Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Arga, suasana di ruang sidang langsung berubah 180 derajat. Keributan pun tak terelakkan, apalagi di kolom komentar siaran langsung yang langsung meledak.
[Hah? Seriusan?]
[Maksudnya gimana? Sertifikat depresinya palsu dong?!]
[Gila, tadi kan bilang udah diverifikasi dan asli? Kok bisa berubah gitu?]
[Wah, ada apa-apa nih ceritanya! Ada skandal besar kah?]
[Asiiik, makin seru nih! Kalau beneran mereka cuma pura-pura sakit, pasti bakal kocak banget endingnya!]
Hakim Ketua Santoso menatap Arga dengan wajah serius dan tatapan tajam, seolah ingin menelusuri isi pikiran pengacara muda itu.
Di sisi lain, wajah Rina Wijaya, pengacara dari pihak lawan, langsung berubah pucat. Ekspresinya sempat terlihat panik dan bingung, tapi ia buru-buru menguasai diri dan berusaha tetap terlihat tenang.
Nggak mungkin!
Gimana caranya Arga bisa tahu soal ini?
Meskipun jantungnya rasanya mau copot, Rina tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Pengacara penggugat," tegur Hakim Santoso dengan suara berat. "Ingat, setiap ucapan Anda punya konsekuensi. Jangan bicara sembarangan di ruang sidang ini."
Arga mengangguk mantap. "Saya mengerti, Yang Mulia. Dan saya siap bertanggung jawab penuh atas apa yang saya katakan."
"Karena itulah, saya membawa bukti yang kuat!"
Arga mengangkat sebuah flashdisk kecil di tangannya.
"Namun, sebelum memperlihatkan bukti utama, saya ingin kalian semua melihat percakapan ini dulu. Ini adalah isi chat di grup kamar kost milik Laras dan Tania."
Tak lama kemudian, layar besar di tengah ruangan menampilkan tangkapan layar percakapan WhatsApp mereka.
Semua orang, baik yang ada di sana maupun yang menonton via live, bisa melihat dengan jelas apa yang tertulis.
Ternyata, isinya adalah kumpulan foto yang dibagikan oleh Laras dan Tania. Meski wajah orang di foto itu sedikit disensor, jelas sekali kalau mereka berdua diam-diam memotret dan merekam seorang pria tampan di dalam Kereta MRT.
Lalu muncul balasan chat dari mereka berdua:
Laras: Guys! Gue nemu cogan di MRT! Ganteng banget sumpah! Mau fotoin lagi ah!! 😍
Tania: Ih beneran ganteng parah! 😭 Pengen banget jalan bareng dia malem ini, pengen pegang tangan, peluk... jauh lebih oke daripada cowok-cowok menyebalkan yang ada di sini.
Laras: Cewek-cewek pada keluar dong! Liatin deh cogan satu ini!! 😆
Di grup itu ada juga teman satu kost mereka, Yana, yang mencoba mengingatkan.
Yana: Eh, kalian motret orang sembunyi-sembunyi gitu aja ya? Bukannya kurang sopan dan melanggar privasi sih?
Laras: Ah elah, ngapain sih ribet? Cuma motret cogan doang, salah apa coba? 😒
Tania: Urusin diri sendiri aja deh. Gue mau motret ya terserah gue. Dia aja diem aja kok gak ngeresahin. 😌
...
Isi chatnya sangat panjang. Ternyata Laras dan Tania sudah mengambil lebih dari seratus foto pria itu selama di perjalanan.
Semua orang pun membaca bukti itu dengan saksama.
"Bukti chat ini diberikan langsung oleh teman kost mereka sendiri," jelas Arga dengan suara lantang. "Keasliannya bisa dicek kapan pun. Sangat ironis, mereka berani menuduh orang lain merekam mereka, tapi di saat yang sama mereka dengan beraninya melakukan hal yang sama bahkan lebih parah kepada orang lain."
"Setelah mendapatkan bukti ini, saya berhasil menghubungi pria yang menjadi objek foto mereka. Namanya Mahendra Surya."
"Dan hari ini, saya juga hadir untuk membela hak-hak Pak Mahendra."
"Beliau merasa sangat terganggu dan tidak nyaman karena direkam sembarangan. Oleh karena itu, beliau menuntut Laras dan Tania untuk meminta maaf secara terbuka serta menghapus semua foto tersebut. Berikut adalah pernyataan resmi dari beliau."
Layar besar kembali menyala, menampilkan video pernyataan dari Mahendra.
