NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28

Bella Moon melangkah mundur dengan tergesa-gesa, memotong kerumunan mahasiswa yang tengah berdansa di bawah pendar lampu kristal aula utama.

Napasnya memburu, dan telapak tangannya terasa dingin bersimbah keringat. Matanya liar menyapu ke segala penjuru ruang VIP, namun pelayan yang beberapa saat lalu ia suap untuk membawa minuman beracun itu telah lenyap bak ditelan bumi.

Rasa panik yang teramat sangat mulai merayap di dada Bella. Skenario yang ia susun bersama Cinmocha Walker untuk menjebak Amieyara Walker terasa menguap begitu saja.

Kehadiran Emmeline Valerio yang justru menempel ketat pada Yara laksana perangkap tak kasat mata yang mengunci pergerakan mereka.

Dengan perasaan frustrasi dan ketakutan yang membumbung tinggi, Bella memilih untuk berbalik arah, mengabaikan Caca yang masih berdiri di sudut balkon, dan segera meninggalkan area pesta malam itu juga.

Dia tidak pernah menyangka, kekuatan besar dan konsekuensi mengerikan apa yang akan ia dapatkan keesokan harinya akibat kegagalan rencana jahanam ini.

Sementara itu, di dalam aula VIP yang masih riuh, Amieyara Walker mengembuskan napas panjang sembari merapikan letak gaun malamnya yang terasa mulai menyesakkan.

Setelah kepergian Emmeline yang terburu-buru beberapa menit lalu, fokus Yara kembali pada tumpukan lembar daftar hadir tamu undangan yang sempat ia periksa sebagai bagian dari formalitas tugas akademisnya malam ini.

Yara menoleh ke samping, mendapati Maximilian Valerio masih berdiri kokoh laksana dinding pelindung di dekatnya, mengabaikan beberapa lirikan menggoda dari mahasiswi Fakultas Bisnis yang mencoba menarik perhatiannya sejak tadi.

"Max, kurasa tugasku malam ini sudah selesai," ucap Yara, suaranya diatur serendah mungkin agar tidak tenggelam di antara dentum musik simfoni. "Aku sudah mengisi daftar tamu dan Tidak ada alasan lagi bagiku untuk berlama-lama di tempat bising ini. Aku ingin pulang."

Max menurunkan pandangan matanya, menatap wajah cantik Yara yang tampak mulai kelelahan di balik riasan anggunnya.

Seringai tipisnya muncul, menyembunyikan rasa khawatir yang sempat melintas di benaknya saat memikirkan kepergian Emme tadi.

Di dalam kepala Max, dia seolah melupakan firasat buruk tentang adik kembarnya itu. Max tau adiknya Emmeline hanyalah seorang gadis yang gampang bosan; jika tidak ada hal menarik atau orang yang bisa dia rundung di pesta ini, Emme pasti akan memilih pulang lebih cepat ke mansion utama untuk beristirahat.

"Baiklah, Baby. Keinginanmu adalah perintah bagiku," jawab Max dengan suara bariton rendahnya yang seksi.

Dia menggandeng jemari Yara dengan begitu posesif, memimpin jalan menembus kerumunan tamu tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang sekitar.

Perjalanan pulang di dalam mobil sport mewah milik Max berlangsung dalam keheningan yang intim. Jalanan kota Los Angeles yang mulai lengang seolah memberikan ruang bagi keduanya untuk bernapas setelah ketegangan di kampus selama beberapa hari terakhir.

Ketika mobil berhenti sempurna di area parkiran bawah tanah kompleks apartemen menengah milik Yara, keheningan itu mendadak berubah menjadi pekat dan sarat akan ketegangan yang berbeda.

Max mematikan mesin mobil, namun dia tidak segera membuka kunci pintu. Pendar lampu neon parkiran yang temaram menerobos masuk melalui kaca depan, menciptakan siluet wajah Max yang tampak begitu tegas dan serius.

Malam ini, Max dipastikan akan kembali menginap di apartemen Yara. Bukan karena dia tidak punya tempat tinggal, melainkan karena dia tahu betul bahwa di balik topeng ketangguhan, Amieyara sangat membutuhkannya untuk mengusir monster mimpi buruk yang selalu datang mendera di jam dua pagi.

Yara baru saja hendak meraih tas tangannya ketika tangan kekar Max bergerak cepat menahan pergelangan tangannya, menariknya lembut hingga tubuh Yara sedikit condong ke arah kursi kemudi.

