NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat

Kabut tipis menyelimuti batas Desa Jinan saat fajar menyingsing, memberikan kesan mistis pada jalan setapak yang biasanya hanya dilewati oleh gerobak sapi penduduk lokal. Di tengah keheningan itu, sesosok wanita berjalan dengan langkah yang sangat stabil. Setiap langkahnya tidak menyentuh tanah sepenuhnya, seolah-olah ada lapisan energi transparan yang menjaganya agar tetap murni dari debu duniawi. Wanita itu adalah Ye Hua, Sang Dewi Pedang dari Sekte Pedang Langit yang tersohor. Wajahnya sedingin es, dengan kecantikan yang mampu membuat para pahlawan tunduk, namun matanya hanya memancarkan satu hal: obsesi terhadap ilmu pedang yang sempurna.

Ye Hua telah mendengar desas-desus yang mustahil. Kabar tentang seorang ahli tersembunyi yang mengalahkan tetua Nascent Soul hanya dengan selembar kain lap telah menyebar ke telinganya melalui jaringan informasi rahasia. Baginya, itu terdengar seperti penghinaan terhadap seni bela diri. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh meremehkan esensi kekuatan dengan menggunakan barang-barang rendah seperti itu, kecuali jika orang itu memang telah mencapai tingkat yang melampaui batas logika.

Begitu ia memasuki wilayah yang menjadi lokasi gubuk Zhou Ji Ran, Ye Hua tiba-tiba berhenti. Bulu kuduknya berdiri. Sebagai seorang ahli pedang, ia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap "Niat Pedang" atau *Sword Intent*. Di depannya, sebuah rumah kayu sederhana berdiri dengan pagar yang tampak baru diperbaiki. Namun, di mata Ye Hua, rumah itu tidaklah sederhana. Ia melihat ribuan garis cahaya transparan yang saling silang di udara, membentuk jaring pelindung yang begitu rapat hingga lalat pun harus meminta izin pada semesta untuk lewat.

"Tempat ini... apa ini?" gumam Ye Hua. Ia menatap sebuah orang-orangan sawah di pinggir ladang yang mengenakan topi bambu rombeng. Di matanya, orang-orangan sawah itu memancarkan aura seorang kaisar pedang yang siap menebas langit jika ada yang berani mengusik ketenangan ladang tersebut.

Di halaman, Lin Xiaoqi sedang sibuk menyikat bulu kuda-kuda Napas Api. Kuda-kuda itu tampak jauh lebih jinak hari ini, meskipun sesekali masih mengeluarkan percikan api dari lubang hidungnya. Lin Xiaoqi, yang kini mengenakan pakaian pelayan sederhana namun tetap memancarkan aura kecantikan seorang kultivator, menoleh saat merasakan kehadiran Ye Hua.

"Ye Hua? Kakak Senior Ye dari Sekte Pedang Langit?" Lin Xiaoqi terkejut. Ia mengenal sosok di depannya sebagai salah satu jenius paling ditakuti di benua ini.

Ye Hua menatap Lin Xiaoqi dengan tatapan meremehkan namun penuh tanda tanya. "Lin Xiaoqi. Murid inti Sekte Awan Biru. Jadi benar kabar itu, kau telah jatuh begitu rendah hingga menjadi pelayan seorang petani? Di mana kehormatanmu? Di mana ambisimu untuk mencapai tingkat imortal?"

Lin Xiaoqi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kedamaian yang belum pernah ia miliki saat masih di sekte. "Kakak Senior Ye, kehormatan tidak ditentukan oleh apa yang kita kenakan atau gelar apa yang kita bawa. Di sini, saya belajar lebih banyak dalam dua hari daripada sepuluh tahun saya di sekte. Jika Anda datang untuk mencari masalah, saya sarankan Anda berbalik sekarang."

"Aku datang untuk menantang pemilik tempat ini," suara Ye Hua tajam seperti dentingan logam. "Aku ingin melihat dengan mataku sendiri, apakah kain lap benar-benar bisa mengalahkan pedang."

