Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Skor Kenakalan
Di taman yang cukup luas itu, beberapa siswa asyik duduk sambil mengotak-atik aplikasi verdict di ponsel mereka. Suasana cukup sejuk membuat mereka senang memperhatikan alat itu dengan saksama. Perlahan, kerumunan kecil mulai terbentuk di dekat pohon beringin, tempat mereka duduk.
"Ini beneran?" Salah satu dari mereka berbisik, mengerutkan kening.
Siska mengangkat bahu. Dia fokus memperhatikan skor yang ada di alat itu. "Skor aku juga aneh, berubah sendiri," sahutnya.
Nando mengerutkan alis, menatap Siska penasaran. "Berubah bagaimana?"
"Tadi skor kenakalanku 10% sekarang tiba-tiba naik jadi 30%. Aneh, padahal aku tidak berbuat apa-apa," ucapnya, pelan.
Ucapan Siska diangguk oleh beberapa siswi, salah satunya Amel, siswi yang duduk di pojok kanan. Dia tampak lebih cantik dari Siska, memakai seragam cukup elegan dan gaya rambut yang unik dengan pita di belakangnya.
"Aku juga turun, padahal aku cuma makan bakso saja dari tadi sambil duduk," timpal Amel.
Suasana mendadak terasa lebih dingin, angin berembus kencang dari arah barat. Langit cerah itu mulai menggelap. Daun-daun di atas ranting perlahan berjatuhan. Semua saling pandang, seolah mencari jawaban di wajah satu sama lain. Namun, tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
"Tunggu, menurutku ini bukan cuma angka. Lihat bagian atasnya," titah Arkan, salah satu siswa itu sambil berdiri menunjuk ponsel yang digenggam teman-teman.
Semua kepala menunduk serempak, memperhatikan layar ponsel mereka.
[VERDICT UPDATE]
[Perubahan skor kenakalan]
"Kenakalan apa?" tanya seseorang kesal. "Kita daritadi duduk diam di sini."
Tidak ada satupun yang menjawab. Nando tertawa kecil tapi terdengar kaku.
"Ah, paling cuma eror aplikasinya. Aplikasi baru kan, mungkin kurang teliti sistemnya," ujar Nando mencoba bersikap netral dan tidak terlalu peduli dengan aplikasi yang menilai dia.
Semua tersenyum lega, bahkan beberapa ada yang tertawa kecil karena mengira sistem aplikasi ponsel mereka rusak.
Namun, tawa mereka tidak bertahan lama. Wajah mereka kembali menegang saat ponsel mereka bergetar bersamaan.
[DATA LAMA TERUNGKAP]
Di layar aplikasi itu, terlihat rekaman perbuatan masing-masing individu saat berbuat kenakalan secara diam-diam.
Entah sejak kapan aplikasi itu bisa mendeteksi, padahal kejadian itu sudah sangat lama sekali. Wajah tegang mereka makin memucat.
"Ini, bagaimana ini bisa tercatat?" Mereka saling bertanya dengan suara gemetar dan gugup.
"Kenapa?"
Banyak mulai gelisah, mereka berusaha untuk tenang dan bersikap seperti anak baik agar skor kenakalan mereka tidak bertambah. Nando masih berdiam diri, tangannya gemetar mencoba menutup layar ponsel. Namun, notifikasi itu tetap muncul di atas, seolah menolak untuk disembunyikan.
Perlahan, lelaki itu mengangkat wajahnya dan membulatkan mata saking kaget. "Ini ... rahasia aku," gumamnya pelan dengan suara takut.
Di layar terdapat rekaman saat dia berbuat kenakalan dengan membully salah satu siswa di masa kecilnya. Nando sengaja memaksa siswa itu masuk ke ruang guru diam-diam untuk mencuri jawaban soal ujian nanti. Selain, itu, dia juga memfitnah siswa itu yang mencontek demi tidak dihukum guru.
Udara di sekitar mereka terasa makin berat. Tidak ada lagi yang bersuara, bahkan mereka diam satu sama lain. Tidak ada yang bercanda atau tertawa seperti sebelum masuk ke sekolah. Untuk pertama kali, mereka mulai menyadari, ini bukan sekadar aplikasi biasa melainkan sesuatu yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku mereka.
***
"Teman-teman, mulai sekarang kita harus banyak-banyak berbuat baik agar skor kenakalan kita tidak bertambah, syukur-syukur sih bisa turun," saran Siska dengan suara cukup keras di depan kelas. Dia berdiri di depan teman-teman dengan memperhatikan mereka penuh rasa tanggung jawab dan empati.
Amel mengangguk, setuju dengan saran Siska. Namun, tidak dengan Nando dan beberapa siswa nakal lainnya. Mereka seolah tidak lagi takut dengan sistem aplikasi bawaan dari sekolah ini.
"Kenapa harus berbuat baik demi itu? Nanti malah kelihatan kaya orang munafik. Berbuat baik, gataunya cuma buat namanya tidak kotor di aplikasi," sindir Nando sambil tertawa sinis.
