Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Pagi hari di sekolah .... Ketika itu aku sedang berada di dalam kelas, mencoba mendengarkan penjelasan guru meski pikiranku melayang ke mana-mana.
Sepuluh hari telah berlalu sejak aku menjalani kehidupan masa SMA-ku (Sekolah Menengah Pertama) yang kedua. Sepertinya aku mudah terbiasa dengan semua ini. Mungkin karena aku sering membaca manga, menonton anime, atau membaca novel-novel bertemakan perjalanan waktu, jadi aku tahu apa saja yang harus kulakukan selayaknya karakter utama. Sangat mudah mengaplikasikan cara hidup MC ke dalam hidupku, ditambah lagi aku punya ingatan tentang masa depan.
Orang-orang mungkin akan bertanya, “Memangnya tidak apa-apa mengulang kehidupan yang membosankan, meski punya kesempatan untuk memulai semuanya dari awal? Padahal sudah jadi siswa kelas tiga SMA yang kembali menjadi siswa kelas satu.” Namun, tolong pikirkan baik-baik. Aku hanya memulai kembali dari kelas satu SMA sampai ke kelas tiga SMA, lalu apa yang bisa diharapkan? Mungkin aku bisa mengubah segalanya kalau memulainya dari masa SD (Sekolah Dasar), tetapi pemikiran ini terdengar sekadar seperti mencari alasan tak berdasar.
Plot klasik cerita bertemakan perjalanan waktu tidak jauh-jauh dari menyelamatkan heroine (karakter utama wanita dalam novel, manga, atau anime) atau menyelamatkan dunia yang sedang dalam bahaya. Meski begitu, yang paling sering adalah kisah balas dendam seseorang yang mati karena dikhianati oleh orang terdekat sampai jatuh miskin, dan sejenisnya. Namun untukku yang madesu (masa depan suram) ini, aku tidak punya heroine yang perlu diselamatkan, tidak usah repot-repot menyelamatkan dunia, apalagi membalas dendam kepada orang-orang yang mengkhianatiku. Hal seperti itu tidak ada sama sekali di hidupku.
Dengan kata lain, aku tidak punya satu hal pun yang ingin dan bisa kulakukan ketika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini agar kesempatan yang ada tidak akan menjadi sia-sia. Namun, aku ingat kalau aku tidak punya satu pun teman untuk diajak berdiskusi. Meski begitu, aku pernah menanyakan hal ini kepada Vanya, sepulangku dari tempat berdoa bersama Maya waktu itu ....
Ketika itu ....
"Vanya, apa yang harus aku lakukan kalau aku dikembalikan ke tiga tahun yang lalu?" tanyaku pada Vanya yang saat itu sedang menonton televisi di ruang keluarga. Dia menatapku seolah-olah aku ini adalah orang aneh yang harus segera dipukul agar pergi menjauh.
"Hah? Saking banyaknya manga yang Kakak baca, Kakak sekarang jadi halu, ya?" tanya balik Vanya padaku.
"Jawab saja dan jangan terlalu dipikirkan. Paling-paling kemungkinan terburuknya, hidup kakakmu ini akan menjadi sangat berantakan karenanya," jawabku. Seketika Vanya terlihat sangat kesal padaku.
"Kalau seperti itu, Kamu memaksa aku harus memikirkannya dengan serius!!!" bentaknya terdengar marah.
"Hoo, ternyata Vanya sangat peduli padaku," timpalku. Vanya membuang muka sambil mengembuskan napas dengan keras.
"Huh! Aku cuma enggak mau Kakak jadi nolep. Lagian, aku enggak mau ya disuruh membersihkan tubuh Kakak kalau Kakak mati karena kesendirian di dalam kamar. Itu kan akan jadi bauu~" keluhnya.
"Loh? Jadi hanya itu yang kamu khawatirkan?!" tanyaku mengeluh.
"Jadi, kalau Kakak kembali tiga tahun dari masa depan, kan?" tanyanya balik, mengganti topik pembicaraan. Aku merana karena seharusnya Vanya mau membersihkan tubuhku kalau aku benar-benar mati di kamar, dong.
"Hmmm ... yah, jadi rajin belajar juga sudah bagus, kan?" ucap Vanya memberiku ide tentang apa yang harus kulakukan di kehidupan SMA keduaku.
"Hah? Hanya itu saja?" tanyaku memastikan.
"Satu-satunya hal baik yang Kakak punya kan cuma nilai yang rata-rata. Jadi kalau belajar, mungkin Kakak bisa jadi juara kelas. Toh, pelajarannya sudah Kakak hafal, kan? Ulangan juga tinggal memperbaiki apa yang pernah Kakak lakukan dulu," jawabnya tegas.