Tiba-tiba, pintu rumah kayu terbuka dengan suara derit yang panjang. Zhou Ji Ran keluar sambil menguap lebar, menggaruk perutnya dengan santai. Ia mengenakan celana rami pendek dan kaos putih tipis yang sudah agak kusam. Di tangannya, ia memegang sebuah sikat gigi kayu dan segelas air.

"Xiaoqi... siapa lagi ini? Apakah ini sepupumu yang ingin meminjam beras? Katakan padanya aku tidak punya beras berlebih, semuanya sudah habis untuk memberi makan kuda-kuda boros itu," ucap Zhou Ji Ran tanpa menoleh ke arah Ye Hua.

Wajah Ye Hua memerah karena marah. Diabaikan seperti itu adalah penghinaan terbesar baginya. "Aku Ye Hua dari Sekte Pedang Langit! Aku datang untuk meminta petunjuk!"

Zhou Ji Ran berhenti menyikat giginya, berkumur sebentar, lalu meludah ke arah tanaman gulma di pinggir pagar. "Petunjuk? Oh, jika kau ingin tahu jalan ke pasar kota, belok kiri setelah pohon besar itu. Tapi jangan pergi sekarang, mereka baru buka siang hari."

"Jangan bermain-main denganku!" Ye Hua menghunus pedangnya. Pedang itu bernama "Langit Jernih", sebuah senjata tingkat bumi yang memancarkan cahaya biru yang dingin. Saat pedang itu keluar dari sarungnya, suhu di halaman turun drastis, embun di rumput seketika membeku menjadi kristal es.

Lin Xiaoqi segera mundur, tahu betul bahwa kemarahan Ye Hua bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan. Namun, Zhou Ji Ran hanya menatap pedang itu dengan dahi berkerut.

"Hei, Nona Cantik. Hati-hati dengan benda tajam itu. Kau bisa merusak jemuran celanaku yang baru saja kering. Dan kau baru saja membekukan bibit sawiku yang baru tumbuh! Kau tahu berapa harga bibit itu di pasar?" Zhou Ji Ran melangkah maju, wajahnya sekarang tampak benar-benar kesal.

"Tunjukkan kekuatanmu! Gunakan kain lapmu atau apa pun itu!" Ye Hua melesat maju. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan biru di udara. Teknik "Sembilan Gerhana Pedang Langit" ia kerahkan sepenuhnya. Seluruh energi spiritual di sekitarnya tersedot ke arah ujung pedangnya, menciptakan badai salju kecil yang mematikan.

Zhou Ji Ran tidak menghindar. Ia bahkan tidak memasang posisi bertarung. Saat ujung pedang Ye Hua tinggal beberapa inci dari dadanya, Zhou Ji Ran hanya melakukan sesuatu yang sangat konyol. Ia mengangkat sikat gigi kayunya dan melakukan gerakan mengetuk pelan pada sisi pedang "Langit Jernih".

*Ting!*

Bunyi kecil itu terdengar seperti suara gelas yang retak. Ye Hua merasakan getaran hebat merambat dari pedangnya, masuk ke pergelangan tangannya, dan meledak di seluruh jaringan energinya. Pedang "Langit Jernih" yang legendaris itu tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah-olah ia sedang mencoba mengangkat seluruh benua. Ujung pedangnya menghantam tanah, menciptakan lubang kecil namun cukup dalam hingga ia tidak bisa menariknya kembali.

"Sikat gigi...?" Ye Hua mematung. Matanya menatap sikat gigi kayu di tangan Zhou Ji Ran yang tampak sangat biasa, bahkan bulu sikatnya sudah agak mekar.

"Peralatan kebersihan harus dirawat dengan baik, Nona. Sama seperti harga diri. Kau terlalu banyak menggunakan emosi dalam pedangmu, itu membuatnya tumpul dan berat," Zhou Ji Ran berkata sambil berjalan melewatinya menuju jemuran. "Xiaoqi, ambilkan aku handuk. Aku harus mandi sebelum matahari terlalu panas."

Ye Hua masih berlutut di tanah, tangannya gemetar. Ia tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Tidak ada energi spiritual yang digunakan, tidak ada aura yang meledak. Hanya sebuah ketukan sederhana. Namun dalam ketukan itu, ia merasa seolah-olah seluruh pemahamannya tentang ilmu pedang selama dua puluh tahun dihancurkan berkeping-keping.

