*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pemecatan Vania.
Ben meminta Junee untuk tidur di kamar utama mulai malam ini. Tidak perlu lagi menunggu waktu. Selesai makan malam, langsung pergi ke kamar utama.
Junee masuk ke dalam kamar dengan memakai daster biasa. Ben sedang mengerjakan sesuatu di atas ranjang dengan laptopnya.
Ketika melihat Junee masuk, pria itu pun menyimpan komputer lipatnya.
“Mau tidur?”
Junee menggeleng pelan. Wanita itu pun naik ke atas ranjang, duduk bersandar di samping Ben.
“Ben… aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa?” Tanya pria itu.
Junee menghela nafas pelan.
“Kalau Arga berniat balikan sama aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Ben menatap tak suka pada Junee. Bukan pada wanita itu, namun tidak suka mendengar pertanyaannya.
“Aku akan merebut kamu.” Ucapnya tegas.
Junee mengerejapkan matanya.
“Aku tidak mau kalah lagi, Junee. 10 tahun yang lalu aku telah kalah karena salah paham. Sekarang aku tidak mau kalah lagi karena kamu berpikir aku tidak cukup untuk kamu.” Imbuh Ben lagi.
Junee pun memeluk sang suami dari samping.
“Ben… tidak mau sama Arga. Aku maunya sama kamu.” Ucap wanita itu.
Ben membalas pelukan itu dengan erat.
“Bagus. Karena aku juga tidak mau melepas kamu lagi.”
Junee mendongak. Ben pun melabuhkan kecupan pada bibir wanita itu. Yang awalnya lembut, perlahan mulai menuntut.
Ben merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Tangannya mulai bergerak kemana - mana.
“Aku lupa membawa pengaman.” Ucap Junee tersengal.
“Aku sudah menyiapkannya.” Tangan kiri Ben terulur membuka laci nakas. Mengambil sebungkus pengaman berwarna hitam.
“Ben. Apa sebelumnya kamu sudah pernah melakukannya?” Tanya Junee saat sang suami membuka bungkusan karet itu.
“Kenapa bertanya seperti itu?” Tanya Ben sembari memasang pada inti tubuhnya.
Junee menggigit bibirnya. “Kamu seperti sudah berpengalaman.”
Ben kemudian kembali membungkam bibir sang istri.
“Kamu satu - satunya yang aku inginkan. Bagaimana bisa aku melakukannya dengan wanita lain?” Ucap pria itu tepat di atas wajah sang istri.
“Mmhh.” Junee memejamkan matanya ketika Ben kecil mulai masuk.
“Jangan salah paham karena aku menggunakan pengaman. Aku masih ingin kita seperti ini dulu.” Ucap Ben dengan nada rendah.
Junee menganggukkan kepalanya. Sebelum kesadarannya menjadi terberai karena ulah sang suami.
Malam itu berjalan begitu panjang. Ben tidak cukup sekali. Ia bahkan membawa tubuh Junee ke atas sofa di dekat pintu balkon.
---
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Ben terbangun lebih dulu dari sang istri. Ia pun menyiapkan sarapan untuk wanita itu. Namun tidak menunggunya untuk bangun.
Ben pergi ke kantor lebih pagi.
Sampai di ruangan, ia meminta Mbak Rina untuk memanggil Manager HRD.
Tak butuh waktu lama, lima menit kemudian bawahannya itu pun muncul.
“Pecat Vania hari ini juga. Alasannya, pelanggaran kerahasiaan perusahaan.” Ucap Ben dengan tegas.
Manager HRD itu pun terkejut. “Pak, tapi Mbak Vania sudah bersama bapak—”
“Saya yang membayar dia 5 tahun ini. Dan saya pula yang memecatnya. Ada masalah?” Tanya Ben dingin.
“Tidak, Pak.” Ucap Manager HRD itu. Ia kemudian pamit kembali ke ruangannya untuk membuat surat pemecatan.
Satu jam kemudian, surat pemecatan Vania pun tiba di mejanya. Wajah wanita itu pun memerah padam.
Bukan karena malu. Tetapi karena amarah.
Ia bergegas menemui Ben.
“Kenapa saya di pecat tanpa alasan yang jelas, pak?” Tanya wanita itu.
“Bukannya saya sudah memberikan peringatan sama kamu sebelumnya? Tetapi kamu tak mengindahkan, dan kembali berulah. Dan saya, tidak pernah main - main dengan ucapan saya.” Ucap Ben tanpa melihat lawan bicaranya.
“Tapi, pak —
“Keluar dari ruangan saya. Dan bereskan barang - barang kamu.” Potong Ben dengan cepat.
Tangan Vania terkepal sempurna. Ia keluar dengan menghetakan kakinya.