"Enggak ada lagi? Hah? Masa sih enggak ada lagi??!" tanyaku, memaksa Vanya untuk berpikir lebih keras lagi.
"Selain belajar, Kakak bisa .... Hmmm .... memungut sampah di sungai mungkin," tanpa beban Vanya mengatakannya. Aku sampai menangis dalam senyuman.
"Oi, oi, Vanya! Memangnya aku sekarang relawan sungai? Ekspektasimu terhadapku apa enggak kerendahan tuh?" tanyaku lagi. Vanya melipat kedua tangan sembari menghela napas.
"Soalnya Kakak enggak populer, enggak mau berusaha jadi populer juga, aneh, payah, enggak bisa olahraga. Pokoknya semua salahnya Kakak sendiri," kembali Vanya mengucapkan semuanya tanpa beban dan tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Oi, oi, Vanya, jangan bicara seperti itu selain kepadaku, oke? Bagiku, satu-satunya hinaan yang bisa membuatku enggak bisa tidur itu selalu datang dari kata-kata pedasmu, tahu?" timpalku.
"Yah, coba Kakak pikirkan sendiri. Kakak tetaplah Kakak. Mau kembali dari tiga tahun lalu maupun seratus tahun sekalipun, Kakak ya tetap Kakak. Ujung-ujungnya, Kakak cuma bisa mengerjakan apa yang mampu Kakak lakukan," ucap Vanya. Aku membatu dan mengiyakan perkataannya ....
Begitulah akhir cerita ketika aku curhat ke Vanya ....
Melakukan perjalanan waktu bukan berarti aku menjadi punya kemampuan khusus atau bisa dengan mudah berhadapan dengan orang-orang. Yah ... kecuali aku bereinkarnasi dan memperoleh kekuatan dari sebuah sistem yang entah dari mana datangnya dan rasanya itu konyol serta tidak masuk akal. Namun kenyataannya, aku kembali tanpa mendapatkan keistimewaan apa pun. Kurasa hidupku akan berjalan sama seperti sebelumnya; begitu tenang, lalu tiba-tiba aku sudah lulus SMA.
Aku sempat berpikir, “Sial!! Tahu begini, aku bakal selalu cek pasar saham di kehidupan sebelumnya. Aku bisa jadi salah satu dari sembilan naga di kehidupan kedua ini!” Gara-gara penyesalan itu, aku memutuskan untuk belajar menggunakan semua ilmu yang pernah kupelajari di kehidupan sebelumnya. Ini sesuai dengan apa yang Vanya sarankan padaku. Sisanya, aku akan memulai hidup lagi dengan biasa-biasa saja, seperti di kehidupanku yang dulu.
Di sisi lain, ketika melihat kehidupan Maya dari jauh, aku kagum melihat dia bisa selalu berkumpul bersama teman-temannya. Meski kami tidak pernah saling bicara di sekolah, terkadang Maya mengirimi aku pesan WA. Awalnya aku kaget sekaligus senang karena aku pikir nomornya hanya akan menjadi kontak mati yang tidak pernah saling bertukar pesan sepanjang hidup. Namun, aku hanya bersemangat pada saat pertama kali Maya mengirim pesan, selanjutnya aku malas untuk menanggapi. Mungkin karena aku ini adalah seorang penyendiri, ya ....
Bagian tersulit dari hubungan interpersonal adalah mempertahankan, bukan membangun ....
Bip ... biiipp ... Bunyi tanda ada pesan masuk.
***Chatting bersama Maya***
“Gimana kabarnya?” (Pesan masuk. Beruntung karena Maya tipe orang yang jelas dan sederhana kalau chatting).
“Baik-baik saja, kurasa.” (Pesan dikirim).
“Beneran? Kamu sudah punya teman di kelas?” (Pesan diterima).
“Ya. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang.” (Pesan dikirim).
“Syukurlah, tadinya aku khawatir karena kamu orang yang penyendiri dan punya sedikit teman di kelas.” (Pesan diterima).
“Jangan meremehkanku. Bukan sedikit, tapi NOL. Karena itu sangat dekat dengan tidak ada sama sekali.” (Pesan dikirim).
“Kamu ngomong sok gitu taunya emang enggak punya teman. Padahal aku sudah mengobrolkan hal sensitif begini dengan halus, lho.” (Pesan diterima).
“Kalau kamu seluang itu untuk memikirkanku, berarti keadaanmu di sana nyaman-nyaman saja, ya?” (Pesan dikirim).