"Kenapa... kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Ye Hua dengan suara serak.

Zhou Ji Ran berhenti, menoleh sedikit dengan handuk tersampir di bahunya. "Membunuhmu? Memangnya apa untungnya bagiku? Mayatmu hanya akan membuat tanah ladangku menjadi terlalu asam karena terlalu banyak energi dingin. Dan lagi, aku butuh seseorang untuk membantu Xiaoqi mencabut rumput liar di ladang bagian utara. Kau punya tangan yang kuat, kurasa kau akan sangat ahli dalam mencabut akar rumput yang dalam."

"Kau... kau ingin aku mencabut rumput?" Ye Hua menatapnya tidak percaya.

"Ya. Dan jangan gunakan pedangmu itu. Gunakan tangan kosong. Anggap saja itu meditasi untuk menstabilkan emosimu yang berantakan itu," Zhou Ji Ran masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua wanita jenius itu di halaman.

Lin Xiaoqi mendekati Ye Hua dan mengulurkan tangannya. "Selamat datang di rumah Tuan Zhou, Kakak Senior Ye. Percayalah, mencabut rumput jauh lebih mencerahkan daripada bermeditasi di puncak gunung es."

Ye Hua menatap tangan Xiaoqi, lalu menatap gubuk kayu itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat kecil. Kesombongan yang selama ini ia bawa runtuh sepenuhnya. Ia perlahan bangkit, menyimpan kembali pedangnya yang kini terasa seperti beban yang tidak perlu.

"Baiklah... aku akan mencabut rumputmu," bisik Ye Hua, lebih kepada dirinya sendiri.

Namun, kedamaian sejenak itu kembali terganggu. Langit di atas Desa Jinan tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Awan hitam pekat berputar-putar seperti pusaran raksasa, dan aroma belerang yang menyengat mulai memenuhi udara. Dari pusat pusaran awan itu, sebuah tawa yang menggelegar dan penuh kebencian terdengar, getarannya membuat kaca-kaca jendela rumah penduduk desa pecah.

"Zhou Ji Ran! Keluarlah kau, tikus petani! Hari ini adalah hari kematianmu dan kehancuran desa terkutuk ini!"

Sesosok pria tua dengan jubah hitam yang compang-camping muncul dari balik awan. Ia adalah Elder Mo, sesepuh tertinggi dari Sekte Gerhana Darah yang telah mencapai tahap Nascent Soul tingkat puncak, hampir menyentuh tahap Soul Transformation. Di belakangnya, ratusan murid sekte terbang dengan pedang hitam, mengepung gubuk Zhou Ji Ran dari segala arah.

"Mereka membawa seluruh kekuatan sekte?" Lin Xiaoqi gemetar. "Elder Mo dikenal sebagai 'Penghancur Kota'. Dia pernah meratakan sebuah kota kecil hanya karena seorang pedagang tidak memberinya diskon!"

Ye Hua segera menghunus kembali pedangnya, meskipun ia tahu ia bukan tandingan bagi Elder Mo. "Xiaoqi, lindungi Tuan Zhou! Aku akan mencoba menahan mereka sebentar!"

Elder Mo menatap ke bawah dengan mata merah menyala. "Siapa pun yang berada di rumah itu, serahkan harta surgawi yang kalian miliki dan aku mungkin akan memberikan kematian yang cepat! Jika tidak, aku akan menyiksa jiwa kalian di dalam api neraka selama seribu tahun!"

Zhou Ji Ran keluar lagi dari rumahnya, kali ini ia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuhnya yang atletis namun tampak biasa saja. Wajahnya tidak lagi hanya kesal; ia tampak benar-benar murka.

"Handukku... aku baru saja ingin mandi dengan tenang!" suara Zhou Ji Ran rendah, namun setiap kata yang ia ucapkan seolah-olah memiliki berat jutaan ton, membuat para murid sekte yang terbang di langit mendadak kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah seperti burung yang tertembak.

"Kau?! Kau pemuda yang menghancurkan basis kultivasi Zhao Feng?" Elder Mo menatap Zhou Ji Ran dengan penuh amarah. "Matilah kau! Teknik Telapak Tangan Darah Pemakan Surga!"

