NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Bayang Bayang Sempurna Dari Masa Lalu Azzam

Bayang bayang sempurna dari masa lalu Azzam seketika menjelma menjadi sebongkah batu besar yang menyumbat seluruh pasokan udara di dalam rongga dada Hana. Potret usang di dalam kotak kayu itu menampilkan senyum merekah sang suami yang bersanding sangat dekat dengan Sarah di bawah naungan pohon kamboja surau. Kedekatan mereka yang terpancar alami tanpa sekat kecanggungan seolah merobek lembaran pernikahan baru Hana yang baru seumur jagung dijalani. Runtuh sudah seluruh kepercayaan diri yang selama ini dibangun dengan susah payah, menyisakan puing kekecewaan yang teramat pekat di dalam boks memori perpustakaan yang sunyi.

"Ternyata dugaanku selama ini tidak pernah meleset, kamu memang menyimpan ruang khusus untuk dirinya di tempat ini," bisik Hana lirih dengan suara yang bergetar hebat.

Langkah kaki yang tergesa gesa mendadak terdengar menggema dari arah pintu masuk perpustakaan, memecah kesunyian ruangan yang berdebu tipis tersebut. Azzam muncul dengan napas yang memburu, mendapati sang istri tengah memegang kotak rahasia yang selama beberapa tahun ini sengaja ia sembunyikan rapat rapat. Gurat kepanikan yang luar biasa seketika mengunci seluruh pergerakan sang ustaz muda, membuat lidahnya mendadak kelu untuk merangkai untaian kata penjelas.

"Hana, letakkan kembali kotak itu, kamu tidak berhak membuka arsip pribadi tanpa izin dariku," ujar Azzam dengan nada suara yang bergetar menahan malu.

Hana membalikkan raga, mengangkat potret tersebut tepat di depan tatapan mata suaminya yang mulai bergerak gelisah. "Apakah hak seorang istri sah harus gugur hanya untuk melindungi kenangan indahmu bersama wanita pilihan ibumu, Mas?"

"Itu hanya lembaran masa silam yang tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap komitmen suci penikahan kita saat ini," kilah Azzam mencoba mendekat guna merebut foto tersebut.

Penolakan kasar yang ditunjukkan Hana dengan cara melangkah mundur membuat jarak di antara mereka semakin membentang luas laksana jurang pemisah. Sifat lembut yang biasa melekat pada diri Hana kini menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang dipicu oleh rasa dikhianati secara terang terangan. Ia melihat suaminya bukan lagi sebagai sosok pelindung batin, melainkan laksana penipu ulung yang menyembunyikan duri tajam di balik jubah kesalehan. Ruang penyimpanan kitab kuno itu mendadak berubah fungsi menjadi saksi bisu atas retaknya fondasi rumah tangga yang baru saja sepekan mereka bina bersama.

Ketegangan di antara sepasang suami istri itu kian memuncak saat gema suara langkah kaki yang lain terdengar mendekati ruangan penyimpanan. Umi Kalsum melangkah masuk dengan keanggunan seorang penguasa tunggal asrama, diikuti oleh Sarah yang membawakan beberapa berkas catatan administrasi tahunan. Pandangan mata sang mertua langsung tertuju pada selembar foto yang masih berada di dalam cengkaman jemari Hana yang gemetar menahan emosi. Tanpa ada gurat penyesalan, wanita tua itu justru mengulas senyum tipis yang sarat akan makna intimidasi psikologis bagi menantu kotanya.

"Untuk apa kamu menangisi selembar kertas yang merekam jejak keserasian nyata yang pernah ada di pesantren ini, Hana?" tanya Umi Kalsum dengan intonasi suara yang begitu dingin menembus kalbu.

Hana menegakkan punggung, menatap lurus ke dalam manik mata wanita tua yang dihormati seluruh santri tersebut. "Umi, menyembunyikan hubungan masa lalu suami saya di bawah atap tempat saya tinggal adalah bentuk kezaliman emosional."

"Kezaliman itu hanya ada dalam pikiranmu yang sempit, karena seluruh penghuni tempat ini tahu bahwa Sarah adalah sosok menantu impian yang tertunda," sahut Umi Kalsum tanpa mempedulikan perasaan Hana.

Sarah yang berdiri di belakang Umi segera menunduk takzim, menyembunyikan seulas senyuman kepuasan yang sempat terukir di bibir tipisnya. Azzam hanya mampu terdiam membisu laksana patung batu, membiarkan ibunya kembali mengambil alih kendali atas situasi rumah tangganya yang berada di ambang kehancuran. Sikap abai sang suami menjadi hantaman paling telak yang menghancurkan sisa sisa ketabahan yang dimiliki oleh sang wanita asal kota. Hana merasa dirinya laksana seorang terdakwa yang sengaja dijebak di dalam ruang pengadilan sepihak tanpa diberikan kesempatan untuk membela kehormatan diri.

