Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Pertemuan dengan Sang Terpilih
Pagi hari di kawasan Menteng disambut oleh kabut tipis yang perlahan memudar disengat sinar matahari. Haena berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan kerah kemeja putih bersih berlogo Dirgantara High School sekolah elite paling bergengsi yang dikelola langsung oleh yayasan milik keluarga kandungnya. Seragam itu pas di tubuhnya yang proporsional, dipadukan dengan rok lipit selutut berwarna biru tua yang anggun.
Haena memakai kembali kacamata berbingkai transparan andalannya. Di bawah pantulan cahaya lampu kamar, tahi lalat kecil di bawah dagunya tampak jelas, memberikan aksen yang khas pada paras cantiknya yang alami. Dia sengaja tidak memulas riasan apa pun, hanya pelembap bibir tipis yang membuat penampilannya terlihat segar. Baginya, sekolah adalah tempat bertarung menggunakan otak, bukan ajang pamer kemewahan.
Tok! Tok!
"Nona Haena, mobil jemputan sudah siap di lobi bawah," suara pelayan terdengar dari balik pintu.
"Iya, saya segera turun," jawab Haena tenang.
Dia menyampirkan tas ransel hitam barunya yang tadi malam dipaksa Nyonya Rosalind untuk mengganti tas usangnya lalu melangkah keluar.
Di ruang makan lantai bawah, suasana tampak sunyi. Tuan Bramasta sudah berangkat pagi-pagi sekali karena ada rapat koordinasi darurat di kantor pusat Dirgantara Corp. Sementara itu, Nyonya Rosalind dan Vanya sedang menikmati sarapan mereka dengan anggun. Begitu Haena melangkah mendekat, pandangan Vanya langsung terkunci pada penampilan Haena. Ada secercah rasa lega sekaligus meremehkan di mata Vanya saat melihat Haena sama sekali tidak berdandan atau memakai aksesoris bermerek.
"Haena, kamu yakin tidak mau memakai sedikit perona pipi atau gelang pemberian Mama kemarin?" tanya Vanya dengan nada bicara yang terdengar sangat perhatian, seolah memikirkan penampilan saudaranya.
"Anak-anak di Dirgantara High School sangat memperhatikan penampilan. Aku takut... mereka akan berpikir yang tidak-tidak kalau melihatmu terlalu polos begini."
Haena menarik kursi di ujung meja, mengambil selembar roti gandum tanpa selai, lalu menatap Vanya dengan senyum tipis yang sarat akan makna.
"Terima kasih atas perhatianmu yang luar biasa, Vanya. Tapi kurasa, nilai raporku yang selalu sempurna jauh lebih bisa berbicara di sekolah nanti daripada sekeranjang perhiasan."
Nyonya Rosalind yang mendengar itu meletakkan cangkir teh porselennya dengan dentingan yang sedikit keras.
"Haena, jaga bicaramu. Apa yang dikatakan Vanya itu demi kebaikanmu sendiri. Di sekolah itu, kamu membawa nama besar Dirgantara. Jangan membuat kami malu karena kamu bertingkah seperti gadis yang tidak punya kelas."
"Saya mengerti, Nyonya Rosalind," jawab Haena pendek, tetap dengan ketenangan mental bajanya yang tidak terpengaruh oleh sindiran tajam tersebut. Dia menghabiskan rotinya dalam tiga gigitan, lalu berdiri.
"Saya berangkat duluan agar tidak terlambat."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Haena melangkah tegap menuju area parkir. Di sana, sebuah mobil mewah sudah menunggunya. Namun, yang tidak diketahui oleh Haena adalah Vanya telah mengirimkan sebuah pesan singkat ke grup obrolan rahasia gengnya di sekolah, menyebarkan rumor bahwa hari ini akan ada "anak haram dari kampung" yang masuk ke kelas mereka.
Tiga puluh menit kemudian, mobil mewah yang membawa Haena memasuki gerbang megah Dirgantara High School. Arsitektur sekolah ini menyerupai kampus-kampus elite di Eropa, dengan gedung-gedung berbatu alam, lapangan rumput yang luas, dan fasilitas olahraga berstandar internasional.
Puluhan mobil mewah tipe terbaru tampak berderet menurunkan para siswa yang berpakaian necis dan wangi.
