"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 34
Dinda bisa mendengar detak jantung Raka dengan sangat jelas. Hangat dan tenang. Namun anehnya, justru terasa penuh kegelisahan.
Pelukan pria itu tidak berlebihan. Tidak terburu-buru. Raka hanya memeluknya erat seolah benar-benar takut kehilangan kesempatan terakhir untuk dekat dengannya.
Sedangkan Dinda—untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wanita itu tidak merasa sendirian.
Hujan masih turun deras di luar sana. Listrik rumah belum menyala. Cahaya dari flashlight ponsel yang tergeletak di sofa, membuat suasana ruang tengah terasa remang-remang.
Dan di tengah suasana itu—Dinda perlahan membalas pelukan Raka. Sangat pelan, namun cukup untuk membuat napas pria itu tercekat.
Raka langsung memejamkan mata sesaat. Karena gerakan kecil itu saja sudah mampu menghancurkan seluruh pertahanannya.
“Aku beneran nggak pengen pergi,” bisiknya lirih di atas kepala Dinda.
Kalimat itu membuat hati wanita tersebut terasa nyeri. Karena ia tahu—Raka bukan pria yang mudah menunjukkan isi hatinya.
Namun malam ini, pria itu terlihat sangat rapuh. Dan justru sisi itu yang membuat Dinda semakin tidak sanggup menjaga jarak.
“Kalau nggak mau pergi... ya jangan pergi,” balas Dinda pelan.
Raka tertawa kecil hambar. “Andai semuanya semudah itu, pasti kulakukan, Din..."
Dinda perlahan melepaskan pelukan mereka. Tatapannya naik menatap wajah pria di depannya.
“Sebenernya kamu lagi nyelesain apa sih, Ra?” Lagi-lagi pertanyaan itu muncul.
Dan lagi-lagi, Raka tampak sulit menjawabnya. Namun kali ini pria tersebut tidak menghindar sepenuhnya.
“Aku cuma lagi berusaha nutup kesalahan lama,” ujarnya pelan.
“Kamu punya masalah?”
“Hm," Raka mengangguk setengah hati.
“Berbahaya?”
Hening, sampai akhirnya Raka mengulas senyum kecil yang tidak benar-benar terlihat seperti senyum.
“Lumayan.”
Jawaban itu langsung membuat perut Dinda terasa tidak nyaman. “Aku nggak suka jawaban kamu."
“Aku juga nggak suka harus ninggalin Glenka.”
Deg.
Nama bayi kecil itu langsung membuat suasana berubah sendu lagi. Dinda menunduk kecil. Sedangkan Raka memperhatikan wajah wanita tersebut cukup lama.
Dan semakin diperhatikan—semakin sulit baginya pergi. “Aku nitip mereka sama kamu, ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Mereka?” Tanya Dinda kebingungan.
“Kamu dan Glenka," Raka menjawabnya sembari mengusap pipi tirus wanita itu.
Jantung Dinda langsung berdegup semakin kacau. Tatapan pria itu terlalu serius untuk dianggap candaan.
“Kenapa kamu ngomong seolah-olah mau pergi selamanya? Aku nggak suka dengarnya, Ra...”
“Karena aku takut.” Kalimat jujur pria itu, sukses membuat Dinda terdiam.
Untuk pertama kalinya, Raka mengaku takut. Dan entah kenapa, hal itu justru membuat dada Dinda terasa sesak.
“Aku takut nggak bisa balik sesuai janji.”
Air mata Dinda hampir jatuh saat itu juga. Karena semakin lama, ucapan pria itu terdengar seperti perpisahan.
*****
Listrik kembali menyala beberapa menit kemudian. Namun suasana di antara mereka sudah berubah. Tak ada lagi batas yang benar-benar utuh seperti sebelumnya.
Karena malam ini, keduanya sama-sama sadar—ada rasa yang tumbuh terlalu jauh di antara mereka.
“Glenka pasti nyariin ayahnya kalau bangun,” ujar Dinda pelan berusaha mengalihkan suasana.
Raka terkekeh kecil, “Iya juga.”
Namun ketika pria itu hendak melangkah menuju kamar tamu—tangan Dinda refleks menahan ujung lengan kaosnya.
Oh shit!
