⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Fakta sesungguhnya
Kericuhan terjadi di pantai kota sore itu. Beberapa pengunjung berteriak histeris ketika melihat beberapa gelombang yang cukup tinggi tadi masih tak kunjung reda. Angin yang kencang membuat gelombang menjadi cukup tinggi.
"Ada apa ini??!" salah satu pria yang baru saja tiba di lokasi itu menanyakan penyebab kericuhan yang terjadi.
"Barusan ada yang tenggelam, Mas. Cewek. Lagi duduk sendirian di bibir pantai tadi," ucap salah satu bapak-bapak penjual kelapa.
Seketika Devan teringat akan Hanum. Instingnya mengatakan Hanum tidak baik-baik saja.
"Ciri-ciri nya bagaimana, Pak?" Devan semakin penasaran.
"Masih muda, Mas. Dia pakai hijab biru tadi, kulitnya putih dan setelannya muslimah, Mas. Cuman dari eskpresi yang saya lihat tadi, dia kelihatan sedih begitu, Mas," terang bapak-bapak penjual kelapa itu.
Mendengar penjelasannya, Devan semakin gundah. Dia mencoba menelepon Hanum, tapi tidak terangkat sama sekali. Apa jangan-jangan benar terjadi sesuatu pada wanita itu?
Dulu, ketika SMA, Hanum dan Devan pernah mengunjungi pantai ini. Kala itu, Hanum merasa bingung karena keuangannya sedang sulit. Dia baru saja dikeluarkan dari Cafe tempat dia bekerja sebab sedang inflasi tinggi. Belum lagi dia harus membayar uang SPP sekolahnya. Devan yang mengetahuinya secara tidak sengaja melihat Hanum seorang diri duduk di hamparan pasir pantai itu.
"Kamu ngapain di sini, Hanum? Kok gak pulang?" Devan terengah-engah, lalu duduk di sebelahnya. Sementara Hanum tidak menjawab.
"Kalo ada masalah, cerita aja ke aku..," ucap Devan dengan tulus. Sejujurnya, dia memiliki perasaan kepada Hanum. Tapi dia tak berani untuk menunjukkan nya. Dia merasa segan karena Hanum adalah siswa teladan dan selalu meraih juara satu di kelasnya. Akhirnya, dia mengubur rasa sukanya itu diam-diam. Mengubahnya menjadi "pengagum rahasia" gadis itu.
"A-aku.., aku bingung, Van. Aku gak tahu harus gimana lagi.., sejak kakek aku meninggal, aku harus mencari kerja sampingan agar bisa menutupi kebutuhan aku. Tapi hari ini, tempat aku bekerja memecat ku, Van.." Hanum mencoba untuk menahan air matanya, meskipun tampak wajahnya sembap. Rambutnya yang terurai panjang sebahu itu tertiup angin. Kala itu, dia belum memaki hijab sepenuhnya.
"Sejujurnya aku capek, Van. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Papa sama mama aku gak ada, aku cuma anak tunggak, bahkan aku gak tahu saudara orang tua ku sendiri..," Hanum menjelaskannya dengan pelan. Raut wajah cantiknya terlihat sendu.
Devan menatapnya iba. Gadis pujaannya selama ini ternyata menyimpan luka yang sangat besar.
"Maaf ya, Num. Selama ini, aku gak tahu ternyata kamu menyimpan banyak luka. Aku akan coba tanya papa aku terkait pekerjaan, barangkali dia masih punya loker buat kamu," Devan mencoba menenangkan hati gadis itu.
"Gak perlu repot-repot, Van. Aku bakalan cari nanti. Aku tahu keuangan keluarga kamu juga lagi gak stabil kan?" analisis Hanum cukup akurat. Faktanya, Devan juga turut prihatin dengan kondisi keuangan keluarganya.
"Kalau bisa dipilih, aku gak mau dilahirkan ke dunia ini, Van."
Seketika Devan menatap Hanum.
"Aku lelah harus hidup sendirian. Kalau bisa aku pergi saja, ikut sama mama papa ke sana..,"
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Num. Jangan..," pinta Devan, kali ini dia serius. Betapa sakit hatinya ketika gadis pujaannya itu menyatakan hal yang menyedihkan.
