NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 : Manusia berjiwa iblis

KONTRAKAN RANTI 08:20 WIB

13/09

Matahari udah masuk dari celah jendela garis tipis jatuh ke lantai. Debu-debunya kelihatan terbang pelan. Di dapur kecil, Ranti lagi nuang air panas ke cangkir. Uapnya naik. Teh celup satu. Gulanya setengah sendok. Dia aduk pelan.

Di kasur, Naya mulai gerak. Alisnya ngerut dulu. Terus matanya kebuka pelan. Silau. Dia ngedip dua kali. Langit-langit biru muda yang ngelupas itu hal pertama yang dia lihat.

Kemarin malam dia memang sudah di perbolehkan untuk pulang, Ranti yang mengajak Naya ke kontrakannya.

Naya memakai daster tidur milik Ranti. Baju yang terakhir kali dia pakai entah sudah ada di mana.

"Sudah bangun, Nay?"

Suara Ranti bikin Naya noleh. Butuh sedetik buat inget siapa dia. Tangannya langsung narik selimut ke dada. Napasnya ketahan takut.

"Ini bukan messkan?"

Ranti nyamperin, duduk di pinggir kasur. Nyodorin cangkir teh anget.

"Ini kontrakan aku. Kamu aman di sini." Jawab Ranti yang kurang lebih sudah tahu kondisi Naya dari Salsa yang menjelaskan dari telepon.

Naya duduk pelan. Punggungnya nyender ke tembok. Tangannya gemetar pas nerima cangkir. Panasnya kerasa sampe telapak tangan. Dia hirup uapnya dulu. Baru nyeruput dikit.

"Mbak, tanggal berapa sekarang?" Tanya Naya pelan.

"Tanggal 13." Jawab Ranti.

Naya diam. Matanya liat ke cangkir. Kukunya masih ada sisa kotoran hitam di sela-selanya. Dia gosok pelan ke selimut, tapi nggak hilang.

"Aku... mimpi buruk, Mbak. Panjang banget." Naya bercerita.

Ranti nggak nanya mimpi apa. Dia cuma ngelus punggung tangan Naya. "Mimpi doang, Nay. Sekarang udah pagi. Udah lewat."

Di luar, ada suara ibu-ibu lewat jualan sayur, "Sayur... sayur..."

Naya denger. Matanya berkaca-kaca. Tapi nggak nangis. Cuma napasnya getar.

"Aku laper, Mbak."

Ranti ketawa kecil. Lega. "Nah itu. Tunggu ya. Aku beli bubur. Bubur abang di depan udah lewat belum ya."

Ranti berdiri, beresin rambutnya yang acak-acakan. "Kamu duduk aja. Jangan mikir aneh-aneh. Mau pipis nggak? Kamar mandi di belakang."

Naya ngangguk. "Mau..."

Ranti nuntun Naya berdiri. Kaki Naya lemes. Kayak baru belajar jalan. Selangkah, dua langkah ke pintu belakang.

Di meja, cangkir teh masih setengah. Uapnya udah hilang.

Nggak ada lonceng. Nggak ada garam. Nggak ada gentong.

Cuma teh anget sama suara tukang sayur.

Naya merasa hidup.

Pintu kamar mandi kebuka. Uap tipis keluar. Naya jalan pelan sambil ngeringin rambut pake handuk kecil. Daster tidur Ranti yang tadi udah di ganti. Sekarang pake kaos putih polos, agak kedodoran, sama celana pendek hitam. Wajahnya masih pucat.

Ranti udah nunggu, "Udah segeran? Nih, bubur ayam. Mbak biasa beli."

Naya duduk di kasur. Kakinya dilipat. Dia nerima piring bubur itu. Asepnya masih ngebul. Ada suwiran ayam, bawang goreng, sama kerupuk remas di atasnya. Bau kunyitnya bikin perut Naya bunyi pelan.

"Makasih, Mbak."

Dia nyendok. Pelan. Kunyahnya hati-hati. Baru tiga suap, matanya udah berkaca-kaca lagi. Bukan sedih. Laper. Badannya laper beneran.

Ranti duduk di lantai, nyandar ke kaki kasur. Ngeliatin Naya makan. Nggak ngomong. Cuma ngawasin.

Piring bubur tinggal setengah, Naya naruh sendok. Napasnya panjang.

"Mbak boleh minjam hp? Hpku lg di cash soalnya." Naya meminjam hp Ranti.

Ranti ngangguk. Ngambil HPnya dari atas bantal. Ranti memberikannya setelah membuka sandinya.

"Salsa?"

"Iya, mau nelpon Kak Salsa." Jawab Naya.

Naya menerima hp itu lalu mencari kontak Salsa yang langsung dia hubungi

Tut... tut... tut...

Tak lama.

"Halo?"

Suaranya jauh. Agak kresek-kresek. Tapi jelas itu suara Salsa.

Naya langsung diem sedetik, "Kak?"

'Naya?! Naya ini kamu?! Ya Allah Nay! Kau nih bikin Kakak khawatir aja.'

