Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
"Majulah bersama-sama."
Empat kata itu bergema di seluruh penjuru alun-alun, diulang berkali-kali oleh pantulan dinding batu koloseum. Jika kesunyian sebelumnya disebabkan oleh rasa terkejut, maka kesunyian kali ini lahir dari horor yang absolut.
Satu lawan tiga? Menantang tiga ahli Ranah Pengumpulan Qi sekaligus?!
Di tribun VIP, wajah Kepala Keluarga Liu, Liu Zhen, berkedut hebat. "Sombong! Terlalu sombong! Bocah ini benar-benar tidak tahu di mana langit dan di mana bumi pijakannya!"
Tiga murid Sekte Pedang Awan Surgawi yang tersisa memerah wajahnya, merasa harga diri mereka diinjak-injak ke dasar jurang. Sebagai murid dari raksasa dunia kultivasi, ke mana pun mereka pergi, mereka selalu disambut dengan jilatan dan penghormatan. Namun hari ini, di sebuah kota kecil terpencil, seorang pemuda seumuran memanggil mereka "anjing" dan menyuruh mereka maju bersamaan!
"Kakak-kakak Senior, kita tidak bisa membiarkan penghinaan ini! Ayo kita cincang bocah ini menjadi ribuan potong untuk membalas dendam Kakak Zhang!" teriak salah satu murid berwajah persegi.
Wusss! Wusss! Wusss!
Tiga sosok berjubah putih melesat dari tribun VIP layaknya burung rajawali yang menukik tajam, mendarat dengan keras di atas arena obsidian, mengepung Lin Chen dalam formasi segitiga.
Ketiganya melepaskan fluktuasi Qi mereka secara serentak. Dua orang berada di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 1, dan satu orang, yang bertindak sebagai pemimpin di puncak segitiga, memancarkan fluktuasi Ranah Pengumpulan Qi Bintang 2!
Gabungan aura dari tiga ahli ini menciptakan tekanan angin yang kencang, menyapu debu dan retakan batu di atas arena layaknya badai mini.
"Lin Chen! Kau mungkin menggunakan teknik rahasia tingkat tinggi untuk menghancurkan Kakak Zhang yang meremehkanmu," desis murid Bintang 2 itu dengan mata menyipit berbisa. "Tapi menghadapi kami bertiga, jubah kebanggaanmu akan menjadi kain kafanmu!"
Sring!
Tiga pedang panjang dicabut serentak, memancarkan cahaya Qi biru terang yang menyilaukan mata.
"Formasi Pedang Pembelah Awan! Bunuh!"
Ketiga murid sekte itu tidak berbasa-basi lagi. Mereka tahu Lin Chen berbahaya, jadi mereka langsung menggunakan formasi mematikan andalan sekte. Tiga bayangan pedang melesat secara bersamaan dari tiga sudut mati—kepala, jantung, dan kaki. Ketiga serangan itu saling terkunci, menutupi semua rute pelarian Lin Chen.
Udara di sekitar arena bergetar, menjerit akibat tajamnya tebasan Qi gabungan tersebut. Penonton menahan napas; bahkan seorang ahli Bintang 3 pun akan kesulitan menghadapi formasi rapi dan tanpa celah ini.
Namun, di tengah badai pedang itu, Lin Chen berdiri diam tak bergerak layaknya gunung purba.
"Formasi sampah. Terlalu banyak gerakan tak berguna," cibir Mo Xuan di lautan kesadaran.
Waktunya mengakhiri pertunjukan ini, batin Lin Chen dingin.
Tepat saat ujung ketiga bilah pedang itu berjarak kurang dari setengah jengkal dari tubuhnya, Lin Chen akhirnya mengambil tindakan. Ia tidak menghindar. Ia mengangkat salah satu kakinya, lalu menghentakkannya ke tanah dengan kekuatan penuh.
BUMMM!
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga meledak dari titik pijak Lin Chen. Arena batu obsidian yang terkenal tak bisa dihancurkan itu seketika hancur berkeping-keping, menciptakan kawah sedalam satu meter.
Namun, yang membuat semua orang membelalakkan mata hingga nyaris robek bukanlah hancurnya arena, melainkan aura yang tiba-tiba meletus dari tubuh Lin Chen.
Pilar cahaya berwarna emas murni melesat dari tubuh Lin Chen ke udara. Aura yang kuno, tiran, dan dipenuhi hawa membunuh ekstrem menyapu seluruh alun-alun, menekan fluktuasi Qi ketiga murid sekte tersebut hingga padam seketika!
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 3 Tahap Puncak!
"PENGUMPULAN QI?!"
Tuan Kota Zhao Wuji, Kepala Keluarga Wang, Lin Tian, dan Tetua Lin Ye... seluruh petinggi di tribun VIP serentak berdiri, menabrak meja dan memecahkan cangkir teh mereka. Mata mereka memancarkan teror dan ketidakpercayaan yang absolut.
Bukan Bintang 8 Pemurnian Tubuh... Anak yang selama tiga tahun dipanggil "sampah" ini ternyata telah mencapai Bintang 3 Pengumpulan Qi! Di usia kurang dari enam belas tahun! Bahkan jenius legendaris dari ibu kota kekaisaran pun jarang yang memiliki pencapaian seburuk ini!