"Yara, tatap aku," pinta Max, suaranya tidak lagi menyiratkan riak keisengan yang biasa. Nada suaranya terdengar sangat dalam, bergetar oleh sebuah kesungguhan yang mutlak.

Yara tertegun, sepasang mata indahnya mengunci manik mata gelap Max yang kini memancarkan binar protektif yang begitu pekat. "Ada apa, Max? Kita bisa membicarakan ini di atas."

"Tidak, aku ingin mengatakannya di sini, sekarang juga," potong Max, ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Yara yang lembut. "Dua tahun yang kukatakan di kamar apartemenmu kemarin... aku tidak main-main, Yara. Aku menginginkanmu. Bukan hanya sebagai tameng, bukan hanya sebagai asisten dosen yang menarik perhatianku di kampus, tapi sebagai satu-satunya wanita yang memegang kendali atas hidupku. Aku mencintaimu, Amieyara Walker. Aku ingin kau menjadi kekasihku yang sesungguhnya, tanpa ada batasan sandiwara lagi."

Suasana dramatis itu seketika mengunci pasokan udara di dalam dada Yara.

Jantungnya berdegup begitu kencang laksana genderang yang bertalu-talu. Mendengar pernyataan cinta yang begitu sakral dari seorang pewaris dinasti Valerio yang terkenal dingin dan urakan membuat seluruh dinding pertahanan rasionalitas Yara runtuh tak berbekas.

Di dalam lubang hatinya yang paling dalam, dia tahu dia juga telah jatuh ke dalam pesona pemuda berusia dua puluh tahun ini.

Yara menarik napas panjang, mencoba mengendalikan getaran di bibirnya. Dia mengangguk samar, sebuah senyuman manis yang teramat tulus terukir di wajah cantiknya. "Baiklah, Maximilian. Aku... aku menerimamu."

Mendengar jawaban itu, binar kemenangan yang luar biasa gila seketika meledak di dalam mata Max. Namun, bukan Maximilian Valerio namanya jika dia tidak merusak suasana romantis itu dengan tabiat mesumnya yang konyol.

Seringai tengilnya kembali muncul dalam sekejap.

Max condong ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Oh, shit, jadi kita resmi berpacaran sekarang, Baby? Kalau begitu, sebagai tanda kesepakatan kontrak hubungan kita, aku menuntut pembayaran di muka."

Yara memutar bola matanya malas, meskipun rona merah sudah menjalar sempurna di pipinya. "Pembayaran apa, Bocah Birahi?"

"Tentu saja hak istimewa seorang kekasih, Yara," kekeh Max, pandangan matanya turun menatap bibir ranum Yara yang dipoles lipstik merah marun. "Aku ingin memastikan bahwa pegas di dalam mobil ini juga memiliki ketahanan yang sama baiknya dengan ranjang mu di atas jika kita mulai mandi keringat malam ini."

"MAXIMILIAN!" bentak Yara dengan wajah merona merah padam karena syok atas kelancangan mulut kekasih barunya itu.

Namun, sebelum Yara sempat melayangkan pukulan dari tas genggamannya, tangan tegap Max sudah bergerak maju, menangkup rahang tegas Yara dengan kelembutan yang teramat sangat posesif.

Max menarik wajah Yara, menundukkan kepalanya, dan langsung mengunci belahan bibir ranum wanita itu dengan ciuman yang teramat sangat dalam, menuntut, sekaligus sarat akan rasa cinta yang membara.

Ini adalah ciuman kedua mereka sejak kejadian gila di ruang UKS kampus.

Berbeda dengan ciuman pertama yang dipenuhi oleh rasa keterkejutan dan dominasi sepihak, ciuman di bawah pendar temaram lampu parkiran ini terasa jauh lebih intim dan sinkron.

Yara tidak lagi memberontak; dia memejamkan sepasang matanya perlahan, membiarkan jemari lentiknya naik meremas pundak tegap Max, membalas setiap lumatan lembut yang diberikan oleh pemuda itu dengan kepasrahan yang manis.

Sentuhan bibir mereka menyalurkan seluruh emosi, rasa kepemilikan, dan janji-janji tak kasat mata untuk saling melindungi dari badai konspirasi yang saat ini sedang mulai pecah di area paviliun belakang kampus, tanpa mereka sadari sedikit pun bahwa takdir esok hari akan berubah menjadi jauh lebih gelap bagi untuk keluarga mereka.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!