Raka langsung menoleh. Sedangkan Dinda tampak sedikit panik dengan tindakannya sendiri. Namun wanita itu tetap tidak melepaskan genggamannya.
“Aku boleh nanya satu hal?”
“Hm?” Raka kembali menatap wanita itu sepenuhnya. Pria itu beralih memegang tangan Dinda yang semula menyekal kaosnya, hingga kini tergenggam sempurna oleh tangannya.
“Kamu... pernah nyariin aku nggak selama tiga tahun itu?”
Pertanyaan tersebut sukses membuat suasana kembali hening. Raka menatap wanita di depannya cukup lama. Lalu, perlahan mengangguk.
“Sering.”
Deg.
“Aku bahkan pernah datang ke kota ini cuma buat lihat kamu dari jauh.” Pengakuan itu, langsung membuat jantung Dinda terasa jatuh.
“Kamu serius?”
“Iya," Raka mengangguk yakin.
“Kenapa nggak nemuin aku?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena waktu itu, kamu masih jadi istri orang.” Dan kalimat itu—entah kenapa terasa sangat menyakitkan.
Karena Dinda baru sadar, selama dirinya berusaha mempertahankan rumah tangga yang perlahan menghancurkannya, ada seseorang lain yang diam-diam tetap memperhatikannya dari jauh.
“Aku nggak pernah mau ngeganggu hidup kamu,” lanjut Raka lirih. “Karena selama kamu bahagia, itu udah cukup bagiku.”
Air mata Dinda akhirnya benar-benar jatuh. Satu tetes, lalu semakin banyak. Bukan karena sedih semata. Namun karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mencintainya tanpa meminta apa pun.
Tanpa menyakitinya, tanpa membuatnya merasa kurang.
Raka langsung panik melihat air mata itu. “Eh, jangan nangis...” bisiknya pelan sambil mengusap pipi Dinda.
Namun wanita itu justru semakin menangis. “Kenapa baru muncul sekarang sih...” suaranya bergetar hebat.
Dan kalimat itu—berhasil menghancurkan sisa pertahanan Raka malam ini. Pria itu langsung menarik tubuh Dinda kembali ke pelukannya. Kali ini jauh lebih erat.
“Aku telat ya?” bisiknya serak. "Maafin aku, Din..."
Tangisan Dinda pecah di dada pria itu. Sedangkan Raka memejamkan mata kuat-kuat. Karena dirinya tahu—kalau saja ia datang lebih cepat, mungkin Dinda tidak perlu melewati semua luka itu sendirian.
*****
Malam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari ketika suasana perlahan mulai tenang.
Dinda duduk di sofa sambil mengusap matanya yang sembab. Sedangkan Raka duduk di sebelahnya dengan jarak yang kini terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
“Aku jelek nggak habis nangis?” tanya Dinda pelan. Wanita itu mengusap pipi dan hidungnya menggunakan tissue.
Raka langsung menoleh, lalu terkekeh kecil.
“Masih cantik.”
“Gombal.”
“Serius.”
Tatapan mereka kembali bertemu. Dan lagi-lagi, suasana mendadak terasa terlalu sunyi.
Terlalu dekat, sehingga membuat Raka perlahan mengangkat tangannya. Lalu, menyelipkan rambut Dinda ke belakang telinganya dengan sangat hati-hati.
Gerakan sederhana itu sukses membuat napas Dinda tercekat. Karena tatapan pria tersebut berubah semakin dalam. Sangat dalam.
“Aku boleh egois sekali lagi nggak?” bisiknya serak.
Deg.
Dinda tidak sanggup menjawab. Namun wanita itu juga tidak menghindar. Dan itu sudah cukup bagi Raka.
Pria tersebut perlahan mendekat—sangat pelan. Memberi kesempatan jika Dinda ingin menjauh. Namun wanita itu tetap diam di tempatnya.
Tatapan mereka saling mengunci. Napas keduanya bercampur perlahan. Sampai akhirnya—Raka mengecup kening Dinda lembut, sangat lembut. Seolah takut wanita itu menghilang.
Deg.
Mata Dinda langsung memanas lagi.
Namun sebelum air matanya jatuh—Raka kembali berbisik sangat pelan di depan wajahnya. “Aku suka sama kamu dari dulu, Din.”
Dan tepat setelah kalimat itu—akhirnya Raka benar-benar mencium Dinda.