NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Dokter Ferdi dan sebelum kejadian

Rumah Sakit Umum Pusat selalu punya aroma yang sama: perpaduan antara obat pembersih lantai dan keputusasaan. Namun, bagi Dokter Ferdi, laboratorium forensiknya adalah tempat yang paling jujur. Di sini, tubuh manusia tidak bisa berbohong.

Sore itu, Ferdi sedang duduk tegak di depan mikroskop. Di bawah lensa objektifnya, terdapat sebuah slide berisi sampel cairan yang ia ambil dari sistem sanitasi kota beberapa hari lalu untuk riset pribadinya. Ia merasa air itu tampak kehilangan sifat-sifat kehidupan alaminya ketika ia lihat oleh mikroskop.

"Kenapa sebenarnya air ini?" gumam Ferdi sambil mengernyit.

Di dalam sampel air yang ia lihat, ada partikel bergerak tidak beraturan, seolah mencoba menembus kaca slide. Ferdi mencoba membandingkannya dengan kultur virus flu dan TBC di meja sebelah, namun tidak ada kemiripan. Fokusnya terganggu saat pintu labnya diketuk dengan keras.

"Dokter Ferdi! Ada laporan dari kepolisian," seorang petugas medis masuk dengan wajah pucat. "Ada kematian mendadak di sebuah toko besi di pinggiran. Polisi bilang... kondisinya sangat aneh. Mereka butuh tim forensik sekarang."

Ferdi segera berdiri. Rasa ingin tahunya sebagai ilmuwan terusik. Ia melepas jas lab putihnya, menyambar tas peralatan forensik, dan segera menuju mobil ambulans yang sudah menunggu di lobi.

...****************...

Sepanjang perjalanan, Ferdi mencoba menenangkan pikirannya. Sebagai dokter forensik, ia sudah melihat berbagai jenis kematian dari kecelakaan tragis hingga pembunuhan berencana. Namun, ada firasat tidak enak yang merayap di tengkuknya.

Begitu sampai di depan toko "Sumber Makmur", suasana terasa sangat berat. Garis polisi sudah membentang. Ferdi melangkah masuk, melewati tumpukan pipa dan baut-baut tua. Bau amis darah menyambutnya, tapi ada aroma lain sesuatu yang tajam dan sedikit berbau belerang.

Ia berjongkok di samping jenazah Pak Jaya. Matanya menyisir luka di punggung korban yang tampak seperti habis meledak.

"Tidak ada jejak proyektil... tidak ada luka bakar eksternal," bisik Ferdi pada dirinya sendiri. Ia mengambil pinset, dengan hati-hati mengambil serpihan kecil berwarna abu-abu yang menempel di pinggiran luka. Teksturnya keras, mirip mineral, bukan jaringan tubuh manusia.

Ia berdiri, melihat sekeliling toko dengan bingung. Ia bukan mencari pelaku, ia mencari penyebab. Pandangannya tertuju pada dapur kecil di pojok toko. Di sana, ia melihat sebuah gelas kosong dan tetesan air dari keran yang tidak tertutup rapat.

Ferdi berdiri memperhatikan wastafel itu sejenak. Saat ia sedang berkonsentrasi, ia melihat seorang pemuda dan seorang wanita muda berlari menuju garis polisi. Wajah mereka penuh kepanikan. Aris dan Liora.

Ferdi memperhatikan mereka sejenak, bertanya-tanya dalam hati apakah mereka tahu sesuatu yang tidak ia ketahui.

"Dok, ada temuan awal?" tanya salah satu polisi, membuyarkan lamunan Ferdi.

Ferdi menarik napas panjang, mencoba tetap terlihat profesional meski kepalanya dipenuhi pertanyaan. "Terlalu dini untuk bicara. Luka-lukanya tidak masuk akal. Saya harus membawa jenazah dan beberapa sampel ini ke lab untuk pemeriksaan lebih lanjut."

