Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *20
Wanita itu menunduk perlahan. Matanya mulai terasa panas dan perih. Di ujung meja makan, tepat di samping piring makannya, kotak kecil berisi kabar bahagia itu masih terletak rapi, tertutup manis, menunggu dibuka dan dibagikan kebahagiaannya. Namun perlahan namun pasti, harapan besar yang ada di dalam dada Merlin mulai runtuh sedikit demi sedikit.
"Aku mungkin gak bisa pulang malam ini, Mer," lanjut Reyno pelan, suaranya terdengar menyesal namun tegas. "Yara sendirian banget di sini. Dia terus-terusan manggil nama aku, nyariin aku. Gak ada satu pun keluarganya yang bisa dateng."
Kalimat itu. Sekali lagi. Kalimat yang sama.
Dan kalimat itu langsung menghancurkan sesuatu yang rapuh namun berharga di dalam hati Merlin. Karena sekali lagi, di saat yang seharusnya menjadi momen penting bagi mereka berdua, seseorang yang lain ternyata masih jauh lebih dibutuhkan, jauh lebih diprioritaskan, dan jauh lebih diperhatikan daripada dirinya sendiri.
"Mer? Kamu gak apa-apa kan? Maaf banget ya."
Merlin memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang dan berat, berusaha sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak pecah di tengah isakan tangis. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
"Iya," jawabnya singkat, datar, dan jauh.
"Maaf ya, nanti pagi aku langsung balik secepatnya ya?"
Merlin menggenggam ponselnya begitu erat hingga buku jarinya memutih. Sangat erat, seolah ingin menyalurkan semua rasa sakit hatinya ke benda itu.
Lalu akhirnya, dengan suara yang bergetar hebat namun berusaha tetap tenang, ia menjawab kalimat andalannya. Kalimat yang selalu ia ucapkan, kalimat yang perlahan membunuh kebahagiaannya sendiri.
"Gapapa. Urus aja dulu sana."
Telepon terputus. Suara nada putus sambungan terdengar panjang di telinganya.
Apartemen kembali sunyi senyap. Lebih sunyi dari biasanya. Lebih dingin dari biasanya. Merlin masih berdiri di tempat yang sama cukup lama. Tidak bergerak. Tidak bersuara.
Lalu perlahan, kakinya melangkah gontai ke kursi makan, ia duduk sendirian di sana. Di depannya, makanan lezat yang ia masak dengan penuh cinta dan harapan itu perlahan menjadi dingin dan tak bernyawa. Dan tepat di samping tangan kanannya, ada kotak kecil berisi kabar yang paling ingin dan paling perlu ia bagi dengan suaminya. Kabar tentang anak mereka.
Namun malam itu, Reyno tidak ada di rumah. Tidak ada di sampingnya. Tidak ada untuk mendengar berita itu. Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui dirinya mengandung buah hati mereka, Merlin menangis. Ia menangis diam-diam, sendirian di meja makan yang lengang itu, di antara makanan yang dingin dan harapan yang baru saja hancur.
Lelah fisik juga batin, Merlin akhirnya tertidur di atas sofa empuk di ruang tamu. Bukan karena ia benar-benar merasa kantuk atau nyaman di sana, dan bukan pula karena ia sudah pasrah menunggu kepulangan suaminya. Ia hanya terlalu lelah, terlalu letih, dan terlalu habis air mata untuk menangis lebih lama lagi. Tubuhnya terasa berat, namun hatinya terasa jauh lebih berat lagi.
Di ruang makan yang bersebelahan, lampu gantung masih menyala redup dan kekuningan. Meja makan yang kemarin sore ditatanya dengan penuh cinta dan harapan, kini masih penuh dengan makanan yang sudah dingin seluruhnya.
Sup ayam yang kuahnya mulai mengental, ayam lada hitam yang uap panasnya sudah hilang sejak berjam-jam lalu, hingga puding coklat yang kini terlihat kaku dan tak menggugah selera lagi. Dan di tengah meja itu, kotak kecil berwarna putih yang berisi kabar paling bahagia sekaligus paling berharga itu masih berada di tempat yang sama, rapi, tertutup, dan belum tersentuh sama sekali.
