Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang Berdarah dan Bau Bawang Goreng
Setelah kejadian "penamparan lalat" yang legendaris di restoran Don Moretti, reputasi Leon Vancort di dunia bawah mengalami pergeseran yang sangat aneh. Ia bukan lagi sekadar mafia kejam yang ditakuti; kini ia dikenal sebagai pria yang membawa "malaikat maut berwajah bodoh" ke mana-mana.
Pagi ini, markas besar Vancort tidak lagi sesunyi biasanya. Di dapur utama, yang biasanya hanya diisi oleh koki-koki profesional bersertifikat internasional, kini terjadi sebuah invasi. Ailen, dengan celemek bergambar ayam jago yang ia temukan entah di mana, sedang sibuk mencincang bawang goreng dengan kecepatan yang menyaingi mesin industri.
"Satu... dua... tiga... Hiyat!"
Trak! Trak! Trak!
Pisau dapur di tangannya bergerak sangat cepat hingga membentuk bayangan. Para koki hanya bisa berdiri di pojok ruangan, memegang spatula mereka dengan gemetar. Mereka ingin melarang, tapi mereka tahu gadis ini adalah pengawal pribadi sang bos besar yang sanggup melumpuhkan sepuluh pria hanya dengan sandal jepit.
"Ailen, apa yang kau lakukan di sini?" suara dingin Leon menggema dari pintu dapur.
Ailen menoleh, wajahnya penuh dengan air mata yang bercucuran. Leon terkejut. Untuk sesaat, hatinya yang keras seperti batu karang itu bergetar. Apakah Ailen terluka? Apakah ada musuh yang menyusup ke dapur?
"Mas Leon..." isak Ailen sesenggukan. "Mas... ini... hiks..."
"Ada apa? Siapa yang melakukannya?" Leon melangkah maju, tangannya refleks meraba senjata di pinggangnya. Matanya memancarkan aura membunuh yang sanggup membekukan ruangan.
"Bawangnya, Mas! Bawangnya jahat banget!" raung Ailen sambil menunjukkan tumpukan bawang merah yang sudah hancur. "Dia bikin mata saya pedes, lebih pedes daripada liat mantan jalan sama selingkuhannya! Padahal saya cuma mau bikin nasi uduk buat sarapan kita!"
Leon membeku. Aura membunuhnya langsung layu seperti kangkung kena air panas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol hasratnya untuk membenturkan kepalanya sendiri ke tembok marmer.
"Kau menangis... karena bawang?"
"Iya! Mas nggak punya perasaan banget sih! Ini bawang merah lho Mas, bukan bawang putih yang di sinetron itu. Dia kuat banget serangannya!" Ailen mengusap air matanya dengan ujung celemek, meninggalkan noda merah sisa bawang di pipinya. "Lagian, Mas mau ke mana pagi-pagi udah rapi begini? Mau nyari istri baru ya?"
Leon merapikan kerah jasnya. "Kita ada urusan. Intelijenku baru saja menemukan gudang penyimpanan senjata milik keluarga Moretti yang sebenarnya disabotase oleh pihak ketiga, klan Black Cobra. Kita akan ke sana untuk... melakukan pembersihan."
Ailen langsung berdiri tegak. Matanya yang tadinya berair karena bawang, kini berbinar tajam. "Pembersihan? Kayak fogging nyamuk gitu? Oke! Bentar, saya bawa bekal dulu. Perang kan butuh tenaga, Mas. Nggak lucu kalau pas lagi baku hantam tiba-tiba saya pingsan gara-gara kurang glukosa."
Tanpa menunggu persetujuan Leon, Ailen menyambar kotak makan plastiknya yang berisi nasi uduk darurat dan—tentu saja—seplastik besar bawang goreng hasil "perjuangannya" tadi.
Perjalanan menuju gudang di pinggiran kota itu terasa sangat panjang bagi Leon. Bau bawang goreng memenuhi kabin mobil mewah itu. Marco, sang sopir, sampai harus membuka sedikit jendela karena matanya mulai pedih.
"Ailen, simpan benda itu," perintah Leon sambil menunjuk plastik bawang goreng di pangkuan Ailen.
"Nggak bisa, Mas. Ini senjata rahasia," sahut Ailen sambil asyik mengunyah kerupuk yang dicocol ke sambal nasi uduknya. "Mas mau? Enak lho. Ini nasi uduk resep rahasia turun temurun dari tetangga saya yang jualan di depan gang."