"siapa dua orang itu? Wajah mereka terlihat panik?" Tanya dokter Ferdi kepada salah seorang anggota polisi.

"Mereka hanya ingin melihat TKP dok, kami akan urus mereka dulu." ujar polisi tersebut berjalan keluar dari toko.

Saat ambulans mulai bergerak membawa jenazah Pak Jaya, Ferdi duduk di samping tandu, menatap kantong sampel berisi serpihan mineral tadi. Ia merasa seperti sedang memegang kepingan teka-teki yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh manusia. Ia tidak tahu apa yang memulai ini.

...****************...

Mobil ambulans berhenti tepat di depan pintu masuk departemen forensik yang sepi. Dengan cekatan, petugas memindahkan jenazah Pak Jaya ke atas brankar dan membawanya masuk ke ruang pemeriksaan yang steril. Suasana ruangan itu begitu dingin, hanya terdengar suara dengung mesin pendingin ruangan dan denting peralatan medis yang bersentuhan dengan nampan logam.

Ferdi mengenakan masker dan sarung tangan barunya. Lampu operasi di atas meja otopsi ia nyalakan, menyorot tajam ke arah tubuh tak bernyawa sang pemilik toko besi. Berjam-jam Ferdi berkutat di sana. Ia memeriksa setiap inci luka, melakukan insisi dengan sangat hati-hati, hingga memeriksa organ dalam secara makro.

Namun, hasilnya nihil. Secara medis, jantung Pak Jaya berhenti karena syok hebat, tapi penyebab "seperti bekas ledakan/luka bakar" internal itu tetap tidak meninggalkan jejak biologis yang masuk akal.

"Tidak mungkin..." gumam Ferdi sambil mengusap keningnya yang mulai berkeringat di balik masker. "Semua jaringan di sekitar luka ini seperti mati mendadak, tapi tidak ada racun yang terdeteksi."

Saat ia sedang terdiam merenung, Ferdi merasakan firasat aneh. Di balik kaca buram pintu ruangan mayat, ia melihat sebuah bayangan hitam. Seseorang berdiri di sana, diam, seperti sedang memperhatikan setiap gerak-gerik Ferdi melalui celah sempit.

Ferdi menajamkan pandangannya. "Halo? Siapa di sana?" panggilnya dengan suara sedikit meninggi.

Bayangan itu tidak menjawab. Begitu Ferdi melangkah mendekat, bayangan itu bergerak cepat dan menghilang dari balik kaca. Ferdi segera menghampiri pintu dan menyentakkannya hingga terbuka. Ia melongokkan kepala ke koridor rumah sakit yang panjang dan remang-remang.

Kosong. Tidak ada seorang pun di sana selain deretan kursi tunggu yang sunyi.

"Mungkin aku memang butuh tidur," bisiknya pada diri sendiri, meski detak jantungnya berkata lain.

Ferdi kembali ke meja pemeriksaan dengan perasaan yang tidak tenang. Ia menatap tubuh Pak Jaya sekali lagi. Meski belum menemukan jawaban pasti, ia telah berhasil mengisolasi beberapa mililiter cairan hitam pekat yang sebelumnya bercampur dengan darah korban. Cairan itu kini tersimpan aman di dalam tabung reaksi kecil.

Ia memutar-mutar tabung itu di bawah lampu. Cairan itu tampak berbeda dari darah biasa, ada pendaran redup yang muncul saat terkena cahaya kuat. Tanpa ia sadari, Ferdi baru saja mengamankan bukti fisik paling berbahaya yang pernah masuk ke rumah sakit ini.

Ia memutuskan untuk mengakhiri pemeriksaan malam itu. Ia harus segera membawa sampel ini ke lab pribadinya. Baginya, Pak Jaya bukan sekadar korban, tapi sebuah teka-teki medis yang mulai mengancam akal sehatnya.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!