"Jika keberadaan saya di sini hanya untuk dijadikan objek pembanding, alangkah baiknya jika kita bicarakan ini secara terbuka, Mas," tantang Hana beralih menatap suaminya.

Azzam menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pandangan matanya ke arah deretan rak kitab kuno di samping raga. "Hana, tolong jaga sikapmu, tidak elok menaikkan nada bicaramu di hadapan Umi yang telah membesarkanku."

"Kepatuhanmu pada ibumu telah membutakan matamu terhadap rasa sakit yang terus menerus ditimpakan pada istrimu sendiri," ucap Hana dengan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipi.

Keputusan Azzam untuk tetap berdiri pasif di samping ibunya mempertegas posisi Hana sebagai orang asing yang sama sekali tidak berharga di lingkungan tersebut. Sentuhan angin siang yang berembus dari celah ventilasi perpustakaan terasa laksana sembilu yang mengiris tipis permukaan kulit batin sang wanita muda. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Hana melempar foto usang itu ke atas meja kerja lalu melangkah pergi meninggalkan tiga orang yang terpaku membisu. Setiap hentakan alas kakinya di atas lantai semen terdengar laksana pernyataan perang terhadap segala bentuk penindasan mental yang diterimanya sejak hari pertama.

Langkah kaki Hana membawa raganya kembali menuju paviliun belakang, tempat satu satunya di mana ia bisa menyembunyikan luka tanpa perlu dihakimi. Di dalam kamar pengantin yang kian terasa asing, ia langsung mengemas beberapa keperluan pribadi ke dalam tas kain kecil miliknya. Pikiran untuk pergi meninggalkan belenggu tradisi kaku ini sempat melintas kuat di dalam benak indahnya yang kini dipenuhi oleh kabut kekecewaan. Namun, harga diri sebagai seorang wanita berpendidikan menuntutnya untuk tidak pergi laksana seorang pecundang yang kalah sebelum pertempuran horizontal selesai digelar.

Saat malam kembali merayapi kompleks asrama putri, suasana di dalam paviliun belakang berubah menjadi laksana kuburan yang sangat mencekam. Azzam melangkah masuk ke dalam kamar dengan gerak tubuh yang sangat lambat, meletakkan peci hitamnya di atas meja dengan penuh kehati hatian. Lelaki itu melirik ke arah Hana yang duduk diam di sudut ruangan sembari memeluk sebuah kitab kecil penenang jiwa yang baru dibacanya. Keheningan yang membentang di antara sepasang anak manusia itu terasa semakin menebal, merenggut seluruh sisa kenyamanan yang pernah tercipta di awal penikahan.

"Aku berharap kamu bisa lebih dewasa dalam menyikapi masa lalu yang sebenarnya sudah lama terkubur, Hana," ujar Azzam membuka suara dengan nada yang terkesan menyalahkan.

Hana mendongak, menatap tajam ke sepasang mata suaminya dengan pandangan yang teramat dingin dan menusuk. "Kedewasaan bukan berarti harus menerima kepalsuan secara sukarela, Mas, sementara kamu terus membiarkan ibumu mengagungkan nama wanita lain."

"Sarah hadir di sini murni untuk membantu agenda pesantren, jadi tolong hentikan seluruh prasangka buruk yang merusak pikiranmu," bela Azzam dengan intonasi yang kian meninggi.

"Jika itu murni urusan pekerjaan, mengapa nama itu yang selalu menggema di ruang makan setiap kali kita berkumpul bersama?" cecar Hana membalikkan argumen suami mudanya.

Azzam memilih kembali mengunci rapat mulutnya, memalingkan muka ke arah dinding kamar yang dihiasi kaligrafi indah bermotif ukiran jepara. Ketidakmampuan sang suami untuk bersikap tegas membuat posisi Hana semakin terjepit di antara tuntutan bakti dan hak kelayakan seorang istri sah. Wanita kota itu menyadari bahwa setiap desau angin malam yang melewati jendela kamarnya membawa pesan tentang keretakan hubungan yang tidak akan pernah bisa disatukan kembali. Rasa sepi yang teramat pekat kini resmi menjadi sahabat karib bagi Hana di tengah kemegahan kompleks pesantren yang kian terasa asing dan menjerat batin.

Ketika jam dinding besar di ruang tengah berdentang sebanyak tiga kali, Hana masih setingkat terjaga dalam keheningan malam yang sunyi. Ia bangkit dari pembaringan, melangkah perlahan menuju arah meja makan kecil yang terletak di sudut dapur paviliun belakang guna mengambil segelas air putih. Pandangan matanya mendadak tertuju pada selembar kertas memo baru yang diletakkan Mbok Siti di atas meja saji dekat lemari penyimpanan piring. Dengan debar jantung yang kembali berpacu cepat, Hana membaca rentetan kalimat instruksi baru yang tertulis dengan guratan tinta hitam tebal dari sang penguasa asrama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!