"Aku tidak makan nasi di dalam mobil," jawab Leon tegas.
"Pantesan Mas kurus dan pucat. Kurang asupan karbohidrat sih. Sini, satu suap aja. Aaa..." Ailen menyodorkan sesendok nasi uduk tepat ke depan bibir Leon.
Leon menatap sendok itu, lalu menatap Ailen. Para penjaga di mobil belakang mungkin akan mengundurkan diri secara massal jika melihat bos mereka disuapi nasi uduk oleh gadis semprul. Namun, entah kekuatan gaib apa yang merasuki Leon, ia akhirnya membuka mulutnya sedikit dan menerima suapan itu.
"Gimana? Mantap kan?" tanya Ailen semangat.
Leon mengunyah pelan. Matanya sedikit membelalak. Sial, ini benar-benar enak, batinnya. Namun, harga dirinya sebagai mafia tetap nomor satu. "Biasa saja. Terlalu banyak santan."
"Halah, bilang aja ketagihan," goda Ailen sambil mencolek hidung Leon, membuat pria itu hampir tersedak.
Sesampainya di lokasi, suasana berubah drastis. Gudang itu adalah kompleks tua yang dikelilingi oleh pagar kawat berduri. Di dalamnya, puluhan anggota Black Cobra terlihat sedang memindahkan peti-peti kayu berisi senapan otomatis.
Leon memberikan instruksi melalui radio. "Grup A dari utara, Grup B dari selatan. Aku dan Ailen akan masuk melalui pintu utama. Jangan sisakan satupun dari mereka yang memegang senjata."
"Siap, Mas Bos!" Ailen melakukan gerakan hormat yang salah tangan.
Mereka bergerak dengan taktis. Leon adalah predator yang efisien. Dengan pistol berperedam, ia menjatuhkan dua penjaga di gerbang tanpa suara. Ailen mengikuti di belakang, bergerak dengan kelincahan seorang ninja, namun dengan suara yang sangat tidak ninja.
"Aduh, sepatunya bunyi cit-cit nih, Mas. Tadi saya cuci lupa dikeringin," bisik Ailen dengan suara yang masih bisa terdengar sampai jarak sepuluh meter.
Leon memberikan isyarat agar Ailen diam. Saat mereka masuk ke dalam gudang utama, mereka langsung disambut oleh hujan peluru. Tatatatatata!
Leon berlindung di balik tumpukan kontainer baja. "Ailen! Berlindung!"
Ailen justru melakukan gerakan yang membuat jantung Leon hampir copot. Ia berlari zigzag di antara desingan peluru, lalu melakukan slide di bawah truk besar.
"Mas Leon! Mereka banyak banget! Saya nggak bisa fokus kalau perut saya bunyi!" teriak Ailen dari bawah truk.
"Gunakan senjatamu!" teriak Leon sambil membalas tembakan musuh.
Ailen merogoh tas kecilnya. Bukannya mengeluarkan pistol, ia justru mengeluarkan... plastik bawang goreng yang tadi ia cincang di dapur.
"Rasakan ini, para Cobra Karatan!" Ailen melempar segenggam bawang goreng yang sangat halus ke arah kipas angin industri besar yang sedang menyala di tengah gudang.
Seketika, kipas angin itu meniupkan partikel bawang goreng yang halus dan tajam ke seluruh ruangan. Karena bawang itu baru saja dicincang dan masih mengandung sari yang sangat kuat, udara di dalam gudang langsung berubah menjadi gas air mata organik yang sangat menyengat.
"UHUK! UHUK! MATA GUE!"
"APA INI?! KENAPA BAU DAPUR?!"
"PEDEEEESSS!"
Para anggota Black Cobra mulai melepaskan senjata mereka untuk mengucek mata yang perih luar biasa. Pandangan mereka kabur, dan mereka terjatuh sambil bersin-bersin tanpa henti.
Leon tertegun. Ia menatap udara yang dipenuhi serpihan bawang goreng, lalu menatap Ailen yang sedang memakai kacamata renang bermotif bunga-bunga yang entah sejak kapan ia kenakan.
"Sekarang, Mas! Hajar!" teriak Ailen.
Ailen melesat maju. Tanpa senjata api, ia menggunakan teknik bela diri yang brutal namun estetis. Ia memberikan tendangan memutar ke arah kepala musuh, melakukan bantingan tulang belakang, dan menggunakan plastik kosongnya untuk membungkus kepala salah satu musuh hingga pria itu pingsan karena panik.