Di atas arena, ketiga murid sekte itu seolah membeku. Formasi Pedang Pembelah Awan mereka hancur total di bawah tekanan absolut dari Qi Naga Emas milik Lin Chen. Rasa percaya diri mereka lenyap, digantikan oleh keputusasaan.
"M-Mustahil... Lari!" teriak murid Bintang 2 itu dengan suara melengking. Niat bertarungnya hancur lebur.
"Sudah terlambat."
Suara Lin Chen terdengar seperti bisikan malaikat maut di telinga mereka.
Lin Chen menghilang dari tempatnya. Bahkan matanya tidak bisa diikuti oleh para ahli biasa. Ia muncul tepat di depan murid berwajah persegi. Dengan satu ayunan punggung tangannya yang dilapisi Qi emas, ia menghantam dada murid itu.
KRAK!
"Argh!" Murid itu terlempar ke udara dengan tulang rusuk hancur, darah menyembur ke segala arah.
Tanpa jeda sepersekian detik pun, Lin Chen berputar di udara, kakinya melesat secepat kilat menendang rahang murid kedua.
BAM!
Murid kedua berputar di udara layaknya gasing berdarah sebelum menghantam lantai arena dengan keras, pingsan seketika dengan rahang yang remuk.
Tersisa murid Bintang 2 yang menjadi pemimpin. Wajahnya sepucat kertas. Ia mencoba menebaskan pedangnya dengan panik ke arah Lin Chen yang kini mendarat tepat di depannya.
Namun, Lin Chen dengan mudah memiringkan kepalanya, menghindari tebasan itu. Ia melangkah masuk ke pertahanan lawan, tangan kanannya mencengkeram tenggorokan pemuda itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
Pemuda itu meronta-ronta, menjatuhkan pedangnya, kakinya menendang-nendang udara, tapi cengkeraman Lin Chen mengunci lehernya seperti penjepit baja.
Mata gelap Lin Chen menatap dingin ke dalam mata pemuda yang kini dipenuhi air mata ketakutan.
"Sekte Pedang Awan Surgawi... mulai hari ini, jangan pernah berani memamerkan taring patah kalian di depanku," bisik Lin Chen tanpa ampun.
Qi emas murni menyembur dari telapak tangan Lin Chen, mengalir brutal ke dalam tubuh pemuda itu, merobek meridian utamanya dan menghancurkan Dantiannya tanpa sisa.
"AAARGHHHH!"
Jeritan penderitaan yang melengking memecah langit. Lin Chen melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh cacat itu jatuh ke tanah layaknya seonggok sampah yang tak berharga.
Tiga tarikan napas.
Hanya butuh tiga tarikan napas sejak Lin Chen melepaskan auranya, dan tiga ahli Pengumpulan Qi dari sekte raksasa itu kini tergeletak di atas genangan darah mereka sendiri—hancur, cacat, dan tak berguna.
Angin berhembus, menyibakkan jubah pertarungan Lin Chen yang masih bersih tanpa noda darah setitik pun. Fluktuasi Qi emasnya perlahan ditarik kembali ke dalam tubuhnya, mengembalikan kedamaian di alun-alun, meski badai di hati semua penonton tak akan pernah bisa diredakan.
Lin Chen perlahan menoleh ke arah tribun VIP, matanya terkunci lurus ke arah area tempat Keluarga Liu duduk. Tatapannya menembus Kepala Keluarga Liu Zhen yang kini gemetar ketakutan, seolah mengirimkan pesan langsung kepada Liu Meng'er yang berada ratusan mil jauhnya di atas gunung sekte.
"Wasit," panggil Lin Chen santai, memecah keheningan yang mencekik. "Apakah ada lagi yang ingin menantangku di turnamen ini?"
Sang wasit yang berdiri di pinggir arena menelan ludahnya yang terasa seperti duri. Kakinya gemetar. Ia melirik ke sekeliling koloseum. Pemuda-pemuda jenius dari Keluarga Wang, Keluarga Liu, dan klan-klan lainnya bahkan tidak berani menatap mata Lin Chen. Semuanya menundukkan kepala, berharap bumi menelan mereka agar tidak dipilih menjadi lawan Lin Chen.
Melihat tidak ada satu pun orang yang berani bernapas keras, apalagi naik ke arena, wasit menoleh ke arah Tuan Kota dengan tatapan memohon.
Tuan Kota Zhao Wuji menghela napas panjang yang gemetar. Ia menyeka keringat dingin di dahinya sebelum melangkah maju ke tepi balkon VIP. Ia menatap Lin Chen, tidak lagi dengan pandangan seorang penguasa kepada rakyatnya, melainkan dengan tatapan segan terhadap seekor naga yang baru terbangun.
"Aku nyatakan..." Suara Zhao Wuji sedikit serak, namun bergema ke seluruh alun-alun. "Juara Turnamen Kota Awan Merah tahun ini, tanpa perlu dilanjutkan lagi... adalah Lin Chen dari Klan Lin!"