran Ketiga.
Tatapannya terus tertuju pada Gu Yanran.
Jantungnya berdetak tidak teratur.
“Kalau dia benar-benar Gu Yanran…”
“berarti aku memang berada di dunia novel yang ku tulis.” Gumamnya pelan.
Alisnya sedikit berkerut.
Bagian ini…
aku hafal.
Ia menatap Kaisar dengan hati-hati.
Jika semuanya sesuai alur cerita…
sebentar lagi Kaisar akan mengumumkan pernikahan politik.
Dan dari situlah kehancuran keluarga Gu dimulai.
Namun sesuatu terasa aneh.
Gu Yanran yang ada di depannya sekarang… berbeda.
Auranya lebih hidup.
Lebih tajam.
Lebih berwibawa.
Tidak seperti karakter dingin dan pasif yang pernah ia tulis.
Apa karena dunia ini telah berubah?
Atau…
ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
Tatapannya perlahan meredup.
Lagipula…
di dalam novel itu tidak pernah ada dirinya.
Tidak ada Mo Chen yang seperti sekarang.
Jadi…
siapa sebenarnya dirinya di dunia ini?
Kembali ke tengah aula.
Kaisar perlahan mengangkat tangan.
Musik langsung berhenti.
Suasana menjadi sunyi.
“Ada satu hal lagi yang ingin kuumumkan.”
Semua orang langsung diam.
“Sebagai bentuk penghargaan kepada keluarga Gu…”
Tatapan Kaisar tertuju lurus pada Gu Zhengyuan.
“Aku ingin mengikat hubungan antara keluarga kekaisaran… dan keluarga Gu.”
Mata Gu Zhengyuan sedikit berubah.
Firasat buruk muncul dalam hatinya.
“Putrimu, Gu Yanran…”
Suasana mendadak menegang.
“akan menikah dengan Pangeran Pertama.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Beberapa bangsawan bahkan menahan napas.
Gu Zhengyuan langsung menunduk dalam.
Namun rahangnya mengeras.
Ia tahu persis maksud Kaisar.
Jika Gu Yanran menikah dengan Pangeran Pertama…
maka keluarga Gu otomatis akan terseret ke dalam perebutan tahta.
Dan saat perang politik dimulai…
keluarga Gu akan menjadi sasaran pertama.
Tangannya mengepal perlahan.
“Yang Mulia…”
Suaranya rendah namun berat.
“Putriku masih muda. Hamba khawatir ia belum siap memikul tanggung jawab sebesar itu.”
Kaisar mengangkat tangan.
Menghentikannya sebelum ia selesai berbicara.
“Ini adalah kehendakku.”
Nada suaranya datar.
Namun tidak memberi ruang untuk dibantah.
Tekanan langsung memenuhi aula.
Di sisi lain, Pangeran Pertama perlahan berdiri.
“Yang Mulia.”
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
“Hamba menolak.”
Aula mendadak gempar.
Bahkan para pelayan ikut terkejut.
Kaisar menatap putra sulungnya dengan dingin.
“Apa kau baru saja mengatakan menolak?”
Pangeran Pertama mengepalkan tangannya.
“Aku telah memiliki seseorang yang kucintai.”
Bisikan langsung memenuhi aula.
“Dia berani menolak titah Kaisar?”
“Gila…”
“Ini akan jadi masalah besar…”
Kaisar menyandarkan tubuhnya perlahan.
“Cinta?”
Nada suaranya rendah.
“Sebagai seorang pangeran… kau masih berbicara tentang hal seperti itu?”
Wajah Pangeran Pertama menegang.
Namun ia tidak mundur.
“Hamba tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai alat politik.”
“Omong kosong.”
Suara Kaisar kali ini lebih dingin.
“Kau lahir sebagai keluarga kerajaan. Bahkan hidupmu sendiri bukan milikmu.”
Suasana semakin tegang.
Dan tepat di saat itulah sebuah suara terdengar.
“Aku saja.”
Semua orang menoleh bersamaan.
Mo Chen berdiri dari tempat duduknya.
Aula langsung sunyi.
Ia melangkah maju perlahan.
Tenang.
Tanpa sedikit pun keraguan.