"Aku mau pulang ke Aceh kak, aku gak mau di sini." Air mata Naya langsung turun. Nggak bersuara. Bahunya naik turun. Ranti sampai menepuk-nepuk bahunya.

Naya akan menceritakan semuanya kepada Salsa namun, tiba-tiba...

TENG!

Naya mendengar suara lonceng menghantam kepalanya, genggaman tangan Naya ke HP itu langsung lepas. Naya meremas rambutnya kuat.

TENG!

"NAYA! NAY??!!" Teriak Ranti benar-benar kaget.

TENG!

Naya jatuh pingsan di atas kasur.

Ranti yang panik mengambil hpnya yang masih terhubung dengan Salsa.

"Sal, jemput aja adekmu! Udah jelas ada yang aneh di rumah makan itu!" Ranti dengan tegas mengatakan.

'Tapi aku aja baru buka toko, masa ku tinggal? Gak mikir kali.'

" Ini adekmu loh! Udah kurus dia di sini! Nyawanya hampir terancam Sal kemarin!" Tegas Ranti lagi.

'Gak bisa ku tinggal tokoku. Dia sendirilah pulang balik ke Aceh. Aku TF ongkos Naya ke kau aja.'

"Oke." Jawab Ranti.

'Aturlah.'

"Aman aja." Balas Ranti lalu panggilan telepon itu pun mati.

"Dikit-dikit pingsan. Apa enggak sakit kepala dia ya?" Tanya Ranti menepuk-nepuk pipi Naya.

"Nanti si Salsa TF aku." Ranti tersenyum lebar lalu meninggalkan Naya yang masih jatuh pingsan di kasur.

_

1 SETENGAH TAHUN LALU.

GUDANG RM DERMAWAN -

23:47 WIB

Lantai tanah basah. Bau kemenyan nyampur amis. Lampu bohlam 5 watt kuning, kedip-kedip. Bayangannya bikin tembok bata kayak gerak.

Di tengah ada bangku kayu pendek. Ember warna hitam penuh air kembang udah siap. Merah kentel. Melati, mawar, kenanga ngambang.

Rosa, 20 tahun. Daster putih lusuh. Tangan diiket ke belakang pake tali tambang. Mulut dilakban coklat sampe pipi ketarik. Lututnya lecet, jatuh pas diseret dari dapur. Mata melek lebar. Napas lewat hidung.

Dinda, 26 tahun. Mandor shift malem. Badannya lebih tinggi. Udah pake kebaya hitam polos. Sanggul kenceng. Tusuk konde perak nancep di rambut.

Dinda narik lengan Rosa. "Ayo, Sa. Lungguho."

Suaranya datar. Kayak nyuruh anak buah ngepel karna Rosa saat itu masih karyawan baru.

Rosa ngelawan. Kaki nendang tanah. Kepala geleng. Lakban bikin dia cuma bisa berteriak, "Mmmph! Mmmph!"

Tali tambang nggigit pergelangan. Kulit sobek. Darah netes.

Dinda nggak sabar. Dia dorong Rosa sampe jatuh. Dengkul Rosa jedug bangku kayu.

Rasa tulang mau patah. Rosa jerit ketahan. "MMMPHHH!"

Dinda jongkok. Ngambil centong kayu dari ember.

Byur...

" Banyu kembang, adus rogo ya..." Dinda membacakan mantra pertama, dan air kembang pertama nyiram kepala Rosa.

Dingin. Bau melati busuk. Kembang nyangkut di rambut, di alis. Air masuk idung. Rosa kelabakan, batuk, lakban bikin batuknya balik ke paru.

Dinda narik rambut Rosa, nadahin kepalanya ke ember. Mau nyelupin.

Byurrr...

"Utang dunyo, ben ra loro ya..."

Bacaan mantra kedua.

Rosa batuk terbahak-bahak jatuh ke lantai tanah, matanya buram melihat dekat kaki Dinda, ada pisau dapur. Gagang kayu. Terlihat sudah karatan.

Rosa ngos-ngosan. Air kembang netes melewati wajahnya.

Dinda melihat Rosa yang terlihat diam nampak memperhatikan sesuatu membuat Dinda langsung melihat kakinya, dan benar saja ada pisau.

Mata Rosa yang sudah lihat lebih awal tadi. Rosa bergerak cepat, namun.. Dinda lebih cepet.

Dinda berjongkok, pisau itu diambil. Diarahin ke leher Rosa.

"Aku sing urip, kowe sing mati!" Teriak Dinda menatap marah.

Rosa beku sedetik saat pisau itu udah menempel di lehernya. Tekanan yang perlahan mengoyaknya.

Sreeet!

Dinda tanpa berpikir panjang menyayat leher Rosa namun sayangnya karena pisaunya terlalu tumpul, tak cukup untuk menyayat lebih dalam.

Perih. Panas. Darah langsung mancur, anget, ngalir ke dalem daster putih yang di pakai Rosa.

Rosa nggak bisa jerit. Cuma bisa "MMMGGGHH!!" Mata melotot. Badan kejang.

