Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Not Mrs. Hayes To Be Anymore
Rumah Sakit St. Mary berubah seperti medan perang malam itu. Lampu kamera memenuhi area depan gedung sejak tengah malam. Wartawan berdiri berhimpitan di balik pagar pembatas sambil terus meneriakkan pertanyaan pada setiap dokter atau staff rumah sakit yang keluar masuk gedung. Nama Julian Hayes terus memenuhi headline seluruh stasiun televisi nasional, diselingi footage mobil hitam hangus yang kini tersebar di mana mana.
“The CEO of Hayes Hospitality involved in fatal accident...”
“Public concern rises over Julian Hayes’ condition...”
“Sources claim vehicle explosion made identification difficult...”
Suara berita terus menggema dari layar televisi di ruang tunggu rumah sakit. Dan keluarga Julian hancur tepat di tengah semua itu.
Ibu Julian nyaris pingsan begitu tiba di rumah sakit. Perempuan paruh baya itu menangis histeris di pelukan suaminya sambil terus memanggil nama anak laki lakinya tanpa henti.
“Tidak mungkin itu Julian! Tidak mungkin!”
Ayah Julian berusaha tetap tenang. Namun tangannya gemetar hebat saat menandatangani beberapa dokumen rumah sakit. Wajah pria itu pucat, sementara matanya terlihat kosong seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh hidupnya dalam satu malam.
“Kami masih melakukan identifikasi,” ujar dokter hati hati. “Kondisi korban cukup parah akibat kebakaran.”
“Kami ingin melihat anak kami.”
Dokter itu langsung terdiam beberapa detik.
Lalu mengembuskan napas pelan. “Kami tidak menyarankan itu untuk saat ini.”
Kalimat tersebut langsung menghancurkan sisa harapan di wajah keluarga Julian. Dan tepat saat itulah Claire datang.
Perempuan itu turun dari mobil hitam dengan coat panjang warna gading yang bahkan belum sempat diganti sejak acara keluarga malam tadi. Rambut pirangnya sedikit berantakan terkena hujan, sementara wajah cantiknya terlihat pucat.
Claire berjalan cepat memasuki rumah sakit. Namun langkahnya melambat begitu melihat layar televisi besar di lobi. Foto Julian memenuhi seluruh layar.
Mobil terbakar. Ambulans. Tulisan merah BREAKING NEWS.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Claire benar benar terlihat kehilangan arah.
“Claire...”
Ibu Julian langsung menangis semakin keras begitu melihat calon menantunya datang. Claire buru-buru memeluk perempuan itu, meski wajahnya sendiri sudah kehilangan seluruh warna.
“Bagaimana keadaan Julian?” suara Claire terdengar pelan sekali.
Tidak ada yang langsung menjawab. Dan keheningan itu sudah cukup membuat jantung Claire perlahan jatuh.
Dokter akhirnya datang membawa sebuah kotak transparan kecil beberapa menit kemudian. “Kami menemukan beberapa barang pribadi korban di lokasi kecelakaan.”
Claire langsung membeku begitu melihat isi kotak itu. Jam tangan milik Julian. Dompet hangus. Ponsel yang retak. Dan cincin pertunangannya.
Napas Claire langsung tercekat. Karena beberapa hari lalu, Julian masih tersenyum sambil memasangkan cincin itu ke jarinya.
Perempuan itu perlahan duduk di kursi lorong seolah lututnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Tatapannya tidak lepas dari cincin hangus di dalam kotak transparan tersebut. Sunyi. Tidak ada tangisan histeris. Dan justru itu yang terasa lebih menyakitkan. Claire hanya terlihat kosong sekarang. Seolah otaknya masih menolak memahami semuanya.
Di luar rumah sakit, media mulai semakin brutal. Nama Julian Hayes memenuhi trending topic nasional dalam waktu kurang dari dua jam. Saham Hayes Hospitality langsung turun drastis sebelum pasar bahkan benar benar dibuka. Artikel-artikel tentang perjalanan hidup Julian mulai bermunculan di mana-mana.
Anak miskin yang membangun kerajaan hospitality sendiri.
Golden boy industri bisnis.
Calon suami Claire Beaumont.
Dan kini, laki-laki yang mungkin telah meninggal dalam kecelakaan tragis.
Namun dunia tidak berhenti di sana. Karena beberapa jam kemudian, media lain mulai menampilkan berita berbeda. Jauh dari rumah sakit. Jauh dari duka.
“Hollywood Sources Confirm Serena Roe’s Attendance at Midnight Premiere Gala.”
Foto Serena memenuhi layar entertainment channel.
Perempuan itu terlihat turun dari private jet di Los Angeles dengan coat hitam panjang menutupi tubuh rampingnya. Damien Knox berjalan tepat di samping Serena sambil menggenggam pinggang perempuan tersebut erat, wajahnya tetap tenang di tengah kilatan kamera internasional.
“Sources claim Serena Roe arrived in Los Angeles late last night alongside Damien Knox for an exclusive Hollywood premiere event.”
“Insiders report the couple may remain in North America for several weeks.”
Kontras berita itu terasa nyaris tidak manusiawi. Sementara kota ini masih begitu berduka atas kecelakaan Julian Hayes. Damien Knox dan Serena Roe muncul di headline Hollywood. Dan ketika berita tersebut akhirnya muncul di layar televisi rumah sakit, Claire perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya terpaku cukup lama pada foto Serena dan Damien di Los Angeles.
Entah mengapa, dadanya terasa dingin.
...----------------...
...To be continue...