Begitu Haena turun dari mobil, dia bisa merasakan atmosfer yang mendadak berubah. Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Bisik-bisik miring mulai terdengar di sepanjang koridor luar saat para siswa melihat Haena yang berjalan dengan tas ransel sederhana dan kacamata transparannya.
"Eh, itu ya anak yang dibilang Vanya? Yang katanya besar di kedai soto?"
"Ih, penampilannya polos banget. Kok bisa sih om-om pengacara kemarin bilang dia darah daging asli Keluarga Dirgantara?"
"Paling cuma kebetulan mirip. Tetap aja kelihatan nggak punya kelas."
Haena mendengar semua cibiran itu dengan jelas. Namun, langkah kakinya tidak melambat sedikit pun. Punggungnya tetap tegak lurus, dan pandangannya menatap ke depan dengan sangat fokus.
Di dunia lamanya, dia sudah terbiasa menghadapi preman pasar dan pelanggan kedai yang kasar. Intimidasi verbal dari anak-anak remaja manja ini sama sekali tidak bisa menggores mental bajanya.
Ckiiiiiit!
Suara decitan ban mobil yang sangat keras mendadak memotong semua obrolan di halaman sekolah. Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam legam dengan raungan mesin V8 yang menggelegar berbelok tajam dan berhenti tepat di samping tempat Haena sedang berjalan.
Kecepatan mobil itu begitu tinggi hingga menyemburkan embusan angin yang membuat beberapa helai rambut panjang Haena berterbangan.
Semua siswa di halaman sekolah seketika terdiam, menahan napas mereka. Mereka tahu persis siapa pemilik mobil sport bernomor plat tunggal tersebut.
Pintu mobil terbuka ke atas secara otomatis. Dari dalam kabin, melangkah keluar seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, sekitar 185 sentimeter. Dia mengenakan seragam sekolah dengan kancing atas yang sengaja dibuka, memberikan kesan pemberontak namun tetap sangat berwibawa.
Garis rahangnya tajam bagai pahatan, matanya sedingin es, dan auranya begitu dominan hingga membuat orang-orang di sekitarnya secara tidak sadar mundur beberapa langkah untuk memberi jalan.
Pemuda itu adalah Kaelen Arkananta. Pewaris tunggal dari Arkananta Group, dinasti bisnis raksasa yang menjadi rekanan utama sekaligus satu-satunya pihak yang mampu menandingi kekuatan finansial Dirgantara Corp.
Di sekolah ini, Kaelen adalah "raja" yang tak tersentuh. Dia dingin, angkuh, cerdas, dan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain.
Kaelen menutup pintu mobilnya dengan dentuman keras, lalu mengedarkan pandangannya yang tajam. Saat matanya menyapu halaman sekolah, tatapannya mendadak berhenti tepat pada sosok Haena yang berdiri hanya dua meter dari mobilnya.
Biasanya, setiap gadis yang ditatap oleh Kaelen akan langsung menunduk malu atau mencoba mencari perhatian. Namun, Haena justru melakukan hal yang sebaliknya. Dari balik kacamata transparannya, Haena membalas tatapan sedingin es milik Kaelen dengan pandangan yang sangat tenang, datar, dan tak gentar sedikit pun. Ada kilatan kecerdasan dan kekuatan mental yang begitu pekat di dalam manik mata Haena, sesuatu yang belum pernah dilihat Kaelen pada gadis mana pun di lingkaran sosialnya.
Kaelen tertegun selama beberapa detik. Tatapannya turun perlahan, memperhatikan tahi lalat kecil di bawah dagu Haena yang tampak kontras dengan kulit putih bersihnya. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada pemuda dingin itu.
Kaelen melangkah mendekat ke arah Haena. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa satu langkah.
Aura intimidatif Kaelen yang begitu kuat menekan udara di sekitar mereka, membuat para siswa yang menonton dari kejauhan mulai berbisik panik, mengira Kaelen akan mengusir murid baru itu karena menghalangi jalannya.
"Kamu murid baru yang sedang ramai dibicarakan itu?" tanya Kaelen dengan suara baritonnya yang berat, dingin, namun terdengar sangat jernih di tengah keheningan halaman sekolah.
