NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. Sangkar yang Terbuka

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

"Uncle janji?"

Suara Alea kecil nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat dan riuh rendah pengumuman keberangkatan. Dengan mata sembap dan hidung yang memerah karena terlalu lama menangis, ia menatap pria yang selama ini menjadi pusat dunianya setelah ayahnya. Bima, di usia dua puluh tiga tahun, tampak seperti dewa di mata Alea, sosok pelindung yang tak tergantikan.

Bima berlutut di atas lantai marmer bandara yang dingin, mengabaikan kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ia menarik napas panjang, dan aroma parfum maskulinnya yang tajam namun menenangkan meresap dalam ke memori Alea, menjadi ingatan aroma yang akan menghantuinya selama satu dekade. Jemari Bima yang panjang dan hangat mengusap air mata di pipi Alea dengan kelembutan yang menyakitkan. Ia kemudian mencondongkan tubuh, mendaratkan kecupan lama di kening gadis itu.

"Aku akan kembali, little bird. Saat aku kembali nanti, aku ingin melihatmu sudah terbang tinggi. Mengerti?"

Alea mengangguk polos, jemari mungilnya menautkan janji kelingking yang ia kira adalah kontrak seumur hidup. Ia tidak tahu bahwa "kembali" bagi Bima berarti menghilang dalam kegelapan tanpa satu pun surat atau telepon selama sepuluh tahun penuh, meninggalkan Alea dalam sunyi yang menyiksa.

Sepuluh Tahun Kemudian

Alea mengerang pelan saat cahaya matahari pagi menembus celah gorden, menusuk kelopak matanya yang masih tertutup. Ia berguling gelisah di atas tempat tidur king size-nya, merasakan kain satin hitam yang membungkus tubuhnya bergesekan dengan kulitnya yang sensitif. Gaun tidur itu sangat pendek, dengan potongan punggung yang terbuka lebar hingga ke pinggang, hanya disatukan oleh beberapa helai tali tipis yang menopang kain di atas dadanya.

Ia merasa gerah. Mimpi tentang perpisahan di bandara itu kembali lagi, dan setiap kali ia memimpikannya, ia selalu terbangun dengan napas yang memburu dan keringat tipis di pelipis.

Dengan sisa kantuk yang masih menggelayut, Alea bangkit. Rambut pirangnya berantakan, jatuh menutupi bahunya yang polos dan putih porselen. Ia tidak repot-repot mencari jubah luar (outer). Di rumah ini, ia merasa aman dan bebas; hanya ada dia dan ayahnya, Baskara. Ia tidak pernah merasa perlu menyembunyikan diri di balik pakaian yang tebal.

Alea menuruni tangga kayu dengan bertelanjang kaki, merasakan tekstur kayu yang dingin di telapak kakinya. Suara langkahnya terendam oleh karpet tebal yang melapisi lorong menuju ruang makan. Dari sana, aroma kopi yang pekat dan harum daging asap sudah mulai menyambutnya.

Di meja makan, ia melihat sesosok pria duduk membelakanginya. Pria itu tampak tenang, sedang menyesap kopi sambil menatap ke luar jendela besar ke arah taman belakang. Alea berhenti sejenak. Punggung itu tampak sangat lebar, jauh lebih kokoh dan intimidatif dari punggung ayahnya yang biasanya terlihat sedikit membungkuk saat fokus membaca koran pagi. Namun, dalam benaknya yang masih setengah sadar, ia mengira ayahnya baru saja memulai program olahraga baru.

Senyum manja terukir di bibir Alea. Ia ingin menjahili ayahnya yang belakangan ini terlalu sibuk dengan urusan bisnis.

Ia mendekat dengan gerakan seringan udara, nyaris seperti bayangan. Tanpa suara, ia melingkarkan lengan rampingnya ke leher pria itu dari belakang. Alea menempelkan seluruh bagian depan tubuhnya ke punggung pria itu, membiarkan dadanya yang hanya terhalang kain satin tipis menekan pundak kokoh sang pria dengan cara yang sangat akrab—dan tanpa sengaja—sangat intim.

"Selamat pagi, Daddy... bangun pagi sekali hari ini?" bisik Alea tepat di dekat telinga pria itu.

Alea memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tengkuk pria tersebut. Detik itu juga, seluruh saraf di tubuhnya seolah meledak dan berteriak. Ini bukan bau sabun cendana ayahnya. Ini adalah bau kayu cendana yang mahal, bercampur dengan aroma tembakau dan aroma maskulin yang begitu dominan hingga membuat perut bawah Alea berdesir aneh, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Alea, entah karena keras kepala atau rasa penasaran yang aneh, tetap nekat. Ia mendaratkan kecupan lembut yang sedikit basah di pipi pria itu, tepat di garis rahangnya yang tegas. Kulit pria itu terasa hangat dan sedikit kasar karena sisa cukuran tipis yang baru saja dibersihkan.

"Kenapa diam saja?" Alea terkikik pelan, tangannya mulai meraba dada pria itu dari belakang, mencoba menemukan detak jantung "ayahnya". Namun yang ia rasakan justru otot-otot yang sekeras batu di bawah kemeja hitam yang pria itu kenakan.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar yang panas dan bertenaga menangkap pergelangan tangan Alea di atas dadanya. Kekuatannya begitu mendominasi hingga Alea tidak bisa bergerak satu inci pun.

"Sapaan yang sangat berbahaya untuk seorang paman, Alea."

Suara itu rendah, parau, dan bergetar tepat di dalam dada pria itu—menggetarkan seluruh punggung Alea yang masih menempel padanya. Itu bukan suara ayahnya yang hangat. Itu suara yang lebih dalam, lebih gelap, dan penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. Suara yang dulu ia rindukan, namun kini terdengar seperti ancaman yang menggoda.