“Aman saja, keadaanku bagus karena aku punya banyak teman.” (Pesan diterima).
“Baguslah.” (Pesan dikirim).
“Nah, sekarang kita sudah terbiasa ngobrol, bagaimana kalau kita ketemuan di suatu tempat?” (Pesan diterima. Aku terkejut membaca pesan dari Maya itu).
“Ah, enggak ah. Aku enggak ada niat menggaetmu bertemu secara offline dengan chatting ini.” (Pesan dikirim).
“APA MAKSUDMU MENGGAET OFFLINE?!! Aku cuma ngerasa membicarakan hal penting seperti ini lebih baik dibicarakan secara offline, tahu!!” (Pesan diterima. Yah, sepertinya Maya sangat marah).
“Teman-teman akan membencimu kalau kamu terlalu memaksa, lho.” (Pesan dikirim).
“KENAPA JADI AKU YANG SEOLAH MOHON-MOHON BUAT BERTEMU DENGANMU?!” (Pesan diterima. Yah, Maya semakin marah).
“Terus apa? Jangan bilang kamu punya rasa suka padaku.” (Pesan dikirim. Setelahnya, aku tidak mendapatkan balasan lagi).
Aku rasa aku agak keterlaluan kali ini. Saat aku hendak menyampaikan kata maaf, tiba-tiba pesan dari Maya kembali masuk.
“Gak, itu gak mungkin kan.” (Pesan diterima).
“Nah, justru itu kita akan mengetahuinya nanti kalau waktunya tiba, oke? Sampai jumpa.” (Pesan dikirim).
“Hah? Kamu ini ngomong apa sih?” (Pesan diterima).
***Pesan Berakhir***
Aku mengabaikan pesan terakhir Maya. Tidak, ini bukan karena aku mengiriminya kalimat yang aneh, melainkan karena aku sudah sampai di tahap deg-degan membaca keinginan Maya untuk bertemu denganku secara offline. Aku benar-benar tidak menantikan pertemuan itu, oke? Lebih tepatnya, aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kami berdua, oke?
...Aku sampai tidak bisa tidur di malam pada hari itu...
Lagi pula, kenapa juga Maya mau mengurusi pertemanan dan kehidupan di sekolahku? Memangnya dia ibuku? Orang tuaku saja tidak pernah membahas hal itu.
Kembali ke kehidupan hari kesepuluh sejak bangkit kembali. Aku menikmati makan siang saat jam istirahat sekolah di dalam kelas. Setelah makan siang, aku yang tidak punya teman ini melanjutkan aktivitas dengan membaca sebuah komik sambil tetap duduk di bangkuku. Hanya dengan cara seperti ini aku bisa menghabiskan waktu sampai bel tanda istirahat berakhir berdering. Bahkan karena hal ini, aku jadi tidak perlu mengangkat kepalaku untuk menatap anak-anak ekstrover yang kebetulan lewat di depanku.
Kasta murid ditentukan dari seberapa keras suara mereka ketika berbicara dengan kelompoknya. Semakin keras suara mereka, maka semakin berkuasa pula mereka di dalam kelas. Sebaliknya, kelompok yang lemah benar-benar tidak boleh bicara terlalu keras. Mereka seperti burung pegar yang harus berteriak untuk menjaga wilayah teritorialnya, membuat seorang serigala penyendiri sepertiku jadi tidak berani untuk bersuara.
Namun, hal itu tidak akan menjadi masalah kalau aku sendiri sudah bisa menerimanya, karena ... hei, kenapa ada seseorang yang berdiri tepat di sebelahku sampai membuatku berhenti berbicara dalam hati?
Aku pun menoleh sedikit karena rasa penasaran. Ketika kutatap wajahnya, aku cukup terkejut karena dia adalah Elma Kroos, si anak bandel tetapi cantik di kelasku. Dia anak yang sangat ekstrover dengan rambut panjang ikal berwarna pirang yang diikat samping. Dia pergi ke sekolah dengan berdandan, ditambah lagi potongan rok pendeknya semakin menambah kesan kalau dia adalah anak nakal di kelas ini.
Aku menatap matanya yang terpaku memandangi komik di tanganku. Tidak lama kemudian, mungkin setelah dia selesai membaca sekilas, tatapan mata yang tajam namun lentik itu beralih menatapku. Dia terdiam beberapa saat dengan tatapan seperti itu, sampai-sampai rasanya aku seperti sedang diintimidasi. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai tiba-tiba dia mengucapkan...
"Jijik," celetuknya dengan ekspresi wajah seolah-olah dia sedang menatap tumpukan kotoran kucing yang telah terinjak.