Sekitar pukul dua dini hari, keheningan apartemen itu akhirnya terpecah. Terdengar suara kunci diputar, diikuti bunyi klik pelan dari pintu depan yang terbuka.
Reyno masuk melangkah perlahan. Wajahnya terlihat sangat lelah, matanya sayu, dan kemejanya sedikit kusut karena dipakai berjam-jam di rumah sakit. Namun langkah kakinya langsung terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu saat ia melihat sosok kecil yang meringkuk di atas sofa itu.
Dada pria itu langsung terasa sesak. Rasa bersalah yang sudah menumpuk sejak kemarin malam kembali menghantam dadanya dengan keras. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia mengecewakan wanita ini lagi.
Reyno berjalan mendekat dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan. Namun matanya tak sengaja tertuju ke arah meja makan yang masih terang benderang itu. Ia melihat tumpukan makanan yang utuh, belum tersentuh sama sekali. Sup ayam, masakan kesukaannya. Ayam lada hitam, masakan yang dulu selalu ia puji-puji. Juga puding coklat yang selalu jadi penutup favoritnya.
Tatapan Reyno kemudian jatuh pada sebuah kotak kecil berwarna putih yang diletakkan rapi di tengah meja. Alisnya sedikit berkerut bingung. Ia belum pernah melihat kotak itu sebelumnya, dan ada rasa penasaran yang muncul di hatinya.
Namun sebelum sempat ia melangkah mendekat untuk mengambil dan melihat isinya, gerakan kecil dari sofa membuatnya berbalik kembali. Merlin mulai bergerak, matanya berkedip pelan berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya, perlahan terbangun dari tidur yang tidak nyenyak itu.
Begitu matanya terbuka, hal pertama yang dicari adalah sosok Reyno. Dan seketika itu juga, rasa sesak, kecewa, dan sakit hati itu kembali datang menyerang, seolah tidak ada jeda sedikit pun untuk beristirahat dari rasa sakit itu.
"Oh ..." suara Merlin terdengar serak dan berat, bekas menangis dan tidur di posisi yang salah. Ia duduk tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Kamu pulang."
Reyno langsung berjalan cepat mendekat, berlutut tepat di depan sofa tempat istrinya duduk. "Kenapa tidur di sini? Kenapa nggak di kamar? Dingin lho di sini, AC-nya nyala," tanyanya pelan, nada suaranya penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.
Merlin menggeleng kecil, menundukkan pandangannya ke tangan sendiri. "Nggak tau, ketiduran aja tadi."
Padahal sebenarnya, ia menunggu terlalu lama. Ia menunggu sampai matanya berat sendiri karena lelah menatap pintu depan yang tak kunjung terbuka.
Reyno duduk di samping tubuh istrinya, menatap wajah pucat itu lekat-lekat. "Maaf, aku baru pulang sekarang. Maaf banget udah bikin kamu nungguin sampai begini," ucapnya lirih, tangan besarnya terulur menyentuh pipi Merlin pelan.
Merlin hanya tersenyum kecil. Senyum yang terlihat begitu lelah, begitu tipis, dan begitu menyedihkan. "Yara gimana keadaannya tadi? Udah mendingan?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja, berusaha menutupi rasa sakit yang menggerogoti hati.
"Udah. Udah agak tenang sekarang," jawab Reyno sambil mengusap wajahnya kasar, melepaskan rasa lelah yang menumpuk. "Dia sempat sesak napas parah gara-gara panik dan terlalu banyak pikiran. Dokter bilang dia harus banyak istirahat dan jangan stres. Makanya aku nemenin dia sampai agak tenang."
Merlin mengangguk kecil tanda mengerti. Padahal, hatinya menolak akan hal itu. Sunyi menyelimuti mereka beberapa detik. Dan untuk sesaat itu, Reyno merasa ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang aneh malam ini. Ada kilatan di mata Merlin yang seolah ingin mengatakan sesuatu yang besar, sesuatu yang penting.
🥹🥹