Darah masuk mulut lewat pinggir lakban. Asin. Anyir.

Dinda mengangkat pisaunya lagi. Mau nusuk dada Rosa agar mati sekalian.

Saat itu juga, Rosa menggila.

Tali tambang yang memang sudah kendor karna tangan Rosa yang terus berusaha lepas di belakang punggungnya meski rasanya sangat sakit saat menarik tangan kanannya dari sel tali tambang.

Kulitnya sobek, tapi tangan kanannya bebas.

Dinda kaget bukan main.

Sebelum pisau turun ke dada Rosa, Rosa menahan tangan Dinda yang megang pisau.

Terus Rosa gigit.

Kraak!

Gigi Rosa nancep ke daging antara jempol sama telunjuk Dinda. Dalem. Sampe kerasa tulang.

"AAAAGHH!!"

Dinda jerit. Teriakan manusia, bukan mandor. Pisau mental.

Jlangg!

Jatuh ke tanah, deket ember.

Dinda refleks narik tangan. Darah Dinda muncrat ke muka Rosa.

Rosa nggak lepas. Malah ngeludah darah Dinda. Mata Rosa udah bukan mata takut. Mata binatang yang sudah terjepit, dan melakukan segala cara untuk bertahan hidup.

Rosa pake tangan bebas nyobek lakban di mulutnya.

Breeet!

Kulit bibir ikut sobek. Tapi mulut bebas.

"AS*!!" Teriak emosi Rosa yang sudah dia tahan-tahan sedari kemarin.

Baru bisa ngomong. Suaranya serak, kecampur darah.

Dinda megangin tangan yang terluka. Darah netes ke kebaya hitam.

"GIAN TOLONG!!" Teriak Dinda sembari berjalan mundur, kakinya kesandung bangku kayu.

Gian tak datang, entah dimana Gian yang seharusnya ada di gudang juga.

Melihat Rosa yang bangkit, dan matanya terlihat berapi-api.

Bruk.

Dinda jatuh. Kebaya hitam ketarik, lengan robek.

Rosa nyambar pisau di tanah.

Tangannya gemetar. Darah dari leher masih ngocor, netes ke tanah.

TENG!

Suara lonceng di telinga Rosa namun Rosa yang pusing tidak perduli dan hanya memandang tajam Dinda.

Dinda liat pisau di tangan Rosa. Liat darah di leher Rosa.

"Sa... Sa ojo... aku... aku mandormu... aku sing mbok..." Dinda takut dan mulai goyah karna tatapan marah Rosa.

Rosa maju selangkah. Lututnya masih sakit.

TENG!

Suara lonceng mengganggu telinga Rosa lagi tepat di kepalanya. Namun keyakinan Rosa tidak goyah, Rosa malah semakin menggenggam pisau di tangannya, daster putih sudah menjadi merah semua. Saksi nyata bahwa dia hampir di bunuh oleh Dinda tadi.

"Mandor matamu anj!ng!" Teriak Rosa mengangkat pisaunya ke atas lalu mengayunkannya.

Jleb.

Rosa menusuk.

Pisau dapur gagang kayu nancep sampe setengah di perut Dinda.

Dinda kaget. Nggak jerit. Cuma "Hek."

Matanya ngeliat ke bawah. Ngeliat gagang kayu di kebaya hitamnya. Ngeliat tangan Rosa yang masih menusukkan pisaunya lebih dalam.

Darah Dinda langsung ngerembes, item, kentel. Beda sama darah Rosa. Lebih kentel. Lebih amis.

Dinda jatuh ke samping. Kejang-kejang. Tangan meluk perut. Kebaya hitam sudah basah darah. Rosa menarik pisau yang tertancap di perut Dinda, dan pergi

Rosa meninggalkan tubuh Dinda yang ada di kamar mandi. Tangannya sudah berdarah menggenggam pisau siap membunuh siapa saja yang akan menghalangi langkahnya keluar dari gudang belakang rumah makan.

Langkah Rosa terhenti begitu melihat Gian berdiri tepat di pintu gudang.

Rosa mengarahkan pisaunya ke Gian.

"Buka pintunya, Gian. Atau gue bunuh lo sekarang!!" Teriak Rosa.

Gian malah berjalan mendekat, terlihat tak gentar dengan ancaman Rosa.

"Aku tau kamu bunuh, Dinda. Tapi aku enggak halangin itu." Balas Gian terdengar lembut membuat Rosa menjatuhkan pisaunya ke lantai gudang.

"Ikut denganku, Sa. Hidupmu akan berubah, kayak aku." Bisik Gian di telinganya.

_

Rosa kebangun dari flashbacknya. Keringet dingin. Tangannya megang leher namun bekas sayatan di lehernya sudah hilang, kuku tangan, dan kakinya sudah kembali normal tidak menghitam.

Rosa melihat ke meja dimana kebaya hitam sudah dilipat rapi. Kebaya hitam yang semalam dia pakai untuk menumbalkan Abel.

"Aku yang udah memilih takdir ini, menjadi manusia berjiwa iblis."

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!