“Ini semua pasti gara - gara si Junee kampungan itu. Kita lihat saja nanti.” Geram Vania.
Vania tidak akan membiarkan Junee hidup tenang bersama Ben.
---
Setelah makan siang, Ben menjemput Junee ke panti asuhan. Lalu mengajaknya ke kantor pengacara.
Mereka akan menandatangani kontrak baru.
Judulnya sederhana. “Akta Pernikahan Ben Pratama & Junee Maharani”
Tidak ada tuntutan ranjang dan denda 2 milyar.
Yang ada hanya hak dan kewajiban suami istri pada umumnya.
Dan Ben menambahkan sebuah poin, Junee tidak boleh meninggalkan pria itu. Walau apapun yang terjadi kedepannya.
Sang pengacara tersenyum. “Selamat, Pak. Bu. Mulai hari ini, kalian resmi menjadi suami istri yang normal.”
Pengacara itu juga mengeluarkan sebuah kotak perhiasan, yang berisi sepasang cincin.
Ben pun meraih tangan Junee. Ia menyematkan cincin emas putih itu pada jari manis sang istri.
Ben menatap cincin itu sejenak. Kemudian mengecupnya dengan lembut.
“Selamat datang Nyonya Junee Maharani Pratama.” Ucap pria itu.
Junee tersenyum haru. Ia meraih cincin yang lain untuk di pasangkan pada jari manis sang suami.
“Selamat menjadi suami aku, Ben.”
Mereka pun saling memeluk sebentar.
Setelah dari kantor pengacara, Ben mengajak Junee membeli beberapa kotak pizza, pasta dan kue wortel. Yang akan mereka bawa ke panti asuhan.
Sembari menunggu pesanan, Ben membeli sebuah buket bunga mawar untuk sang istri.
“Anak - anak pasti senang dapat kiriman makanan hari ini.” Ucap Junee saat dalam perjalanan ke panti asuhan.
Ia memangku buket bunga yang diberikan oleh sang suami.
Ben menyunggingkan sudut bibirnya. Tangan kiri pria itu terulur untuk mengusap kepala sang istri.
Saat tiba di panti, Junee turun lebih dulu. Kemudian memanggil salah satu pengurus panti untuk membantu mengeluarkan makanan dari dalam mobil Ben.
Junee meletakkan buket bunga di dalam mobil agar tidak menganggu.
Mereka berkumpul di aula panti asuhan.
Junee bersama pengurus panti pun membagikan makanan pada anak - anak.
“Ini dalam rangka apa ya, pak Ben? Apa bapak baru menang tender besar?” Tanya kakek Darman.
Ben menyunggingkan sudut bibirnya. “Ini lebih dari tender senilai milyaran rupiah, kek.”
Kakek Darman pun semakin penasaran.
Junee mendekati sang suami setelah selesai membagikan makanan pada anak - anak.
“Apa ada yang kurang?” Tanya Ben.
“Tidak. Semua sudah kebagian.” Ucap Junee.
Ben pun menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian bergabung bersama ibu Patricia dan pengurus panti yang lain.
Saat makanan anak - anak mulai habis, Ben tiba - tiba berdiri dari tempat duduknya.
“Hallo semuanya. Apa kalian menyukai makanan yang Om dan kak Junee bawa?” Tanya pria itu.
“Suka, Om.” Jawab anak - anak dengan kompak.
Ben pun tersenyum senang.
“Syukurlah kalau kalian menyukainya. Om mau menyampaikan sesuatu sama kalian semua.” Ucap Ben lagi. Ia pun meminta Junee untuk berdiri di sampingnya.
Wanita itu pun menurut.
“Om dan kak Junee sekarang sudah menikah.” Ucap Ben sembari memperlihatkan tangan mereka yg memakai cincin pasangan.
Beberapa anak tidak mengerti. Namun, Dika dan anak lain yang usianya setahun, dua tahun di bawah bocah itu, pun bersorak senang.
Dika bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Ben dan Junee.
“Jadi, kak Junee dan Om Ben sudah menikah? Selamat, ya.” Ucap bocah itu sembari memeluk Junee dan Ben secara bergantian.
Ibu Patricia dan kakek Darman pun mendekati Ben dan Junee.
“Jadi, ini adalah syukuran hari pernikahan kalian?” Tanya kakek Darman.
“Bisa di katakan seperti itu, kek. Mohon doanya untuk kami berdua.” Ucap Ben.
“Kami akan selalu mendoakan untuk kebaikan rumah tangga kalian, nak Ben dan nak Junee.” Timpal ibu Patricia.
Ibu Patricia memeluk Junee dan Ben secara bergantian. Begitu pula dengan kakek Darman.
Sore itu, Kebahagiaan terasa begitu nyata dalam hidup Junee.
---