Tangan Siska mengepal, gadis itu menyipitkan mata menatap Nando dengan kesal. "Ini bukan tentang munafik. Ini tentang keselamatan kita, Nando," tegasnya.
Nando mengangkat tangan sambil tersenyum remeh. Dia membalas tatapan kesal Siska dengan santai. "Tenang saja, ayahku merupakan salah satu pejabat di kota ini. Dia akan membantu kita untuk membohongi skor sistem agar tidak ketahuan. Maksudku memanipulasi sistem," ucap Nando membuat semua menoleh sambil mengerutkan kening.
"Kamu berencana buat berbohong? Itu tidak baik, Nando. Skor kenakalan kamu nanti bisa bertambah!" tegur Amel, mencoba memperingati.
Nando tidak menanggapi itu dengan rasa takut. Dia justru tersenyum sinis seolah tidak ada masalah sama sekali. Sementara itu, Siska yang merasa sudah tidak diperhatikan oleh teman-teman, memilih duduk kembali di bangku.
Tiba-tiba, suara ponsel Nando bergetar. Dia membuka layar ponselnya. Terlihat tanda panah seru dengan notifikasi peringatan yang tajam.
⚠️
[VERDICT UPDATE]
[Skor kenakalan 25%]
"Gawat, skor kenakalan aku naik," ucap Nando terkejut. Raut wajahnya tampak gelisah.
Arkan tersenyum sinis. "Kenapa harus takut? Katanya kamu bilang, bisa memanipulasi skormu itu?" sindir laki-laki itu dengan suara halus. Dia mengambil sebotol air dan minum dengan cepat.
Belum sempat Nando menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari bangku belakang. Dua siswa menendang kursi sambil berlari dengan wajah memerah.
"Skor kenakalanku juga naik 5%," jerit siswa itu dengan suara panik.
Bukan cuma satu dua anak yang mendapat perubahan notifikasi skor mereka. Namun, hampir semua siswa juga mengalami kenaikan skor kenakalan yang membuat jantung mereka berdebar.
Arkan, dengan penuh emosi berjalan menghampiri Nando yang masih duduk di bangku. Lelaki itu mencengkram kerahnya secara kasar.
"Kamu kan yang buat semua ini?" tuduh Arkan dengan melotot menatap Nando. Suaranya terdengar tegas tapi juga penuh rasa kecewa.
Nando mengerutkan kening, dia mengangkat bahu tak acuh. "Apa maksudmu? aku dari tadi diam," balasnya.
"Iya, bukannya kamu yang bilang akan menyuruh Papamu memanipulasi sistem?"
"Kau salah paham, itu hanya rencana untuk melindungi kita," alibi Nando sambil melihat semua orang di sekitar, suaranya terdengar lembut berusaha mencairkan suasana.
Arkan tertawa sinis. "Melindungi kita semua?" Dia melirik Nando sekilas. "Atau, melindungi kamu doang?"
PLAK
Nando tidak membalas pertanyaan itu dengan jawaban sederhana. Dia justru melayangkan tamparan ke pipi Arkan. Ponsel lelaki itu bergetar, dia tahu itu notifikasi pembaruan sistem aplikasi verdict. Namun, dia tidak memedulikan. Rasa jengkel karena ucapan Arkan barusan, membuat hatinya terasa memanas.
"Kamu berani ya, mukul aku?" Arkan tidak terima ditampar Nando. Dia memegang pipi yang masih memar sambil mengangkat tangan bersiap memukul Nando sebagai balasan. "Kalau kamu mau cari masalah, oke aku layani," tegasnya sambil menghantam bahu Nando hingga lelaki itu tak sengaja tersungkur tapi segera menahan keseimbangan dengan memegang meja di sebelah.
Nando membalas pukulan itu hingga Arkan terhantam oleh kursi kayu di belakangnya. Mereka memandang sengit satu sama lain. Suasana kelas menjadi tegang. Tidak ada guru yang menenangkan keadaan di sini. Semua murid sibuk dengan kepanikan mereka sendiri.
Sementara di ponsel mereka, aplikasi verdict terus saja bergetar bersamaan.
[VERDICT UPDATE]
[SKOR KENAKALAN MENINGKAT]
Tidak ada yang peduli tentang notifikasi itu. Bahkan, Siska juga sedari tadi diam. Namun, skor di hp dia suka naik turun. Gadis itu merasa aneh dengan keberadaan ponsel ini.
"Ada yang aneh dengan aplikasi ini," gumam Siska sambil memandang layar ponselnya.
Di tengah keributan yang terjadi, suara notifikasi muncul, lebih keras dan lebih dingin dari sebelumnya.
[VERDICT UPDATE]
[MODE PENGAWASAN AKTIF]
Semua siswa terdiam mendengar suara notifikasi itu. Bahkan Nando dan Arkan berhenti saling pukul. Suasana mendadak terasa dingin.
"Perilaku kalian sudah diawasi sejak awal."