Mahendra: "Selamat siang, Pengacara Arga. Saya sudah mengetahui bahwa Laras dan Tania diam-diam memotret saya lebih dari seratus kali dan menyebarkannya di grup-grup mereka. Tindakan itu jelas melanggar privasi saya. Saya merasa tindakan memotret orang sembunyi-sembunyi itu sangat tidak etis. Saya meminta hukum memberikan sanksi tegas kepada mereka! Saya menuntut mereka segera menghapus semua foto saya dan meminta maaf. Jika tidak, saya tidak akan segan-segan membawa kasus ini lebih jauh ke ranah hukum. Untuk urusan ini, saya percayakan sepenuhnya kepada Pengacara Arga untuk menyelesaikannya."
Suasana ruang sidang kembali ricuh. Para netizen pun syok berat melihat fakta ini.
[Busyet! Ternyata yang motret malah mereka berdua?!]
[Jadi ceritanya mereka nuduh orang lain, padahal pelakunya sendiri? Gila ya kelakuannya!]
[Gue makin yakin deh, mereka berdua tuh sehat-sehat aja. Gak keliatan depresi sama sekali!]
[Depresi apanya coba? Yang ada semangat 45 motret cogan di MRT! Mulutnya aja yang nyerocos, kelakuannya mah lintah darat!]
Melihat suasana sudah memanas, Arga kembali mengambil alih perhatian semua orang.
"Dan sekarang, saya punya bukti utama bahwa sertifikat depresi yang mereka pegang itu palsu!"
Sebuah file video kembali ditayangkan di layar.
"Sebelum melihat ini, izinkan saya menjelaskan duduk perkaranya. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Dr. Hari Darsono dari Rumah Sakit Jiwa Pusat. Faktanya, Pengacara Rina Wijaya telah memberikan uang sebesar 40 juta Rupiah dan bahkan 'menyodorkan' seorang wanita berusia 20 tahun untuk menemani Dr. Hari, hanya demi meminta dibuatkan surat palsu tersebut. Mereka sudah lama kenal, dan Rina juga sudah beberapa kali membantu urusan Dr. Hari."
Hakim Santoso mengerutkan kening, matanya tak lepas dari layar yang menampilkan bukti tersebut.
Rekaman itu diambil dari CCTV sebuah hotel.
Terlihat jelas, Rina Wijaya datang bersama seorang wanita, lalu bertemu dengan Dr. Hari di sana. Rina terlihat menyerahkan sebuah amplop tebal.
"Dr. Hari, saya ada pekerjaan kecil nih," suara Rina terdengar jelas dari rekaman itu. "Minta tolong buatin dua surat keterangan depresi berat ya. Gampang kok, cuma cap-cap doang. Ini sedikit tanda terima kasih dari saya."
Rina pun menyodorkan amplop berisi uang itu.
Dr. Hari tersenyum sinis. "Wah, masa segalanya harus pake ini sih, Kak Rina? Kan kita sudah teman lama, gak usah formal amat."
Meskipun mulutnya menolak, tangannya dengan sigap mengambil dan menyimpan amplop itu ke dalam saku jasnya. Mereka mengobrol santai, sementara wanita muda yang dibawa Rina pun ikut nimbrung dan menggoda dokter itu.
Namun, adegan selanjutnya memang tidak pantas untuk ditayangkan ke khalayak ramai.
"Cukup sampai di sini," kata Arga sambil menghentikan putaran video. "Bagian selanjutnya tidak bisa kami putar karena sangat tidak senonoh dan melanggar kesusilaan. Rekaman ini saya dapatkan dari arsip keamanan hotel. Dari bukti ini, sudah sangat jelas terlihat bahwa sertifikat depresi itu adalah hasil suap dan pemalsuan!"
"Oleh karena itu, saya menuntut agar terdakwa, Pengacara Rina Wijaya, dihukum berat karena telah melanggar hukum dan membuat bukti palsu dengan sengaja. Saya meminta hukuman penjara selama 7 tahun serta pencabutan izin praktik hukumnya secara permanen!"
"Saya juga melayangkan tuntutan kepada Dr. Hari Darsono karena telah menerima suap dan memperjualbelikan dokumen medis. Mohon agar izin praktik kedokterannya dicabut dan dihukum seberat-beratnya sesuai undang-undang yang berlaku!"
Sesaat setelah Arga selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening total. Bahkan kolom komentar di live stream pun berhenti bergerak beberapa saat.
Semua orang terpana...
Isi rekaman itu... nyata adanya!
Jadi sertifikat depresi itu emang beneran palsu?!
Arga... pengacara muda ini benar-benar luar biasa!
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