Leon tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bergerak seperti malaikat maut, melumpuhkan sisa-sisa musuh dengan akurasi yang mematikan. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, gudang yang tadinya penuh dengan musuh bersenjata lengkap kini berubah menjadi kumpulan pria dewasa yang menangis tersedu-sedu karena pedihnya bawang.
Di tengah gudang yang berantakan, di antara peti senjata dan bau bawang yang menyengat, Ailen berdiri sambil berkacak pinggang. Kacamata renangnya masih terpasang, memberikan kesan pahlawan super paling konyol dalam sejarah mafia.
"Mas Leon, misi selesai! Gimana? Strategi bawang goreng saya lebih efektif daripada bom asap kan?" tanya Ailen dengan bangga.
Leon berjalan mendekati Ailen. Ia melepas kacamata renang gadis itu dengan perlahan. Matanya menatap dalam ke arah mata Ailen yang jernih. Ada rasa lega, ada kekaguman, dan ada sedikit rasa malu karena ia baru saja diselamatkan oleh bumbu dapur.
"Kau... benar-benar berbahaya, Ailen," bisik Leon. "Tapi lain kali, tolong jangan buat aku bau seperti tukang nasi goreng."
Ailen tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar sangat kontras di tengah gudang berdarah itu. "Hehe, maaf Mas. Tapi jujur deh, Mas kalau lagi bau bawang begini malah kelihatan lebih 'merakyat'. Nggak kaku kayak manekin lagi."
Tiba-tiba, seorang musuh yang masih tersisa mencoba merangkak dan meraih pistolnya. Tanpa menoleh, Ailen melemparkan sandal jepit kirinya (yang ia beli di Bab 2) tepat mengenai dahi pria itu dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya pingsan seketika.
"Heh! Jangan ganggu momen romantis saya sama Mas Van Houten!" omel Ailen pada pria pingsan itu.
Leon tersenyum. Ya, Leon Vancort benar-benar tersenyum. Senyum tipis yang tulus. "Romantis? Di tempat penuh tangisan pria dan bau bawang ini?"
"Lho, justru ini namanya anti-mainstream, Mas. Nanti kalau kita nikah, kita bikin resepsi di gudang senjata aja. Souvenirnya granat sama bawang merah," goda Ailen sambil mengerlingkan mata.
"Jangan berharap terlalu jauh," sahut Leon sambil berbalik menuju pintu keluar, tapi tangannya tetap menggenggam lengan Ailen, menariknya agar tetap berada di sampingnya.
Saat mereka berjalan keluar, para anak buah Leon yang baru saja masuk untuk membereskan sisa-sisa musuh hanya bisa melongo. Mereka melihat bos mereka yang ditakuti berjalan berdampingan dengan seorang gadis yang hanya memakai satu sandal, membawa kotak makan kosong, dan menyebarkan aroma bawang merah yang sangat kuat.
"Bos..." panggil Marco dengan ragu.
"Jangan tanya apa-apa, Marco," potong Leon cepat. "Cari tahu siapa yang memproduksi kacamata renang motif bunga itu. Aku ingin membeli perusahaannya supaya benda itu tidak pernah diproduksi lagi."
Ailen tertawa keras sambil merangkul lengan Leon. "Mas! Mas cemburu ya sama kacamata saya? Bilang aja kalau Mas pengen punya yang motif hello kitty!"
"Diam, Ailen. Atau aku benar-benar akan menembakmu."
"Tembak pake apa, Mas? Tembak pake cinta ya?"
Dunia mafia yang gelap dan dingin itu perlahan-lahan mulai terasa hangat. Bukan karena api ledakan, tapi karena kehadiran seorang gadis semprul yang membuktikan bahwa di antara desingan peluru, tawa bisa menjadi senjata yang paling mematikan.
Malam itu, di kediaman Vancort, Leon mendapati sebuah toples kecil di meja kerjanya. Di dalamnya terdapat bawang goreng paling krispi yang pernah ia lihat, dengan sebuah catatan kecil di atasnya:
"Buat Mas Leon yang ganteng tapi kaku. Dimakan ya, biar nggak gampang nangis kalau aku tinggal. — Ailen Cantik."
Leon mengambil sedikit bawang itu, memakannya, dan tersenyum dalam kesunyian. "Gadis gila," gumamnya, sebelum kembali merencanakan penaklukan dunia bawah yang kini terasa jauh lebih menyenangkan.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