NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 8: Esensi Iblis

Gelap.

Bukan gelap tanpa arti.

Tapi gelap yang… berat.

Seperti tenggelam di sesuatu yang tidak terlihat.

Grachius membuka matanya perlahan.

Pandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu gubuk.

Diam.

Tenang.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“…aku…”

Suaranya serak.

Tubuhnya terasa berat.

Seperti habis berlari tanpa henti selama berhari-hari. Bahkan mengangkat tangannya sendiri terasa lambat.

Ia mencoba bangun—

“Jangan dipaksakan.”

Suara Purus datang dari samping.

Grachius menoleh perlahan.

Purus duduk tidak jauh darinya, punggungnya bersandar pada dinding kayu. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda.

Lebih waspada.

Grachius menurunkan kembali tubuhnya.

Napasnya terasa panas.

Kepalanya masih berat.

Dan samar-samar—

ingatannya mulai kembali.

Sore.

Langit redup.

Nama itu.

Sonne.

Rosalia.

Lalu—

panas.

Mata Grachius sedikit menyempit.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

“…apa yang terjadi?”

Hening beberapa detik.

Purus tidak langsung menjawab.

“Kau kehilangan kendali.”

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.

Ingatan itu kembali sedikit demi sedikit.

Energi yang meledak.

Tekanan di udara.

Dan api.

Merah.

Lalu hitam.

Grachius menatap tangannya sendiri.

Diam.

Untuk pertama kalinya sejak ia bangun, ekspresinya benar-benar berubah.

Bukan takut.

Bukan marah.

Melainkan… asing.

“Itu…”

Suaranya pelan.

“…berasal dariku.”

Bukan pertanyaan.

Purus mengangguk pelan.

Grachius menunduk.

Beberapa saat, tidak ada suara selain napas pelan dari keduanya.

Ia masih bisa mengingat sensasi itu.

Panas.

Namun bukan sekadar panas.

Ada sesuatu yang lebih dalam.

Lebih gelap.

Dan yang paling mengganggu—

pada saat itu, sebagian dirinya… menerima.

“Itu tidak terasa seperti diriku sendiri.”

Kalimat itu keluar hampir seperti gumaman.

Purus memandangnya beberapa saat sebelum menjawab.

“Emosi tidak menciptakan sesuatu yang baru.”

Grachius mengangkat sedikit pandangannya.

“Emosi hanya membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.”

Hening kembali jatuh.

Namun kali ini, lebih dingin.

Grachius perlahan memahami maksudnya.

Dan karena memahami—

dadanya terasa lebih berat.

Purus berdiri perlahan.

“Kemarahan besar… kebencian… keputusasaan.”

Ia menatap keluar gubuk.

“Makhluk apa pun bisa berubah karenanya.”

Grachius diam.

Lalu Purus melanjutkan—

“Dan kau…”

Tatapannya kembali pada Grachius.

“…telah menjadi iblis.”

Udara terasa berhenti sesaat.

Grachius tidak bergerak.

Namun jari-jarinya perlahan menegang.

“Iblis…”

Kata itu terasa aneh di telinganya sendiri.

“Aku Demi-God.”

Purus mengangguk.

“Dan sekarang… demi-god yang memiliki esensi iblis.”

Tidak ada dramatisasi dalam suaranya.

Tidak ada penekanan.

Justru karena itu—

kalimat tersebut terasa lebih nyata.

Grachius menutup matanya perlahan.

Tidak membantah.

Karena jauh di dalam dirinya—

ia bisa merasakannya.

Sesuatu itu masih ada.

Diam.

Namun hidup.

Purus memperhatikannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—

ia merasa khawatir.

Bukan pada dunia.

Bukan pada para dewa.

Melainkan pada kemungkinan bahwa suatu hari nanti—

Grachius tidak akan mampu menghentikan dirinya sendiri.

“Keluar.”

Suara Purus memecah keheningan.

Grachius membuka matanya.

Pelan, ia berdiri.

Tubuhnya masih berat, namun lebih stabil dari sebelumnya.

Ia melangkah keluar gubuk.

Dan berhenti.

Hutan itu…

berubah.

Tanah di sekitar retak.

Rumput hangus.

Beberapa pohon berdiri hitam seperti arang, batangnya retak karena panas yang tidak wajar.

Udara masih menyimpan sisa panas tipis.

Bahkan angin terasa kering.

Grachius menatap semua itu dalam diam.

Tidak ada ekspresi besar.

Namun matanya… tidak berpaling.

“Aku melakukan ini.”

Purus berdiri di belakangnya.

“Ya.”

Tidak ada usaha menghibur.

Tidak ada kebohongan.

Hanya fakta.

Grachius melangkah perlahan di atas tanah yang retak.

Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya.

“Semua makhluk bisa menjadi iblis?”

Purus mengangguk.

“Ketika kemarahan atau kebencian menguasai mereka.”

Grachius menatap salah satu pohon hangus.

“…jadi itu bukan ras.”

“Bukan.”

Purus memandang langit.

“Itu keadaan.”

Hening.

Grachius mengepalkan tangannya perlahan.

“Kalau itu terjadi lagi?”

Pertanyaan itu tidak terdengar takut.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia memikirkannya.

Purus tidak langsung menjawab.

“Kalau kau tidak mengendalikannya…”

Angin bergerak pelan melewati pohon-pohon hangus.

“…maka yang terjadi kemarin hanya permulaan.”

Grachius diam.

Ia menarik napas perlahan.

Lalu menutup matanya.

Merasakan Qi di dalam dirinya.

Biasanya—

aliran itu tenang.

Teratur.

Namun kini…

ada sesuatu yang lain.

Di kedalaman.

Diam.

Panas.

Gelap.

Tidak bergerak.

Namun terasa seperti sesuatu yang sedang tidur.

Dan entah kenapa—

Grachius tahu bahwa sesuatu itu bisa bangun kapan saja.

Matanya terbuka perlahan.

“…aku harus mengendalikannya.”

Purus menatapnya beberapa saat.

Lalu mengangguk.

“Ya.”

Tidak ada jawaban lain.

Karena memang tidak ada pilihan lain.

Grachius menatap langit yang mulai gelap.

“Para dewa…”

Nada suaranya berubah sedikit.

Lebih berat.

“Mereka membunuh Sonne demi kekuasaan.”

Purus tidak menyangkal.

“Banyak dewa menggunakan kekuatan untuk menjaga ketakutan.”

Tatapannya perlahan menjadi jauh.

“Dan Vasilias…”

Nama itu jatuh seperti bayangan.

“…adalah yang paling memahami cara melakukannya.”

Grachius tidak berkata apa-apa.

Namun udara di sekitarnya terasa sedikit lebih panas.

Purus menyadarinya.

“Itulah kenapa aku meninggalkan Kerajaan Langit.”

Grachius menoleh sedikit.

Purus jarang berbicara tentang dirinya sendiri.

“Aku tidak ingin tetap berada di sana.”

Tatapannya tetap ke depan.

“Melihat mereka yang seharusnya melindungi… justru menindas.”

Hening sejenak.

Lalu—

“Dan karena aku tahu…”

Purus menutup matanya perlahan.

“…kalau kemarahan ku memuncak, aku juga bisa menjadi iblis.”

Grachius sedikit terdiam.

Purus melanjutkan—

“Namun jalanku berbeda darimu.”

Ia membuka matanya kembali.

“Kau menempuh jalan Daoisme. Kekuatanmu berkembang dari dirimu sendiri.”

“Dan kau?”

“Pliosisme.”

Nama itu terdengar asing.

“Aku berkultivasi melalui bimbingan Plios.”

Nada suara Purus sedikit lebih rendah ketika menyebut nama itu.

Bukan takut.

Melainkan hormat.

“Entitas tertinggi.”

Grachius mendengarkan dalam diam.

“Jika aku jatuh menjadi iblis…”

Purus menatap tangannya sendiri.

“…Plios akan menghukumku.”

Tidak ada kesedihan dalam suaranya.

Hanya penerimaan.

Grachius perlahan memahami.

Jalan mereka berbeda.

Namun keduanya—

berjalan di atas sesuatu yang bisa runtuh kapan saja.

Ia melangkah menjauh sedikit dari gubuk.

Lalu menatap langit.

Namun kali ini—

tidak seperti dulu.

Tidak ada rasa penasaran.

Tidak ada kekaguman.

Yang ada hanyalah…

tekad.

Dan sesuatu yang lebih gelap dari itu.

“Aku akan membalas mereka.”

Suaranya tenang.

Namun terlalu tenang.

“Aku akan membalas kematian ayah… dan ibu.”

Angin berhenti sesaat.

Purus memandang punggung Grachius.

Tidak terkejut.

Tidak mencoba menghentikannya.

Karena sejak awal—

ia sudah tahu.

Jalan ini…

akan mengarah ke sana.

Langit di atas mereka perlahan berubah gelap.

Awan bergerak pelan.

Namun jauh di atas sana—

di tempat yang tidak bisa dijangkau mata manusia—

sesuatu mulai bergerak.

Sesuatu yang telah lama diam.

Dan kini—

ia telah merasakan kebangkitan itu.

Kebangkitan seorang anak yang seharusnya tidak pernah lahir.

Dan dunia—

perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa dihentikan lagi.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!