Elder Mo mengayunkan tangannya ke bawah. Sebuah bayangan telapak tangan raksasa berwarna merah darah, berukuran hampir sebesar seluruh Desa Jinan, turun dari langit. Tekanannya membuat tanah mulai amblas, dan rumah-rumah penduduk di kejauhan mulai retak. Ini adalah serangan yang ditujukan untuk memusnahkan segala sesuatu dalam radius sepuluh mil.

Lin Xiaoqi dan Ye Hua berpelukan, merasa ajal mereka sudah dekat. Kekuatan ini terlalu masif untuk dilawan.

Namun, Zhou Ji Ran hanya menatap ke atas. Ia mengepalkan tangan kanannya yang masih memegang gayung air plastik berwarna merah. "Kalian benar-benar... merusak... waktu mandiku!"

Zhou Ji Ran melakukan satu gerakan: ia menyiramkan air dari gayungnya ke arah langit.

Air yang keluar dari gayung itu seharusnya hanya beberapa liter, namun saat meninggalkan gayung, setiap tetesnya berubah menjadi kristal cahaya yang memancarkan kekuatan murni yang tak terbayangkan. Air itu melesat ke atas, menembus telapak tangan darah raksasa milik Elder Mo seolah-olah itu hanya kabut tipis.

*BUMMM!*

Ledakan itu tidak menghasilkan suara yang memekakkan telinga, melainkan sebuah getaran frekuensi tinggi yang menyapu seluruh awan hitam dan energi negatif di langit. Dalam sekejap, langit kembali biru cerah. Matahari bersinar terik seolah-olah tidak pernah ada badai sebelumnya.

Elder Mo tertegun di udara. Ia melihat ke arah tangannya yang kini mulai retak dan hancur menjadi debu. "Air... hanya air biasa...? Bagaimana mungkin... hukum dunia tidak mengizinkan ini..."

"Hukum duniamu mungkin tidak mengizinkannya, tapi di ladangku, hukumku yang berlaku," ucap Zhou Ji Ran dingin. Ia menjentikkan jarinya.

Seketika, Elder Mo dan seluruh murid Sekte Gerhana Darah yang masih hidup ditarik oleh gravitasi yang sangat kuat menuju ladang jagung di belakang gubuk. Mereka semua tertancap di tanah hingga sebatas pinggang, tidak bisa bergerak dan semua energi spiritual mereka terkunci rapat.

"Karena kalian sangat suka merusak pemandangan, kalian akan menjadi orang-orang sawah tambahan di ladangku selama satu bulan penuh. Tidak ada makanan, tidak ada air, hanya energi matahari yang akan membakar kesombongan kalian," Zhou Ji Ran menunjuk ke arah mereka dengan gayungnya.

Elder Mo ingin berteriak, namun ia menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara. Ia, sang sesepuh agung, kini benar-benar menjadi pajangan di ladang jagung bersama murid-muridnya.

Zhou Ji Ran berbalik menuju bak mandinya yang berada di samping rumah. "Xiaoqi, jika ada lagi yang datang, katakan pada mereka aku sedang mandi. Dan jika mereka tetap berteriak, lempar saja mereka dengan kulit pisang di dapur. Aku sedang malas bergerak lagi."

Lin Xiaoqi dan Ye Hua berdiri mematung di tengah halaman. Mereka menatap ladang jagung yang kini dipenuhi oleh para ahli sekte yang tampak konyol dengan kepala menjulur keluar dari tanah.

"Kakak Senior Ye... apakah Anda masih ingin mencabut rumput?" tanya Lin Xiaoqi pelan.

Ye Hua menelan ludah. Ia menatap pedangnya, lalu menatap ladang jagung, dan akhirnya menatap sosok Zhou Ji Ran yang mulai menyiram kepalanya dengan air sambil bersenandung kecil. "Kurasa... mencabut rumput adalah pekerjaan yang sangat terhormat dan aman saat ini."

Sore harinya, pemandangan unik terlihat di pinggiran Desa Jinan. Lin Xiaoqi dan Ye Hua, dua dewi dari dua sekte besar, sedang berjongkok di ladang sambil mencabut rumput liar dengan sangat teliti. Sementara itu, ratusan kultivator dari Sekte Gerhana Darah berdiri kaku sebagai orang-orangan sawah di belakang mereka, memberikan pemandangan yang sangat kontras.