"Aku janji bakalan nemenin kamu. Hanum, kamu dilahirkan ke dunia ini bukan tidak memiliki arti. Aku yakin, suatu saat akan ada hal yang indah untuk hidup kamu. Percayalah."
"Aku minta sama kamu untuk tetap tegar ya. Mari jalani hidup lebih tangguh lagi. Aku yakin kamu bisa, Hanum..," ingin sekali Devan memeluk erat gadis itu ke dalam dekapannya. Tapi dia sadar diri, batasan itu tetap ada.
Kembali ke saat ini, Devan tampak panik.
"Sudah ditemukan! Syukurlah, dia masih hidup!" seru seseorang saat dia menghampiri orang-orang yang masih berkerumun menatap ke beberapa petugas penjaga pantai yang membopong tubuh seorang wanita di atas tandu. Devan langsung berlari dan menghampiri petugas itu. Benar saja, ternyata itu adalah Hanum.
"HANUM!" Betapa kagetnya pria itu.
"Apakah Mas suami nya?" tanya salah satu petugas itu.
"Saya.., saya temannya, pak!" seru Devan. Kemudian dia segera berlari ke parkiran, masuk ke dalam mobilnya. Mengikuti mobil ambulans dari belakang.
......................
Devan tiba bersamaan mobil ambulans yang membawa Hanum, dengan cepat dia keluar dan mengiringi beberapa petugas yang sudah menunggu di rumah sakit untuk segera dibawa ke IGD. Pria itu menatap Hanum yang wajahnya pucat, khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Mas tunggu di luar dulu ya," ucap salah seorang petugas rumah sakit memberikan syarat agar pria itu menunggu di luar.
Devan berdoa sebisa mungkin agar Hanum diberikan keselamatan. Dalam kegelisahannya, dia tiba-tiba teringat akan suami Hanum. Kemana suaminya di saat Hanum mengalami kecelakaan seperti ini? Namun, Devan tak menindaklanjuti nya sebab ia tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Terlebih itu wanita yang dulu pernah dikagumi nya itu.
"Bagaimana, Dok? Teman saya baik-baik saja?" tanya Devan saat dokter keluar dari ruangan.
"Alhamdulillah, Mas. Teman mas baik-baik saja, untung nya cepat diselamatkan. Hanya saja kondisi tubuhnya masih lemah, kita doakan saja semoga lekas membaik," ujar dokter itu kepada Devan. Pria itu berterimakasih, kemudian dia masuk ke dalam ruangan itu. Dia menatap Hanum, paras cantiknya itu masih ada sampai saat ini. Sejujurnya, dia masih menaruh hati pada wanita itu.
"Hilangkan jauh-jauh, Devan! Lo harus sadar diri!" gumam Devan pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, seorang petugas penjaga pantai tadi masuk untuk memberikan tas Hanum yang ditemukan di pantai tadi. Lalu pergi kembali meninggalkan mereka berdua.
"Aku gak tahu masalah apa yang kamu hadapi, Hanum.. tapi aku mohon, kamu harus kuat ya..," ucap pelan Devan. Dia tahu pasti bahwa Hanum sedang mengalami kesusahan. Waktu menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Dia segera menuju Musala yang ada di rumah sakit untuk menunaikan salat magrib. Di sana, dia berdoa untuk keselamatan Hanum.
Sekembalinya dari Musala, dia mendengar suara getar ponsel Hanum. Devan menduga suatu hal yang penting dari suaminya. Dia pun mengecek ponsel Hanum dan menemukan pesan yang cukup membuatnya terkejut.
Mas Bram:
Saya sudah ajukan perceraian kita. Saya kabari jika sudah dipanggil untuk persidangan nanti. Jangan hubungi saya selain urusan ini.
Tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya, Devan merasa kasihan pada Hanum. Dari dulu sampai sekarang, dia masih saja seperti yang dulu. Selalu dihadapi dengan sesuatu yang menguji kesabarannya.
"Andai saja aku yang menikahimu, Hanum..," gumam pelan Devan.