NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Logam dan Penyesalan

*"Jangan pernah bermimpi tentang surga, Marie. Karena di tempat ini, neraka adalah satu-satunya tempat yang mau menerima keberadaanmu."*

Suara itu berat, serak, dan berbau sisa tembakau yang terbakar perlahan. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas, hanya bayangan pria yang berdiri di ambang pintu kayu tua yang berderit. Cahaya lampu neon berwarna hijau mint dari luar jendela menembus celah-celah kamar yang sempit, membiaskan cahaya di atas lantai yang basah oleh sisa hujan Oakhaven.

Aku terengah-engah, dadaku terasa sesak. Rasa sakit ini asing—bukan sakit karena peluru di dunia lamaku, melainkan rasa sakit dari tubuh yang terabaikan, tubuh yang terlalu sering dipaksa menelan air mata. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa terlalu cepat. Di ingatanku, aku masih ingat laboratorium bawah tanah, rasa cairan metalik dari racun eksperimental yang merenggut nyawaku, dan gelapnya pengkhianatan. Tapi sekarang? Tubuh ini terasa lebih kecil, lebih rapuh.

*"Siapa kau?"* suaraku parau, seperti gesekan kertas kasar.

Pria itu melangkah maju. Sepatu botnya yang mengilap menghantam lantai kayu dengan suara yang penuh otoritas. Dia adalah Julius Vance. Dia bukan sekadar pria dengan setelan jas hitam yang rapi; dia adalah predator yang menyatu dengan bayangan kota ini. Matanya—sepasang iris tajam yang tampak seperti obsidian—menatapku dengan nada merendahkan yang kental.

*"Pamanmu,"* jawabnya singkat, suaranya dingin, seolah kata itu hanyalah label kosong. *"Atau mungkin, seseorang yang baru saja membeli masa depanmu dari para mucikari di distrik bawah yang bangkrut itu. Kau terlihat jauh lebih menyedihkan daripada yang aku bayangkan, Marie."*

Aku tertawa sinis, meski tenggorokanku terasa terbakar. *"Jadi, aku berpindah dari satu neraka ke neraka yang lebih elit? Apa yang kau inginkan dari gadis yang bahkan tidak punya harga diri lagi ini, Julius?"*

Julius berhenti tepat di depanku. Aroma parfum kayu cendana bercampur bau *Nectar* yang pekat menguar dari tubuhnya. Dia tidak menyentuhku, tapi kehadirannya begitu menekan. Dia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

*"Aku tidak membutuhkan tubuhmu untuk kesenangan rendahan,"* bisiknya, tangannya yang terawat sempurna menyentuh daguku, memaksa wajahku mendongak. *"Aku membutuhkan garis keturunanmu. Ayahmu adalah alkimia yang gila, Marie. Dan kau... kau adalah satu-satunya wadah yang tersisa dari rahasia yang bisa memurnikan pasokan Nectar di klubku."*

Aku menatapnya tajam. Di dunia lamaku, aku adalah intel terbaik yang bisa melacak target di tengah badai salju. Meski tubuh ini lemah, instingku masih utuh. Dia ingin memanfaatkanku untuk kepentingan bisnisnya.

*"Dan jika aku menolak?"* tanyaku, memberanikan diri.

*"Maka kau akan kembali ke selokan,"* jawabnya tenang. *"Kau akan membusuk di sana, di bawah pengaruh Nectar palsu yang akan membuat jiwamu membusuk dalam hitungan hari. Atau... kau bisa menandatangani kontrak darah ini, menjadi istri di atas kertas—hanya untuk urusan bisnis keluarga—dan aku akan memberimu semua kekuatan yang kau butuhkan untuk membalas dendam pada siapa pun yang membuat hidupmu, Marie Vance berakhir seperti pecundang."*

Kata-kata 'balas dendam' itu bergetar di udara. Dia mengira dia tahu alasan Marie asli sangat membenci keluarganya, padahal itu adalah kebencian yang kini kupinjam sebagai bahan bakar.