Haena tidak mundur selangkah pun. Dia mendongak tipis untuk menatap mata Kaelen yang tinggi, lalu menjawab dengan nada suara yang sama tenangnya.
"Benar. Saya Haena. Dan jika mobilmu yang sangat bising ini sengaja direm mendadak hanya untuk menanyakan namaku, kurasa itu tindakan yang sangat tidak efisien, Tuan Arkananta."
Deg!
Seluruh halaman sekolah mendadak diliputi keheningan yang mencekam. Beberapa siswi bahkan membekap mulut mereka karena syok. Tidak ada satu pun orang di sekolah ini, bahkan para guru sekalipun, yang berani berbicara dengan nada menyindir dan menyebut nama belakang Kaelen dengan begitu santai.
Gavin, sahabat kental Kaelen yang baru saja turun dari mobil lain di belakangnya, langsung terbelalak kaget. Dia menatap Haena dengan pandangan tidak percaya, lalu berbisik pada dirinya sendiri,
"Wah... gadis ini benar-benar punya nyali baja."
Kaelen sendiri sempat terdiam mendengar jawaban berani Haena. Namun, alih-alih marah seperti yang diduga semua orang, sudut bibir tipis Kaelen perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka—sebuah senyuman ketertarikan yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapa pun selama hidupnya.
"Haena..." Kaelen menggumamkan nama itu dengan pelan, seolah sedang merekam setiap suku katanya di dalam ingatan.
"Kekuatan mentalmu cukup menarik. Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa mempertahankan tatapan matamu yang berani itu di sekolah ini."
"Saya jamin, sampai hari kelulusan tiba pun, pandangan saya tidak akan pernah berubah, Kaelen," balas Haena tegas, sengaja memanggil nama depan pemuda itu tanpa embel-embel formalitas.
Setelah melempar kalimat terakhirnya, Haena membetulkan letak tas ranselnya, berbalik dengan anggun, dan melanjutkan langkah kakinya menuju gedung utama sekolah tanpa memedulikan Kaelen yang masih berdiri menatap punggungnya. Rambut panjangnya yang lurus bergoyang pelan seiring dengan langkah kakinya yang mantap.
Kaelen tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat, memandangi punggung Haena yang kian menjauh menembus kerumunan siswa.
Sifat Haena yang kuat secara fisik dan mental, dikombinasikan dengan kecerdasannya yang langsung terlihat dari cara bicaranya, telah berhasil meruntuhkan dinding pembatas di hati Kaelen yang selama ini terkenal tak tersentuh.
Gavin segera berlari kecil menghampiri Kaelen dan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Bro! Kamu serius membiarkan gadis baru itu bicara begitu padamu? Siapa sih dia sebenarnya?"
Kaelen tidak langsung menjawab. Dia berbalik, berjalan menuju koridor kelas dengan langkah santai, namun matanya memancarkan kilatan protektif yang sangat tajam.
"Dia adalah Haena. Dan mulai hari ini, Gavin... pastikan tidak ada satu pun serigala di sekolah ini yang berani menyentuhnya tanpa seijinku."
Di sudut koridor lantai dua, Vanya yang menyaksikan seluruh interaksi tersebut dari jendela kelas langsung mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Wajah cantiknya berkerut penuh kedengkian. Rencana awalnya untuk mempermalukan Haena di hari pertama justru berbalik menjadi panggung besar bagi Haena untuk menarik perhatian Kaelen pria yang selama bertahun-tahun dikejar Vanya namun tak pernah sekalipun meliriknya.
Pertempuran sesungguhnya di Dirgantara High School telah resmi dimulai, dan sang cinta sejati telah menjatuhkan pilihannya pada sang putri yang kembali.
(Cliffhanger)
"Saat jam pelajaran pertama dimulai, guru kelas mengumumkan sebuah ujian mendadak berskala nasional yang sangat sulit untuk menentukan perwakilan olimpiade sekolah. Vanya dan gengnya tersenyum licik, yakin bahwa Haena yang besar di pinggiran kota akan mendapatkan nilai nol besar dan mempermalukan nama Keluarga Dirgantara di depan seluruh dewan guru. Namun, mereka tidak tahu rahasia besar di balik otak jenius milik Haena."