“Jika Yang Mulia ingin mengikat keluarga Gu dengan keluarga kekaisaran…”
Ia berhenti tepat di tengah aula.
“Biarkan aku yang melakukannya.”
Gu Zhengyuan langsung menatap tajam ke arahnya.
Tatapan seorang jenderal perang.
Cukup untuk membuat orang biasa gemetar.
Namun Mo Chen tetap tenang.
Kaisar menyipitkan mata.
“Mo Chen.”
Nada suaranya dingin.
“Pangeran Ketiga… ini bukan waktunya kau ikut campur.”
Namun Mo Chen tidak mundur.
Tatapannya lurus ke depan.
Justru karena ini waktunya.
Ia tahu.
Jika Gu Yanran menikah dengan Pangeran Pertama…
maka seluruh tragedi dalam novel akan dimulai.
Keluarga Gu dihancurkan.
Gu Zhengyuan difitnah memberontak.
Dan Gu Yanran…
mati tragis di akhir cerita.
Tanpa sadar…
ia sudah mengambil keputusan.
Di sudut aula, Gu Yanran memandangnya dalam diam.
Matanya sedikit melebar.
“…Mo Chen…”
Gumamnya sangat pelan.
Nama itu terasa familiar.
Pangeran Ketiga.
Villain dalam novel yang pernah ia tulis sendiri.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Apa… aku benar-benar masuk ke dalam ceritaku sendiri?” Gumamnya.
Tatapannya kembali tertuju pada Mo Chen.
Lalu…
siapa dia sebenarnya?
Sementara itu, Mo Chen juga memikirkan hal yang sama.
Dia benar-benar Gu Yanran.
Berarti dunia ini memang dunia novelku.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Karakter-karakter di sini… terasa hidup.
Tidak sepenuhnya mengikuti alur yang ia tulis.
Kaisar menatap Mo Chen cukup lama.
Lalu tertawa kecil.
“Kau?”
Beberapa bangsawan ikut tersenyum sinis.
“Pangeran Ketiga?”
“Bukankah dia pangeran paling tidak berguna?”
“Dia bahkan tidak punya pendukung.”
“Mana mungkin keluarga Gu menerima orang seperti dia?”
Bisikan demi bisikan memenuhi aula.
Namun Mo Chen tetap berdiri tenang.
Kaisar menyandarkan dagunya pada tangan.
“Dan alasanmu?”
Mo Chen tersenyum tipis.
“Karena seseorang harus melindungi keluarga Gu dari permainan politik istana.”
Kalimat itu membuat suasana langsung membeku.
Tatapan Kaisar berubah tajam.
Gu Zhengyuan juga sedikit terkejut.
“Anak ini… berani sekali.”
Namun sebelum Kaisar berbicara Gu Yanran melangkah maju.
Gaunnya bergerak perlahan mengikuti langkahnya.
“Aku bersedia.”
Mo Chen sedikit terdiam.
Ia benar-benar tidak menyangka jawaban itu keluar secepat ini.
Seluruh aula kembali gempar.
“Dia menerima?”
“Tanpa ragu?”
Kaisar tersenyum tipis.
“Bagus.”
Namun di balik senyum itu…
ada sesuatu yang sulit dibaca.
Gu Zhengyuan memijat pelipisnya pelan.
Lalu berbisik sangat kecil.
“Kenapa aula ini dipenuhi orang-orang bodoh…”
Gu Yanran yang mendengarnya langsung menahan tawa.
“Benar kata Ayah.”
Mo Chen yang berada tidak jauh dari mereka sedikit memiringkan kepala.
Dan kembali bergumam.
“Kedua ayah dan anak itu…”
“masih sempat bercanda di situasi seperti ini?”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini ia merasa sedikit lega.
Karena setidaknya…
keluarga Gu tidak seburuk yang ia tulis dahulu.
Sementara itu di atas singgasana, Kaisar memperhatikan mereka semua dalam diam.
Matanya perlahan menyipit.
Malam itu…
takdir mulai berubah.
Dan tanpa seorang pun sadari keputusan sederhana di aula kerajaan itu…
akan menjadi awal dari badai besar yang mengguncang seluruh kekaisaran.