Zhou Ji Ran duduk di teras rumahnya, menyeruput teh pahit sambil memperhatikan hasil kerjanya. "Nah, ini baru namanya kedamaian. Tidak ada suara teriakan, tidak ada awan hitam... hanya suara angin dan dua pelayan cantik yang bekerja keras."

Namun, di dalam hatinya, Zhou Ji Ran tahu bahwa ini belum berakhir. Kekuatan yang ia lepaskan tadi, meskipun kecil, pasti telah terdeteksi oleh entitas yang lebih kuat di benua ini, atau mungkin bahkan oleh mereka yang berada di "Dunia Atas". Ia tahu bahwa sistemnya mungkin sudah tidak ada, tapi takdir sepertinya masih memiliki sisa-sisa dendam padanya.

"Ah, biarlah mereka datang. Selama stok tehku masih ada, aku tidak akan keberatan menghadapi seribu dewa sekalipun," gumamnya.

Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari arah kandang kuda.

"TUAN ZHOU! Kuda Napas Api ini baru saja membakar rambut Kakak Senior Ye!" teriak Lin Xiaoqi.

"APA?! Ye Hua, jangan gunakan teknik pedang pada kuda itu! Kau hanya akan membuatnya semakin marah! Xiaoqi, ambilkan handuk basah!" Zhou Ji Ran melompat dari terasnya, berlari menuju kandang kuda dengan wajah panik.

Bagi seorang mantan penguasa multisemesta, menghadapi invasi sekte jahat mungkin mudah, tapi menangani perselisihan antara murid jenius yang sombong dan kuda perang yang emosional adalah tantangan tingkat dewa yang sesungguhnya.

Malam itu, di bawah cahaya rembulan, Desa Jinan kembali tenang. Namun di dalam gubuk kayu itu, tawa dan perdebatan kecil terus terdengar, menandakan bahwa kehidupan Zhou Ji Ran tidak lagi sepi seperti dulu. Ia mungkin telah kehilangan sistemnya, tapi ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih nyata: sebuah rumah yang dipenuhi oleh kekacauan yang hangat.

Di kejauhan, sebuah bayangan misterius memperhatikan dari puncak pohon tertinggi. Sosok itu mengenakan jubah putih dengan bordiran naga emas. "Jadi, di sinilah kau bersembunyi, Saudara Ji Ran... Kami semua mengira kau sudah musnah bersama kehancuran sistem itu. Tapi sepertinya kau sedang menikmati kehidupan yang sangat... menarik."

Sosok itu menghilang menjadi partikel cahaya, meninggalkan pesan yang terbawa angin. Badai besar sebenarnya baru saja akan dimulai, dan kali ini, musuhnya bukanlah mereka yang berasal dari dunia kultivasi rendah, melainkan bayangan dari masa lalu Zhou Ji Ran yang seharusnya sudah terhapus selamanya.

Tapi untuk saat ini, masalah terbesar Zhou Ji Ran hanyalah: Ye Hua bersikeras bahwa cara dia mencabut rumput adalah teknik pedang tingkat tinggi, dan dia menolak untuk berhenti berteriak "Hah!" setiap kali menarik akar rumput dari tanah.

"Ye Hua, berhenti berteriak! Kau membuat ayam-ayamku stres dan mereka berhenti bertelur!"

"Tapi Tuan, ini adalah tentang ritme energi!"

"Ritme energi pantatmu! Cabut saja rumputnya dalam diam!"

Ya, masa pensiun ini memang sangat jauh dari kata membosankan. Dan bagi Zhou Ji Ran, itulah tepatnya yang ia butuhkan. Kehidupan tanpa misi, namun penuh dengan makna dalam setiap butir keringat yang jatuh ke bumi Jinan yang tercinta. Perjalanan panjang ini baru saja melewati langkah keempat, dan masih ada ratusan babak lagi yang menanti untuk dilalui dengan tawa, amarah, dan tentu saja, keajaiban seorang mantan pemilik sistem yang hanya ingin menjadi petani biasa.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!