*"Pernikahan?"* tanyaku, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. *"Kau menggunakan hukum kuno Vance untuk menjeratku? Ini bukan pernikahan, Julius. Ini adalah perbudakan yang dibungkus dengan gaun pengantin."*

*"Pilihan yang menarik,"* Julius terkekeh, suara tawanya tidak mencapai matanya. *"Tapi di Oakhaven, kebebasan adalah kemewahan. Aku menawarkanmu kendali atas musuh-musuhmu. Sebagai gantinya, kau memberikan kesetiaanmu padaku. Secara hukum, secara darah, dan secara mutlak."*

Aku menatap kontrak itu. Segel lilin hitam berbentuk cawan terbalik. Kontrak darah. Sesuatu yang akan mengikat nyawaku dengannya.

*"Jika aku menandatangani ini,"* aku menatapnya tepat di mata, *"aku tidak akan menjadi istri yang patuh di ranjangmu, Julius. Aku akan menjadi bayangan yang akan memastikan semua musuhmu habis tak bersisa. Apakah kau cukup berani untuk memelihara harimau di rumahmu sendiri?"*

Julius tersenyum tipis. Dia menarik tangan dari daguku, lalu menyodorkan pena dari tulang hewan.

*"Harimau adalah peliharaan yang sangat menarik,"* sahutnya pelan. *"Tapi ingat satu hal, Marie. Di The Black Cup, aku adalah tuannya. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti keponakan yang butuh kasih sayang."*

Aku meraih pena itu. Jarum di ujungnya terasa tajam. Aku menekan ujung pena ke ibu jariku. Darah merah segar keluar, menetes ke atas kontrak. Sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhku—sihir hitam yang terkandung di dalam kontrak itu seolah menyatu dengan aliran darahku.

*"Selamat datang di keluarga, istriku,"* bisik Julius tepat di telingaku saat aku hampir ambruk karena efek ikatan sihir tersebut.

Tiba-tiba, pintu kamar didobrak dengan keras. Suara ledakan magis menggetarkan ruangan, dan asap tebal berwarna ungu memenuhi udara. Beberapa pria bersenjata—dengan lencana keluarga rival—masuk dengan senjata api yang dimodifikasi sihir.

Julius bahkan tidak bergeming. Dia hanya melirik ke arah pintu tanpa sedikit pun rasa takut.

*"Sepertinya, bulan madu kita harus dimulai dengan pertumpahan darah, Marie,"* katanya, sementara tangan kanannya mengeluarkan aura gelap yang membentuk bilah pedang. *"Tunjukkan padaku, apakah kau memang seberani mulutmu, atau hanya gadis bangsawan yang beruntung selamat dari maut."*

Aku menyambar belati kecil di bawah bantal—sisa pertahanan Marie—dan berdiri tegak. Meski tubuh ini lemah, tekadku sudah membatu. Ini adalah permulaan. Dendam ini baru saja dimulai.

Namun, saat aku melangkah maju, kakiku terasa goyah. Bukan karena ketakutan, tapi karena sesuatu yang berasal dari dalam tubuh Marie yang tiba-tiba berteriak kesakitan akibat kontrak darah yang baru saja aktif.

Julius menatapku dengan seringai tajam, mengira aku hanya kelelahan karena gizi buruk. *"Oh, aku lupa memberitahumu. Darah Vance yang terikat kontrak ini memiliki efek samping kecil saat ikatan sihir pertama kali aktif... kau akan merasakan sedikit rasa sakit."*

Pria di depanku itu baru saja memulai permainan yang lebih kotor dari yang kubayangkan. Aku mengerang saat rasa dingin menjalar ke sarafku. Aku jatuh ke satu lutut, menatap musuh yang mendekat, sementara Julius hanya berdiri di sana, menunggu—menunggu untuk melihat apakah aku akan bangkit kembali.

*"Bangun, Marie,"* perintah Julius dengan nada dingin yang menusuk tulang. *"Atau kau akan mati sebelum kau sempat membalas dendam pada satu orang pun."*

Aku menatap darahku sendiri yang kini mulai berpendar kebiruan di lantai—reaksi Nectar dalam tubuhku yang dipicu oleh sihir Julius. Aku tidak akan mati di sini. Tidak lagi. Aku menggertakkan gigi, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di tulang belakangku, dan perlahan-lahan, aku memaksakan diri untuk berdiri.

Salah satu dari musuh mengarahkan senjata magisnya langsung ke arah dadaku. Cahaya hijau neon mulai terkumpul, siap meledak.

*Aku tidak akan membiarkan tubuh ini hancur sebelum aku membalaskan dendamnya,* pikirku saat cahaya itu semakin terang...

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!