Alea membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir, dan ia bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sesak.

Pria itu memutar kursi jati itu perlahan, tanpa melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Alea. Sekarang, Alea dipaksa berdiri tepat di antara kedua paha pria itu yang terbuka lebar. Ia terpaksa menunduk dan langsung bertatapan dengan sepasang mata sehitam jelaga yang menatapnya dengan intensitas yang mengerikan—seolah ingin menelannya bulat-bulat.

"Uncle... Bima?" napas Alea tertahan di tenggorokan.

Mata Bima tidak berhenti di wajah Alea yang memucat lalu memerah. Dengan sangat kurang ajar dan tanpa rasa bersalah, pria itu menurunkan pandangannya. Matanya bergerak perlahan, memindai leher putih Alea yang jenjang, turun ke belahan dadanya yang terekspos karena Alea sedang membungkuk di hadapannya, hingga ke paha Alea yang hanya tertutup beberapa inci kain satin hitam.

Bima tidak segera bicara. Ia hanya menatap, dan bagi Alea, tatapan itu terasa seperti sentuhan fisik yang membakar setiap inci kulitnya. Ruangan itu mendadak kekurangan oksigen.

"Kau..." Alea mencoba menarik tangannya dengan tenaga yang lemah, tapi Bima justru menariknya lebih dekat. Kini, perut Alea yang hanya terbalut satin tipis nyaris bersentuhan dengan lutut Bima.

"Sepuluh tahun aku pergi, dan burung kecilku berubah menjadi godaan yang sangat cantik," ucap Bima. Suaranya seperti bisikan iblis—lembut namun penuh dengan racun yang mematikan. Jempolnya yang kasar mulai bergerak pelan, mengusap kulit halus di bagian dalam pergelangan tangan Alea, menciptakan percikan listrik yang membuat kaki Alea terasa lemas seperti jeli.

"Lepaskan... aku mau ganti baju," bisik Alea, wajahnya merah padam. Ia merasa sangat telanjang di bawah tatapan pria ini. Ia menyadari betapa buruknya posisi mereka sekarang; ia mengenakan baju tidur yang nyaris transparan di hadapan pria yang selama ini ia anggap paman, namun menatapnya seperti seorang pemangsa.

Bima menyeringai tipis, memperlihatkan sisi nakal dan gelap yang belum pernah Alea lihat dulu. "Kenapa terburu-buru? Aku baru saja mulai menikmati pemandangan pagiku, Alea. Sangat... menyegarkan."

Tangan Bima yang bebas perlahan bergerak naik, jari-jarinya yang panjang nyaris menyentuh tali tipis di bahu Alea yang hampir melorot. Alea menahan napas, matanya terkunci pada mata Bima yang kini berkilat dengan sesuatu yang tertahan—campuran antara nafsu dan posesifitas.

"Bima! Sudah ketemu dengan putriku?"

Suara Baskara yang menggelegar dari arah dapur menghancurkan momen panas itu dalam sekejap. Bima melepaskan tangan Alea dengan gerakan santai yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, namun matanya tetap tertuju pada Alea, memberikan tatapan yang seolah berkata: Ini baru permulaan.

Alea melompat mundur sejauh mungkin, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan di tempat. Ia melihat ayahnya berjalan mendekat dengan senyum lebar, mengenakan jubah mandi dan memegang beberapa dokumen.

"Ah, Alea! Kau pasti sangat kaget, kan? Paman Bima-mu ini baru sampai tadi subuh. Dia bersikeras tidak mau Daddy membangunkanmu," ujar Baskara tanpa curiga sedikit pun. Ia menepuk bahu Bima dengan akrab, seolah Bima masih pria muda yang dulu ia kenal. "Lihat dia, Bima. Dia sudah besar sekarang, kan? Sudah bukan lagi gadis kecil yang menangis di bandara."

Bima berdiri dari kursinya, tingginya yang hampir mencapai 190 cm menjulang di atas Alea, menciptakan bayangan yang mengintimidasi. Ia menyesap kopinya dengan tenang, lalu menatap Alea dari atas ke bawah sekali lagi dengan senyum misterius di sudut bibirnya.

"Sangat besar, Baskara," sahut Bima dengan nada berat yang mengandung makna ganda yang hanya dimengerti oleh Alea. "Dan sangat... mengejutkan. Perkembangannya jauh melampaui ekspektasiku."

Alea merasakan hawa panas menjalar kembali ke seluruh tubuhnya. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, merasakan tatapan Bima yang seolah sedang menelanjanginya di depan ayahnya sendiri. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menaiki tangga secepat yang ia bisa. Ia bisa merasakan tatapan Bima membakar punggungnya, menelusuri setiap lekuk pinggul dan kakinya di setiap langkah yang ia ambil.

Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Alea menyandarkan punggungnya dan menyentuh pipinya yang panas. Jantungnya masih berpacu liar seperti sedang lari maraton. Sensasi kasar dari jempol Bima di nadinya seolah masih membekas di sana.

Satu hal yang ia tahu pasti: pria itu bukan lagi paman yang lembut. Bima kembali sebagai pria yang penuh teka-teki dan gairah yang berbahaya. Dan pria itu kini berada di rumahnya, siap untuk menutup pintu sangkarnya kembali.

Alea melirik ke bawah jendela kamarnya yang mengarah ke taman, dan di sana ia bisa melihat pantulan Bima dari jendela ruang makan di bawah. Sebelum ia memalingkan wajah, ia melihat Bima mendongak ke arah kamarnya, menyeringai, dan tanpa suara menggumamkan satu kata yang bisa dibaca Alea dengan jelas:

"Run."

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!